Love Exchange

Love Exchange
Episode 37 : Sepulang Sekolah


__ADS_3

Cuaca berawan gelap dan suara petir bersahut-sahutan membuat para murid langsung bergegas pulang. Namun ada beberapa teman-teman satu kelasku yang masih harus mengikuti klub. Untung saja kami bisa pulang lebih awal hari ini. Kami pun beranjak dari kelas kemudian pulang berjalan kami sambil mengobrol tentang calon OSIS yang diinfokan tadi siang.


“Keren.” cetus Freda kepadaku. “Hah?” tanyaku bingung. “Sudah kuduga kau akan terpilih menjadi calon ketua OSIS.” lanjut ucapnya. “Kenapa harus aku?” tanyaku penasaran dan sedikit kecewa. “Ayolah, pengalaman yang tidak boleh disia-siakan, bukan?” cakap Freda menenangkanku. “Yah… Tapi kenapa?” tanyaku kembali yang masih belum mampu menerimanya.


“Lihat dirimu, alien.” sindir Hart dengan wajah sedikit kesal. “Aku lagi pakai seragam.” jawabku polos. “Kenapa orang seperti ini bisa kepilih?” gumam Hart pelan sambil menghela napas. “Aku juga tidak tahu.” jawabku yang mendengar desisnya barusan. “Haduh… Pintar-pintar bodoh, ya…” hembus Hart menepuk jidat.


“Kau sudah banyak membantu, Adelard.” ucap Freda senang. “Iya, tapi hanya membantu. Apa tidak boleh?” tanyaku yang masih bingung. “Bukan masalah membantunya, tapi sikapmu yang membuat orang-orang percaya.” terusnya menjelaskan. “Sekali-kali bercerminlah dan lihat dirimu sendiri.” imbuhnya tersenyum kepadaku.


“Singkatnya, kau adalah alien yang bisa apa saja.” celetuk Hart menyindirku. Namun dengan perkataannya tersebut membuatku tersadar.


“Benar juga…” desisku.


“Tunggu. Kau baru paham setelah Hart bilang seperti itu?” tanya Freda kesal kepadaku. Aku pun membalas dengan mengangguknya dengan ekspresi polos. “Kalau tahu begitu aku seperti itu saja dari tadi.” cetusnya.


“Memang jelas, singkat, padat lebih baik.” lontar Hart bangga.  Aku pun tersenyum kepada mereka sementara itu Freda masih memasang wajah asamnya.


“Apa kalian tahu kandidat selain aku?” tanyaku penasaran.


“Yang aku tahu ada Emery sebagai calon ketua sepertimu, lalu ada Cashiel, Daryn, Fhin, dan Eledarn.” jawab Freda menerangkan kepadaku sambil menghitung dengan jarinya.


“Banyak sekali.” kesanku setelah mendengarnya.


“Mungkin Emery adalah lawan terberatmu saat ini.” ujar Hart memberi tahu kepadaku. “Kau benar.” balasku.

__ADS_1


“Kami akan mendukungmu, Adelard.” ucap Freda sambil menepuk bahuku. Rasa gelisahku saat ini mereda akibat mereka. Aku senang bisa berteman dengan mereka. Walaupun seringkali mereka menyindir dan menusuk hati. Namun menurutku itu semua adalah bagian terpenting dalam persabahatan.


Langit semakin menggelap dan angin mulai berhembus kencang. Kami pun lantas berlari agar segera sampai ke rumah. Namun hujan telah mengejar kami terlebih dahulu. Tidak ada yang membawa payung, sontak kami berlari dan bersenang-senang seperti anak kecil.


“Lari, lari!” teriak Hart senang.


“Ayo, Adelard!” lontar Freda kepadaku. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka. Pakaian kami sudah basah semua di terpa air hujan.


“Kita mampir ke rumah Freda dulu, ya!” cetus Hart cengengesan. Selama kami berlari tidak lepas dengan gelak tawa senang. Tidak peduli sebasah apapun seragam kami. Freda pun berucap canda kepada Hart.


“Bisa-bisanya kau mencari kesempatan!”


Sesampainya di rumah Freda kami bertemu dengan orang tuanya. Aku dan Hart bersalaman, tetapi sepertinya aku dengan mereka belum saling kenal.


“Oh, kau Adelard yang pintar itu, ya?” tanya ibunya Freda kepadaku.


“Dia itu alien.” celetuk Hart tiba-tiba. Lantas Freda juga menyahutinya demikian pula. “Betul sekali!” lontarnya senang.


Kami yang basah kuyup lekas ibunya memberikan kami handuk untuk mengeringkan diri. Setelah itu aku dan Hart menumpang masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Kami segera membilas tubuh kami supaya tidak masuk angin. Arkian Freda membawakan baju miliknya untuk kami.


“Nih, kalian pakaian kalian aku letakkan di depan, ya.” teriak Freda dari luar ruangan.


“Iya!” balas Hart. Lalu Hart mengambil pakaian tersebut dan memberikannya juga kepadaku. Aku terheran-heran dengan pakaian laki-laki dengan ukuran yang pas untukku. Aku mengira bahwa pakaian tersebut milik ayahnya.

__ADS_1


“Ini baju dan celana punya ayahnya?” tanyaku pada Hart.


“Tidak. Ini baju Freda.” jawabnya seraya mengenakan pakaian tersebut. Seketika aku terkejut sekaligus bertanya-tanya.


“Eh? Tapi kan…”


“Dia kan tomboi.” sahutnya. “Wah, kau tahu banyak tentang dia, ya?” cetusku kepadanya. Lalu Hart menanggapinya prigas-pringis.


“Yah… Namanya juga teman sejak kecil.”


Setelah itu kami pergi menuju ruang tengah. Di sana sudah di siapkan teh hangat oleh ibundanya. Kemudian kami semua mengobrol sembari menikmati minuman hangat itu. Tak jarang juga suasana diwarnai dengan gelak tawa. Sampai akhirnya hujan berhenti dan kami pun berpamitan dengan Freda dan orang tuanya.


“Kami pulang dulu. Terima kasih banyak.” ucapku sopan.


“Sering-seringlah mampir ke sini, Adelard.” pinta ibunya tersenyum gembira.


“Aku tidak dianggap?” tanya Hart sebal.


“Kau kan sudah sering kemari… Hehe…” sahut Freda. Lalu aku dan Hart pergi meninggalkan rumahnya.


“Baiklah. Sampai jumpa!” lontarku.


“Dah!” sambut Freda melambaikan tangan.

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2