Love Exchange

Love Exchange
Episode 88 : Bergembira Di Pesisir


__ADS_3

Matahari telah melayang di langit biru nan cerah. Dengan sinar yang terik dan berseri-seri, menerangkan seluruh permukaan tanah. Paparannya yang cukup panas membakar, membuat siapa pun ingin cepat-cepat bertemu dengan air dan menyejukkan diri. Salah satunya adalah kami yang berencana untuk pergi menuju pantai di pesisir kota.


Kami telah sepenuhnya bangun dari tidur, kecuali Gavin yang lagi-lagi tertidur pulas. Kemudian Rein mengambil air dan menciprat-cipratkan dengan jemari ke wajahnya. Tak lama kemudian Gavin tersadar dan beranjak dari kasur. Cassie dan Rein menyiapkan sarapan, sedangkan aku dan Gavin menyiapkan barang-barang yang akan dibawa.


“Apa saja yang harus kita bawa? Kita menginap tidak?” tanya Gavin sembari memasukkan pakaian ganti ke dalam tasnya.


“Jaga-jaga saja. Siapa tahu kita akan menginap,” jawab Rein. Aku pun membalasnya seraya berkata, “Oke.”


Hidangan untuk sarapan akan segera siap, tetapi Rein dan Cassie belum sempat mempersiapkan barang bawaan mereka masing-masing, sementara itu aku dan Gavin telah selesai dan tidak tahu harus melakukan apa lagi. Lalu Gavin berinisiatif untuk membantu mereka berdua.


“Aku siapkan barang bawaan kalian, ya,” ucap Gavin menuju kamar mereka. Sontak Cassie terkejut dan segan akan hal tersebut.


“Ti—Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri,” balas Cassie gugup, namun tidak begitu dengan Rein yang menerima tawarannya.


“Ya sudah kalau begitu, masukkan barang yang ada di atas kasur, sisanya biar kami saja,” lontarnya sambil memasak. Cassie berpikir untuk tidak mengizinkannya lantaran Gavin akan memasuki kamar perempuan.


“T—Tapi… Kan ada—” tuturnya namun langsung disela oleh Rein.


“Tenang saja. Ia tidak akan melakukan sesuatu yang aneh, kan?” balas Rein tersenyum kemudian menatap tajam ke arah Gavin seolah-olah sedang mengancamnya. Melihat wajah Rein yang seperti itu membuat Gavin mendadak ketakutan.


“T—Tentu saja!” balasnya Gavin tersenyum, lalu ia pergi masuk ke dalam kamar dengan pintu yang dibiarkan terbuka.


“Adelard! Sini bantu juga!” serunya dari dalam kamar. Aku pun menghampirinya dan memasukkan beberapa barang bawaan mereka ke dalam tas masing-masing. Aku memegang tas milik Cassie. Kami berdua asyik memasukkan barang dengan  rapih, sampai-sampai suatu ketika Gavin memegang pakaian dalam Rein dan membuatnya syok.


“B—B—Besar sekali…” hembusnya. Aku yang sedang melihat tingkahnya lantas membuatku merinding ketakukan dan melihat sekilas ke arah dapur.


“Cepat masukkan! Jangan lakukan yang tidak-tidak,” bisikku kepadanya.


“Oh iya, maaf, maaf,” sahutnya. Aku memasukkan pakaian-pakaian milik Cassie, dan kebanyakan dari mereka berwarna merah muda. Kemudian aku melihat pakaian milik mereka berdua.


“Dibanding Cassie, ternyata Rein seleranya tidak seperti anak SMA pada umumnya…” gumamku dalam hati.


Beberapa waktu berlalu, akhirnya kami berdua selesai melakukan pekerjaan, tepat saat itu juga sarapan yang telah siap di atas meja makan. Kami berempat menyantap makan pagi sembari mengobrol seperti biasa. Setelah selesai makan, Cassie dan Rein menyiapkan beberapa barang yang belum dimasukkan ke dalam tas. Kemudian kami meninggalkan asrama kami dan pergi menemui Bella dan teman-temannya.


“Selamat pagi!” lontar Bella bersemangat.


“Pagi,” balas Rein. Telihat tas yang Bella dan teman-temannya bawa lebih besar dari dugaanku.


“Sepertinya tas kalian besar sekali. Kalian bawa apa saja?” tanyaku penasaran.


“Sama seperti kalian, kok. Tapi hanya saja ada beberapa barang tambahan,” jawab Icha. Aku tidak mengerti dengan perkataannya dan membuaku semakin geregetan untuk mengetahuinya.


“Barang tambahan? Apa itu?” lanjut tanyaku.


“Rahasia,” sahut Gandra tersenyum. “Kau kepo sekali ya, Adelard,” imbuh Rhean kepadaku.


“Kompak sekali mereka…” benakku. Rein tidak ingin menggendong tas yang cukup berat terlalu lama, sehingga ia mengajak kami untuk segera berjalan.

__ADS_1


“Ayo jalan. Jangan kelamaan di sini. Lumayan berat, tahu.” Aku sedikit terkejut dengan bawaan Cassie dan Rein yang cukup banyak, sampai-sampai mereka membawa tas jinjing ditangannya.


“K—Kalian juga?” tanyaku tidak percaya.


“Tentu saja!” jawab Rein tersenyum. Aku ingin bertanya lagi dan mulutku hampir terbuka, akan tetapi Cassie langsung membalasku.


“Rahasia… Hehe…” ucap Cassie cengengesan. Lantas aku menjadi jengkel terhadap perangai mereka semua.


“Kenapa semuanya jadi begini?” gerutuku dalam hati.


Kami pergi menuju pantai yang berada di daerah pesisir ibukota. Waktu yang diperlukan adalah sekitar setengah jam dengan kereta. Selama perjalanan kami melangkahkan kaki ke stasiun, tampak orang-orang yang sedang beraktivitas dan berlalu-lalang di trotoar jalan. Kami juga kedapatan kereta dengan penumpang yang sangat padat. Aku sedikit kesulitan bernapas akibat gerbong yang penuh sesak.


Ketika kereta akan segera tiba di stasiun tujuan kami, terlihat pemandangan laut biru dan burung-burung yang beterbangan. Pantulan sinar matahari berkilauan di atas permukaan air asin itu. Melihatnya saja sudah membuat kami semua bersemangat dan tidak sabar untuk segera menikmatinya. Setibanya di stasiun, kami dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju pantai selama sepuluh menit


Sesampainya di pantai, kami semua terperangah gembira melihat pemandangan yang indah dan orang-orang yang bersenang-senang.


“Wah, indah sekali…” tutur Cassie terpukau.


“Hari ini ramai sekali, ya,” lontar Bella. Kemudian kami mencari tempat yang cocok lalu menggelarkan tikar dan menancapkan payung tenda. Tak jauh dari tempat kami berdiri, terlihat beberapa orang yang sedang bermain voli pantai. Lantas Gavin, Gandra, dan Rhean berlarian menghampirinya. Sementara itu aku masih merapihkan tempat santai kami.


“Adelard, tolong oleskan krim ini ke punggungku,” pinta Rein kepadaku.


“E—Eh? Kenapa harus aku?” tanyaku gelagapan. Bella yang melihat kami berdua lantas mengambil krim tersebut.


“Sini, biar aku saja,” ucap Bella. Aku yang sempat panik tak karuan kemudian menarik napas lega. “Huft… Untung saja,” hembusku dalam hati. Lalu Icha datang menghampiri mereka berdua dan mereka pun saling mengoleskan krim matahari ke seluruh tubuhnya. Aku melihat-lihat sekeliling, tetapi panas matahari yang terik membuatku kehausan.


“Aku ikut!” teriak Cassie sembari berlari menghampiriku.


Aku dan Cassie membeli beberapa minuman. Cassie membantuku membawakan minuman tersebut di pelukannya. Aku merasa terbantu olehnya.


“Terima kasih,” lontarku senang.


“Sama-sama,” balasnya tersenyum. Sembari berjalan kembail, kami berdua saling mengobrol dengan asyik.


“Kau tidak menggunakan krim? Nanti kulitmu terbakar, lho,” ucapku kepadanya. “Oh iya, aku lupa,” sahutnya cengar-cengir. Kami pun tiba di tenda, namun tidak ada satu pun orang di sana.


“Loh, mereka semua ke mana?” tanyaku kebingungan. Cassie melihat sekeliling dengan menyipitkan kedua matanya.


“Di sana. Mereka sedang berenang,” jawabnya seraya menunjuk ke arah mereka. “Bisa-bisanya mereka meninggalkan barang-barang di sini tanpa seorang pun yang berjaga…” gumamku dalam hati. Tak lama kemudian Cassie yang sedang tengkurap memintaku tolong akan hal yang sama seperti Rein tadi.


“Kau tidak ingin kulitku terbakar, kan?” ucapnya sambari menunjukkan wajah malangnya. “Apa boleh buat,” desisku pasrah. Aku pun mengoleskan krim tersebut ke punggungnya. Saat aku menyentuhnya, kulit yang halus dan lembut dapat aku rasakan dari tanganku. Kulitnya yang kencang membuatku terkesima terhadapnya.


“L—Lembut sekali…”


Selepas aku mengoleskannya, sekarang giliran Cassie untuk melakukan hal serupa ke punggungku.


“Kau balik badan,” ucapnya. Ia pun mengoleskan krim tersebut dengan pelan ke punggungku. Kulit telapaknya yang halus membuatku merasa plong dan nyaman. Setelah itu aku dan Cassie ingin sekali menyusul mereka, tetapi aku tidak tahu apakah barang-barang yang tergeletak di sini boleh ditinggal atau tidak.

__ADS_1


“Pantai ini aman-aman saja, kan?” tanyaku.


“Sepertinya begitu. Soalnya banyak tenda yang ditinggal orang-orang juga,” jawabnya sambil melihat sekitar. Lantas kami berlari menghampiri mereka. Terdapat juga Gavin dan kawan-kawan yang sedang bermain air melawan Rein dan timnya.


“Wah, sepertinya seru!” lontarku dari tepi.


“Kau dari mana saja? Ayo sini!” sahut Rhean gembira.


Kami semua pun bersenang-senang di atas air. Gelak tawa gembira terpancarkan dari mereka semua. Aku sangat senang melihat mereka. Selain perang air, kami juga melakukan balapan renang. Kami pun berbaris dan menjajar ke samping. Rein yang berada di tengah memberikan aba-aba dan menghitung mundur.


“Satu, dua, tiga!” Sontak kami semua berenang dengan segala kemampuan kami. Dengan waktu singkat teman-temanku tertinggal di belakang, sementara itu aku dan Rein tengah bersaing berat untuk berada di depan. Aku memenangkan balapan renang ini.


“Yey, aku menang!” seruku senang. Mereka semua terpukau takjub kepadaku. Berbagai pujian mereka lontarkan ke arahku. Aku menjadi malu dan merasa tidak enak akan hal tersebut. Tanpa aku sadari, ternyata para pengunjung yang menyaksikan kami juga terkesima dan tepuk tangan ke arahku.


“Terima kasih… Terima kasih…” ucapku sembari menunduk.


“Kau hebat sekali!” lontar Bella.


“Ternyata kau jago berenang juga, ya,” ujar Rein cengengesan.


“Kau bahkan mengalahkan atlet renang secara langsung,” cakap Icha.


“Kau berlebihan sekali. Itu pun waktu aku SD, kok… Hehe…” balas Gandra.


Kegiatan pun berlanjut dengan bersenang-senang bersama-sama. Waktu terus berputan dan tanpa disadari, langit telah berubah menjadi senja dan para pengunjung semakin ramai untuk menyaksikan pudarnya mentari dari kanvas lelangitan. Kami semua melihat pemandangan tersebut sembari berpiknik di tenda kami. Dengan beberapa makanan ringan yang dibawa, kami menyantapnya sambil mewarnainya dengan canda tawa.


“Seumur-umur, aku baru melihat matahari terbenam secara langsung,” ucap Rhean. “Yah… wajar saja kita tinggal diperbukitan,” sahut Bella pringas-pringis.


“Kalian tidak pernah ke pantai?” tanyaku penasaran.


“Aku pernah sekali. Tapi Rhean kayaknya belum pernah,” jawab Bella.


“Aku belum sempat berlibur ke sana karena jauh sekali,” lanjut Rhean.


Beberapa waktu berselang langit telah menjadi gelap. Lampu-lampu mulai bernyala dan kini suasana pantai menjadi terang. Aku tidak menyangka bahwa tempat ini semakin ramai, meskipun sudah malam hari. Terdengar lagu yang diputar dengan kencang dan orang-orang yang berjoget senang.


“Kok semakin ramai?” tanyaku terheran-heran.


“Justru di sinilah waktu terbaiknya,” jawab Rein tersenyum.


“Betul sekali!” lanjut Cassie. Kemudian kami melanjutkan dengan menikmati malam yang sejuk dan hangatnya kebersamaan. Lantas mereka semua mengeluarkan sesuatu dari tas mereka masing-masing. Aku pun menyadarinya ternyata mereka membawa peralatan dan bahan untuk barbeku.


“Ayo kita berpesta!” seru Rein dan kami semua langsung menyambutnya dengan serentak.


“Ayo!”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2