Love Exchange

Love Exchange
Episode 200 : Akhir dari Perpisahan


__ADS_3

Suatu pagi yang sangat hangat, dengan mengenakan seragam sekolah, aku dan adikku berkumpul menuju meja makan di mana Ayah dan ibuku menunggu. Kami semua bersantap pagi seraya mengobrol santai. Aku tidak terburu-buru karena ada waktu tersisa.


“Kalian berdua sangat bersemangat sekali,” ujar ayahku.


“Tentu! Hari pertama sekolah jangan malas-malas!” lontar adikku.


“Kalian tidak sabar bertemu dengan teman-teman, ya?” tanya Ibu.


“Kalau aku… sudah pada lulus semua…” gumamku.


“Tenang saja, kan ada Cassie,” sahut adikku.


“Betul. Yang penting kau jangan sampai kebablasan terhadapnya,” cetus Ayah mengangguk-angguk.


“Kebablasan?”


“Kau sudah punya Rein, kan? Tidak baik kalau kau hanya mempermainkan perasaannya saja,” balas Ayah. Seketika aku tersedak mendengarnya.


“B—B—Bagaimana Ayah bisa tahu?”


“Ayahnya Rein mengirim foto ini,” jawabnya seraya menunjukkan foto ketika aku berlutut di depan Rein. Adikku yang melihatnya sontak menjadi sangat penasaran lalu melihatnya dari dekat.


“Waw, keajaiban dari mana ini…? Abangku ternyata bisa seperti ini juga…”


“Wah… Ibu jadi teringat saat ayah kalian berlutuk di depan Ibu.”


“B—Bukan begitu! A—Aku hanya—” ucapku yang mencoba meluruskan kesalahpahaman, namun dipotong oleh adikku.


“Tidak usah malu, Abang. Akhirnya abangku sudah punya pacar…”


“Bukan, bukan! Itu cuma—”


“Ibu jadi penasaran dengan cerita kalian.”


“Ayo, Abang! Cerita… Cerita…” rayu adikku.


“E—Eh? Aku biasa-biasa saja…” balasku.


“Yah… Abang tidak asyik! Wuuu…!”


Tiba-tiba saja terdengar seruan yang memanggil namaku dari luar rumah. Aku langsung mengenali suara itu yang merupakan Hart dan Freda.


“Oh! Saatnya berangkat. Aku berangkat!” ucapku bergegas mencium tangan lalu membuka pintu.


“Abang menghindar…” gumam adikku.


“Padahal ada sesuatu yang ingin Ayah katakan pada kalian,” sahut ayahku.


“Apa itu, Ayah?”


“Selama beberapa tahun ke depan pekerjaan Ayah ada di kota ini.”


“Bukankah Ayah selalu keluar kota untuk pertemuan?”


“Semuanya akan diadakan di sini. Jadi Ayah tidak akan keluar kota lagi.”


“Mungkin Ayah akan memperkenalkan temannya Adelard padamu.”


“Temannya Abang? Ayah sudah pernah bertemu dengan mereka?”


“Ya, mungkin beberapa dari mereka akan pindah ke kota ini.”


“Yey! Aku semakin tidak sabar!”


Di lain sisi, aku bersama Hart dan Freda sudah berjalan meninggalkan rumah.


“Ayo cepat jalan!” ujarku pada mereka berdua.


“Masih pagi sudah heboh saja,” celetuk Hart tergelitik tawa.


“Aku benar-benar tidak menyangkanya…” gumamku.


“Memangnya apa yang terjadi?” tanya Freda penasaran.


“Mereka semua tahu tentang foto saat aku berlutut pada Rein waktu itu.”


“Hah? Serius?” lontar Freda tak percaya.

__ADS_1


“Jangan-jangan, Gavin tanpa sadar ikut mengirim foto itu bersamaan dengan kita?” balas Hart.


“Sepertinya begitu…” balas Freda.


“Bagaimana lagi sekarang?” tanyaku cemas.


“Keadaan semakin sulit sekarang…” gumam Freda.


“Sekarang kita santai saja dulu… Kita akan segera menemukan jawabannya nanti,” sahut Hart.


“Apakah kita masih bisa meluruskannya ke ayah dan ibumu?” lanjut Freda.


“Sepertinya sudah sulit, mereka terus penasaran dengan itu,” jawabku.


“Baiklah, kita ke rumah Cassie dulu…” cetus Hart yang membuatku kebingungan.


“Eh? Untuk apa?”


“Loh? Kau sudah lupa? Hari ini kita berangkat sekolah bersama,” jawab Freda.


“Oh iya, benar juga…” gumamku.


“Tunggu, bukankah rumahku dan Cassie saling berlawanan? Kenapa waktu itu aku menerima ajakan mereka…” benakku terheran-heran.


Sesampainya di depan rumah Cassie, tanpa perlu kami panggil ia sudah berlari keluar dengan sendirinya. Tampak ia yang terengah-engah lalu dengan cepat pergi berjalan.


“Kau tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.


“A—Aku tidak tahu kalau orang tuaku punya foto itu…” tuturnya tertunduk murung.


“Sungguh tidak beruntungnya kalian berdua…” gumam Hart.


“Adelard juga sama sepertimu, Cassie,” balas Freda.


“B—Benarkah?” Kami bertiga mengangguk ke arahnya. Suasana menjadi hening seketika.


“Permasalahan jadi semakin rumit…” desis Cassie.


Saat berada di dalam kereta, kami sudah sangat pusing memikirkan permasalahan itu. Pada akhirnya kami mengganti topik pembicaraan.


“Nanti kalian berdua kuliah di mana? Sama dengan kami?” tanya Hart.


“Kalau kau, Cassie?” lanjut Freda.


“Aku juga sama.”


“Wah, kita akan bertemu lagi tahun depan!” lontar Hart senang.


“Nanti akan ku ajari cara menjadi adik tingkat yang baik,” imbuhnya.


“Oh iya, kapan kalian mulai masuk belajar?” tanyaku heran.


“Bulan depan. Sekarang kami masih pengangguran,” jawab Freda.


“Masih cukup lama, ya…”


“Apa kalian tidak membekali pelajaran kalian dulu sebelum masuk?” tutur Cassie.


“Nanti saja, daripada sudah belajar sana-sini dan ternyata beda?” balas Freda pringas-pringis. Kami terdiam sejenak lagi sebelum akhirnya Hart memulainya kembali.


“Kalian tak perlu cemas! Kami bisa mengajarkan kalian soal ujian kelulusan nanti!” seru Hart bersemangat.


“Boleh juga kau! Cerdas dan cerdik tidak jauh berbeda di otakmu,” sahut Freda.


“Yah… Walaupun membuat kepalaku hampir meledak, sih…” balasnya.


“Hahaha! Kalian memang sudah ditakdirkan bersama, ya,” cetusku tertawa.


“Kita semua,” balas Freda.


“Meskipun nanti kita semua berbeda jurusan, tapi kita tidak akan berpisah,” ujar Hart tersenyum. Cassie kembali teringat dengan saat-saat ia berpisah dengan teman-temannya kala itu.


“Perpisahan, ya…”


“Apa ada yang salah?” tanya Freda khawatir.


“Tidak, kami masih kepikiran dengan teman-teman kita di sana,” sahutku.

__ADS_1


“Maaf sudah membuat kalian mengingatnya,” lanjut Hart.


“Tidak masalah, sudah menjadi kenyataan kalau kita semua harus menerima semuanya…” balasku.


“Kita semua akan bertemu lagi, kok. Percayalah padaku,” ujar Freda.


“Kami semua percaya dengan itu…”


“Bagus! Kita hanya cukup menunggu saat itu tiba.”


“Lagi-lagi kita mengandalkan waktu, ya…” gumamku.


Setibanya di depan gerbang sekolah aku dan Cassie berpisah dengan Hart dan Freda.


“Setelah ini apa yang akan kalian lakukan?” tanyaku.


“Entah, mungkin berjalan-jalan,” jawab Hart ragu.


“Ya sudah kalau begitu aku dan Cassie masuk ke dalam,” balasku.


“Semangat kalian berdua!” lontar Freda.


Kami berdua melangkah menuju gedung sekolah. Tampak para murid yang berbondong-bondong masuk ke dalam. Cassie merasa sedikit malu karena tidak kenal dengan semua murid di sini. Kami semakin merasa tersipu ketika banyak dari mereka yang memandang ke arah kami.


“Kenapa kita jadi perhatian banyak orang?” bisik Cassie.


“Mungkin karena kita siswa pertukaran pelajar, dan semua orang tahu itu,” balasku.


Ketika kami masuk ke dalam kelas, terdapat tiga orang yang datang menghampiri kami. Wajah mereka tampak tak asing bagiku, tetapi aku tidak ingat dengan nama mereka.


“Selamat datang, Kak Adelard dan Kak Cassie!” sambut mereka kompak.


“Terima kasih… Eee…” balasku kebingungan. Mereka pun menyebut nama mereka satu per satu.


“Clarissa!”


“Mesha!”


“Nana!”


“Oh, kalian bertiga! Astaga…!” seruku yang baru saja teringat.


“Kalian juga di kelas ini?” tambahku.


“Iya,” jawab Clarissa. Mereka menunjukkan tempat dudukku dan Cassie.


“Ini tempat duduk kalian berdua,” ucap Mesha. Ternyata kami berdua duduk bersampingan.


“Terima kasih,” tutur Cassie.


“Sama-sama, Kak,” balas Nana.


Terdengar suara bel masuk berbunyi dan semua orang menempati bangku mereka masing-masing. Seorang guru datang memasuki kelas yang ternyata adalah Pak Edwin. Semua murid seketika terdiam dan suasana menjadi hening.


“Selamat pagi semuanya.”


“Pagi, Pak!”


“Selama setahun ke depan, saya akan menjadi wali kelas kalian.” Semua orang menyimaknya dengan penuh saksama.


“Tapi sebelum memulai pelajaran. Saya akan memperkenalkan dua murid baru.” Seisi kelas menjadi kebingungan saat mendengarnya.


“Murid baru?” gumamku dalam hati.


“Baik, silakan masuk.”


Dua murid tersebut akhirnya masuk dan menarik seisi kelas. Aku dan Cassie sontak tersentak kaget saat melihat mereka berdua.


“T—Tidak mungkin!”


Mereka memperkenalkan diri dengan penuh semangat dan wajah yang berseri-seri.


“Perkenalkan semua! Namaku Gavin Ryszard!”


“Dan namaku Rein Fleurish! Salam kenal semua!”


~Tamat~

__ADS_1


Terima kasih sudah mengikuti peprjalanan cerita sampai akhir. Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2