
Suasana ramai terdengar dari luar jendela. Tampak para pengunjung yang tengah bersenang-senang bersama keluarga atau teman-teman mereka. Aku yang melihat mereka lantas ingin untuk merasakan hal yang sama dengan mereka. Rein yang sudah merasa lega kemudian mengabarkannya kepada Gavin dan yang lainnya. Untung saja aku baik-baik saja sama seperti saat baru terbangun dari tidur. Akan tetapi, dadaku merasakan sensasi yang berbeda.
“Tidak mungkin aku terkena luka dalam, kan?” tanyaku khawatir pada Rein.
“Kata dokter tidak. Apa kau merasakan rasa sakit di suatu tempat?” balas Rein yang kemudian ikut cemas seperti diriku.
“Syukurlah, sepertinya ini hanya perasaanku saja,” lanjutku lega.
“Aku sudah benar-benar fit. Ayo kita menghampiri mereka,” tutur Cassie sembari beranjak bangun. Aku yang melihat ke arah dirinya sontak rasa aneh tersebut semakin menjadi-jadi. Aku pun berusaha untuk menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
“Kau tidak apa-apa, kan?” ujar Rein kebingungan.
“Huft… Aku tidak apa-apa,” hembusku.
Kami berjalan menuju stasiun kereta gantung. Terdapat sebuah antrean yang cukup panjang untuk menaikinya. Mau tidak mau kami ikut mengantre di barisan tersebut lantaran kami tidak ingin memilih berjalan kaki menuju puncak. Pada akhirnya kami dapat menaiki kereta tersebut, namun diakibatkan antrean yang cukup panjang itu lantas kami diminta untuk naik bersamaan sekaligus.
“Mohon maaf sebelumnya, tapi kalian tidak terlalu merasa kesempitan, kan?” tanya pelayan tersebut kepada kami.’
“Iya, tidak masalah,” balas Rein. Sementara itu, aku masih terdiam dengan kepala yang penuh pikiran.
“Kau di tengah saja,” ucap Rein padaku.
“B—Baiklah…” balasku gugup.
Kami menaiki kereta tersebut yang seharusnya hanya diperuntukkan oleh dua orang kini kami bertiga menaikinya bersamaan. Aku duduk di antara Cassie dan Rein. Hal tersebut membuat dadaku semakin terasa sesak dan jantungku berdegup sangat kencang. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Aku tidak berani memandang Cassie semenjak peristiwa itu. Suasanya semakin canggung dan ingin rasanya untuk segera turun dari kereta ini.
“Kau masih ingin bermain ski, kan?” tanya Rein.
“T—Tentu…” balasku gelagapan. Rein yang kebingungan sontak menempelkan keningnya dengan keningku. Aku yang tidak menyangkanya lantas menjauhi wajahnya dengan spontan. Cassie yang berada di sebelahku lantas merasa tertekan dengan diriku.
“A—Adelard…” rintih Cassie kesakitan.
“A—Ah! Maaf!” lontarku kalang kabut. Kepalaku terasa pusing dan diriku terasa seperti ingin meledak.
“Kau panas dan wajahmu memerah… Sepertinya kau demam…” gumam Rein setelah mengecek panas tubuhku dengan keningnya.
“A—Aku baik-baik saja,” balasku.
“Tapi kau tidak tampak seperti itu, Adelard,” lanjut Rein. Aku yang memikirkan kalimat untuk menyahutinya sontak terlintas sebuah ide.
__ADS_1
“O—Oh… A—Aku sudah kebelet buang air…”
“Oh begitu, kenapa kau tidak bilang dari tadi?”
“M—Maaf pikiranku menjadi kosong tiba-tiba…”
Setibanya di puncak kami menemui teman-teman yang sudah menunggu kami sejak tadi. Mereka semua menanyakan keadaan kami lalu kami menjawabnya dengan memasang wajah senang kepada mereka. Lantas suasana menjadi membara dan penuh dengan canda tawa. Akan tetapi, aku yang ingin meminta maaf pada Cassie sontak menjadi sangat malu untuk mengatakannya. Bahkan untuk melihatnya saja sangat sulit rasanya. Ternyata Cassie juga memikirkan hal yang sama sepertiku.
“Bagaimana aku berbincang dengannya?” gumamku dalam hati. Sementara itu, teman-temanku sudah berbaris dan bersiap sedia untuk berseluncur.
“Ayo kita berseluncur bersama!” lontar Bella.
“Adelard, posisimu salah. Kau akan mudah terjatuh jika seperti itu,” lanjut Rein yang menoleh ke arahku.
“O—Oh… M—Maaf…” Ia pun menunjukkan posisi yang benar lalu aku mengikutinya. Gavin yang melihat Cassie terdiam bagai patung lantas membuatnya keheranan.
“Kau kaku sekali, apa perlu kita pemanasan lagi?” tanya Gavin.
“T—Tidak mengapa. Aku hanya kurang fokus…” jawab Cassie cengar-cengir.
“Baiklah, semuanya sudah siap, kan?” tanya Rhean yang kemudian kami menyahutinya serempak.
“Wu… Hu…! Seru sekali!” seru Bella teramat senang.
“Ayo kita lihat siapa duluan yang sampai!” lontar Rhean kepada Gavin dan Gandra.
“Oke! Kuterima tantanganmu!” sahut Gavin.
“Wah, sepertinya kau meremehkanku, ya!” lanjut Gandra bersemangat. Mereka bertiga sontak mempercepat laju mereka dan melampaui diriku dan yang lainnya. Aku yang melihatnya kemudian merasa ingin untuk ikut bersama mereka, namun Rein yang berada di sampingku lantas memperingatiku.
“Kau belum terlalu pandai! Jangan mengulangi hal yang sama!” serunya dengan suara yang lantang di antara suara hembusan angin yang sangat kencang.
“Baiklah!” sahutku.
Saat kami sudah berada dekat dengan ujung lintasan. Aku berusaha untuk mengerem dan memperlambat lajuku, namun aku masih kesulitan untuk melakukannya. Rein langsung memberikan arahan kepadaku. Kami saling bersahut-sahutan di atas papan ski yang berseluncur cepat. Hingga pada akhirnya lintasan sudah mendatar dan aku berusaha untuk mengerem dengan papan ski tersebut.
“Sekarang!” lontar Rein. Aku langsung menggerakkan kakiku ke arah dalam dan akhirnya lajuku melambat.
“Kerja bagus!” seru Rein senang.
__ADS_1
“Aku sangat berterima kasih padamu!” balasku tersenyum.
“Tidak masalah, kau sudah melakukannya dengan baik.” Aku pun merasa lebih baik dan lega selama bersama Rein. Hingga akhirnya teman-temanku datang menghampiri kami.
“Kau sudah berkembang, Adelard!” puji Bella kepadaku. Mereka juga merasa kagum terhadapku dan membuatku merasa malu.
“Kalian berlebihan,” balasku cengar-cengir. Cassie tidak berkata apa-apa padaku dan justru tampak seperti menghindariku. Aku yang merasa sangat bersalah terhadapnya lantas menjadi cemas namun tak dapat berbuat apa-apa.
“Semoga saja dia tidak membenciku…” benakku berharap. Seketika saja terdengar suara perut yang sudah keroncongan dari arah Gavin.
“Aku sudah lapar… Hehe…” ucapnya cengengesan.
Kami berjalan menuju restoran yang berada di tepi lereng gunung dengan pemandangan sungai yang terhubung dengan danau nan luas di bawah sana. Terlihat beberapa titik-titik kecil di atas lapisan danau yang membeku itu. Mereka tampak seperti semut kecil yang berhamburan. Kami menempati meja makan yang berada di pinggir dinding kaca. Kami duduk berjajar ke samping dan berhadapan langsung dengan panorama tersebut.
“Itu manusia, kan?” tanyaku kebingungan sembari menyipitkan mataku.
“Ya, di bawah sana ada tempat seluncur es,” jawab Rein.
“E—Eh? Kau mengetahuinya?” lanjutku yang tambah keheranan terhadap dirinya.
“Tentu, aku mengecek peta sebelum kita pergi ke sini,” balasnya.
“Wah, sepertinya seru…” gumamku pelan.
“Jangan bilang kalau kau belum pernah juga…” cetus Gandra.
“Tentu saja aku pernah!” lontarku sedikit jengkel padanya.
Tidak lama kemudian hidangan tiba dan kami bersantap sembari mengobrol bersama. Selepas mengisi perut, aku langsung bergegas menuju kamar mandi. Pada saat aku ingin masuk ke dalam, tampak Cassie yang keluar dari toilet wanita. Kami berdua saling terkejut melihat satu sama lain.
“C—Cassie? Kau ada di sini?” Sebelumnya aku tak menyadari bahwa Cassie pergi saat kami sedang asyik mengobrol tadi.
“A—Adelard?” Tiba-tiba saja dadaku kembali terasa sesak dengan penuh rasa dan pikiran yang campur aduk. Aku bergumam pada diriku sendiri dengan penuh rasa gelisah.
“Seburuk inikah kesalahanku?”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1