Love Exchange

Love Exchange
Episode 197 : Piknik Awal Perpisahan


__ADS_3

Pagi hari nan cerah bersamaan dengan langit biru yang mewarnai hari luar biasa ini. Terlihat keramaian para pengunjung yang menambah suasana hidup di tengah padang hijau ini. Berhembus angin lembut, kami yang baru tiba lantas meletakkan semua barang bawaan kami. Aku memutuskan untuk duduk di atas karpet alam setelah mendaki bukit yang cukup menguras tenaga.


“Hah… Lumanya juga untuk ke sini, ya…” hembusku seraya memandang cakrawala. Rein datang menghampiriku lalu ia duduk di sebelahku.


“Cuaca hari ini sangat mendukung,” sahutnya.


“Iya… Segalanya mendukung kita di hari besar ini…”


“Kita bisa bermain bola nanti,” lanjutnya.


“Wah, kau ingin bermain bola juga?” balasku bersemangat.


“Tentu saja, kita akan menghabiskan waktu bersama,” ujarnya tersenyum. Seketika terlintas di benakku sebuah pertanyaan.


“Berarti Cassie juga akan bermain?”


Pada saat yang bersamaaan terdengar suara Gavin ke arah kami.


“Tenda sudah siap!” serunya. Aku dan Rein yang menoleh sontak terkejut dan merasa tidak enak karena tidak  membantu mereka.


“Tidak masalah, kalau kami butuh bantuan pastinya kami sudah memanggilmu tadi,” balas Gavin pringas-pringis.


“Halah… Tadi saja kau meracau tidak jelas, ‘mereka malah asyik berduaan’…” sahut Rhean.


“Aku hanya bercanda,” ucap Gavin.


“Bagaimana kalau kita bermain-main sebentar?” usul Bella.


“Eh? Bukankah kita ingin makan siang dulu?” tanya Rhean.


“Sekarang masih jam sepuluh dan kau mau makan siang?” cetus Icha.


“Lagi pula semuanya kan sudah sarapan tadi pagi,” sahutku.


“Aku bisa menyiapkannya untuk kalian,” tutur Cassie sembari menyiapkan arang panggangan.


“Nanti saja, kita bersenang-senang dulu,” ujarku.


“Yah… tanganku sudah hitam begini…” balasnya pelan seraya melihat kedua tangannya. Lalu Gavin berjalan mendekatinya.


“Aku tahu cara membersihkannya,” ucap Gavin tersenyum licik kemudian ia memegang tangan Cassie.


“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Cassie kebingungan. Tiba-tiba saja Gavin menggerakkan tangan Cassie yang kotor itu ke wajahku.


“Hey! Apa yang kau lakukan?” lontarku kesal. Semua orang lantas tertawa melihat wajahku yang comot. Aku terlihat seperti orang bodoh yang marah-marah sendiri dengan wajah seperti itu. Rein mengambil cermin kemudian menunjukkannya padaku.


“Astaga, jelek sekali aku,” gumamku sambil melihat wajahku sendiri.


“Tidak, tidak, kau tetap ganteng seperti biasa,” sahut Rein.


“Aku sedikit iri padamu yang tetap tampan walau wajahmu kotor,” celetuk Gandra.


“Kau melebih-lebihkannya,” ucapku tersipu.


“Belum apa-apa kau sudah berkeringat saja,” lanjut Gandra. Secara reflekku langsung menggerakkan tanganku lalu mengelap wajahku. Terdengar suara teriakan beberapa wanita dari kejauhan. Aku langsung menoleh dengan wajah kebingungan. Ternyata mereka menyorakiku dengan wajah berbunga-bunga.


“Tuh kan,” pungkas Gandra.


“Kau bisa langsung terkenal di sini…” gumam Bella.


“Sepertinya begitu. Aku jadi sedikit kasihan dengan Rein yang selalu cemburu padamu,” sindir Gavin. Rein menjadi sangat kesal terhadap Gavin.


“Apa kau bilang?” lontarnya.


“Tidak baik membohongi perasaan sendiri,” balas Gavin tersenyum. Rein yang merasa benar akan perkataan Gavin lantas tertunduk diam. Aku menjadi khawatir terhadapnya.


“Kau tidak apa-apa, Rein?” tanyaku dari dekat.


“Aku tidak apa-apa,” jawabnya pelan.


“Maaf kalau aku sudah membuatmu seperti itu…” balasku.


“Ti—Tidak masalah! Aku sudah terbiasa dengan itu…” ujarnya cengar-cengir.


“Aku turut bersedih denganmu…” sahut Gavin sembari menundukkan kepalanya.


“Masih sempat-sempatnya kau…!” geramnya. Aku yang merasa sangat bersalah kemudian berpikir di dalam benakku.


“Selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri…”


“Apa yang harus ku lakukan sekarang?”


“Mungkin aku harus menggunakan cara di buku cinta yang sudah kubaca.”


Aku langsung memegang tangan Rein erat-erat lalu membawanya ke padang yang lebih terbuka. Semua temanku terkejut kebingungan termasuk Rein yang tak tahu apa-apa.


“A—Apa yang kau—”

__ADS_1


Aku pun berhenti lalu berdiri menghadap dirinya yang keheranan. Aku berlutut di hadapannya seraya memegang sebuah kotah hadiah di belakangku.


“Selama ini aku egois sampai-sampai tidak memikirkanmu…”


“Maaf kalau kisah percintaan sekolah kita tidak seperti yang kau harapkan…”


“Oleh karena itu…” Aku pun menunjukkan kotak tersebut di depannya.


“Maukah kau memaafkanku?”


Sontak semua pengunjung yang melihatnya bersorak-sorai ke arah kami berdua. Teman-temanku hanya tercengang dan tak menyangkanya sama sekali. Tanpa sadar Rein meneteskan air mata dengan sendirinya. Aku menatapnya dengan wajah yang serius dan penuh harap. Pada akhirnya Rein mengangguk-angguk menerima permohonan maafku.


Kemudian terdengar suara yang sangat ramai dengan tepuk tangan dan sorak-sorai semua orang. Terdengar pula beberapa ucapan selamat dari mereka. Aku yang menyadarinya lantas merasa kebingungan terhadap keramaian yang terjadi di sekeliling kami. Saat aku berdiri, seketika saja Rein memelukku dengan erat dan wajahnya terlihat amat senang.


“Terima kasih sudah menemaniku selama kurang dari setahun ini…” tuturnya.


“M—Maaf juga kalau aku tidak memberikan perhatian lebih padamu…” imbuhnya tersedu-sedu.


Di sisi lain, teman-temanku tercengang dan sangat tidak menyangka akan terjadi seperti ini.


“K—Kenapa jadi seperti ini…?” ujar Bella.


“Adelard…” tutur Cassie.


Aku dan Rein berjalan menuju tenda piknik bersama-sama. Semua keramaian yang membara lantas mereda dan kembali berjalan normal. Akan tetapi, aku masih tidak habis pikir dengan ekspresi semua orang itu yang tampak seperti pertunjukkan.


“Wah… Kuharap kalian bisa bersama selalu…” decak Rhean menyeringai. Aku pun tersenyum ke arah mereka semua.


“Kau tampak senang sekali, Adelard,” ucap Gavin.


“Aku merasa lega sudah mengeluarkan isi hatiku…” balasku pelan.


“Tenang! Aku sudah mengabadikannya untuk dokentasi kita,” lanjut Gavin.


“Kau mengambil foto kami?” tanya Rein tak percaya. Gavin hanya tertawa sembari memegang sebuah ponsel ditangannya.


“Hapus foto itu!” lontar Rein jengkel.


“Itu baik untuk kenang-kenangan kita nanti,” balasnya.


“Tapi itu memalukan!” seru Rein lalu mendapatkan ponsel itu. Ia langsung menghapusnya dengan sangat cepat.


“Huft… Hampir saja ku mati dengan ini…” gumam Rein lega.


“Aku sudah mengirim foto ke kita semua,” celetuk Gavin sembari memegang ponselnya sendiri.


“Itu punyaku…” tutur Cassie. Rein meminta maaf pada Cassie lalu mengembalikannya.


“Dosamu cukup banyak ya, Gavin,” cetus Gandra tersenyum.


~


Saat petang tiba, kami menghabiskannya dengan berkumpul di tengah lapang terbuka. Suasana tenteram bersama hembusan angin sore dan suara kegembiraan para pengunjung. Gavin memegang bola sebelum akhirnya ia menendang ke arahku. Lantas aku mengoper bola pada Rhean yang berada di seberangku, sementara Gavin mengejar bola itu.


“Pus… Pus…” hembus Rhean.


“Aku jadi makin kesal melihat mukamu itu,” gumam Gavin.


“Tidak salah, kan? Kucing-kucingan,” balas Rhean.


“Ya terserah kau saja.”


Gavin yang penuh semangat sontak langsung berlari menghampiri Rhean. Rhean langsung mengopernya ke Icha. Setiap Gavin mendekat, kami langsung mengoper ke orang yang jauh. Ia menjadi kelelahan akibat mondar-mandir tanpa menyentuh bola itu. Saat bola berada di kakiku, terlintas di benakku untuk menjaili Cassie yang selama ini terdiam tak pernah memegang bola.


“Cassie!” ucapku sembari menendang bola ke arahnya.


Cassie yang terkejut dan penuh gugup lantas bersikap panik. Gavin yang melihatnya kemudian berjalan mendekati Cassie dan berpura-pura menakutinya. Cassie langsung menendang bola tersebut dengan sangat kencang dan matanya tertutup. Bola itu mengarah ke wajah Gavin lalu mengenainya. Hantaman bola yang kencang itu seketika membuat Gavin tumbang.


“Gavin!”


“Kau tidak apa-apa?” tanyaku.


“M—Maafkan aku!” tutur Cassie gelagapan.


“Ti—Tidak masalah…” balas Gavin.


Akhirnya kami menyudahi permainan lalu kembali menuju tenda. Pada saat yang bersamaan terlihat mentari yang bulat besar mulai bersembunyi di balik cakrawala. Rein masih tergelitik tawa terhadap wajah Gavin yang tercetak warna merah dan persis bundar sempurna.


“Kau terhibur sekali sepertinya…” cetus Gandra.


“Wajahnya seperti badut!” lontar Rein tertawa.


“Diam kau!” seru Gavin kesal.


Sementara yang lainnya sedang mempersiapkan kayu bakar untuk membuat api unggun. Tepat saat matahari menghilang dari pandangan kami menyalakan api unggun sembari mengambil beberapa jenis sate yang sudah disiapkan sebelumnya di asrama. Semua orang yang tak sabar untuk makan lantas berkumpul di dekat api itu. Aku dan Cassie masih duduk di atas rerumputan menikmati pemandangan.


“Indahnya…” tutur Cassie pelan. Kami menyaksikan bersama-sama sampai suatu ketika Gandra muncul mengagetkan kami.

__ADS_1


“Gandra?” tanyaku spontan.


“Tak baik berduaan saat pacar kalian ada di depan mata,” ujarnya.


“Kami hanya melihat pemandangan saja,” balasku.


“Sudah, sudah, ayo kita ke api unggun,”


Malam hari yang sejuk di tengah kegelapan dan hanya berterangkan oleh cahaya rembulan, bintang dan api yang membara. Lampu-lampu yang tampak tak banyak terlihat karena dipakai untuk penerangan sementara saja. Kami semua berkumpul mengelilingi api unggun sembari memegang sate masing-masing. Seraya menunggu matang, kami mengobrol bersama.


“Kalian habis ngapain saja tadi?” tanya Rein padaku.


“Kami hanya mengambil beberapa peralatan di tenda,” balasku.


“Tapi aku tidak melihat kalian jalan ke arah tenda,” sahut Icha.


“Kau tidak pandai berbohong,” celetuk Gandra.


“Aku sudah berusaha…” hembusku.


“Memangnya bagaimana?” tanya Bella.


“Mungkin ‘saat kami berjalan kemari ada orang lain yang meminta kami untuk mengambil foto mereka’ bisa jadi salah satu jawaban,” ujar Gandra.


“Wah... Masuk akal…” gumamku.


“Ngomong-ngomong soal bohong, tanganku sudah mulai pegal memegang ini terus,” sahut Gavin.


“Lalu, kau berbohong?” tanyaku.


“Maksudku, apa tidak ada tempat untuk menggantungnya?” balas Gavin.


“Oh iya, benar juga…” ujar Rein.


Setelah itu, kami membuat sebuah tempat untuk meletakkan sate itu di atas bara api. Saat semuanya selesai, kami meninggalkannya lalu menggunakan waktu dengan berkumpul dan bernyanyi bersama. Gandra memainkan gitar yang dibawanya, sedangkan Bella memainkan ukulele. Gavin memanfaatkan tempat makan untuk dipakai sebagai pengganti drum.


“Whoa…!” lontar kami semua serentak setelah menyanyikan lagu terakhir.


“Sekarang saatnya kita bertukar hadiah!” seru Bella bersemangat. Kami semua mengambil kantung yang berisi kotak-kotak hadiah.


“Nah, sekarang bagaimana cara mainnya?” tanyaku.


“Ya… Kita bagi-bagikan saja satu-satu…” balas Bella.


“Sepertinya itu bukan ‘tukar hadiah’,” balasku.


“Apa pun namanya itu, aku tidak tahu,” lanjutnya.


“Baik! Mau kita mulai dari siapa dulu?” tanya Rein.


Pada akhirnya pembagian hadiah dimulai dari Bella, lalu Icha, Gandra, Rhean. Saat Rein telah membagikan semua hadiah itu, ia mendekatiku kemudian memberikan sebuah kotak yang berbeda dari yang lain.


“Untuk pacarku!” tuturnya tersenyum.


“Terima kasih!” balasku senang.


“Sekarang giliranku,” sahut Gavin.


Tinggal Cassie seorang yang belum menerima hadiah dari Gavin. Tiba-tiba saja Gavin berlutut sama seperti aku ketika siang tadi.


“Aku harap kita bisa selalu seperti ini… Kau sependapat denganku…?” Cassie yang terkejut menjadi kelimpungan setengah mati.


“Y—Ya…” Kemudian Cassie mengambil sebuah kotak dari kantung miliknya.


“Aku juga memberikan ini…” tuturnya.


“Terima kasih!”


Selepas kegiatan tersebut, kami membuka semua kotak yang telah kami dapat. Suasana menjadi sangat pecah dan penuh dengan gelak tawa.


“Kenapa kau memberiku ini?” lontar Gavin pada Rein.


“Hahaha! Itu sangat cocok denganmu!” sahut Rhean.


Tidak lama kemudian tercium aroma gosong yang ternyata berasal dari sate yang kami bakar. Seketika kami semua berlarian menuju api unggun.


“Tidak! Satenya!” lontar Bella.


“Kenapa kau tidak memasang pengingat?” balas Rhean pada Icha.


“Yah… Gosong semua…” lanjut Rein. Tanpa sepengetahuanku, spontan Gavin memeperkan tangannya yang kotor dengan arang ke wajahku. Sontak aku ikut membalasnya. Kemudian kami semua melakukan perang arang dengan wajah yang penuh comot. Aku merasa sangat bahagia pada malam hari ini.


“Andai saja terus seperti ini…”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2