
Matahari mulai terbangun dari peraduannya, memancarkan sinarnya yang menghapus rentangan kain-kain kabut di atas tanah, menghangatkan atmosfer dari udara malam yang membeku walau tidak sehangat hari-hari sebelumnya. Semesta mendukung hari yang besar ini.
Aku, ketua OSIS sekaligus yang memimpin jalannya acara ini, datang ke sekolah sebelum irisan mentari terlihat sedikitpun di cakrawala. Aku menyempatkan datang lebih awal untuk mengecek kembali persiapan-persiapan. Tak terasa waktu terus terdetak, satu persatu orang-orang hadir memasuki gerbang. Kemudian Freda, Hart, dan Cassie tiba memasuki kelas dengan aku seorang diri yang telah merapihkan ruangan ini sebelumnya.
“Halo, Adelard!” lontar Freda semangat.
“Halo. Tidak biasanya kalian jalan bersama,” balasku pada mereka.
“Kami saling bertemu di depan gerbang tadi,” sahut Hart.
“Sejak kapan kau di sini, Adelard?” tanya Cassie penasaran sekaligus khawatir. Aku sempat terdiam memikirkan jawaban yang tepat.
“Paling juga baru sampai,” celetuk Hart tenang kemudian ikut membantuku. “Ya, belum lama,” lanjutku gelagapan. “Mungkin sudah cukup. Tinggal tunggu ramai dan siap untuk menyambut orang-orang,” ucap Freda memberhentikanku.
“Baiklah kalau begitu. Aku dan Cassie harus pergi ke ruang OSIS,” cakapku tersenyum sembari mengajak Cassie.
“Kau tidak ikut menikmati?” tanya Freda tampak mengasihaniku.
“Membuatkan acara ini berjalan lancar sudah menjadi kenikmatan tersendri bagiku,” jawabku tersenyum cengar-cengir. Lantas Hart berceletuk singkat kepadaku.
__ADS_1
“Wah, unik.”
“Hah? Apa maksudmu?” tanyaku kebingungan.
“Yah… Bukan apa-apa. Setidaknya ucapanmu barusan cukup menghiburku,” jawabnya cengengesan. Seketika suasana terisi dengan canda tawa.
“Sudah, sudah. Kami pergi dulu,” tuturku setelah tertawa lepas.
“Mampirlah kalau kalian sempat!” lontar Freda girang dan membara. Lalu aku dan Cassie pergi meninggalkan kelas. Sementara itu Hart, Freda dan teman-teman yang lain tengah mempersiapkan kelasnya. Mereka berdua yang tampak senang itu melihatku dan Cassie menjauh langkah demi langkah. Kemudian Hart dan Freda berdua melanjutkan pembicaraan mereka berdua.
“Oi, Hart,” cetus Freda.
“Apa maksudnya kenikmatan dari membuatkan acara ini lancar?” lanjut tanya Freda penasaran sekaligus kebingungan.
“Entahlah. Yang penting kita harus ikut mensukseskan acara ini supaya ia terpuaskan,” jawab Hart dengan gagah. Lantas Freda menggaruk kepalanya dan masih memikirkan maksud dari ucapanku tadi.
“Aku masih tidak mengerti. Puas dengan hasil kerja keras? Kenikmatan yang dirasakan setelah kelelahan, bekerja keras. Tunggu, itu bukan masokis, kan?” beber Freda cemas dan berbicara pada dirinya sendiri.
“Bukan. Ada satu jawaban yang pasti,” sahut Hart dengan yakin.
__ADS_1
“Hanya alien yang mampu merasakannya.”
Di sisi lain, aku dan Cassie bersiap-siap diri di ruang OSIS sebelum acara pembukaan festival. Kami berdua mengenakan kustom sebagai seorang raja dan ratu. Setelah kami menampakkan diri, respon kagum dan terkesima terlukiskan di wajah-wajah mereka.
“Wah… Kalian berdua cocok sekali. Aku jadi iri padamu, Cassie,” puji Emery dengan wajahnya yang bermekaran.
“Selamat pagi, Yang Mulia,” lontar Eledarn sembari membungkuk hormat bak kehormatan kerajaan. Seketika aku menjadi malu dan kurang percaya diri.
“Silahkan, Yang Mulia. Para rakyat telah menunggu,” imbuhnya kembali yang menghayati perannya, begitu pula dengan panitia-panitia yang lain.
“Sudah, sudah… Kalian membuatku malu,” ujarku kepada mereka. Namun suasana tidak berubah sama sekali. Cassie dengan gaunnya yang anggun kini tersipu malu dan wajahnya merah merona.
“Lewat sini, Yang Mulia,” cakap Eledarn sembari menunjukkan jalan. Sontak aku terkejut saat melihat keluar ruangan. Aku tidak percaya dengan apa yang sedang aku lihat sekarang.
“E—Eh? Kenapa jadi begini?”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1