Love Exchange

Love Exchange
Episode 199 : Kampung Halaman


__ADS_3

Aku dan Cassie baru saja keluar dari pintu gerbang kedatangan. Betapa terkejutnya kami saat melihat semua orang menyambut kami dengan meriah.


“Selamat datang, Adelard dan Cassie…!”


Kami berdua sempat terperangah melihat mereka, sebelum akhirnya membalasnya berbarengan.


“Kami pulang!”


Terdapat sebuah spanduk yang panjang dengan tulisan selamat kepada aku dan Cassie. Semua sambutan yang sangat meriah itu membuatku senang sekaligus menggeleng-gelengkan kepala. Semua rasa sedih yang berada di dalam kalbu seketika tergantikan.


“Kalian membuat semua ini?” tutur Cassie.


“Betul, bersama orang nomor satu di kota ini,” balas Hart bersama walikota yang ikut menyambut kami. Kami tersentak kaget saat melihat kehadiran beliau.


“Selamat datang, kalian berdua…” ujar beliau.


“K—Kami pulang, Pak!” lontar Cassie gelagapan. Wajak kami membuat beliau tergelitik tawa.


“Hahaha! Tidak perlu formal-formal…”


“Cassie!” seru Freda berlari lalu memeluknya.


“Lama tak berjumpa…” imbuh Freda.


“Satu, dua, tiga… Baru awal tahun,” sahut Hart seraya menghitung jari.


“Apa salahnya? Kau tidak bisa memeluk Adelard, ya?” sindir Freda.


“Yah… Agak aneh kalau kami berpelukan,” balasku.


Setelah itu semua orang berkumpul. Aku mencium tangan dengan kedua orang tuaku. Hal serupa juga dilakukan oleh Cassie.


“Bagaimana selama kau di sana?” tanya ibuku.


“Seru sekali! Aku dapat bertemu banyak orang hebat!” jawabku membara.


“Sudah dapat pacar belum?” celetuk adikku. Cassie sedikit tersentuh akibat perkataan barusan.


“Tidak,” balasku tersenyum.


“Dasar, abang yang tidak peka,” lanjutnya. Ia langsung memelukku dengan erat. Rasa senang tak terelakkan darinya.


“Sudah mulai empuk, ya…” bisikku padanya.


“Terima kasih atas ‘pujiannya’.”


“Baiklah! Karena semuanya sudah berkumpul, dan waktu masih panjang, sekarang saatnya kita bersenang-senang!” lontar ayahku bersemangat.


“Sepertinya kau sudah merencanakannya,” sahut walikota. Aku melihat ayahku dan walikota yang saling bicara.


“Ayah terlihat akrab sekali dengan Pak Walikota,” ucapku.


“Teman kuliah memang harus akrab,” balas ayahku menyeringai. Aku dan teman-temanku terkejut mendengarnya.


“T—Teman kuliah?” tanya Hart.


“Ayo semua naik!” seru ayahnya Cassie.


Terdapat sebuah minibus di hadapan kami. Aku tidak habis pikir dengan semua yang ini. Aku berjalan berdampingan bersama mereka sembari mengobrol.


“Bagaimana?” cetus Freda.


“Bagaimana apanya?” balasku kebingungan.


“Kalian berdua… ada perkembangan?” lanjutnya. Aku tertunduk mendengarnya.


“Entahlah… Kuharap begitu…”


“Sepertinya aku mencium aroma tidak enak dengan ini,” sahut Hart.


“Jangan bilang kalau ada salam paham lagi,” ujar Freda. Aku dan Cassie hanya terdiam sesaat. Ia menepuk jidat terhadap kami berdua.

__ADS_1


“Astaga… Dasar kalian berdua…”


“Menurut kalian bagaimana? Apa benar-benar kita mengandalkan waktu saja?” tanyaku resah.


“Sepertinya kau harus mengatakan yang sebenarnya,” balas Hart.


“Mengatakannya?”


“Iya, mau tidak mau mungkin itu cara yang terbaik…”


“Baiklah…”


Sesampainya di tujuan, kami semua terkejut kalau ternyata kami tengah berada di depan gedung walikota. Aku dan Cassie berjalan di atas karpet merah dan diiringi dengan alunan musik di kanan kiri. Kami diberi beberapa penghargaan oleh beliau. Berdiri di depan para wartawan membuat kami malu setengah mati. Tidak berlama-lama di gedung tersebut, kami semua berpisah dengan walikota lalu melanjutkan perjalanan.


Teringat kembali di ingatanku tentang suasana kota Snitheria yang tak sebesar kota yang ku tinggali selama kurang dari setahun kemarin.


“Rinduku terbayarkan…” gumamku.


“Apakah kota ini dengan kota di sana berbeda?” tanya ibuku.


“Di sana terasa seperti di luar negeri,” jawabku.


“Kan memang di luar negeri, Alien,” sahut Hart.


“Oh iya, aku lupa… Hehe…” lanjutku cengengesan.


“Ibu tidak mengerti dengan ‘luar negeri’ yang kau maksud.”


“Eee… Bagaimana menjelaskannya, ya…”


“Tante bisa melihat foto-foto kami saja!” lontar Freda lalu memberikan ponselnya. Ibuku melihat semua foto yang diambil selama pertukaran pelajar. Adikku ikut serta di sampingnya.


“Wah… Mereka cantik dan ganteng…” decak ibuku.


“Apa ada yang kau incar?” tanya adikku tersenyum licik.


“Bilang saja kau yang mau dengan laki-laki itu, kan?” balasku.


“Punya apa…?” sahut Freda menyinggungnya.


“Berhenti mengejekku!” seru adikku kesal sekaligus tersipu.


“Hahaha! Kau lucu kalau seperti itu,” gelak Hart.


“Jangan sampai kau ada rasa pada adikku, ya,” celetukku.


“Pasti tidaklah! Untuk apa aku menyimpan rasa pada adik Alien.”


“Pantas saja kau tidak punya pacar… Pilih-pilih begitu…” cetus Freda.


“Kau juga sama!”


“Setidaknya aku tidak menggantung perasaan orang seperti…” sindir Freda.


“Betul, yang penting kita peka,” balas Hart.


“Kalian pasti…” ucapku jengkel.


“Loh? Siapa? Aku tidak menyebut siapa-siapa,” lanjut Freda.


“Kau merasa begitu, ya?” ujar Hart.


“Tidak! A—Aku… Aku…”


“’Aku orang yang tidak peka’?” sahut adikku.


Kedua orang tuaku dan Cassie hanya tertawa mendengar percapakan kami. Cassie tersenyum-senyum melihat tingkah kami.


“Kita sudah sampai!” lontar ayahku.


“Pantai!” sahut Freda.

__ADS_1


“Tapi aku tidak ada baju pantai…” gumamku.


“Aku juga…” tutur Cassie.


“Eh? Baju yang ada di koper kalian?” tanya Hart.


“Aku malas membongkar koperku,” jawabku. Freda seketika berseru dan menarik perhatian semua orang, lalu ia mengambil sesuatu dengan sangat bersemangat.


“Eits! Tenang saja! Aku sudah mempersiapkan untuk kalian berdua…”


“Loh, seperti pakaian yang dipakai Rhean,” gumamku dalam hati.


Cassie yang melihat pakaiannya lantas merasa malu dan enggan untuk mengenakannnya.


“Kau kenapa Cassi—” tanyaku seraya menoleh lantas terkejut melihatnya.


“Kau memang yang terbaik!” lontar Hart pada Freda bertepuk tangan dengannya.


“Apa-apaan hanya dua lembar kain?” seru adikku kesal.


“Pakaian musim panas memang seperti itu,” sahut Hart mengangguk-angguk.


“Kau juga mau?” tanya Freda sembari menunjukkan pakaian pantai lainnya yang sejenis.


“Tidak…!”


“Kau seperti penjual baju saja…” gumamku.


Cassie pun melihat ke arah kedua orang tuanya. Mereka hanya tersenyum padanya. Ia menjadi malu setengah mati.


“Ayah! Ibu!”


“Tak perlu khawatir, aku juga akan memakainya,” ujar Freda.


“Wah, pasti sangat bagus kalau kalian pakai berseragam,” lanjut Hart.


“Oh, kalau begitu kami juga akan ikut,” tutur ibuku yang bersebelahan dengan ibunya Cassie. Mereka menunjukkan dua lembar kain tersebut ke arah kami.


“Aku jadi semakin tidak sabar!” lontar ayah Cassie.


“Haha! Ingat umur,” sahut ayahku tergelitik tawa. Seluruh laki-laki yang ada di dalam kendaraan ini sontak merasa membara. Aku tidak habis pikir dengan semua ini.


“Kenapa semuanya jadi begini?”


“Kau tidak apa-apa, Adelard?” tanya Freda.


“A—Aku tidak apa-apa!” jawabku gelagapan.


“Kau memikirkan apa?” tutur Cassie.


“Ah tidak! Aku sedikit pusing dengan semua ini…”


“Memang pemikiran alien sedikit berbeda dengan kita, ya…” celetuk Hart.


Pada akhirnya kami tiba di pantai. Suasana tampak sangat ramai dengan para pengunjung. Kami bergiliran pergi menuju kamar ganti. Kami semua menunggu Freda, Cassie, dan adikku yang mendapat giliran terakhir.


“Nah, itu mereka!” lontar Hart.


Cassie berjalan seraya tertunduk malu. Mereka berdua sangat tersipu sampai-sampai wajah mereka memerah pekat, terkecuali Freda yang bertingkah girang sendiri.


“T—Tipis sekali…” gumamku.


“Supaya tidak panas,” sahut ibuku yang sudah mengenakannya. Aku memalingkan pandanganku ke arah laut dengan segera.


“Apa bedanya kalian semua dengan telanjang?” benakku jengkel.


“Wuhu! Aku melihat banyak gunung menjulang tinggi di tengah pantai,” lontar Hart kegirangan. Aku menarik napas pasrah terhadap keadaan.


“Kuharap hari ini cepat berlalu…”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2