
Keesokan harinya kala pagi buta yang sangat dingin dan mentari belum menunjukkan wajahnya. Aku terbangun dengan penuh rasa kantuk akibat air mata yang sudah terkuras habis semalaman. Dengan tubuh yang lesuh aku berjalan keluar dari kamar dan mengambil segelas air minum di dapur. Pada saat yang bersamaan tampak Rein yang juga keluar dari kamarnya dengan keadaan yang lesu pula. Kami berdua bertingkah seperti biasa seakan-akan tidak ada terjadi apa-apa. Setelah itu kami duduk di sofa bersebelahan satu sama lain.
“Aku ngantuk,” gumamku pelan.
“Aku juga,” balasnya. Tanpa sadar kepala kami saling bersandar. Tidak lama kemudian kami tertidur dan aku terlelap ke alam mimpiku.
Di lain sisi, Gavin yang baru saja bangun dari tidurnya lantas kebingungan dengan diriku yang sudah tidak berada di kamar, begitu pula dengan Cassie yang baru setengah sadar. Saat mereka keluar dari kamar masing-masing, terlihat kami yang sedang tertidur pulas di ruang tengah. Dengan cepat Gavin mengambil ponsel pintarnya dan mengambil foto kami berdua.
“Mereka berdua lucu sekali,” ucap Gavin seraya memotret kami.
“Apa tidak apa-apa…?” tutur Cassie khawatir.
“Kalau mereka tidak tahu ya tidak apa-apa,” jawab Gavin. Beberapa detik berselang kami berdua mulai terbangun dari tidur. Mereka yang melihat kami sontak tersentak kaget dan bergegas pergi meninggalkan kami, tetapi tiba-tiba saja Gavin terpeleset dan terjatuh mengenai Cassie.
“Wuah… Sejak kapan aku ada di sini?” tanyaku kebingungan sembari menguap. Rein yang baru saja bangun juga kebingungan, sementara itu Gavin masih tergeletak di atas lantai dengan Cassie yang menindihnya. Rein yang baru teringat dengan kejadian semalam seketika menjadi kesal terhadapku
“E—Eh? Kenapa kau ada di sin—” lontarnya ke arahku namun ia melihat Gavin dan Cassie pada waktu yang bersamaan.
“Kenapa kalian seperti itu di sini?” lanjutnya tak habis pikir.
“K—Kami hanya terjatuh,” balas Gavin gelagapan. Aku yang melihat tingkah mereka berdua lantas tertawa.
“Dasar Gavin tidak tahu tempat, ya,” ujarku. Akan tetapi, seketika saja raut wajah Gavin berubah menjadi ketakutan seraya memandang ke arahku. Aku menjadi terheran-heran dengannya.
“Se—Sepertinya kau yang tidak tahu suasana,” ucapnya pelan.
Lalu aku menoleh ke sebelahku dan ternyata Rein dengan wajah gusarnya melihat diriku. Aku terkejut bukan main melihatnya yang menancarkan aura mengerikan ke arahku. Tiba-tiba saja tubuhku mengigil ketakutan. Dengan perlahan aku begerak menjauhinya seraya melihat wajah seramnya. Kemudian ia berjalan menghampiriku dan membuatku melirih takut.
“Pembicaraan kita belum selesai,” gerutunya.
“Bi—Bisakah kita bicarakan itu baik-baik?” balasku.
Dengan cepat aku beranjak bangun dan berlari menjauhinya. Aku bergegas menuju pintu dan segera membukanya, tetapi pintu itu terkunci. Ketika aku menoleh ke arahnya, terlihat ia tersenyum mengerikan seraya menunjukkan kunci tersebut kepadaku. Ia berjalan semakin mendekat dan kini aku tidak dapat menghindarinya lagi. Aku yang bersandar di pintu lantas terseret ke bawah dengan sendirinya. Ia mengambil pisau buah lalu memegangnya.
__ADS_1
“Kenapa kau menghindar?” dengusnya. Aku yang gemetaran membuatku kesulitan untuk berkata-kata.
“M—M—M—Maa—” balasku ketakutan, tetapi dengan sigap ia langsung melempar pisau tersebut ke arahku lalu menusuk celana di antara kedua kakiku. Pada saat yang bersamaan aku menjerit dengan mata tertutup.
“Masa depanku!” Aku tidak merasakan sakit apa-apa. Kemudian aku membuka kedua mataku dengan perlahan dan terlihat pisau tersebut tertancap di celanaku. Sontak aku terpekik penuh takut dan langsung membuang pisau itu.
“H—Hampir saja…” gumamku. Rein dengan wajah marahnya masih saja berjalan pelan mendekatiku. Spontan aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Gavin dan Cassie yang tidak tahu harus berbuat apa lantas bersembunyi di balik sofa sembari mengintip kami sesekali.
“Aku ingin kita bicara empat mat—” murkanya namun terdengar suara teman-teman memanggil kami dari luar asrama.
“Gavin! Adelard!” seru Rhean. Suasana yang mengerikan tiba-tiba saja mereda dan Rein dengan segera membukakan pintu tersebut.
“Minggir!” lontarnya dan aku pun menyingkir dari pintu. Sesaat pintu terbuka, mereka semua datang memasuki asramaku. Namun mereka mendadak terkejut melihat diriku yang terlihat pucat terbaring di atas lantai.
“K—Kau kenapa?” tanya Bella cemas.
Rein yang tidak lagi memasang wajah geramnya lantas mengambil pisau yang tergeletak di atas lantai lalu mengambil beberapa buah. Ia mengupas buah-buah tersebut di meja makan. Aku hanya terdiam tanpa kata-kata. Gavin dan Cassie yang berada di balik sofa langsung beranjak dan menghampiriku. Dengan segera Gavin langsung merangkulku dan membawakanku kembali ke kamar.
“Apa yang terjadi?” tanya Icha.
“Hah? Apa maksudmu?” lanjut Bella. Gavin yang mendengarnya sesaat menutup pintu kamar lantas mendatangi mereka.
“Ada banyak hal terjadi,” sahut Gavin dan membuat mereka kebingungan, terkecuali Gandra yang telah mengetahui permasalahanku dan Rein. Semua orang kemudian berkumpul di meja makan dan menikmati buah yang sudah dipotong-potong oleh Rein.
“Kau tidak menemuinya?” tanya Gandra kepada Rein. Rein pun tersenyum mendengarnya.
“Nanti saja. Sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik,” jawabnya.
“Gara-gara kejadian tadi?” lanjut Gandra. Sontak Rein berlagak seolah-olah tidak mengetahui apa-apa.
“Tadi…” balasnya kebingungan.
“Tadi malam,” ujar Gandra dan membuat Rein tertawa kecil mendengarnya.
__ADS_1
“Yah… Begitulah…” Gavin yang memperhatikan pembicaraan mereka seketika merinding.
“Mereka berdua mengerikan…” benaknya. Sementara itu, Cassie, Icha, Bella, dan Rhean tidak terlalu mengerti dengan apa yang dibicarakan mereka berdua. Rhean yang juga memperhatikan mereka hanya bisa menebak-nebaknya saja.
“Apa Adelard baik-baik saja,” tanya Cassie sangat cemas.
“Semoga dia baik-baik saja,” sahut Gavin.
“Sepertinya dia masih terpukul dengan kejadian semal—” lanjut Bella namun mulutnya langsung ditutup oleh Gandra.
“Bagaimana kalau kita menghiburnya?” usul Icha. Semua orang terdiam sejenak sembari berpikir untuk menemukan solusi.
“Hmm… Kalau jalan-jalan?” ucap Rhean.
“Tapi kemarin kita baru saja jalan-jalan,” sahut Gavin.
“Iya, sepertinya itu tidak akan membantu banyak,” tutur Bella. Suasana kembali hening hingga akhirnya Gandra berucap kepada mereka.
“Sepertinya hanya waktu yang bisa memperbaiki semuanya.”
“Jadi, kita biarkan saja dia?” tanya Bella tak habis pikir. Gandra meresponnya dengan mengangguk ke arahnya. Tidak lama kemudian Rein beranjak dari tempat duduknya.
“Aku ingin pergi belanja bahan makanan.”
Kemudian ia mengajak Cassie, Bella, dan Icha untuk ikut bersamanya. Kini hanya tersisa Gavin, Gandra, dan Rhean yang berada di ruang tengah. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mengisi waktu luang. Gandra berjalan ke arah kamar.
“Aku ingin melihat Adelard.” Gavin dan Rhean akhirnya juga ikut menuju kamar bersama. Setibanya di kamar, Gandra mengambil buku percintaan yang aku dan Gavin simpan, sedangkan Rhean tengah duduk di atas kasur sembari melihat wajahku yang pucat sedang tertidur.
“Adelard yang malang…” gumamnya. Mereka bertiga duduk di tepi kasur dan Gandra membaca buku tersebut. Rhean melihat-lihat keadaan kamarku. Kemudian mereka asyik mengobrol bersama dan membuatku terbangun. Aku yang baru saja membuka mata dengan cepat kembali berpura-pura tidur sembari menyimak pembicaraan mereka.
“Saat semuanya tenang, bertemulah di waktu yang tepat,” ucap Gandra membaca kutipan di buku itu. Aku yang mendengarnya lantas berpikir untuk menyelesaikan permasalahku.
“Andai saja ada satu kegiatan lalu semuanya beres…”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)