
Hari demi hari slilih berganti. Tidak terasa waktu telah memasuki pekan ujian tengah semester. Sebelumnya telah diinformasikan bahwa ujian kali ini akan menggunakan komputer dalam pelaksanaannya. Aku belum pernah melakukan ujian dengan sistem seperti itu. Saat itu tiba, kami berangkat menuju sekolah bersama-sama. Selama satu pekan kami akan dihadapkan oleh layar yang menentukan nilai kami.
“Aku tidak sabar ingin melihatnya?” lontar Bella bersemangat.
“Memangnya di sekolahmu tidak seperti ini?” tanyaku kebingungan.
“Ada sih, tapi sekolah ini kan sangat ‘waw’. Aku jadi penasaran,” balasnya ceria. Aku yang mendengarnya tidak habis pikir dengan perkataanya.
“Apa maksudnya ‘waw’ coba,” gumamku dalam hati. Di lain sisi Gavin masih tidak terpikirkan olehnya akan sesuatu.
“Di mana kita akan ujian nanti? Lab komputer tidak cukup untuk menampung semuanya sekaligus,” gumam Gavin bertanya-tanya. Aku yang belum pernah mengalaminya tidak mengetahui apa-apa, begitu pula dengan Cassie yang hanya menyimak mereka.
“Ah, betul juga, di mana kami megerjakannya? Tidak disuruh membawa laptop juga,” sahut Icha.
“Oh, seharusnya pakai laptop, ya?” lanjutku penasaran.
“Kalau di sekolahku biasanya pakai laptop masing-masing,” jawab Rein.
“Tapi aku tidak pernah lihat kalian membawa laptop,” balasku terheran-heran.
“Sesekali aku menggunakannya di kamar, kok,” ucap Rein. Aku dan Cassie tampak seperti orang yang tersesat di tengah hutan dan tidak tahu apa-apa.
“Kau benar-benar belum pernah ujian seperti itu?” tanya Rein tidak percaya. Kami berdua hanya tertunduk menahan malu.
“Sekolah kalian agak ketinggalan jaman, ya,” celetuk Rhean seraya tersenyum menahan tawa.
“Sudah, sudah, ayo kita bergegas ke sekolah,” ujar Rein kepada kami semua.
“Oke,” balas kami.
“Ngomong-ngomong, ayah kalian masih bertugas di sini?” tanya Gandra.
“Sudah pulang kemarin,” jawabku. Kami berjalan menuju sekolah sembari mengobrol dan bercanda tawa.
Sesampainya di sekolah, terdapat di papan mading yang berada di lantai dasar dan tak jauh dari pintu masuk gedung. Selembar tersebut memberitahukan bahwa ruang ujian tidak diacak dan menggukanan tempat duduk seperti biasa. Kami yang melihatnya lantas merasa sangat lega. Hingga akhirnya kami terkejut saat melihat ruang kelas yang berisikan komputer di setiap tempat duduknya. Kami yang melihatnya dari luar sontak terdiam mangap dan saling bergumam tak percaya.
“A—Ada komputer beneran…”
“Ba—Bagaimana bisa?”
“Hanya berselang dua hari sudah menjadi seperti ini…”
__ADS_1
Kami pun berpisah dan memasuki kelas kami masing-masing. Terlihat dengan jelas satu set komputer lengkat dengan penunjang lainnya. Kursi yang digunakan juga berbeda dan terasa sangat empuk saat diduduki. Para murid lainnya tampak sangat semangat dan mulai asyik dengan layar yang ada di hadapan mereka. Tiba saatnya untuk mengerjakan ujian pelajaran biologi. Aku yang sedang mengerjakan merasa sangat senang dan sangat terbantu dengan sistem seperti ini.
“Ternyata sangat mudah daripada harus menggunakan pensil,” benakku. Aku pun menarik napas seraya berandai-andai.
“Coba saja di sekolahku dari dulu juga seperti ini…”
Tidak lama kemudian aku melihat seorang teman kelasku yang berada di depan Rein melakukan sebuah kecurangan dengan jelas. Tampak dari layar yang cukup lebar itu kalau ia sedang menggunakan internet untuk mencari jawaban. Aku yang melihatnya lantas kesal terhadapnya. Ingin sekali rasanya untuk melaporkan ia, tetapi aku tidak mau berurusan dengan hal seperti itu.
“Oh iya, tumben sekali semuanya tenang-tenang saja,” gumamku sembari melihat sekitar. Betapa terkejutnya aku ketika melihat banyak dari mereka yang membuka internet bahkan asyik mendengarkan lagu dan menonton.
“Semua orang menunggu hari ini hanya untuk itu?” batinku bertanya-tanya. Hingga akhirnya pengawas itu datang menghampiri seorang murid dari belakang secara diam-diam. Lalu terdengar suara jepretan kamera dengan jelas. Saat murid tersebut menoleh ke belakang, sontak ia tersentak kaget dan bergemetar ketakutan.
“Wah, foto yang bagus,” sindir sang pengawas sembari melihat foto tersebut dari layar ponsel pintarnya. Kemudian pengawas itu kembali berjalan dan tidak menghiraukan murid tersebut. Entah mengapa tiba-tiba saja ada rasa puas tersendiri yang sedang aku rasakan sekarang.
“Rasakan itu!” pungkasku dalam hati.
Ujian selanjutnya adalah pelajaran matematika. Sebelumnya kami diberi lembar untuk mencoret-coret perhitungan. Kami pun mengerjakan ujian tersebut, namun sebuah hal yang tidak diinginkan datang kepadaku di tengah waktu mengerjakan.
“Loh? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?” gumamku panik dan berkeringat dingin. Tiba-tiba saja layar ujianku berubah dan bertuliskan “eror”. Dengan cepat aku langsung memanggil pengawas ujian dan menarik perhatian seisi kelas. Suasana menjadi sedikit bising dengan suara bisikan-bisikan.
“Apa yang terjadi dengan Adelard?”
“Adelard yang malang…” Saat pengawas itu mendatangiku lantas ia menelepon pantia ujian lainnya untuk datang ke kelas. Tak lama kemudian Pak Edwin berjalan memasuki kelas dan seketika kelas menjadi hening. Pak Edwin yang menyadarinya sontak memperingatkan kami semua.
Ia pun membetulkan komputerku. Aku yang terduduk melihatnya tampak ia hanya mengotak-atik komputer itu. Hingga akhirnya komputerku sudah dapat digunakan kembali namun aku harus mengisi jawaban lagi dari awal.
“Kau masih ingat jawabannya, kan?” tanya Pak Edwin dengan nada serius.
“Iya, Pak. Masih ada di coret-coretan,” jawabku. Kemudian ia pergi keluar dari kelas dan aku merasa lega.
“Untung saja bukan masalah besar,” benakku.
Waktu terus berjalan, kami sudah melewati beberapa ujian sejak beberapa hari lalu. Sekarang ujian pelajaran bahasa Inggris. Pada ujian kali ini terdapat soal listening yang mengharuskan setiap murid menggunakan penyuara telinga. Gavin dan seluruh teman kelasnya mengerjakan ujian dengan lancar dan tenang. Hingga akhirnya ketika mereka mendapati pertengahan soal, mereka tidak habis pikir dengan soal mendengar yang membingungkan. Terlihat pengawas ujian sedang tertidur lelap di meja guru. Sontak suasana kelas menjadi sedikit bising.
“Sshh! Gavin! Gavin!” bisik Rhean dengan cukup keras, namun Gavin tidak mengetahuinya. Ia pun melempar bola kertas dan mengenai kepala Gavin.
“Aduh!” lontarnya sembari menoleh ke arah sumber lemparan itu. Terlihat Rhean melambaikan tangan dan memanggilnya.
“Ada apa?” bisik Gavin sembari menunjukkan gerakan mulut dengan lebar. Rhean pun bertanya dengan menggunakan jarinya. Ia menanyakan soal nomor dua puluh tiga. Gavin yang sudah mengisi soal tersebut lantas menjawabnya.
“C!” bisik Gavin sembari memeragakan mulutnya. Tapi Rhean belum mengenali maksud yang Gavin sampaikan.
__ADS_1
“Hah?”
“C!” ucap Gavin sedikit lebih keras, namun lagi-lagi Rhean tidak mengetahuinya.
“Hah?” Gavin menjadi kesal lalu melontarkan ucapannya dengan sangat keras.
“C…!” Seketika semua orang teralihkan perhatian ke arahnya dan pengawas tersebut terbangun dari tidurnya.
“Ha!” hembus sang pengawas terkejut. Setelah mengelap wajah kantuknya itu kemudian ia memperingatkan kami semua.
“Kerjakan dengan fokus! Jangan tengok kanan kiri!” Sementara itu Rhean masih tergelitik tawa dengan kejadian barusan.
“Aduh… Untung saja tidak ketahuan,” gumamnya. Akan tetapi, teman-teman kelas Gavin menjadi kesal terhadapnya karena sudah membangunkan pengawas ujian.
“Gavin bodoh! Jadi tidak bisa bertanya!”
Ketika ujian berakhir dan pengawas ujian meninggalkan ruangan, tiba-tiba saja Gavin dikerubungi oleh teman-teman sekelasnya. Gavin yang melihat mereka dengan tampang mengerikan sontak panik dan ketakutan namun ia juga tidak tahu dengan keadaan yang menimpanya sekarang.
“A—Ada apa kalian ke sini ramai-ramai?” tanya Gavin gugup.
“Gara-gara kau! Kami jadi tidak bisa bekerja sama!” lontar salah seorang dari mereka.
“Me—Memangnya aku salah apa?” lanjut tanya Gavin membela diri dengan wajah jengkelnya.
“Kau berteriak saat memberi jawaban! Guru pengawas bangun tidur karena itu!”
“Memangnya iya? Aku cuman pelan, kok,” ujar Gavin tak terima.
“Pelan jidatmu! Semua orang bisa mendengarnya tahu!” Gavin yang sudah mulai terpojok akhirnya mengakui kesalahannya meskipun ia masih tidak habis pikir dengan semua itu.
“Iyakah? Setahuku itu pelan, lho...” Mereka masih terlihat sangat marah. Gavin tidak ingin membesarkan masalah tersebut.
“Baiklah… Maaf…” Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan Gavin dengan wajah kesal yang masih terlihat jelas. Rhean yang datang menghampiri tertawa terbahak-bahak dan membuat Gavin jengkel melihatnya.
“Makanya jangan budek jadi orang,” sindirnya.
“Aku tidak budek tahu! Aku hanya sedang mendengarkan lagu tadi.” Semetara itu, aku yang berada di kelas sebelah menjadi kebingungan dengan kebisingan yang terdengar sangat jelas. Lantas aku bertanya-tanya dengan diriku sendiri.
“Apa yang terjadi di sebelah?”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)