
Suatu pagi tepat setelah beberapa aku dan yang lainnya menemui Sadath, suasana masih sepi dan matahari baru saja terbangun dari balik cakrawala. Semua orang di dalam asrama masih dalam keadaan tertidur pulas, hingga suatu ketika tiba-tiba saja aku merasa bahwa seseorang sedang mendekapku dan aku langsung terbangun kaget. Kedua mataku ditutup oleh sebuah kain dan juga mulutku ditutup rapat olehnya. Pergerakanku menjadi terbatas karena tanganku yang diikat erat. Sontak aku langsung memberontak dan berusaha untuk mengeluarkan suara sebesar-besarnya.
Sementara itu, Gavin yang juga terbangun lantas terdiam dan tersenyum ke arahku. Aku yang tidak bisa melihat membuatku tidak mengetahui apa-apa. Terdapat dua orang yang menarik tanganku keluar dari kamar, dan salah satunya adalah Gavin. Hal tersebut juga terjadi pada Rein di kamar sebelah. Cassie sontak terkejut setengah mati dan menjadi panik sejadi-jadinya. Tak lama kemudian terdengar suara bisikan tepat di samping telingaku.
“Aku Sadath,” bisiknya. Aku baru menyadarinya lantas menjadi jengkel terhadap perbuatannya yang tiba-tiba.
“Kenapa harus seperti ini?” tanyaku kesal dan kebingungan.
“Ikut saja dulu. Memang prosedurnya seperti ini,” jawabnya.
“Awas, pelan-pelan,” ujar Gavin kepdaku. Aku terkejut mendengar suaranya.
“K—Kau ada di sini juga?” lanjut tanyaku.
“Tentu, seru juga ternyata,” jawabnya dengan senang hati.
Di lain sisi, Rein yang juga diperlakukan hal yang sama dengan kawan-kawannya Sadath lantas memberontak sama seperti diriku sebelumnya. Mulutnya yang ditutup membuat dirinya hanya bisa berkemam dengan keras. Kawan-kawan Sadath dibuat kesulitan dibuatnya. Hingga pada suatu saat ia menginjak kaki mereka dan melakukan pembelaan diri.
“Aduh!” Terdengar suara keributan di belakang kami. Sadath dan Gavin yang baru tersadar sontak terkejut dan tak menyangkanya.
“Kau diam di sini dulu, ya,” ucap Sadath kepadaku. Aku pun hanya terdiam dan tidak banyak bergerak dengan wajah terheran-heran.
“Apa yang terjadi?” benakku bertanya-tanya.
Gavin dan Sadath langsung menghampiri Rein. Terdapat Cassie yang tidak berada jauh darinya. Dengan cepat Sadath langsung memegang Rein dan Gavin meminta Cassie untuk menjauhi Rein.
“Jangan dekat-dekat!” lontar Gavin.
“A—Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Cassie kelimpungan.
“Aku akan menjelaskannya nanti,” jawab Gavin. Cassie pun menuruti perintah Gavin untuk segera keluar dari asrama, sedangkan Sadath berusaha untuk menenangkan Rein.
“Tenang, tenang… Kami berniat jahat kepadamu,” ucap Sadath, namun Rein masih tetap melawannya.
“Kami juga melakukan hal yang sama pada Adelard. Kumohon tenanglah,” imbuhnya. Suasana akhirnya mereda, tetapi napas Rein masih berantakan akibat emosi yang tak terbendung darinya.
Kami berdua dibawa menuruni asrama. Melihat kami yang diperlakukan seperti itu membuat perhatian orang-orang tertuju ke arah kami. Pada saat yang berasaan terdapat beberapa kamera yang menyoroti kami berdua. Seketika semua orang langsung menghampiri tempat kejadian dan suasana menjadi sangat bising. Aku dan Rein hanya bisa mendengarnya saja, sementara kami tidak tahu apa yang terjadi di sekitar kami.
“Kenapa ramai-ramai begini?” tanya Bella keheranan. Mereka berempat kemudian berjalan ke bawah dan menghampiri kami. Gandra dan Rhean lantas menyemangatiku seraya bersorak-sorai.
“Apa yang terjadi pada mereka?” tanya Icha kepada mereka berdua. Rhean pun menjelaskan semuanya kepada Icha dan Bella. Setelah mengetahuinya, mereka berdua menjadi bersemangat dan senang. Sementara itu, aku dan Rein dibawa menuju dua mobil yang akan kami tumpangi masing-masing.
“Semangat, Adelard!” lontar Gavin dan beberapa temanku. Mereka juga menyerukan hal serupa kepada Rein.
“Semangat juga, Rein!”
“Loh? Hanya aku dan dia?” ucapku kebingungan.
__ADS_1
“Iya. Kan kalian berdua yang mengikuti program,” jawab Sadath. Aku pun terdiam di depan pintu mobil yang sudah terbuka. Mengingat hari ini adalah hari kerja dan aku harus bersekolah seperti biasa.
“Sudah naik saja dulu,” ujar Sadath dan akhirnya aku menuruti perintahnya.
Beberapa waktu berselang kami berdua di berangkatkan dari asrama kompleks sekolah menuju tempat yang belum aku ketahui sama sekali. Selepas kepergian kami keramaian mulai berpencar dan kembali pada aktivitas mereka masing-masing. Sebagian murid yang sudah berpakaian seragam sekolah melanjutkan langkahnya menuju gedung sekolah, sedangkan sebagiannya lagi masih harus bersiap-siap dahulu. Gavin, Cassie, dan teman-temanku kembali ke asrama untuk bersiap-siap dan sarapan. Suasana kompleks sekolah diramaikan dengan pembicaraan tentang aku dan Rein yang baru saja pergi.
“Apa yang terjadi pada mereka?”
“Mereka ditangkap?”
“Tidak mungkin mereka melakukan hal senonoh, kan?”
Aku yang berada di dalam mobil yang sudah bergerak kemudian dilepaskan ikatan dan kain yang menutupi serta mengikatku. Akhirnya aku merasa sangat lega dan dapat menggerakkan pergelangan tanganku. Pandanganku seketika menjadi silau sebelum akhirnya dapat melihat seperti sedia kala. Terlihat kami yang sedang berjalan menyusuri pusat kota. Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada Sadath. Aku berada di bangku belakang sementara Sadath berada di bangku depan.
“Prosedur macam apa yang kau lakukan?”
“Ya begitulah… Kau tidak boleh melihat pasanganmu sampai waktunya tiba nanti,” jawabnya.
“Tapi perlakuan kalian seolah-seolah sedang menangkap kriminal.” Sadath yang mendengarnya lantas tergelitik tawa.
“Memang mirip, sih. Tapi tenang saja, tidak akan ada kesalahpahaman.”
“Ngomong-ngomong, kenapa hanya ada aku sendiri?”
“Tuh…” balas Sadath sembari menunjuk lewat cermin sopir di depannya. Aku pun menoleh ke belakang dan terlihat sebuah mobil yang mengikutiku. Pada saat yang bersamaan aku teringat kalau aku harus bersekolah.
“Tenang saja, kalian sudah diizinkan selama beberapa hari. Tertinggal sedikit materi tak masalah, kan?” lanjutnya tersenyum.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan saat tiba nanti?”
“Lihat saja nanti. Sekarang nikmati saja perjalananmu,” jawabnya santai. Aku pun melihat panorama perkotaan dari balik kaca mobil.
Sementara itu, Rein yang berada di mobil yang berbeda denganku masih merasa geram dan bertanya-tanya dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia pun bertanya pada kawannya Sadath yang duduk di bangku bagian depan.
“Bisakah kau jelaskan dengan detail tentang semua ini?” Kawannya Sadath kemudian memaparkan perihal program yang tengah Rein ikuti ini. Setelah mengetahuinya lantas membuat Rein semakin kebingungan.
“Siapa yang mencetuskan ini? Padahal aku tidak mendaftar sama sekali.”
“Pasanganmu yang mendaftarkannya.” Mendengar jawaban tersebut sontak membuat Rein tersentak kaget dan tak percaya.
“Hah? Yang benar saja?” Kawannya Sadath hanya terdiam sembari memandangi jalan yang berada di depan.
“T—Tapi… Kenapa dia melakukan hal seperti ini?” gumam Rein pelan dengan kepala tertunduk.
Kami berjalan meninggalkan kota dan hanya terlihat hamparan rumput hijau dengan sedikit bangunan yang berdiri. Aku dibuat takjub dengan pemandangan tersebut namun juga kebingungan pada waktu yang sama. Mobil yang kami tumpangi tampak menanjak dan berjalan ke daerah pegunungan. Hingga akhirnya mobil berjalan melambat dan memasuki sebuah tempat yang tampak seperti vila di tengah panorama nan indah.
“Wah, cantik sekali tempat ini…” gumamku terperangah.
__ADS_1
“Bagus, kan?” sahut Sadath menyeringai.
Setibanya di vila tersebut mobil yang aku tumpangi berhenti di tempat yang berbeda dengan letak Rein berada. Setelah turun dari mobil, aku dibawa oleh Sadath menuju sebuah ruangan dengan berbagai persiapan berupa pakaian, layar pengawas, beberapa peralatan serta kru, dan sebagainya. Aku dibawanya menuju sebuah bilik yang ternyata adalah ruang berpakaian.
“Kau belum mandi, kan? Silakan bersih-bersih dulu,” ucap Sadath meninggalkanku, tetapi terdapat beberapa kru yang melepaskan pakaianku. Aku yang menyadarinya sontak terkejut dan panik seraya menahan rasa malu.
“Apa yang kalian lakukan?”
“Kami tim yang mengurusi pakaianmu,” jawab mereka. Baju dan celanaku sudah dilepaskan dan aku tidak tahan dengan perbuatan mereka.
“Sudah, aku bisa melepaskannya sendiri,” lontarku.
“Baiklah, di sebelah sana ada pemandian air hangat,” balasnya sembari menunjuk letak pemandian tersebut. Aku melanjutkan membersihkan diri di pemandian tersebut seorang diri.
“Serasa punya kolam sendiri…” gumamku bahagia.
Setelah itu, aku mengenakan pakaian yang sudah disediakan oleh mereka. Hal yang sama juga terjadi pada Rein di bagian lain vila ini. Aku mengenakan pakaian yang tampak biasa-biasa saja, tidak jauh berbeda dengan pakaian yang biasa aku kenakan saat di asrama. Beberapa detik berselang Sadath datang menghampiriku.
“Wah, kau terlihat rapi sekarang,” tandasnya.
“Tapi ini seperti pakaian yang biasa ku kenakan di asrama,” balasku kebingungan sembari bercermin.
“Memang kalian akan berperan seperti sepasang suami dan istri, bukan acara pameran busana,” balasnya.
“Jadi, aku cukup bersikap seperti biasa?”
“Harus seperti itu. Ini adalah ajang untuk kalian berdua saling mengerti dan memahami satu sama lain,” jawabnya. Tidak lama kemudiam Sadath memegang protofon lalu berbicara dengan beberapa kru lainnya. Selepas itu, ia kembali mendatangiku.
“Baiklah, apa kau sudah siap?” Aku pun mengangguk ke arahnya. Kemudian aku dibawanya menuju sebuah pintu yang mengarah ke vila tersebut.
“Kau akan menemuinya. Bersikaplah seperti dirimu seperti biasa. Kami akan meninggalkan kalian berdua di tempat ini,” papar Sadath kepadaku.
“E—Eh? Berapa lama?” tanyaku keheranan.
“Tiga hari,” jawabnya.
“Kalau begitu sampai jumpa. Semoga sukses!” lontar Sadath sembari berjalan meninggalkanku bersama kawan-kawannya.
Setelah tinggal diriku seorang, aku merasa sangat gugup untuk membuka pintu tersebut dan menemui Rein. Tiba-tiba saja tanganku gemetaran saat meraih kenop pintu itu.
“K—Kenapa aku jadi ketakukan begini?” gumamku. Setelah menarik napas dalam-dalam, akhirnya aku memutuskan untuk memberanikan diri.
“Semua akan baik-baik saja, Adelard…”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1