
Langit nan teduh dengan angin yang berhembus lembut dan keramaian orang-orang menjadi panorama kami ketika pulang dari sekolah. Kami berjalan menuju asrama sembari mengobrol bersama, namun lambat laun semuanya pergi satu per satu. Pada saat yang bersamaan terpikirkan di benakku untuk mengajak Cassie berjalan-jalan.
“Cassie, maukah kau melihat kota sebentar?” ajakku.
“E—Eh? K—Kenapa tiba-tiba begini?” sahut Cassie gelagapan. Kemudian ia melihat ke arah Adelard dan Gandra. Mereka tersenyum ke arah Cassie.
“Y—Ya, aku juga tidak ada kegiatan sekarang…” tutur Cassie pelan. Aku langsung mendekati ke sebelahnya, tetapi tanpa kusangka tiba-tiba saja Cassie menggandeng tanganku. Sontak aku dan yang lainnya terkejut dibuatnya. Aku menjadi salah tingkah dan sulit untuk berkata-kata.
“K—Kalau begitu… Kami pergi dulu…” ucapku gugup.
“Oke! Selamat bersenang-senang!” balas Adelard menyeringai.
Aku dan Cassie melangkahkan kaki di trotoar jalan kota. Terlihat beragam kendaraan yang melintas dan khalayak yang berlalu-lalang. Sorot sinar mentari bersinar terang melewati rapatnya gedung-gedung. Pohon-pohon kota yang berjajar sudah menampakkan peparunya yang berwarna kuning kecoklatan. Kami berjalan menembus tengah kota sembari bergandengan tangan. Terdengar beberapa bisikan orang-orang yang melewati kami.
“Mereka tampak mesra sekali, ya.”
“Aku juga ingin seperti mereka.” Aku yang mendengarnya hanya berpura-pura tidak mendengarnya, namun lain halnya dengan Cassie yang terlihat malu dengan keadaan sekarang. Sontak aku menjadi cemas setelah melihat dirinya yang seperti itu.
“K—Kau tidak apa-apa, Cassie?”
“Ti—Tidak apa-apa!” jawabnya kalang kabut. Kami berdua sama-sama berjalan tertunduk ke bawah.
“Sepertinya seragam kita agak mencolok,” tuturnya sangat pelan. Aku yang baru tersadar seketika panik sendiri dan merasa takut kalau Cassie akan kecewa terhadap diriku.
“Aku harus bagaimana?” gumamku dalam hati. Tidak lama kemudian terlintas di kepalaku dengan buku cinta milik Adelard. Aku pun terus berpikir dan berbicara kepada diriku sendiri.
“Jangan-jangan itu adalah kode?” Lantas aku memiliki sebuah ide untuk mengatasi masalah tersebut.
“Cassie, aku ingin ke satu tempat,” ucapku kepadanya. Cassie yang mendengarnya sontak sedikit terkejut dan kebingungan.
“Kemana kita akan pergi?”
“Lihat saja nanti,” jawabku tersenyum.
Kami berdua berjalan melewati gedung demi gedung. Aku menggenggam tangan Cassie dengan sangat erat. Hingga akhirnya kami tiba di tempat yang dituju. Cassie terheran-heran dengan tempat yang sedang ia lihat.
“Ke—Kenapa kita ke sini?” tanya Cassie.
“Kau ingin mengganti pakaian, kan? Kita bisa membeli sekaligus ganti pakaian di sini,” jawab Gavin.
“Tapi… Bukan begitu…” balas Cassie gugup.
“Eh? Apa aku salah memilih toko?” benakku kemudian terlihat harga pakaian yang dipajang di balik jendela. Aku baru tersadar dengan harga yang dijual ternyata cukup mahal.
“Oh pantas saja dia sungkan…” batinku, sementara itu Cassie hanya tertunduk diam.
__ADS_1
“Tidak masalah, Cassie. Aku akan membayarnya. Ayo!” lontarku bersemangat. Cassie yang merasa tidak enak tidak dapat menolak tawaranku. Kami pun masuk ke dalam dan memilih pakaian kami masing-masing. Setelah itu, kami berjalan keluar dari toko dengan tas jinjing yang berisi seragam.
“Dompetku meronta-ronta,” gumamku terkejut seraya melihat isi dompetku. Saat Cassie menoleh ke arahku, dengan cepat aku menyembunyikan dompetku.
“Terima kasih…” tutur Cassie tidak enak hati.
“Sama-sama,” balasku tersenyum.
Kami melanjutkan langkah kaki kami sembari melihat kehidupan kota yang tak pernah tertidur. Tanpa sadar langit sudah mulai menggelap dan hawa semakin dingin. Untung saja kami mengenakan pakaian yang cukup tebal. Sepanjang perjalanan kami saling mengobrol.
“Apa yang biasa kau lakukan saat di rumah?” tanyaku penasaran.
“Membaca buku, aku juga sering memasak,” jawab Cassie.
“Wah, pantas saja masakanmu sangat enak!” sahutku ceria dan membuat Cassie tersipu.
“Kau berlebihan…” tuturnya gugup. Aku pun tergelitik tawa cengengesan dengan tingkahnya.
“K—Kau juga bisa memasak, kan?” lanjut Cassie penasaran.
“Aku? Yah… Aku tidak terlalu pandai. Tapi sedikit-sedikit bisa, hehe…” jawabku cengar-cengir. “Apa kau mau mengajarkanku?” imbuhku.
“Tentu, aku tidak keberatan,” balasnya tersenyum.
“Terima kasih,” ucapku.
“Loh? Orang sepertimu masih bisa gagal?” tanyaku tak percaya.
“Aku bukan koki profesional. Saat ingin mencoba resep baru, akan lebih cepat kalau aku bisa mencoba makanan itu,” jawabnya.
“Apa yang ingin buat sekarang-sekarang ini?”
“Aku ingin membuat soufflé coklat.”
“Itu kan makanan mewah,” gumamku dalam hati. Sontak terlintas pula di kepalaku untuk mengajaknya makan bersama.
“Bagaimana kalau kita langsung mencobanya,” usulku.
“T—Tapi… Hanya restoran mahal yang menyediakannya…” balasnya pelan. Kami yang terus berjalan tanpa sadar telah berada di depan sebuah restoran mewah.
“Kita sudah sampai,” ujarku tersenyum.
“K—Kau yakin?” lontar Cassie tak habis pikir.
“Aku yang traktir,” balasku bersemangat. Aku pun menarik tangan Cassie dengan erat dan menempati tempat duduk untuk dua orang.
__ADS_1
Kami pun menyantap hidangan-hidangan mewah yang disajikan. Cassie yang sedang menyantapnya tampak takut dan kikuk. Sesekali kami saling menyuapkan makanan. Berawal dari makanan pembuka kemudian beberapa makanan utama, hingga akhirnya tiba saat yang ditunggu-tunggu, yaitu soufflé coklat dengan es krim vanilla yang berada di atasnya.
“Jangan sungkan!” ucapku menyeringai kepadanya. Ia pun memasukkan sesuap hidangan penutup itu. Sontak raut wajahnya berubah menjadi sangat bahagia.
“Wah, enak sekali!” Aku yang melihatnya seperti itu lantas ikut merasa senang sepertinya.
“Syukurlah…” gumamku senang dalam hati.
Selepas menikmati santap malam, dompetku sudah benar-benar tipis walaupun masih bersisa cukup uang untuk beberapa waktu ke depan.
“Tidak ada salahnya aku menabung…” benakku. Pada saat yang bersamaan Cassie tampak bertingkah aneh.
“Kau kenapa, Cassie?” tanyaku kebingungan.
“Pakaian baru membuatku sedikit gatel,” jawabnya.
“Oh iya, dari sore kami belum mandi,” gumamku tersadar. Tidak jauh dari tempat kami berada, terlihat sebuah pemandian air panas. Dengan sigap aku langsung mengajaknya ke sana.
“Ayo kita membersihkan diri di sana!”
“G—Gavin, jangan terburu-buru!”
Sesampainya di sana kami menempati kolam pemandian yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Di dalam rendaman air hangat akhirnya aku merasa sangat lega. Aku berbicara dengan diriku sendiri di dalam tempat yang hanya berisikan aku seorang.
“Huft… Hari yang sangat menyenangkan!”
“Ternyata asyik juga mengajak Cassie berjalan bersama.”
“Tunggu, kalau hanya jalan berdua, berarti…”
“Kencan?” lontarku yang baru tersadar.
“Yah… Sepertinya aku harus lebih memperhatikan keuanganku…”
Sesudah itu kami bertemu lagi di ruang tengah tempat pemandian itu. Terlihat Cassie yang mengenakan seragam itu kembali.
“Kau pakai seragam?”
“Iya. Lebih baik aku mencuci pakaian ini dulu,” jawabnya. Sontak aku juga baru tersadar untuk mengganti pakaian supaya tidak membuat yang lainnya curiga saat kami pulang.
“Kalau begitu aku juga akan menggantinya, tunggu di sini sebentar.” Aku kembali ke ruang ganti lalu mengganti pakaianku. Kemudian aku kembali menghampiri Cassie dan kami bergegas pulang ke asrama karena hari sudah semakin larut. Tidak jauh dari asrama kami bertemu dengan Rein yang juga sedang berjalan menuju asrama sendirian. Rein yang melihat kami bergandengan tangan sontak tersenyum dan berucap ke arah kami.
“Wah, sepertinya banyak hal romantis sudah terjadi…”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)