Love Exchange

Love Exchange
Episode 111 : Air Penghilang Dahaga


__ADS_3

(Bacaan episode ini mungkin dapat membuat sebagian pembaca merasa mual)*


Sore hari yang semakin larut masih saja di basahi oleh hujan yang terus mengguyur permukaan. Tak lama lagi langit akan benar-benar gelap. Beberapa orang yang berada di gedung sekolah memberanikan diri untuk berlari keluar dari sana, namun tidak dengan kami semua yang masih berada di ruang kesehatan sembari menunggu hujan reda.


“Lama sekali hujannya,” gumamku sambil melihat keluar jendela.


“Iya nih, hujannya awet,” balas Icha.


Rhean yang sempat beristirahat sejenak lantas memberanjakkan diri untuk duduk di atas kasur. Tampak bagiku bahwa sepertinya ia sudah mulai membaik. Sekilas terbenak di kepalaku dengan kondisi Gavin dan Cassie sekarang, tetapi pada saat yang bersamaan aku senang dengan kesempatan yang muncul kali ini. Berdiam di ruang kesehatan membuat dahagaku bergejolak, ditambah lagi dengan botol air minum yang kubawa sudah lama habis.


“Haus sekali, apa kalian ada yang masih punya air?” tanyaku kepada mereka, dan mereka semua pun hanya membalasku dengan menggeleng-gelengkan kepala.


“Itu di depan ada air deras, julurkan saja lidahmu,” celetuk Gandra bercanda kepadaku.


“Bukan seperti itu, Pak…” balasku sedikit jengkel kepadanya, sementara itu teman-temanku lantas tertawa dengan perangai kami berdua. Tak lama kemuidan, Rhean beranjak dari kasurnya dan berdiri. Aku sempat khawatir dengannya, tetapi ia sudah tampak baik-baik saja.


“Aku juga haus, ayo kita cari minum,” ucap Rhean sembari menelan air liurnya.


Kami pun merapihkan ruangan tersebut lalu mengambil tas masing-masing dan keluar dari ruangan. Kami semua berniat untuk pergi menuju kantin yang berada di lantai dasar. Rhean yang masih belum terlalu pulih berjalan di sepanjang lorong dengan lesu. Sontak aku membantunya seraya merangkulnya untuk berjalan.


“Kau sudah baikan, kan?” tanyaku kepada Rhean.


“Ya, aku sudah merasa lebih baik,” jawabnya. “Terima kasih sudah membantuku,” lanjutnya kembali kepada kami semua.


“Tidak masalah… Sudah sepatutnya melihat kondisimu seperti itu membuat kami langsung bergegas melakukan tindakan,” balas Icha cengengesan.


“Memangnya apa yang terjadi denganku tadi?” cetus Rhean bertanya seperti itu dan membuatku mendadak terkejut mendengarnya.


“Loh? Kau sama sekali tidak ingat saat ada Rein dan Bella?” tanyaku tidak percaya. Dengan wajahnya yang polos ia pun menggelengkan kepalanya.


“Aku hanya melihat mereka mengenakan pakaian renang, tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa ada di ruang kesehatan,” ungkapnya kebingungan. Kemudian aku menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi kala itu, ia sempat tersentak kaget kalau ia tidak sadarkan diri hanya karena dilempari tas.


“Selemah itukah diriku?” gumamnya terheran-heran.

__ADS_1


“Lemparan sekencang itu kepadaku mungkin aku juga akan bernasib sama sepertimu,” sahutku cengar-cengir.


“Betul sekali, kita saja yang mendengarnya sampai panik tak karuan gara-gara keras sekali bunyinya,” tambah Icha.


“Oh begitu…” balas Rhean.


Setelah menuruni tangga beberapa kali, akhirnya kami tiba di lantai dasar. Kami pun bergegas menuju kantin dengan jalan memutar seraya perlahan-lahan agar Gavin dan Cassie tidak menyadari keberadaan kami. Tampak dari balik tembok, mereka berdua sedang asyik mengobrol. Setelah melewati mereka, kami melanjutkan langkah dengan santai menuju kantin. Namun betapa terkejutnya kami ketika melihat kantin yang sudah tutup lebih awal.


“Lah, sudah tutup?” lontarku kebingungan.


“Mentang-mentang hujan, tutup kantin seenaknya,” sahut Icha jengkel dengan apa yang ia lihat saat ini. Sementara itu, Rhean sudah tidak tahan dengan lehernya yang sudah kering, begitu pula dengan suaraku yang sudah mulai serak.


“Haus…” desis Rhean pelan dan tampak malang.


“Mau tidak mau kita harus menemui mereka berdua,” ucapku serat.


“Ya sudah kalau begitu, daripada mereka keasyikan,” lanjut Icha. Kami pun berjalan menghampiri Gavin dan Cassie yang berada di pintu gedung. Beberapa saat kemudian, kami pun bertemu dengan mereka berdua.


“Maaf membuat kalian menunggu,” ucapku kepada mereka.


“Kok rasanya aneh? Sepertinya lidahku bermasalah,” ujarnya kemudian meminumnya kembali. Gavin dan Cassie tidak dapat berkata apa-apa.


~


Beberapa saat sebelumnya, ketika aku dan yang lainnya masih berada di ruang kesehatan, Gavin dan Cassie berada di pintu gedung sekolah. Sembari menunggu, mereka berdua saling mengobrol satu sama lain, meskipun topik pembicaraan kurang berbobot. Hingga suatu ketika Gavin ingin rasanya untuk buang air kecil, tetapi ia tidak tahu harus berkata apa kepada Cassie. Selama ini, ia pergi ke toilet bersama salah seorang dari teman-temannya untuk menemaninya, salah satunya adalah aku.


“Aku harus bilang apa kepadanya?” gumam Gavin gelisah dalam hati. Ia juga berharap kalau aku dan yang lain akan segera turun ke bawah. Menit tiap menit terus berlalu, ternyata kami tidak kunjung menghampiri Gavin. Pada saat yang bersamaan ia sudah tidak dapat lagi menahan rasa kebelet untuk buang air kecil. Lantas ia memberitahukan kepada Cassie dengan wajahnya yang panik.


“Aku kebelet buang air kecil…!” lontarnya seraya menahannya. Cassie yang mendengarnya lantas panik bukan kepalang dibuatnya.


“Hah? Bagaimana ini? Ingin aku antarkan ke toilet?” tanya Cassie gelagapan. Toilet di sekolah ini hanya toilet biasa tanpa bantuan untuk para disabilitas. Gavin tidak dapat berdiri untuk melaksanakan panggilan alam tersebut, tidak mungkin juga rasanya kalau meminta Cassie untuk membantunya.


“Tapi aku tidak bisa menggukan toilet itu,” jawab Gavin merintih dan tidak sanggup lagi menahannya. Seketika saja terpikirkan oleh Gavin sebuah ide mendesak yang terlintas di kepalanya.

__ADS_1


“C—Cari botol kosong!” seru Gavin. Lantas Cassie langsung mencari botol kosong di sekitarnya. Akhirnya ia berhasil menemukan botol tersebut yang berada di sebuah kelas yang sudah sepi. Lalu ia langsung berlari menghampiri Gavin yang masih terduduk di kursi rodanya.


“Ini, untuk apa?” tutur Cassie terheran-heran. Lekas Gavin membuka botol tersebut.


“Jangan lihat ke sini!” ujar Gavin gugup. Cassie pun memalingkan wajahnya dan melangkah jauh. Setelah berkemih, ia meletakkan botol tersebut di atas lantai dan di sampingnya.


“Sudah?” tanya Cassie. “Ya,” balas Gavin. Cassie pun kembali menghampiri Gavin. Ia masih kebingungan dengan tindakan yang dilakukan Gavin.


“Huft… Lega…” hembus Gavin senang. Kemudian aku dan teman-temanku muncul mendatangi mereka berdua.


~


Rhean menyisakan air tersebut lalu memberikannya kepadaku. Aku pun meminumnya juga. Pada saat itu juga aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan air tersebut, namun aku tetap menghabiskannya lantaran rasa dahaga yang sudah tak tertahankan. Gavin dan Cassie tambah syok melihat ke arahku dan Rhean. Hal tersebut membuat Gandra terheran-heran.


“Ada apa memangnya?” tanya Gandra kepada mereka berdua.


“T—Tidak apa-apa,” jawab Cassie cengar-cengir.


“Kalian tampak haus sekali…” tambah Gavin dengan mulutnya yang terbuka lebar.


“Air ini juga terasa aneh di lidahku,” ucapku sembari memegang botol tersebut lalu membuangnya.


“Minuman apa tadi? Air lemon? Teh?” sahut Rhean yang juga bertanya-tanya sepertiku. “Tapi warnanya seperti air putih biasa,” sahutku. “Air berperisa?” lanjut tanyaku penasaran.


“Yah… Aku juga tidak tahu, aku asal beli saja tadi,” balas Gavin cengengesan. Gandra hanya tersenyum melihat tingkah kami semua.


“Kalian sudah tidak haus lagi, kan?” tanya Gandra.


“Ya, leherku terasa lega sekarang,” balasku senang.


“Syukurlah,” lanjut Gandra yang juga senang mendengarnya. Tanpa kami sadari, ternyata hujan sudah reda. Kami pun bergegas keluar dari gedung dan berjalan menuju asrama. Selama perjalanan, aku masih bertanya-tanya di dalam benakku terhadap minuman yang baru saja aku teguk.


“Minuman apa tadi? Aku belum pernah merasakan rasa itu sebelumnya.”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2