Love Exchange

Love Exchange
Episode 78 : Kerusuhan


__ADS_3

Hawa sejuk menerjang saat lengkung mentari muncul dari permukaan. Seluruh tanah yang masih basah akibat hujan deras semalam, tetapi cuaca cerah dapat kuterka akan menyambut hari puncak dari pekan olahraga. Sembari berjalan menuju sekolah aku dibingungkan dengan iklim yang menurutku sedikit aneh lantaran sekarang tengah musim dingin.


“Loh? Bukannya turun salju?” gumamku bertanya-tanya.


Setibanya di sekolah kami semua berantusias untuk menyaksikan kehebatan murid-murid di sekolah yang agak kurang waras ini. Seluruh rangkaian perlombaan pada hari ini adalah babak final dari segala cabang olahraga yang dilombakan. Hart dan Eledarn telah bersiap di lapangan untuk giliran pertama.


“Lihat saja nanti. Akan ku tunjukkan kehebatanku!” lontar Hart penuh yakin kepada Eledarn. “Baiklah kalau begitu, kita akan lihat buktinya.”


Suasana lapangan menjadi lebih bergemuruh dari hari-hari sebelumnya. Bahkan para pendukung berlomba-lomba untuk saling berteriak menyemangati para peserta dari kelasnya masing-masing. Telah berbaris para peserta di lintasan dan mereka mulai mengambil ancang-ancang.


“Baiklah, tengah kita saksikan bersama, pertandingan yang cukup sengit dari para lelaki petarung ini!”


“Betul sekali, Bung. Dalam posisi sementara, Hart berada di peringkat pertama dengan durasi berlari yang sangat cepat.”


“Baiklah! Tanpa basa-basi lagi, lapangan kita berikan kepada sang putri manis kebanggaan kita semua… Cassie!”


Dengan pistol ditangannya, Cassie pun mulai memberi aba-aba dan menghitung mundur. Namun terlihat wajahnya yang was-was dan menjauhkan kepalanya dari pistol yang terangkat sangat tinggi ke atas. Rasa ketakutan membayangi dirinya sesaat sebelum letusan pistol menggelegar.


“Sepertinya ia takut dengan pistol,” ucap Emery khawatir.


“Door!” Sontak para peserta berlari dengan cepat dan suara sorakan berdengung keras.


“Ayo Hart! Kau pasti bisa!”


“Eledarn! Jangan mau kalah dengan anak mulut besar itu!”


Tak lama kemudian para pendukung yang saling bertolak belakang itu mulai berdebat dan situasi menjadi gaduh. Melihatnya dari kejauhan lantas aku menjadi geram dengan mereka.


“Yang lomba mereka kenapa malah kalian yang ribut?” batinku. Atmosfer diperkeruh lagi dengan dua komentator yang menyambar dan justru mengomentari para suporter tersebut.


“Woah…! Lihatlah! Ada dua grup pendukung yang saling bertengkar! Sungguh luar biasa!”


Kondisi tribune penonton menjadi berantakan yang disebabkan oleh amukan mereka. Para peserta menjadi keheranan dan melambatkan kecepatannya, termasuk Hart dan Eledarn yang kesal melihat pendukung mereka masing-masing.


“Hei! Aku tidak berlari untuk itu!” teriak Hart gusar ke arah mereka, tetapi situasi yang sudah terlanjur porak-poranda tidak mengubah semuanya.

__ADS_1


“Hentikan!” lanjut Eledarn menambahkan, padahal garis finish sudah berada tepat di hadapan mereka. Dengan segera aku dan para panitia menghampiri tempat keributan dan berusaha meleraikannnya. Akan tetapi sang komentator tetap saja memancing perpecahan. Aku pun berlari cepat menuju akar permasalahan yaitu pos komentator.


“Oi! Apa yang sedang kalian lakukan! Hentikan!”


“Wah, pemirsa! Alien datang dan menyabotase pos—” Lekas aku mengambil mikrofon dan memberi peringatan kepada mereka.


“Mohon untuk tetap tenang…! Jangan ribut!” tegasku, namun usahaku gagal total. “Mau tidak mau aku harus datang langsung ke sana,” gerutuku dalam hati. Lalu aku berlari ke tempat kerusuhan dan komentator berisik itu kembali melakukan hal serupa seperti sebelumnya.


Kerusuhan yang terjadi di mana-mana membuatku tidak bisa melakukan apa-apa selain melumpuhkannya satu per satu. Sampai akhirnya semuanya kembali kondusif dan pertandingan berlanjut tenang. Tanpa ku sadari ternyata para peserta sudah mencapai garis finish.


“Akhirnya beres,” hembusku lega sembari menepuk-nepuk tanganku dari debu. Aku terkejut karena bukan Hart maupun Eledarn yang memenagkan pertandingan, melainkan peserta dari tim lain. Para pendukung yang telah sedikit babak belur hanya bisa terdiam dengan tenteram.


“A—Alien memang tidak tertandingi,” desis seorang pendukung dengan ucapan terseret seret. Sekali lagi aku mengingatkan mereka seraya berkata, “Saksikanlah dengan tenang, oke?”


“O—Oke.”


Aku kembali menuju posku dan menghampiri teman-temanku. Di sana terdapat Hart dan Eledarn yang sedikit menyesal karena telah kalah dengan konyol.


“Bagaimana bisa kalian kalah?” tanya Freda tidak percaya.


“Kami sibuk dengan para pendukung dan tidak fokus terhadap lawan… Hehe…” jawab Hart cengengesan. “Argh! Lebih baik aku tidak memakai pendukung lagi lain kali,” lontar Eledarn kesal. Aku yang seharusnya dapat melihat kemampuan terbaik mereka kini sirna akibat kerusuhan tadi.


“T—T—Tiga detik! Tiga detik, pemirsa!” Semua penonton menjadi hening sejenak kemudian pecah sejadi-jadinya.


“Bahkan anjing tercepat pun tidak seperti ini…” ucap Milard.


“K—Kesambar apa dia barusan?” cetusku gagap. Bersama medali di genggamannya, Freda berlari menghampiri kami semua dengan rasa senang.


“Ehe! Bagaimana? Bagaimana?” Segala pujian pun kami arahkan kepadanya.


Pertandingan terus berlanjut. Kelasku mendapat beberapa medali meskipun bukan yang terbanyak, tidak seperti tahun lalu. Setelah semua selesai aku dan para panitia dengan segera membereskan semuanya, lalu akhirnya aku bisa pulang bersama dengan teman-temanku yang telah berjanji untuk berkumpul di depan gerbang.


“Hari yang menyenangkan!” lontar Freda melompat-lompat riang gembira.


“Yah… walaupun pendukung dua orang ini merepotkan,” sahutku jengkel.

__ADS_1


“Tapi kali ini kita tidak juara umum,” lanjut Milard menyayangkannya. Lalu Freda menanggapinya. “Betul, padahal tahun kemarin semua medali kita ambil semua.”


“Itu pun karena Ali— Maksudku Adelard, kan?” tutur Cassie dan aku mendengarnya dengan jelas. “Kau ingin menyebutku Alien, kan?” sosorku. Lantas Cassie hanya tertawa kecil dengan wajahnya yang manis. “Untung saja kau cantik,” imbuhku pelan. Kami pun akhirnya berpisah di depan stasiun dan pulang menuju rumah kami masing-masing.


“Huft… Lelahnya…”


Hari demi hari terus berjalan, hingga suatu ketika pada hari terakhir bersekolah di pekan ini, kami belajar sebagaimana sedia kala. Pelajaran matematika menjadi santapan pertama kami. Guruku pun menjelaskan materi-materi dengan perlahan, tidak jarang juga beberapa murid bertanya kepadanya. Tidak lama lagi jam pelajaran akan segera berganti.


“Baiklah, anak-anak. Persiapkan diri kalian untuk ulangan harian pekan depan. Materi yang akan muncul sampai bab sekarang. Mengerti?”


“Iya, Pak!” jawab kami semua kompak.


“Hart, Freda, dan lainnya yang nilainya masih di bawah rata-rata, Bapak Harap kali ini kalian lebih baik.”


“Siap, Pak!” sahut Hart lantang.


Pada saat pergantian jam pelajaran, kelasku ramai seperti biasa sebelum guru selanjutnya masuk. Hart yang berada di belakangku hanya terduduk murung dan mengeluh. “Haduh… Mengapa harus ada ulangan?” hembusnya.


“Loh? Sepertinya tadi semangat sekali menjawabnya,” gumamku dalam hati.


Saat jam istirahat tiba, dua kecoak itu datang menghampiriku. Aku menjadi kebingungan dengan tingkah lesu mereka berdua.


“Eh? Eh? Tumben sekali kalian mau mati seperti ini,” celetukku.


“Adelard… Ajarkan kami berdua semua pelajaran,” ucap Freda tidak bersemangat. “He-eh… Nilai kami sudah buruk sekali,” lanjut Hart. Sontak aku terkejut mendengarnya.


“Mengajarkan kalian? Semua pelajaran?” tanyaku tercengang.


“Ya…” jawab Freda. “Kumohon…” bujuknya sembari mendekatkan wajahnya ke hadapanku.


“B—Baiklah…” ucapku pasrah.


“Terima kasih, Alien…” balas Hart. Melihat mereka yang tampak tidak niat itu membuatku kesal sambil berharap dalam hati.


“Andai saja semangat kalian sama seperti lomba lari waktu itu…”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2