Love Exchange

Love Exchange
Episode 107 : Malang Tak Berdaya


__ADS_3

Matahari terbit dari permukaan seraya dengan ayam jantan yang berkokok. Aku pun terbangun dari tidurku, sementara itu Gavin masih tertidur pulas dengan kakinya yang membentang lurus tak tertekuk. Lalu aku membangunkannya seperti biasa, hingga akhirnya ia terbangun dan kami semua bersiap-siap untuk berangkat. Cassie dan Rein menyiapkan sarapan di dapur. Gavin terduduk diam di meja makan, ia juga meletakkan kakinya yang terkilis di atas kursi.


“Kau tidak mandi?” tanya Rein kebingungan. Gavin juga tampak heran dengan dirinya yang tidak dapat mandi dengan mudah seperti biasanya. Aku yang akan menuju kamar mandi tiba-tiba terhenti akibat panggilan Gavin kepadaku.


“Aku juga mau ikut,” lontar Gavin ke arahku.


“Mandi bersama?” tanyaku buncah.


“Ya, aku tidak mau semua orang menghindariku karena bau,” jawabnya.


Kemudian aku merangkul Gavin menuju kamar untuk melepas pakaian lalu mengenakan handuk. Setelah itu kami berdua berjalan menuju ke kamar mandi. Gavin sangat kewalahan dengan tongkat jalan yang dipakainya. Kami berdua melewati Cassie dan Rein yang tengah sibuk. Hingga terjadilah sebuah insiden yang tidak terduga. Tiba-tiba saja handuk yang dikenakan Gavin lepas dan membuat Cassie dan Rein terkejut melihatnya. Mereka terdiam tanpa kata-kata dengan wajahnya yang memerah. Lantas Gavin menjadi malu setengah mati.


“Jangan lihat ke sini!” seru Gavin canggung. Dengan cepat mereka berdua langsung memalingkan wajahnya dan terdiam. Ia berusaha untuk meraih handuk yang tergeletak di atas lantai itu. Aku pun membantu untuk mengambil handuk itu dan mengenankan kepadanya, sedangkan Gavin berusaha untuk menyeimbangkan diri dengan sebelah kaki.


“Pakai yang kencang supaya tidak lepas,” ujarku kepadanya.


“Susah tahu!” balas Gavin gugup. Lalu aku dan Gavin pergi menuju kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam, Gavin memperingatkan Cassie dan Rein yang masih terdiam.


“Anggap saja tidak pernah terjadi! Tolong lupakan!” serunya. Lalu kami berdua masuk ke dalam kamar mandi. Aku mengambil bangku kecil untuk Gavin duduk. Ia meluruskan kaki yang terbalut oleh perban itu. Aku pun membasuhnya perlahan supaya tidak mengenai perban.


“Kau bisa sabunan sendiri, kan?” tanyaku sembari memberikannya sabun. Gavin mengiakan pertanyaanku dan membersihkan tubuhnya sendiri. Aku melanjutkan untuk membasuh diriku yang masih kering.


Setelah mandi, aku kembali mengenakan handuk kepada Gavin. Lalu kami berdua pergi menuju kamar. Suasana canggung masih terjadi antara Gavin dengan Cassie dan Rein. Tidak ada pembicaraan di antara kami semua. Sesampainya di kamar, kami pun mengenakan seragam, namun Gavin tampak kewalahan untuk memasukkan kemeja tersebut ke dalam celananya. Lantas aku meminta Gavin untuk berdiri lalu membantunya. Tampak di wajahnya rasa malu yang tak tertahankan. Lekas aku berusaha untuk menenangkannya.


“Sudahlah… Kau juga sudah bilang untuk melupakannya, kan?”


“T—Tapi tetap saja! Aku itu laki-laki dan mereka perempuan…” Kejadian yang dialami Gavin sekilas mengingatkanku dengan peristiwa yang serupa menimpa diriku. Dengan tenang aku berbicara kepada Gavin yang masih tampak murung.


“Aku juga pernah mengalaminya.”

__ADS_1


“Benarkah…? Dengan siapa?” tanya Gavin penasaran.


“Aku tidak dapat mengatakannya,” jawabku. “Memang awalnya sangat canggung dan memalukan, tapi mau bagaimanapun juga pertemanan tidak mungkin putus seketika dengan kejadian seperti itu, kan?” imbuhku kepadanya.


“Betul juga…” balasnya lalu merenung. Tak lama kemudian perasaan Gavin berubah seketika menjadi seperti biasa.


“Baiklah kalau begitu, aku akan tetap menjadi seperti Gavin!” lontarnya senang. Aku pun menarik napas lega. Selepas mengenakan seragam, kami berdua pergi menuju meja makan. Cassie dan Rein telah duduk serta menunggu kami. Dengan penuh semangat Gavin memulai topik pembicaraan.


“Wah, makan apa kita hari ini? Aromanya lezat sekali!” cetusnya, sementara itu mereka berdua masih terdiam canggung kepada Gavin. Aku juga tidak menyangka kalau Gavin dapat bertingkah seperti ini.


“Dia benar-benar melupakannya,” gumamku dalam hati. Suasana hening seketika, dengan cepat aku menyahuti perkataan Gavin barusan.


“Iya nih, Koki Rein dan Koki Cassie memang yang terbaik!” lanjutku tersenyum. Rein yang melihatku kemudian mengerti dengan situasi kami berdua. Ia pun melanjutkan pembicaraan kami.


“Tentu saja! Kami sudah banyak mempelajari resep baru. Iya kan, Cassie?” Cassie yang masih malu lantas menjawabnya dengan gugup.


“E—Eh? Iya…” Kemudian aku dan Gavin menghampiri meja makan tersebut. Kami berdua duduk berhadapan dengan Cassie dan Rein. Terdapat beragam makanan yang diletakkan di atas meja. Aku baru benar-benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Gavin yang sudah tidak tahan lagi dengan cepat mengambil makanan ke atas piringnya. Aku sempat terkejut dengan hidangan yang dibuat mereka berdua.


“Dan makanan itu sekarang ada di depanmu,” jawab Rein tersenyum.


“Kalian memang yang terbaik!” lontarku girang sembari mengambil makanan tersebut. Mereka pun menyeringai senang mendengar pujianku.


“Kami dapat membuatnya kapan saja yang kau mau.”


Setelah bersantap pagi, kami berangkat menuju sekolah lebih awal daripada biasanya. Hal tersebut dikarenakan kondisi Gavin yang membuat perjalanan kami membutuhkan waktu yang lebih lama. Kami tidak ingin meninggalkannya hanya untuk sampai ke sekolah lebih dahulu. Sesampainya di sekolah, terdapat banyak sekali orang-orang yang berlalu-lalang. Kami harus menaiki tangga bersama dengan Gavin.


“Pelan-pelan saja, Gavin,” ucapku.


“A—Aku sudah berusaha semampuku,” balasnya yang sangat kesulitan. Kondisi tangga yang ramai sekali membuat Gavin kewalahan untuk menyeimbangkan diri. Beberapa detik berselang, tiba-tiba saja terdapat beberapa murid yang berlarian di anak tangga. Salah seorang dari mereka menyenggol Gavin dan membuatnya terjungkal ke belakang. Sontak kami semua panik melihatnya.

__ADS_1


“Tiiiiiidddaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa—”


Untung saja Gandra yang berada dibelakangnya langsung menahannya. Aku menjadi geram dengan murid tersebut, namun mereka telah hilang dari pandangan. Kami semua menarik napas lega.


“Huft… Hampir saja,” hembusku.


“Maaf aku merepotkan kalian,” ucap Gavin dengan rasa penuh bersalah.


“Tidak apa-apa, kita kan teman,” balasku tersenyum. Gavin pun merenung sejenak dan merasa sangat menyesal.


“Andai saja aku tidak berlarian di kolam renang waktu itu,” gumamnya murung.


“Yang telah berlalu, biarlah berlalu,” balas Bella.


“Mulai sekarang, berpikirlah sebelum bertindak,” ujarku kepadanya.


“Baiklah…”


Setibanya kami di kelas, bel pun berbunyi dan kami duduk di bangku masing-masing. Namun Gavin masih saja dikerubungi oleh teman-teman yang penasaran dengannya. Berbagai pertanyaan dilontarkan perihal kejadian waktu itu. Ada juga yang menanyakan betapa sakitnya kaki Gavin tersebut. Gavin pun menjadi pusing dibuatnya. Sampai akhirnya guru memasuki kelas dan suasana kelas seketika tenang. Setelah memberi salam, guru tersebut berucap kepada Gavin.


“Harap berhati-hati lagi, ya.”


“Baik, bu.”


Saat jam istirahat tiba, orang-orang mulai meninggalkan kelas satu per satu. Terdapat beberapa temanku yang berlarian ke sekeliling kelas. Mereka sedang bermain kejar-kejaran. Kondisi kelas menjadi berantakan tak karuan. Hingga suatu saat, terjadilah insiden yang tidak diinginkan. Seorang temanku yang berlari itu menabrak Gavin yang sedang terduduk tenang lalu menimpanya. Suara benturan tersebut cukup keras dan seketika membuat seisi ruangan menjadi panik.


“Aaaaaa…!” teriak Gavin menjerit kesakitan. Aku langsung berlari menghampirnya.


“Gavin!”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2