
Hamparan hijau terbentang menjulang tinggi, paparan permukaan terselimut kabut tipis seraya angin mengalir lembut menembus sela-sela rerantingan, serta fauna liar menari ke sana kemari berlompat lari mengisarkan rimba nan rimbun. Buta dini hari kami telah berada di Hutan Wuds yang terletak tidak jauh dari kota. Hawa sejuk awal hari menusuk sanubari.
Aku yang masih belum cukup tidur masih menguap kantuk, ditambah lagi aku tidak dapat langsung beristirahat lantaran euforia semalam yang tidak bisa ku lewatkan. Namun semua itu berbanding terbalik dengan teman-temanku yang bersemangat dan sudah tidak sabar untuk menikmati liburan ini.
“Uwah…! Segarnya udara di sini,” hembus Freda setelah menghirup napas dengan kencang. Mereka semua tampak senang dan nyaman di tempat yang amat menyejukkan ini. Rasa kantukku lambat laun hilang seiring banyaknya napas kuhirup.
“Yah… Setidaknya rasa kantukku hilang.”
“Ke mana kita sekarang?” tanya Emery sudah tidak sabar.
“Sepertinya kita akan pergi pemandian air hangat. Tidak jauh dari sini,” jawab Hart bimbang seraya melihat-lihat brosur peta tempat wisata ini.
“Oh, jadi itu alasannya kau menyuruh kami tidak mandi?” sahut Eledarn bertanya kepada Hart.
“Tepat sekali,” balas Hart. “Lagian juga kalian tidak ingin mandi di pagi buta begini, kan” lanjut cetusnya.
“Iya juga sih,” tutur Milard. Freda yang sudah menggebu-gebu langsung berseru mengajak kami untuk segera berangkat.
“Ayo jalan!”
“Ayo!” sambut kami serentak.
Selama perjalanan kami diiringi dengan pepohonan nan rindang di kanan dan kiri. Jalan setapak beralaskan tanah menjadi pijakan kami. Burung-burung berkicau dan beterbangan serta hewan arboreal seperti tupai dan kawan-kawannya yang berlompatan dari satu dahan ke dahan lainnya. Ragam binatang dapat kami lihat di sini dan mengingatkan kami dengan kebun binatang.
“Seperti kebun binatang,” lontar Milard melihat sekeliling. Kemudian terdapat sekawanan monyet bergelayutan mengikuti kami dari samping.
“Eh, eh, lihat ada saudaranya Hart!” celetuk Eledarn seraya menunjuk hewan tersebut.Lantas semua orang tertawa.
“Hahaha! Benar-benar mirip,” lanjut sindir Freda terbahak-bahak. Hart yang jengkel namun tidak ambil hati.
“Hey! Sudah jelas itu teman sejenis dengan Adelard!” cetus Hart melempar kata ke arahku. Seraya heran sekaligus tergelitik tawa Milard bertanya kepada kami semua.
“Jadi Adelard itu apa, sih?”
“Entahlah… Tapi sepertinya dia bukan manusia,” jawab Freda gembira. Aku hanya tersenyum dan tidak tahu harus berkata apa.
“Lah kan dia alien. Benar, kan?” tebak Eledarn.
__ADS_1
“Seratus buat Eledarn!” seloroh Hart membalasnya.
“Ya! Aku alien dari planet seberang!” ungkapku bernada rendah dan keras seperti monster. Seketika suasana kami menjadi cair lalu bermain peran.
“Wah dia akan segera berubah! Semua selamatkan diri!” teriak Freda.
“Grrwaaahh!” lontarku.
“Hahaha! Kau alien sungguhan!” cetus Cassie terkelik tawa. Begitu pula dengan Emery yang juga terkikik-kikik. Atmosfer yang sejuk namun terhangatkan oleh kedekatan kami semua. Tanpa sadar kami semakin dengan dengan tujuan.
Beberapa saat kemudian, akhirnya tampak sebuah pondok bambu yang cukup besar. Terlihat ada asap yang mengebul tepat di belakangnya.
“Itu dia! Kita sudah sampai!” ucap Freda kemudian ia berlari kegirangan menuju tempat pemandian itu. Hart dan Eledarn juga tak kalah semangat dengannya. Sementara aku dan yang lainnya tetap berjalan santai sembari menikmati udara.
“Sudah lama sekali aku tidak pergi ke pemandian umum,” cakap Emery senang. Lalu Cassie membalasnya tersenyum. “Aku juga.”
“Yah… Semoga saja dua laki-laki mesum itu tidak berbuat yang aneh-aneh,” sahut Milard cengengesan. Sontak aku kembali teringat dengan kejadian yang aku alami dengan Cassie waktu itu. Wajahku lantas memerah dan aku menjadi malu.
“Ada apa, Adelard?” tanya Milard kebingungan.
“Ti—Tidak apa-apa!” jawabku gugup. Mereka bertiga cemas melihatku yang tiba-tiba seperti ini.
“Iya, aku baik-baik saja,” jawabku gelagapan dan berkeringat. “Ayo kita cepat ke sana!” lanjut ajakku.
Sesampainya di pondok bambu tersebut, kami bertemu dengan mereka yang sudah lebih dulu sampai dan sudah membayar ke penjaga pemandian ini.
“Untuk kali ini pemandian ini milik kita!” lontar Hart bersemangat. Seketika kami yang baru sampai langsung terkejut mendengarnya.
“L—Loh? Bukannya ini tempat umum?” tanya Milard.
“Tentu saja. Tapi kami sudah membayarnya khusus untuk kita saja,” jawab Hart tersenyum. Freda yang sudah tidak sabar langsung berlari menuju ruang ganti.
“Air! Aku datang!” teriak Freda membara.
Lalu kami semua terpisah dua menuju ruang ganti kami masing-masing. Namun aku dan Milard merasa kesal kepada mereka berdua si makhluk bejat itu.
“Mwehehe… Kau pasti sudah tidak sabar, ya?” desis Hart pelan kepada Eledarn.
__ADS_1
“Tentu saja,” sahutnya. Kami berdua yang masih jengkel berusaha untuk mencoba menghentikannya.
“Bahaya kalau kita ikut terseret dengan mereka,” bisik Milard kepadaku.
“Iya. Padahal kita tidak melakukan apa-apa. Tapi mak lampir itu tetap saja tak pandang bulu,” balasku.
Kemudian kami semua pergi menuju pemandian yang berada di belakang pondok tersebut. Betapa terkejutnya kami ketika melihat pemandian yang hanya terhalang batu besar yang membatasi kedua pemandian itu.
“Cu—Cuma batu besar?” hembusku syok. Milard juga termangap kaget sepertiku. Sementara itu Hart dan Eledarn menjadi semakin bersemangat dan sangat bergairah.
“Surga…!” teriak Hart dan Eledarn serentak. Tak lama kemudian para perempuan keluar dari ruang ganti dan bertemu kami semua. Situasi menjadi aneh lantaran diri kami semua hanya bertutupkan handuk. Cassie dan Emery sontak tersipu malu.
“Awas saja kalau kalian berbuat macam-macam!” lontar Freda mengancam kami dengan tatapan mengerikan seraya tangannya memeragakan sesuatu.
“P—Potong sosis?” ucap Eledarn merinding gemetaran. Aku juga sama takutnya seperti mereka berdua.
Kemudian kami semua pergi menikmati pemandian. Namun aku dan Milard tidak merasa nyaman di tempat ini. Kami berdua tidak ingin nama kami tercoreng akibat ulah mereka, tetapi tanpa rasa jera mereka masih tetap saja merencanakan sesuatu.
“Sshh, Sshh… Lihat aku bawa sesuatu,” bisik Eledarn kepada Hart.
“Wah kau sudah mempersiapkannya, ya?” sahut Hart.
“Tentu saja,” Lalu mereka berdua menggunakan potongan bambu dan berfungsi sama seperti periskop. Dengan nafsu yang berapi-api mereka mengikik puas. “Mwehehe…”
Tak lama kemudian ada sebuah ember kayu melayang ke arah mereka. Lalu ember tersebut dengan keras menimpuk Hart dan Eledarn.
“Apa yang kalian lakukan!” teriak Freda dari pemandian sebelah.
“K—Ka—Kami tidak melakukan apapun!” sahut Hart ketakutan.
“Bohong!” balas Freda kemudian sebuah ember kembali menimpuknya lagi.
“Ampun…!” ungkap mereka berdua serentak. Mulai saat itu kami semua menikmati pemandian ini, mungkin. Kami berempat berendam sambil gemetar ketakutan. Aku takut Freda melakukan ancamannya yang diucapnya tadi.
“Aku masih punya masa depan…” gumamku merinding harap.
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)