Love Exchange

Love Exchange
Episode 127 : Padam Api Menusuk Kalbu


__ADS_3

Hari telah sore dan para murid berkeluyuran keluar dari sekolah. Saat bel pulang berbunyi, dengan cepat aku berjalan keluar dari kelas seorang diri tanpa sepengetahuan teman-temanku. Mereka yang masih merapihkan tas masih memerlukan sedikit waktu sebelum semuanya berkumpul di koridor. Rein baru tersadar setelah melihat tempat dudukku yang telah kosong.


“Dia sudah duluan?” batinnya. Saat berkumpul di luar kelas, Icha lantas kebingungan akan ketidakhadiranku di antara mereka.


“Tidak ada Adelard?”


“Sepertinya dia sudah pulang terlebih dulu,” jawab Gandra.


“Sebesar itukah murkanya kepadamu?” lanjut Rhean kepada Rein. Pada saat yang bersamaan Rein hanya termenung diam dengan rasa bersalah yang masih terus membayang-bayangi dirinya.


“Sepertinya begitu…”


“Kau harus bersikap lebih dewasa lagi dengannya,” cetus Gandra tersenyum.


“Benarkah? Dari mana kau mengetahui itu?” tanya Rein penasaran.


“Aku hanya menebak-nebak saja,” jawabnya.


Dalam perjalanan pulang, mereka asyik membahas soal-soal yang telah dikerjakan tadi. Perdebatan juga sering terjadi akibat perbedaan jawaban dari masing-masing mereka. Gavin yang tidak peduli akan hal itu lantas melihat-lihat sekitar sembari berjalan santai tanpa menghiraukan mereka. Hingga akhirnya ia dibuat jengkel dengan suasana yang semakin berisik. Cassie yang menyimak mereka hanya terdiam gelisah dengan tingkah mereka.


“Sudah kubilang jawabannya A!”


“Mana mungkin! Apa kau tidak membaca teks dengan teliti? Sudah pasti jawabannya yang D!”


“Tapi teks itu kan membicarakan tentang manfaat tumbuhan, berarti yang B!”


“Sudah, sudah! Aku pusing mendengar kalian membahas itu terus!” lontar Gavin kesal.


“Habisnya aku yakin sekali kalau jawabanku benar,” sahut Bella.


“Bukannya sudah biasa kalau membahas soal setelah ujian?” lanjut Rein.


“Datang, kerjakan, lupakan. Itu yang seharusnya kalian lakukan!” balas Gavin.


“Waw, kutipan yang sangat bagus,” celetuk Rhean tergelitik tawa.


“Daripada membahas itu, lebih baik kita membahas bagaimana kau bisa berbaikan lagi dengan Adelard,” ujar Gavin.


“Lalu, aku harus apa?” tanya Rein kebingungan.


“Loh? Bukannya justru kau yang paling mengerti tentang hal seperti itu?” pungkas Icha tak habis pikir.

__ADS_1


“Aku juga baru mengalaminya sekarang,” jawab Rein.


“Tunggu sampai reda saja,” ucap Gandra tiba-tiba. Rein yang mendengarnya lantas tidak berpikir kalau itu adalah hal yang terbaik.


“Kau yakin?”


“Akan sangat sulit memadamkan api yang sudah terlanjur besar.”


“Menunggu bahan bakarnya habis?” tanya Bella. Gandra membalasnya dengan menggangguk, sementara itu Cassie sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh mereka berdua barusan.


Sesampainya di asrama, mereka melihatku yang tengah menyantap makan malam di ruang tengah. Tidak ada yang ingin mencoba untuk menyapaku. Tidak lama kemudian aku langsung beranjak dari tempat duduk, mencuci piring tersebut, lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Sebelum aku menutup pintu, terdengar suara Rein yang sedang memanggil namaku.


“Adela—”


“Benar kata Gandra… Semua ini tidak akan berhasil…” gumam Rein dalam hati. “Lebih baik aku menunggunya saja…”


Aku berniat untuk menghabiskan waktu yang tersisa dengan mempelajar materi ujian besok, sedangkan Gavin yang barus saja selesai membersihkan diri lantas membereskan tas dan seragamnya. Tak lama waktu berselang, Gavin mencoba untuk berbicara kepadaku, namun aku tidak menggubrisnya.


“Apa suasana hatimu masih buruk?”


“Yah… wajar saja jika hal seperti itu membuatmu kesal, lebih-lebih kau sangat mementingkan nilai dari segalanya.”


“Dan kalau aku menjadi sepertimu…”


“Tidak mungkin menyeretnya ke dalam masalah, kan?” Aku yang sudah tak tahan lagi mendengarnya lantas berucap pelan kepadanya.


“Aku tidak ingin dipermainkan oleh kata-katanya…”


“Seakan-akan dia telah mengontrol diriku…”


Pada saat aku menoleh ke arah Gavin, ia sudah tertidur pulas di atas kasur sembari mendengkur. Aku yang melihatnya sontak menjadi jengkel terhadapnya.


“Dasar tukang tidur.” Di sisi lain, ternyata Gavin hanya berpura-pura tidur untuk mengakhiri pembicaraan di antara mereka berdua. Ia mendengar dengan jelas segala perkataanku barusan.


“Aku merasakan apa yang kau katakan…” gumam Gavin dalam hati.


Roda jam terus berputar dan kini kami telah memasuki hari ujian ketiga. Tidak ada sesuatu hal yang terjadi di luar dugaan kami. Semuanya tampak lancar hingga memasuki waktu siang hari. Gavin tengah mengerjakan ujian kimia di kelasnya. Suatu ketika Gavin tidak mengetahui beberapa jawaban dari soal-soal yang dikerjakannya. Ia pun pergi melihat sekitar guna memanggil Rhean. Pada saat yang bersamaan, Rhean tidak sengaja melihat Gavin yang tengah kebingungan.


“Wah, kebetulan sekali…” gumam Gavin senang. Ia menanyakan satu demi satu pertanyaan dengan isyarat.


Rhean menjawabnya dengan posisi pulpen yang berbeda-beda di tangannya. Setelah itu, Rhean lanjut bertanya kepadaku beberapa soal yang belum dijawab olehnya. Kami melakukan hal tersebut hingga waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya aku telah mengerjakan soal pilihan ganda dan sekarang waktuku untuk mengerjakan soal isian. Dari lima soal, ada dua di antaranya yang tidak terpikirkan oleh Gavin.

__ADS_1


“Aduh, bagaimana aku menanyakannya?” benak Gavin cemas.


“Pasrah sajalah…”


Dalam waktu yang sama, aku tengah fokus mengerjakan soal yang berada di hadapanku. Guru yang mengawas saat ini tidak terlalu ketat, walaupun ia masih memantau kami dengan berkeliling kelas. Aku mengerjakan soal demi soal dengan lancar, tetapi tiba-tiba saja penghapus Rein terjatuh ke bawah mejaku tanpa sepengetahuan dirinya. Hingga akhirnya ia tersadar saat ia ingin menggunakannya.


“E—Eh? Di mana penghapusku?” gumamnya panik sembari memalingkan pandangan ke berbagai arah. Ia pun menemukan penghapus miliknya yang berada tepat di bawahku. Pada saat yang bersamaan Rein menganggap kalau aku masih sangat marah kepadanya.


“Eee… Adelard… Penghapusku…”


“Adelard…”


“Tolonglah… Aku memohon kepadamu…”


“Maafkan aku yang kemarin…”


Aku berniat untuk mengabaikannya sama seperti yang ia lakukan kepadaku kemarin. Rein yang terus melirih kepadaku kemudian hanya dapat menarik napas pasrah. Aku yang menyadari hal tersebut sontak merasa iba dan tidak tahan untuk bersikap cuek kepadanya. Guru pengawas sedang berada tak jauh dari tempatku berada. Rein mengerjakan soal dengan kepala yang tertunduk dan tangannya lesu. Tidak lama kemudian guru tersebut telah berada jauh dariku.


“Ini penghapusmu,” desisku sembari mengulurkan tanganku ke arahnya.


Sontak Rein menoleh ke arahku dan syok dengan apa yang sedang ia lihat. Air matanya mengalir pelan tanpa sadar dan membuatku menjadi terkejut saat melihatnya. Secara perlahan, ia menggerakkan tangannya lalu mengambil penghapus yang berada di atas tanganku. Gerakannya yang lamban membuatku sedikit was-was terhadap guru pengawas.


“T—Terima kasih…” Aku yang melihat guru pengawas menoleh sedikit membuatku langsung mengingatkannya.


“Lanjut kerjakan dulu,” bisikku.


Aku pun melanjutkan fokusku hingga waktu ujian selesai, sementara itu kertas ujian Rein sedikit basah karena tetesan air matanya. Bel berbunyi dan kami memiliki beberapa menit sebelum memasuki ujian yang berikutnya. Rein yang berada di sebelahku lantas memanggilku, namun aku sedang bergegas pergi ke kamar kecil.


“Adelard…” Aku yang mendengarnya sontak menoleh dan tersenyum ke arahnya, kemudian aku keluar dari kelas. Lalu Gandra dan Bella datang menghampiri Rein yang tengah terduduk tenang. Mereka berdua ikut tersenyum setelah melihat wajah Rein yang gembira.


“Sudah baikan?” tanya Gandra.


“Sudah, terima kasih atas saran kalian!”


“Syukurlah kalau begitu…” sahut Bella. Dengan perasaan bahagia ia bergumam pelan kepada dirinya sendiri.


“Mulai sekarang, aku akan selalu membuatnya tersenyum…”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2