
Dari kejauhan terlihat Cassie yang dikerumuni oleh beberapa orang yang tak dikenal. Tampang mereka yang garang dan kucel sedang menggoda-goda Cassie dengan penuh gairah. Lantas kami pergi menghampirinya untuk mengusir mereka pergi, tetapi mereka juga tertarik untuk melakukan yang tidak-tidak terhadap kami.
“Walah, nambah santapan lagi nih, Bos.” ucap salah satu dari penjahat tersebut. “Apa yang kau lakukan di sini, curut?” celetuk pemimpin geng itu. Kami menjadi kesal setelah mendengarnya. “Lepaskan dia!” tegasku kepadanya. Namun mereka hanya tertawa terbahak-bahak melihatku.
“Oh… Mau menjadi pahlawan, ya?” sindir salah seorang dari mereka. Aku menjadi sangat kesal dan ingin melawannya. Sontak Hart menghalangiku dan berkata, “Aku ada ide.” Aku kebingungan dengannya. “Hah?” tanyaku penuh heran. “Tenang saja, dengan begini tidak akan ada yang terluka.” Setelah itu ia berjalan mendekati mereka dan menunjukkan wajah jengkelnya ke arah para penjahat itu.
“Kau ingin melawanku, bocah?” lontar mereka.
“Heh, maju saja kalau berani.” sahut Hart memancing amarah mereka. Aku yang belum tahu apa yang Hart rencanakan menjadi panik lalu berlari menghampirinya. Namun tiba-tiba Hart berteriak dengan sangat keras ke segala arah.
“Polisi! Polisi!” teriak Hart tiba-tiba dan membuat para penjahat itu panik. ketakutan. “Tidak ada otak tuh anak.” cakap penjahat itu. “Polisi! Ada penjahat di sini!” lanjut teriak Hart ke arah jalan keluar gang. Tak lama kemudian para penjahat itu melarikan diri ketakutan.
__ADS_1
“Awas saja kau, bocah! Aku akan terus mengingat wajahmu!” teriak mereka seraya berlari kencang. Kami pun akhirnya menghela napas lega.
“Te—Terima kasih.” ucap Cassie tersipu malu mengarah kepadaku. “Aku yang melakukannya, lho.” cakap Hart iri. “Terima kasih, Hart.” tuturku kepadanya sambil tersenyum. “Yah… aku tidak mengharapkan kata-kata tersebut darimu, sih.” ucapnya pelan sambil menggaruk-garuk kepala.
“Kau sedang pergi ke mana Cassie?” tanyaku berusaha mencari topik, padahal aku sudah bisa mengiranya sendiri.
“A—Aku ingin pergi ke perpustakaan. Kalau Adelard?” balasnya gugup.
“Iya aku juga.” jawabku. Sementara itu Hart asyik memperhatikan kami berdua. Tetapi pembicaraan tidak berlangsung lama dan akhirnya kami semua terdiam.
“Oh iya, aku baru ingat ada sesuatu yang harus kubeli. Bisakah kalian menemaniku?” ajak Hart. “Tapi kami ing—” jawabku. “Kumohon…” ucap Hart dengan wajah malangnya. Aku hanya bisa menghela napas. Cassie pun tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya kami menuruti permintaan Hart.
__ADS_1
“Jangan lama-lama tapi.” tegasku kepadanya.
“Iya, iya… Tenang saja…” sahutnya pringas-pringis. Ekspresinya membuatku semakin tidak yakin dengannya. Kemudian aku menatap Hart penuh curiga. Hart yang menyadarinya lantas meyakinkanku.
“Ayolah, aku ini kan temanmu. Kau harus memecayai temanmu, tahu.” ucapnya bercanda ke arahku. Cassie yang mengikuti kami dari belakang hanya terdiam gugup dan tidak berkata apa-apa.
Langkah kaki kami semakin menjauh dari perpustakaan. Aku dan Cassie tidak tahu tempat yang ia tuju. Sampai akhirnya ia membawa kami ke suatu tempat yang cukup ramai. Aku punya firasat buruk akan hal ini. “Kau sedang merencanakan sesuatu ya, Hart?” gumamku dalam hati menerawangnya dengan rasa penuh sebal.
“Ini dia tempatnya.” ucapnya bangga sekaligus senang seperti orang sombong. Seketika aku terkejut sekaligus kesal dibuatnya. Sedangkan Cassie kebingungan dan terdiam tanpa kata-kata.
“Kenapa malah ke sini, beruk?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)