
Aku terperanjak dari pembaringanku dan tampak Sadath bersama kawan-kawannya. Kepalaku masih terasa sedikit sakit dan penglihatanku terlihat kabur. Aku menjadi kebingungan setelah menyadari kalau aku sudah tidak berada di vila lagi. Di sebelah kasurku terdapat kasur yang ditempati oleh Rein. Aku masih terdiam tanpa kata-kata karena tubuhku terasa tidak enak, sementara itu Sadath dan yang lainnya terus menatapku dengan terheran-heran. Aku pun menoleh ke arah Sadath dan kami saling memandang sejenak.
“Aku di mana?” tanyaku kebingungan.
“Di rumah sakit,” jawabnya yang kemudian tiba-tiba saja aku merasa sedikit perih di bagian sebelah tanganku. Ternyata tanganku tertancap jarum infus.
“Kau terlihat seperti orang hilang ingatan. Kau sudah merasa baikan?” lanjut Sadath cemas.
“Iya, aku sudah merasa lebih baik.” Seketika saja terlintas di benakku dengan sebuah pertanyaan yang membuatku penasaran sekaligus kebingungan.
“Bagaimana bisa aku berada di sini?”
“Sepertinya kau keracunan,” jawabnya.
“Keracunan?” balasku yang sedikit terkejut mendengarnya. Ia pun mengangguk dan kemudian berucap kepadaku.
“Ada segelas jus di dekatmu. Mungkin itu penyebabnya.” Aku teringat dan tersadar tentang kejadian kala itu.
“Jadi karena itu ya…” gumamku pelan. Aku kembali menoleh ke arah Rein yang masih belum sadarkan diri. Kemudian aku kembali berbaring dan mengistirahatkan diri. Aku merasa cemas terhadap Rein pada saat yang bersamaan.
“Rein tidak apa-apa, kan?”
“Tidak ada masalah, mungkin saja efek yang dirasakannya lebih kuat daripada dirimu,” paparnya dengan tenang.
“Kau istirahat saja dulu,” imbuhnya.
Tidak lama kemudian terdapat seorang perawat yang datang dengan minuman dan obat-obatan yang berada di nampan bawaannya. Selepas meminum obat-obat yang diberikan, aku kembali terlelap di atas kasur. Pandanganku hanya terlihat hitam kosong tanpa mengalami mimpi apa pun. Sementara itu, Sadath dan lainnya pergi keluar dari ruang perawatan.
Waktu terus berlalu, kala siang menyingsing dari puncaknya, sinarnya mulai menembus masuk dari kaca jendela. Hingga akhirnya aku terbangun lalu duduk di atas kasur. Aku merasa menjadi lebih bugar dari sebelumnya. Sepertinya aku sudah hampir sembuh. Aku yang ingin berjalan sebentar lantas kebingungan dengan jarum infus yang menghambatku. Beberapa detik berselang, terdengar suara yang berasa dari Rein. Ia pun terbangun lalu menoleh ke arahku dengan tatapan setengah sadar.
“Di mana kita?” tanya Rein. Aku menjelaskan semua yang terjadi kepadanya.
“Maafkan aku. Karena aku kau jadi seperti ini,” lanjutnya dengan penuh rasa bersalah.
“Ti—Tidak masalah. Seharusnya aku yang minta maaf karena aku yang membawa buah-buah itu,” balasku gelagapan. Ketika kami sudah merasa lebih baik, kami pun dibawa kembali dari rumah sakit.
Setibanya kami di vila, kami dikumpulkan bersama dengan Sadath dan kawan-kawannya. Kami semua menempati tempat duduk yang telah disusun melingkar. Aku dan Rein masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Seketika saja suasana menjadi sangat serius dan semua orang terdiam. Kami saling bertatap-tatapan satu sama lain, sementara itu Sadath masih sibuk dengan ponsel yang dipegangnya. Situasi seperti ini membuat diriku merasa tidak nyaman, begitu pula dengan yang Rein rasakan.
“Baik! Semuanya sudah di sini?” lontar Sadath yang mengejutkan kami semua.
“Su—Sudah, Pak!” balas salah satu kawannya.
“Baiklah kalau begitu kita mulai saja,” lanjutnya memulai pembicaraan. “Bagaimana kondisi kalian?” imbuhnya bertanya kepada aku dan Rein.
“Kami sudah merasa bugar,” jawabku tersenyum.
__ADS_1
“Ya… Syukurlah kalau begitu… Sepertinya pertanyaanku kurang lengkap. Bagaimana kondisi kalian berdua setelah melakukan program ini?” tandasnya.
“Kami menjadi lebih akrab,” balas Rein menyeringai.
“Sudah saling berbaikan, kan?” Kami yang mendengarnya sontak baru tersadar kemudian tertawa kecil bersama. Sadath dan kawannya menjadi kebingungan melihat tingkah kami berdua.
“Oh iya, kita sampai lupa membicarakannya,” ucapku pada Rein.
“Iya, kita terlalu menikmati vila ini,” sahutnya. Setelah tergelitik tawa, kami berdua kembali serius dan saling bertatap-tatapan satu sama lain.
“Waktu itu kau marah padaku karena kejadian itu, kan?” tanyaku. Ia membalasnya dengan mengangguk ke arahku. Aku pun memaparkan rangkaian kejadian yang benar-benar terjadi kala itu.
“Maaf aku sudah berbohong padamu…”
“Aku juga minta maaf…”
“Untuk apa?” tanyaku kebingungan.
“Untuk semuanya,” jawabnya.
“Jangan ada dusta lagi, ya?”
“Dan jadilah diri sendiri, oke?”
“Kenapa kalian menyoroti kami?” tanyaku sedikit jengkel.
“Teruskan, teruskan. Untuk laporan,” jawab Sadath.
“Tapi kami sudah selesai,” sahut Rein.
“Cut!” lontar Sadath dan semua orang menurunkan kamera mereka masing-masing. Kami pun mengobrol sebelum akhirnya Sadath berjalan mendatangi kami.
“Wah, kalian tampak akrab sekali sekarang,” ujarnya.
“Yah… Begitulah…” balasku tersenyum.
“Pasti banyak hal sudah terjadi, kan?”
“Tentu saja. Apa kau tahu? Kemarin Adelard—” sahut Rein dan aku langsung menutupi mulutnya karena malu.
“Jangan! Itu memalukan!” lontarku menahan rasa malu.
“Maaf, maaf… Hehe…” balasnya cengengesan.
“Berlarian dari sehabis berendam di pemandian?” tanya Sadath. Aku yang mendengarnya lantas terkejut dan merasa sangat malu.
__ADS_1
“B—Bagaimana kau tahu?” tanyaku pelan.
“Ups, maaf keceplosan,” lanjut Sadath yang kemudian pergi meninggalkan kami.
“Kau belum menjawab pertanyaanku!” seruku.
‘’Mungkin Rein tahu!” sahutnya dari kejauhan. Aku pun menoleh ke arah Rein yang hanya tersenyum menahan tawa sejak tadi.
“K—Kau tahu?” Lantas Rein menunjuk ke arah sudut atas ruangan sembari berkikikan kecil. Aku yang melihatnya sontak teringat kalau terdapat kamera pengawas yang dipasang di setiap sudut vila. Seketika aku kepalaku menjadi hilang akal karena rasa malu yang tak tertahankan, sedangkan Rein tergelitik tawa melihat wajahku yang tercengang.
“B—B—B—Berarti…” ucapku pelan.
“Tenang saja! Kami tidak memikirkannya! Kau bukan satu-satunya yang seperti itu, kok!” sahut Sadath dari balkon.
“Maksudmu?” tanya Rein penasaran.
“Kau tahu kalau program ini untuk pasangan, kan?”
“Iya, lalu?”
“Kurasa kau mengetahuinya… Banyak dari mereka yang lupa kalau ada kamera pengawas, dan…”
“E—Eh? Mereka melakukannya di sini?” Sadath membalasnya dengan mengangguk ke arahnya.
“Kau selalu menyadarinya, ya?” tanya Sadath.
“Tentu, aku juga memang menghindari seperti itu,” jawab Rein.
“Kalian memang pasangan yang baik, ya,” lanjut Sadath terkagum-kagum.
“Kau berlebihan,” balas Rein cengar-cengir.
“Tidak lama lagi mulai gelap, ayo kita beres-beres sebelum kembali ke kota,” ujarnya yang kemudian mereka berdua masuk ke dalam ruang tengah.
Selepas makan malam, kami berjalan pulang dari vila menuju asrama dengan mobil yang sama seperti saat kami berangkat. Semua barang-barang kami sudah dirapikan oleh tim. Tidak banyak pemandangan yang dapat kami lihat di tengah kegelapan selain bintang-bintang yang berkilauan di atas kami. Perlahan-lahan suasana sekitar mulai terang dengan lampu-lampu ketika kami mulai mendekati kota. Saat kami sudah berada di kota, tampak atmosfer yang sangat berbeda di antara dua tempat itu.
Setibanya kami di asrama, barang kami dibawakan menuju asrama. Aku membuka pintu dan melihat teman-temanku yang sedang berkumpul dengan penuh tawa canda di ruang tengah. Sesaat melihat kami, mereka semua langsung bergegas menghampiri kami dan menyambut kami. Aku dan Rein yang sebelumnya sudah merasa lelah akibat perjalanan yang cukup melelahkan, seketika saja luruh dan kami menjadi bersemangat kembali.
“Selamat datang!” sambut mereka serentak. Aku dengan perasaan penuh senang membalas sambutan mereka semua, sebelum akhirnya kami ikut berkumpul dan membicarakan cerita kami.
“Kami pulang!”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1