
Hari demi hari silih berganti, mentari dan bulan saling bergilir siang dan malam. Setelah hari-hari yang penuh kesibukan, tibalah penghujung pekan yang ditunggu-tunggu para insan. Kota yang berdiri gedung-gedung megah pun terpadati oleh orang-orang yang ingin melepas penat akan pekerjaan. Keesokan dari hari akhir kami bersekolah pada pekan tersebut, kami memutuskan untuk mengunjungi festival pendidikan yang telah kami bahas sebelumnya. Kami telah bersiap-siap sedari pagi.
“Cepatlah kalian berdua!” seru Rein dari depan asrama dengan pintu yang terbuka, sementara itu aku dan Gavin sedang mengambil beberapa barang yang berada di kamar. Beberapa waktu berselang, kami berdua keluar dari asrama kami dan menemui teman-temanku. Mereka semua telah berkumpul di koridor depan.
“Kalian lelet, ya,” celetuk Icha bercanda.
“Menggunakan kursi roda itu ribet, tahu,” balasku sedikit jengkel.
“Kenapa kau yang jawab? Padalah kan aku yang pakai,” sahut Gavin kepadaku kebingungan. Lantas aku menanggapinya dengan cengar-cengir.
“Kalian jauh lebih lama daripada waktu Cassie berdandan,” cetus Rein tersenyum. Cassie yang mendengarnya lantas menjadi malu dan salah tingkah. Ia pun berusaha untuk membantahnya, namun wajahnya lucu tersebut membuatku menjadi tertawa kecil melihatnya.
“A—Aku tidak berdandan! Aku hanya menggunakan pelembab wajah…” tuturnya gugup.
“Wah, kau tidak menggunakan dandanan? Tapi kau terlihat sangat cantik,” lontar Gavin terkesima kepadanya dan mendadak membuat Cassie semakin tersipu dengan wajahnya yang memerah. Kami yang melihat perangai Gavin yang tiba-tiba tersebut membuat kami terseyum melihatnya.
“Waw, penghubung yang sangat mantap!” celetuk Rhean.
“Hahaha! Gavin yang kukenal sekarang sudah bisa berucap seperti itu,” lanjut Rein tertawa terbahak-bahak. Aku juga tak luput tergelak tawa karenanya. Gavin pun menjadi salah tingkah dan berusaha untuk mengganti topik.
“Kau sudah mengalami banyak peningkatan!” lontarku cengengesan, namun seketika mereka semua terdiam dan menatapku dengan tatapan yang tajam. Sontak aku menutup mulutku rapat-rapat sembari terheran-heran dengan apa yang terjadi barusan, begitu pula dengan Cassie yang tampak kebingungan.
“Eee… Yah… M—Maksudku… Gavin sudah pandai bersosialisasi sekarang… Hehe…” ucapku pringas-pringis. Cassie yang keheranan pun bertanya dengan wajah penasarannya kepadaku.
“Bukannya Gavin memang sudah pandai bicara?” Lekas mereka semua kembali menatapku dengan tampang yang cukup mengerikan. Melihat hal seram seperti itu membuatku menelan air liur dan berkeringat dingin dibuatnya. Suasana menjadi hening dan semua perhatian tertuju ke arahku.
“Y—Ya, kemampuannya meningkat menjadi lebih pandai lagi,” ujarku kalang kabut. Cassie yang mendengarku lantas mengerti. Akhirnya aku dapat menarik napas lega, berikut dengan yang lainnya.
“Huft… Hampir saja…” gumamku dalam hati. Kemudian Rein menghampiriku dan mendekatkan mulutnya ke telingaku.
“Jangan berbicara seperti itu di depan orangnya langsung.”
“B—Baik, maaf aku keceplosan tadi,” balasku kepadanya. Setelah itu, kami pun telah bersiap untuk berangkat menuju pusat kota.
“Ayo kita pergi ke kota!” seru Rhean bersemangat.
__ADS_1
“Ayo!” balas kami semua serentak.
Kami berjalan menuruni tangga di gedung asrama, lalu berjalan keluar dari kompleks sekolah. Terlihat olehku para murid yang juga sedang bersenang-senang di sekeliling kami. Banyak murid yang juga memutuskan kegiatan mereka untuk berjalan-jalan bersama di sekitaran kota ini. Sepanjang perjalanan kami di trotoar jalan raya tersebut, tampak orang-orang berlalu-lalang dan kendaraan yang memadati jalan di setiap persimpangan. Kerumunan tersebut banyak terdiri atas pelajar yang seusia dengan kami.
Sampai suatu ketika kami terhenti dengan kerumunan khalayak yang sangat padat. Mereka juga tampak ingin mengarah ke tujuan yang sama dengan kami. Hal serupa juga terjadi di jalan yang dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan yang terhenti. Jalan kota tersebut kini menjadi macet dengan lautan kendaraan dan manusia. Hari sudah semakin siang dan sinar terik mulai menerpa kami semua. Suasana yang sumpek membuatku gerah.
“Ramai sekali di sini,” ucapku sembari mengibas-ngibaskan bajuku.
“Apa tidak ada jalan lain?” tanya Bella.
“Loh, kukira kalian paham jalan,” cetus Gavin kepada para perempuan itu.
“Betul juga, kalian kan sering jalan-jalan,” lanjutku kebingungan.
“Kami sering keluar karena membeli bahan makanan saja, tahu? Jadi kami hanya tahu jalan ke pusat perbelanjaan,” papar Icha kepada kami. Kami pun sempat terdiam sejenak untuk memikirkan solusi atas permasalahan yang sekarang tengah melanda kami. Tak lama kemudian Gandra memiliki sebuah ide sembari menggenggam ponsel cerdas di tangannya.
“Sepertinya aku tahu kita harus lewat mana,” ujarnya seraya melihat layar ponselnya. Kami semua pun mendekati Gandra lalu melihat ke layar tersebut. Ternyata Gandra sedang melihat peta yang tersedia di ponselnya.
“Oh iya, kan ada peta,” ucapku tak habis pikir, berikut dengan teman-temanku yang juga tidak sadar kalau ada teknologi seperti itu.
“Berarti, selama ini kau mengira kalau kita hidup di zaman kapan? Baheula?” sahut Rein menyindirnya. Aku yang mendengarnya lantas tertawa-tawa kecil.
“Bukan begitu juga, Mbak,” balas Gavin.
Setelah itu, Gandra menjelaskan jalan yang harus kami lewati. Ia memaparkan kalau kami harus mengambil jalan memutar dengan melewati jalan-jalan kecil dan pedalaman. Kami semua hanya menyimaknya. Aku mengerti dengan penjelasan Gandra yang singkat, padat, dan jelas, tetapi tampaknya tidak dengan Gavin dan Rhean yang memiringkan kepala mereka.
“Nah, kira-kira seperti itu,” cakap Gandra mengakhiri penjelasannya.
“Aku ikut kau saja deh,” balas Rhean cengar-cengir.
“Baiklah, kalau begitu. Jangan sampai tersesat, ya,” lanjut Gandra kepada kami semua.
Lalu kami pun berjalan mengikuti Gandra. Sesekali ia juga melihat peta yang ada di layarnya untuk memastikan kembali. Dan benar saja, kami melewati tempat padat penduduk dan jalan-jalan kecil. Tak jarang juga kami bertanya kepada masyarakat sekitar tentang arah yang kami tuju. Untung saja jalan yang kami lalui tidak begitu ramai dengan orang-orang. Kami juga dapat melihat aktivitas penduduk kota ini. Banyak hal yang baru aku ketahui tentang kota dan daratan ini. Tanpa kami sadari hari telah siang. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sekaligus mengisi perut kami.
“Kita makan dulu, yuk,” ajak Bella. Rhean yang melihat sekitar lantas menemukan sebuah rumah makan rumahan.
__ADS_1
“Kita makan di sana saja,” balas Rhean.
Kami pun berjalan menghampiri rumah makan sederhana itu. Sesampainya di sana kami duduk di meja makan yang tersedia. Ruangannya yang tidak terlalu besar, penerangan yang berasal dari sinar matahari, dan penyejuk ruangan yang menggunakan kipas mengingatkanku dengan sebuah desa. Aku tidak menyangka kalau masih ada permukiman yang sederhana seperti ini. Sembari melihat menu, beberapa temanku sempat tercengang dengan harga yang tertera.
“Wah, murah-murah sekali!” lontar Bella tak percaya, begitu pula dengan Rhean yang bersemangat melihat selebaran menu tersebut.
“Kalian tidak tahu kalau ada rumah makan seperti ini?” tanya Rein kepada mereka.
“Aku selalu makan di rumah dengan orang tua, kalau di luar kami makan di restoran,” jawab Rhean.
“Dasar anak kota,” sahutku bercanda. Setelah melihat-lihat, tampak sebuah hidangan kesukaanku, yaitu sup daging. Aku pun memesan makanan tersebut. Teman-temanku juga memesan makanan yang dipilih oleh masing-masing mereka. Aku juga memesan es jeruk kepada pelayan rumah makan itu.
“Kau suka es jeruk, ya?” tanya Cassie pelan kepadaku. Aku membalasnya dengan tersenyum dan mengiakannya. Kemudian terjadilah perbincangan di antara kami semua. Setibanya pesanan kami semua, lantas kami menyantap hindangan itu. Lagi-lagi Gavin melahapnya dengan penuh semangat meskipun dengan kondisi yang sekarang.
“Dengan kondisimu sekarang ini, kau tidak berubah, ya?” cetusku.
“Mwakanyan tuetap nwomor swatu,” balasnya sembari mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.
“Telan dulu sebelum bicara,” tutur Cassie halus kepada Gavin. Gavin yang mendengarnya sontak tersedak dan batuk-batuk. Kami semua menjadi panik melihatnya. Dengan cepat aku mengambilkan gelasnya tersebut.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Cassie khawatir.
“Y—Ya! Aku hanya terlalu senang tadi,” jawab Gavin cengar-cengir. Kami semua hanya tersenyum dengan tingkah mereka berdua yang cukup serasi.
“Ekhem, ayo cepat habiskan,” celetuk Bella dengan piringnya yang sudah bersih dari makanan.
Melihat Gavin dan Cassie yang tampak serasi, hal tersebut membuat Rein merasa iri dan memintaku untuk melakukan sesuatu kepada dirinya. Lalu aku pun menyuapinya kembali seperti saat itu. Orang-orang hanya memperhatikan kami, termasuk Gavin yang tampak iri kepada kami berdua.
“Walah, walah, dua anak ini malah bermesraan,” celetuk Bella. Diperlihatkan oleh seisi ruangan membuatku malu bukan kepalang. Aku hanya dapat berharap di dalam hatiku.
“Ayo cepat habis, makanan…”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1