Love Exchange

Love Exchange
Episode 123 : Drama Perselingkuhan


__ADS_3

Sunyi dan sepi, itu yang sedang aku rasakan saat ini. Hanya berdua bersama Cassie di dalam ruang yang kosong dari murid lainnya. Aku dan Cassie menghabiskan waktu dengan membaca buku kami masing-masing dan saling mengobrol. Tanpa sadar, ternyata waktu istirahat tidak lama lagi habis. Aku belum sempat untuk mengisi perutku.


“Apa kau tidak lapar?” tanyaku penasaran.


“Tidak,” balasnya pelan, tetapi perutnya mengatakan hal yang berbeda pada saat yang bersamaan. Sontak Cassie menjadi malu setengah mati.


“Ayo kita mampir ke kantin sebelum bel berbunyi,” ajakku.


“B—Baiklah…” sahutnya penuh gugup.


Kami pun pergi meninggalkan perpustakaan dengan beberapa buku yang baru saja kami pinjam dari pusat peminjaman. Terlihat dibalik pintu kaca keramaian orang-orang di luar sana. Aku yang baru saja menutup pintu tersebut lantas dihampiri oleh beberapa perempuan. Cassie menjadi tidak nyaman dan hanya bisa tertunduk malu.


“Selamat siang, Paduka!” lontar salah seorang dari mereka.


“Ada apa tiba-tiba seperti ini?” tanyaku kebingungan. Mereka menatap ke arah Cassie dengan penuh rasa curiga.


“Apa yang kalian berdua lakukan di dalam sana?” lanjut tanya mereka.


“Kami hanya belajar bersama,” jawabku gelisah.


“Hmm… Mencurigakan.”


“Siapa perempuan ini? Enak-enaknya saja mendekati Paduka.” Cassie menutupi sebagian wajahnya dengan buku yang berada di tangannya.


“Dia temanku. Kenapa malah kalian yang kesal?” pungkasku sedikit jengkel.


“Ti—Tidak, Paduka. Maaf kami berkata lancang.” Mereka semua lantas membungkuk hormat ke arahku. Aku yang melihat seperti itu tiba-tiba saja terlintas di benakku sebuah ide.


“Cassie, makanan apa yang ingin kau beli?” tanyaku tersenyum.


“A—Aku? Ro—Roti isi telur dan nasi kepal isi daging…” tuturnya.


“Kalian dengar, kan? Aku ingin minta tolong belikan itu masing-masing dua,” ucapku kepada mereka seraya mengambil uang dari dompetku. Cassie yang menyadarinya sontak merasa tidak enak kepadaku.


“E—Eh? K—Kenapa tiba-tiba seperti ini?” ungkapnya terkejut heran.


“Baik, Paduka!” balas mereka serentak lalu meninggalkan kami berdua. Cassie langsung mengambil uang yang berada di sakunya untuk menggantikan uangku. Aku yang melihatnya lantas menolaknya secara baik-baik.

__ADS_1


“Tidak masalah, kau simpan saja.”


“Aku merasa berhutang kepadamu, terima kasih…”


“Tidak usah dipikirkan,” balasku cengar-cengir. “Lalu, ke mana kita sekarang?” lanjut tanyaku kebingungan. Cassie juga tidak tahu untuk melakukan apa sekarang.


“Bagaimana kalau menaruh buku kita terlebih dulu?” ajakku.


“Aku ikut denganmu,” balasnya.


Aku dan Cassie mulai berjalan menuju tempat yang kami tuju. Tak lama berselang terdapat sekumpulan perempuan yang berbeda dengan sebelumnya. Mereka menghampiri kami berdua lalu membukakan jalan untuk kami. Aku yang sudah sering mengalami hal seperti ini merasa lega dan jengkel di saat yang bersamaam. Namun berbeda denganku, Cassie hanya memandang ke bawah dan menutup-nutupi wajahnya.


Aku yang melihatnya seperti itu lantas berusaha untuk menenangkannya. Tanpa pikir panjang aku menggenggam tangannya. Sontak ia menoleh ke arahku dengan wajah terkejut dan pipinya yang memerah.


“A—A—A—A—Adelard?” tuturnya gagap. Tiba-tiba saja suasana di sekitar kami berubah drastis menjadi hening. Rupanya mereka semua tercengang melihat kami berdua, begitu pula dengan para perempuan yang berada di depan kami.


“Se—Selingkuh?” lontar salah seorang dari mereka. Aku yang mendengarnya sontak tersadar dan tersipu. Dengan cepat aku melepaskan genggamanku.


“M—Maaf! Aku tak bermaksud begitu!” tandasku kepada Cassie.


“Tidak masalah, kan? Apa salahnya teman saling bergandengan tangan?” gumamku dalam hati.


Sesampainya di kelasnya Cassie, terdapat Gavin yang sedang mengobrol bersama teman-temannya di dalam. Saat kami berdua memasuki kelas, tiba-tiba saja seisi kelas berpaling ke arah kami dengan mulut ternganga. Sementara itu, Gavin yang masih membelakangi kami masih asyik dengan pembicaraannya. Seraya berkata, ia menolehkan kepalanya ke arah kami.


“Hahaha! Tidak mungkin Adelard seperti itu! Betul, ka—” Sontak ia terdiam kaget saat melihat diriku yang berada di dalam kelas. Ia semakin terperangah saat melihat aku yang masih menggenggam tangannya Cassie.


“A—Adelard?” Aku juga tidak menyangka kalau mereka sedang membicarakanku. Gavin yang kalang kabut mencoba meluruskan pemahamanku.


“I—Itu tidak seperti yang kau pikirkan! K—Kami sedang belajar bersama, la—lalu aku jadi teringat denganmu.” Setelah mendengar penjelasannya aku pun tersenyum kepadanya.


“Baiklah kalau kau berkata begitu.” Pada saat yang bersamaan semua orang menatap ke arah belakangku dengan wajah ketakutan dan mulut yang terbuka lebar.


“A—Adelard… I—Itu…” ujar Rhean pelan sembari menunjuk arah ke belakangku.


Melihat ekspresi mereka semua sontak membuatku ketakutan juga seperti mereka. Dengan perlahan aku memalingkan kepalaku ke belakang. Terlihat jelas di hapadanku Rein dengan wajahnya yang penuh murka. Aku langsung tersadar dan melepaskan genggamanku. Keringat dingin mengucur di kepalaku dan aku tidak tahu harus berkata apa.


“Aku ingin bicara denganmu empat mata nanti,” gerutu Rein. Kemudian ia langsung pergi meninggalkan kami dengan auranya yang mengerikan. Aku hanya terdiam syok sembari menelan air liurku. Cassie merasa sangat bersalah akan kejadian tak terduga seperti ini.

__ADS_1


“Semua ini salahku…”


“Ti—Tidak! Semua ini karena aku yang tiba-tiba menggenggam tanganmu!” balasku gugup. “Aku minta maaf…” lanjutku. Cassie membalas perkataanku serupa. Seisi ruangan hanya menyaksikan tingkah kami berdua dengan tenang. Tak lama kemudian Gandra datang dengan penuh kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Ia masih melihat Rein berjalan menuju kelasnya lalu menoleh ke arah kami berdua.


“Wah, tampaknya ada drama sengit sekarang,” celetuknya tersenyum.


“Gandra?” ucapku heran. “Kenapa kau meninggalkanku di perpustakaan tadi?”


“Maaf, tiba-tiba saja aku ada urusan mendadak.” Dengan perasaan senang ia berkata kepadaku. “Aku tidak ingin mengurungkan niatmu untuk membaca di sana.”


“Betul juga, mungkin aku akan ikut keluar bersamanya kalau aku tahu,” benakku. Cassie memasukkan buku-buku tersebut ke dalam tasnya. Ia berusaha untuk menahan rasa malu. Tak lama waktu berselang, beberapa perempuan yang kupinta tolong telah kembali dengan pesanan kami yang dibawa oleh mereka. Aku dan Cassie mengambil makanan tersebut.


“Terima kasih,” ucapku tersenyum kepada mereka.


“Sama-sama, Paduka!”


“Apa sesuatu telah terjadi, Paduka?” tanya salah seorang dari mereka yang kebingungan dengan suasana yang berbeda ini.


“Ti—Tidak… Tidak ada apa-apa…” jawabku pringas-pringis.


Bel pun berdentang dan aku bersama Gandra kembali menuju kelas kami. Aku yang baru saja duduk lantas merinding ketakukan kepada Rein yang berada tepat di sebelahku. Teman-teman sekelasku juga menatap ke arah kami dengan wajah yang kebingungan. Lalu terdengar suara bisikan-bisikan di antara mereka. Suara yang terdengar cukup jelas di telingaku membuatku tahu kalau mereka tengah membicarakan tentang kejadian kami yang baru saja terjadi.


“C—Cepat sekali menyebarnya…” batinku tidak percaya.


Tak lama kemudian, guruku pergi memasuki kelas. Ia tampak kebingungan dengan Rein yang berwajah seram.


“Kau tidak apa-apa, Rein?”


“Suasana hatiku sedang buruk, Bu. Tidak perlu dihiraukan.” Pada saat yang bersamaan guruku melihat diriku yang bergemetar seperti orang yang menggigil.


“Apa kau sakit, Adelard?” Dengan penuh gemetar ketakutan dan kepalaku yang berkeringat aku menjawab pertanyaannya.


“A—Aku hanya kedinginan di sini…”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2