
Satu hari setelah insiden tugas yang sangat banyak jadi, akhirnya aku bisa melanjutkan kegiatan keorganisasianku sore ini. Meskipun ragaku cukup berat untuk digerakkan, tetapi hal tersebut tidak memukulku untuk tetap diam, terlebih banyaknya program yang harus terlaksana pada semester genap ini.
Sepulang sekolah kami pergi menuju kantor guru untuk menyerahkan semua tugas yang sudah diberikan kemarin. Kondisi yang sangat ramai dengan murid-murid membuat kami kewalahan untuk meletakkannya di meja. Untung saja Hart menggunakan jurus pamungkasnya yang sama seperti kala itu.
“Air panas! Minggir ada air panas!” Lagi-lagi idenya tersebut masih saja membuahkan hasil. Aku tidak habis pikir mengapa hal bodoh tersebut terus terulang.
“Padahal bagaimana mungkin seseorang membawa air panas di tengah kepadatan seperti ini…” gumamku.
Selepas itu akhirnya kami selesai melewati “peristiwa terkutuk” yang menimpa kami. Alhasil kami dapat kembali leluasa untuk beraktivitas seperti sedia kala.
“Ergh! Badanku pegal semua,” hembus Freda sembari mereggangkan diri.
“Syukurlah semuanya berakhir,” sahut Milard senang.
“Kalau begitu, kita kembali ke rutinitas kami masing-masing,” ucapku.
“Baiklah, sampai jumpa,” lontar Freda kemudian ia dan Milard pergi meninggalkan kami bertiga. Lalu aku mengajak Hart dan Cassie untuk mengajak anggota lainnya agar segera berkumpul di ruang OSIS.
“Ayo kita bersiap menyusun rencana agenda kita!” ajakku bersemangat.
“Haaah…? Tidak libur dulu? Tubuhku sudah tidak bisa bergerak lagi, lho,” cetus Hart malas.
“Oke. Aku akan memanggil Emery dan yang lain,” balas Cassie ceria.
Kemudian aku dan Hart kembali menuju kelas. Setelah itu kami membawa tas kami ke ruang OSIS. Selama berjalan Hart tetap saja bermalas-malasan dengan menyeret-nyeret langkahnya. Aku menjadi jengkel terhadapnya yang lamban sekali. Lekas aku pun menariknya paksa dan berjalan cepat supaya tidak banyak membuang waktu.
“Ayolah! Saat liburan kau yang paling semangat, tapi giliran sekarang kau malah loyo seperti taoge,” tegasku padanya.
“Lebih baik liburan daripada sekolah…” keluhnya dan bertingkah seperti anak kecil yang membangkang.
Sesampainya di ruang OSIS kami pun memasukinya. Hanya ada Emery dan Cassie yang sudah menunggu.
“Ini tasmu,” ucapku seraya memberikan tas Cassie padanya. “Mana yang lain?” imbuhku bertanya.
“Terima kasih. Yang lain masih sibuk mengumpulkan tugas,” jawabnya. Sontak Hart menyahutinya dan mencari kesempatan untuk memulangkan diri.
“Lah, terus untuk apa kita di sini?”
“Berapa lama kira-kira mereka akan selesai?” tanyaku kepada mereka berdua.
“Tadi kulihat kebanyakan dari mereka baru menyalin dari temannya yang lain,” jawab Emery menjelaskan. Kemuakkanku semakin bertambah terhadap murid-murid sekolah ini.
“Argh! Bisa tidak kalian sekali-kali mengerjakannya di rumah?” gerundelku penuh geram.
__ADS_1
“Lalu bagaimana ini?” tanya Cassie khawatir.
“Nah! Kalau begitu hari ini diliburkan dulu saja,” usul Hart antusias.
“Huft… Kau benar-benar anak pemalas, ya…” sahutku. Lantaran kondisi yang tidak memungkinkan, aku pun menunda agenda rapat kali ini.
“Baiklah, agenda rapat hari ini libur dulu,” ucapku. Pada saat itu juga, tiba-tiba Hart melompat-lompat kegirangan. “Tadi kau bilang tubuhmu tidak bisa bergerak, Codot,” batinku dongkol.
“Ya sudah kalau begitu aku pamit, ya!” lontarnya serta-merta berlari keluar ruangan.
“Oh iya, sampaikan ke yang lain juga, ya!” seruku padanya.
“Siap, bos!” sahutnya dari lorong.
Kini hanya tinggal kami bertiga yang tengah berada di ruangan ini. Aku melanjutkan pekerjaanku untuk menyelesaikan rancangan kegiatan mendatang. Melihat diriku yang sibuk lantas Cassie dan Emery tergerak untuk membantuku. Sembari mengobrol, kami mengerjakan urusan masing-masing.
“Ada kegiatan apa dalam waktu dekat?” tanya Emery penasaran.
“Pekan olahraga,” jawabku singkat sambil merapihkan dokumen-dokumen. “Kau sudah atur jadwal rapat dengan dewan guru, kan?” lanjut tanyaku kepada Cassie.
“Ya. Minggu depan,” jawabnya cepat.
Dari depan ruangan terdengar suara pintu yang terketuk. Terlihat dari bayangannya menunjukkan ada lebih dari satu orang. Lalu aku mempersilahkannya masuk dan membuka pintu. Ternyata ada tiga orang perempuan yang cukup asing bagiku.
“Permisi…” tutur seorang dari mereka.
“Hari ini jadi rapat kan, Kak?”
“Maaf… Hari ini ditunda dulu,” Seketika aku teringat Hart dan lagi-lagi membuatku jengkel dengannya. “Bukankah kau sudah kusuruh untuk memberi tahu semuanya?” decitku dalam hati.
“Oh, ditunda, ya?” Lalu terlihat wajah sedikit kecewa pada mereka. Dengan sigap aku menanyakannya.
“Apa terjadi sesuatu?”
“E—Eh? Tidak, Kak, bukan apa-apa…” jawabnya pelan. Aku yang tengah sibuk tidak bisa diam memperhatikannya.
“Apa kami boleh ikut membantu?”
“Terima kasih. Tapi sedikit lagi selesai,” jawabku berbohong lantaran aku tidak ingin merepotkan anggotaku. Aku takut akan kesalahpahaman dari anggota lainnya jika melihat mereka membantu kami.
“Tapi kami sudah izin untuk pulang terlambat,” Karena tidak tega melihatnya, akibatnya aku pun menerima bantuan mereka.
“Baiklah kalau begitu, tutup dan kunci pintu itu,” ucapku. Kemudian mereka membantu menyelesaikan pekerjaan kami. Aku yang ingin memanggil mereka menjadi tidak enak sebab aku lupa nama mereka. Akhirnya aku mengerjakannya seorang diri. Namun tak lama berselang seseorang menghampiriku dan membantuku.
__ADS_1
“Terima kasih… Eee…”
“Clarissa. Nayara Clarissa,” balasnya tersenyum. Tiba-tiba aku menjadi malu dan salah tingkah sendiri. “Oh iya… Maaf… Aku lupa.”
“Tidak apa-apa.”
“Kau tidak mengenal mereka?” sahut Emery.
“B—Bukan begitu,” jawabku gelagapan. “Entah mengapa tiba-tiba pikiranku kosong.”
“Tenang saja, Kak. Kami akan memperkenalkan diri kembali.”
“Nama saya Mesha Indira. Panggil saja Mesha.”
“Saya Adriana Agatha.” Lalu aku mengeja kembali nama-nama mereka agar teringat di kepalaku.
“Clarissa, Mesha, terus Ad—Adrian?”
“Bisa dipanggil Nana, Kak,” balas Nana tersenyum.
Bekerja bersama-sama tentunya membuat pekerjaan menjadi lebih mudah dan cepat selesai. Tanpa ku sadari satu demi satu dokumen yang kami buat sudah hampir semuanya tuntas. Aku tidak perlu khawatir karena dapat pulang lebih awal dari perkiraanku. Sempat terlintas di benakku untuk menyelesaikan semua pekerjaanku hingga larut malam.
“Kalian dari kelas yang sama? Kelas sepuluh, kan?” tanyaku.
“Ya, dari kelas sepuluh, tapi kami beda-beda kelas,” jawab Clarissa. Kemudian mereka menjelaskan kelas dari masing-masing mereka.
“Kuharap kita bisa berteman,” lanjutku.
“Tentu saja!” balas Mesha girang. Tingkahnya mengingatkanku kepada Freda yang hampir mirip dengannya. “Yah… Setidaknya dia tidak menyebalkan seperti kecoak,” batinku.
“Kalau Kak Adelard butuh bantuan, jangan sungkan beri tahu kami,” ucap Nana tersenyum senang. Aku pun sangat berterima kasih pada mereka semua.
“Terima kasih banyak.”
“Sama-sama.”
Tanpa aku sadari pekerjaanku kini telah beres semuanya. Setelah itu kami semua pulang menuju rumah masing-masing. Langit jingga menemani perjalananku pulang bersama dengan Nana yang ternyata letak rumahnya searah dengan rumahku.
“Rumahku belok sini. Kalau begitu sampai jumpa,” cakapku.
“Sampai besok!” serunya yang murah senyum kepadaku. Aku berlega hati karena pandanganku tentang sekolah ini membaik.
“Syukurlah masih ada murid yang waras…” hembusku senang.
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)