Love Exchange

Love Exchange
Episode 62 : Kesatria Sungguhan


__ADS_3

Hiruk-pikuk para insan meriuhkan pasar saat kami berjalan kembali menuju arena bertarung. Biosfer tampak sangat ramai seiring kami mendekati gedung tersebut. Seluruh makhluk seakan-akan berkumpul ke sini hanya untuk pertandingan ini. Kami yang kesulitan menumbus lautan manusia akhirnya menemukan teman-temanku yang lainnya.


“Hart!” teriakku memanggil mereka, tetapi mereka tampak kebingungan melihat ke segala arah mencari kami. Aku yang berada di depan berusaha membelah lautan untuk menghampirinya.


“Itu mereka!” lontar Freda memberi tahu yang lain. Seketika aku dan Milard terkejut dengan penampilan wajah Hart dan Eledarn yang tampak lebam.


“Kalian berdua kenapa?” tanyaku khawatir. Sementara mereka hanya diam dengan mimik yang datar.


“Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” sahut Freda. “Tapi wajahnya tidak menunjukkan baik-baik saja,” cakapku kepadanya. Freda hanya cengar-cengir cengengesan. Aku sudah tidak tahan dengan tempat yang sumpek dan amat bising ini. Dengan segera aku mengajak mereka pergi dari sini.


“Ayo kita pergi dari tempat sesak ini dulu.”


Kami pun berjalan dengan penuh sesak menuju tempat yang tidak terlalu padat. Adanya sosok pria tua berjalan bersama kami membuat teman-temanku kebingungan siapa dirinya. Merasa tidak enak akhirnya Cassie membisik tanya kepadaku.


“Siapa dia? Kenalanmu?”


“Iya. Akan ku perkenalkan kepada kalian setelah kita bebas dari sini,” jawabku kepadanya.


Setelah berhasil keluar dari lautan kemudian aku memperkenalkan Wymer dihadapan mereka semua.


“Semuanya perkenalkan namanya Wymer. Ia telah banyak membantuku dan Milard,” jelasku. Dengan tidak enak hati lantas Wymer membuat suasana menjadi tidak tegang.


“Santai saja. Salam kenal kawan-kawan!” lontarnya.


“Banyak membantu kalian?” tanya Emery buncah kepadaku dan Milard.


“Rahasia,” jawab Milard tersenyum.


Secara tidak sengaja terdengar omongan orang-orang dan tatapan mereka menuju pada Wymer. Aku menjadi heran dengan sosok dirinya yang cukup misterius bagiku. Sejak berangkat tadi semua orang ramah dan memperhatikan dia. Kemudian Wymer mengajak kami pergi ke suatu tempat.


“Mari ikut denganku.”


Kami semua dibawanya menuju arena bertarung. Namun gerbang masuk ke dalam tampak sepi daripada sebelumnya. Seperti pintu masuk untuk orang-orang tertentu saja. Sesampainya di gerbang semua pandangan tertuju pada Wymer dan menyapanya.


“Halo, Tuan Wymer!” teriak salah seorang dari mereka. Wymer hanya membalasnya dengan mengangkat tangan. Sontak aku kaget padanya.


“Siapa ia sebenarnya?” gumamku dalam hati.


“Siapa mereka, Tuan?” tanya penjaga gerbang tersebut.


“Teman-temanku. Aku mengizinkannya masuk dari sini,” jawab Wymer tenang. Lantas para penjaga itu bersorak menuruti perintahnya.


“Baik, Tuan!”


Kemudian kami semua berjalan ke dalam arena bertarung. Setibanya di dalam kami terkesima dengan kemegahan bangunan yang amat besar ini. Anjungan tempat duduk yang tersusun rapih nan berukir menanbah kemewahan bangunan ini. Setelah diamati ternyata lebih besar daripada ukuran stadion pada umumnya. Kami hanya bisa ternganga dan tidak dapat berkata apa-apa.


Setelah asyik mengamati kemegahan bangunan ini, Wymer mengarahkan kami menuju tempat duduk. Tak disangka kami diberikan tempat menonton terbaik yaitu bagian tengah anjungan. Terdapat pembatas tersendiri dan bentuk bangku yang digunakan jauh berbeda dari lain.


“Silahkan, anak-anak!” ucapnya dengan semangat. Aku menjadi merasa tidak enak padanya. Namun Hart dan Eledarn dengan girangnya mencari posisi terbaik bagi mereka.


“Kau yakin?” tanyaku gugup.


“Tentu saja. Tidak perlu sungkan,” jawabnya tersenyum. Lalu kami pun duduk dan mengobrol sembari menunggu acara dimulai. Sedikit demi sedikit orang-orang mulai mengisi bangku kosong sampai akhirnya atmosfer menjadi ramai dan penuh sorak-sorai.

__ADS_1


Tak lama kemudian acara pun dimulai. Berawal dengan sambutan-sambutan dari pada para pemimpin kota dan sejajarnya. Aku semakin gugup dan gelisah bersamaan acara ini berlanjut. Namun Wymer berusaha menenangkanku.


“Jangan cemas. Seorang petarung harus berani! Sekalipun lawan yang dihadapi jauh lebih kuat dari kita,” ujarnya.


“Aku takut mengecewakanmu,” sahutku murung kepadanya.


“Tidak, kok. Lakukan saja yang terbaik. Kalau kekuatanmu saja tidak kuat, maka gunakanlah otak untuk melawannya,” terangnya memberi saran.


“Baiklah. Akan ku usahakan!” tuturku bersemangat.


“Itu baru muridku,” balasnya senang.


Selang beberapa menit kemudian acara pertarungan pun dibuka langsung oleh pemimpin kota. Ternyata pertandingan yang kami tonton tak kalah serunya dengan menyaksikan pertandingan olahraga lainnya. Bahkan sorakan penonton lebih meriah dan lebih menghebohkan.


“Biasanya orang-orang akan bertaruh untuk menebak siapa pemenangnya,” jelasnya seraya menyaksikan. “Kebanyakan orang akan bertaruh pada Reynaud,” imbuhnya lagi.


“Siapa dia?” tanya Milard penasaran.


“Ia adalah seorang pemuda yang amat lihai bertarung. Ia juga masih memengang juara bertahan selama empat kali berturut-turut,” paparnya. Aku menjadi tidak percaya diri dengan kemampuanku.


“Tenang saja,” lanjut ucapnya lagi menenangkanku.


Selanjutnya giliran Reynaud, orang yang baru saja diperkenalkan Wymer kepada kami. Selama aku menyaksikan aku merasa takjub dengan keahliannya dalam mengayunkan pedang. Lagi-lagi itu membuatku menjadi minder, tetapi saat itu juga aku sadar bahwa aku sudah diajarkan oleh sosok yang jauh lebih pandai, yaitu Wymer.


Setelah itu, sekarang giliranku untuk bertarung. Aku yang masih ingat betul teknik yang sudah ku pelajari tadi siang, dengan mudah melumpuhkan lawan-lawanku.


“Pertarungan kali ini dimenangkan oleh, Adelard!” Aku sangat bersyukur karena berkali-kali memenangkan pertarungan.


“Adelard menang!”


“Adelard menang!”


“Wah, kau hebat, Adelard!” teriak Freda menyemangatiku.


“Tidak ada sebutan yang tepat selain alien,” lontar Hart ternganga.


Setelah banyaknya pertarungan yang aku lewati, akhirnya tiba saatnya untuk pertarungan final.


“Dan sekarang adalah bagian yang ditunggu-tunggu! Seorang pemuda pemengang medali berturut-turut. Beri tepuk tangan meriah untuk… Reynaud!” Sontak seluruh bangunan dipenuhi sorak-sorai seiring Reynaud memasuki arena.


“Selanjutnya, seorang… eh… pemuda yang baru saja daftar pada pertandingan kali ini. Adelard!” Aku pun berjalan memasuki arena, tetapi hawa tidak mengenakkan hadir kepadaku.


“Uuuu…!” Sorakan remeh tertuju kepadaku. Begitu pula dengan cacian dan celotehan orang-orang. Aku harus dapat bertahan dan berusaha untuk tidak menanggapinya. Berbagai ceracaan terlontar dari mereka.


“Anak baru jangan sok keras!”


“Tidak mungkin kau sampai final. Pasti curang!”


“Bunuh saja orang sombong itu!”


Wymer yang melihatnya seketika menjadi jengkel dan ingin beranjak dari tempat duduknya. Namun usahanya dihentikan oleh Milard yang menahan dirinya.


“Baiklah kalau begitu… Mulai!”

__ADS_1


Aku dan Reynaud mengambil ancang-ancang dan saling berbicara satu sama lain.


“Oh, jadi kau anak yang sombong itu,” ucapnya menyepelekanku. Lantas aku mengikuti alur permainannya.


“Kau meremehkanku, ya?” sahutku.


“Tentu saja. Kau tidak ada apa-apanya bagiku. Hiyaa!”


Untung saja aku berhasil menangkis serangannya. Lagi-lagi ia berusaha melengahkanku dengan ucapannya.


“Walah, walah… bisa-bisanya kau menangkisnya,” cakapnya tersenyum licik.


“Sekarang giliranku!” Aku berlari menyerangnya, tetapi dengan mudahnya ia menggagalkan seranganku.


“Heh, hanya segitu saja kemampuanmu,” tandasnya. Kemudian pertarungan sengit terjadi di antara kami. Tidak ada satu pun serangan yang berhasil mengenai masing-masing dari kami. Aku menjadi kelelahan setelah pertarungan yang cukup lama dan menghabiskan banyak energi.


“Hahaha! Tampaknya kau sudah tidak kuat lagi melawanku. Menyerahlah!”


“Ucapannya membuatku kesal,” bantinku jengkel terhadapnya.


“Sekarang rasakanlah jurus pamungkasku!” teriaknya kemudian dengan sigap menyerangku. Sontak aku menggunakan teknik Ictospetum. Reynaud yang tidak menyangka lantas ternganga heran dengan teknik yang ku gunakan. Dirinya yang tengah lengah memberiku kesempatan emas untuk melumpuhkannya.


Akhirnya dengan serangan balik aku berhasil membekukannya. Seketika penonton tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


“Pertandingan musim dingin kali ini dimenangkan oleh… Adelard!”


Lagi-lagi temanku dibuat kaget terhadapku.


“Tidak mungkin,” gumam Hart menggeleng-gelengkan kepala. Sementara itu Wymer hanya tertawa kecil melihatnya. “Sudah kuduga.”


Namun bukannya sorak-sorai dan tepuk tangan menyertaiku, justru makian dari orang-orang semakin terlempar ke arahku.


“Curang!”


Wymer yang amat jengkel kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu pergi turun ke arena menghampiriku. Para penonton sontak terdiam dan bertanya-tanya.


“Tuan Wymer?”


“Apa yang ia lakukan?”


Lantas Wymer berteriak ke arah penonton dan menjelaskan semuanya.


“Pertandingan ini adil! Pemenang sudah sah tepat di mata kalian!  Sekarang waktunya untuk memperkenalkan pemuda yang dapat mengalahkanku… Adelard!”


Akhirnya para penonton pun mengakui kemenanganku.


“Baiklah kalau begitu, selamat anak muda!”


Seketika sorak-sorai dan tepuk tangan tertuju kepadaku. Aku pun berterima kasih kepada Wymer. “Terima kasih banyak.” Ia meresponku dengan tersenyum.


Setelah pertandingan aku mendapatkan hadiah yaitu uang, medali, dan tentunya penghargaan dari pemimpin kota. Aku juga diberi pin khusus yang akan memberikanku akses apapun dikota ini dengan gratis seumur hidup. Aku, Wymer dan teman-temanku keluar dari arena dengan penuh pujian kepadaku. Namun hatiku menjadi gelisah terhadap Reynaud karena dengan tidak sengaja ia sudah dipermalukan.


“Aku merasa tidak enak dengan Reynaud. Aku akan menemuinya nanti.”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2