
Kirana mentari tunggang gunung menyoroti apapun dalam pandangan luas. Sinarnya yang masuk menembus kaca jendela menenangkan sanubari. Mempersiapkan pidato untuk hari pemilihan, itulah yang tengah kami kerjakan sepulang sekolah di kantin. Walaupun realita tidak sesuai rencana, setidaknya lembar memori terisi kenangan bersama sahabat.
“Kalian asyik makan saja.” sindirku kepada Hart dan Freda yang sedang menyantap roti isi. “Lapar tidak dapat ditahan.” sahut Freda sambil mengunyah. “Swemuangat, Aduelarwd.” cakap Hart dengan mulutnya terisi penuh. Aku lantas menghela napas dan melanjutkan menulis naskah untuk orasi kampanyeku nanti.
“Oh iya, kita butuh tim sukses!” lontar Hart bersemangat.
“Tapi, siapa saja? Tidak mungkin hanya kita berdua.” balas Freda. Aku hanya menyimak pembicaraan mereka.
“Tenang saja. Aku akan bawa banyak pasukan.” cakap Hart bangga dan optimis. “Bagus! Aku juga akan mencari pasukan perempuan.” tutur Freda yang juga membara. Aku senang mendengarnya. Paling tidak mereka telah membantuku untuk menarik simpatisan.
“Tapi kita perlu slogan.” desis Freda kebingungan. Hart juga tidak kepikiran dengan itu. Mereka berdua sibuk berpikir mencari kata-kata yang tepat dan cocok. Beberapa saat kemudian Hart memiliki ide.
“Aha! Bagaimana kalau… Ekhem.” ucap Hart mengambil ancang-ancang.
“Semua akan baik-baik saja bersama Alien!” lontar Hart dengan penuh penghayatan seperti prajurit siap tempur. Mendengar perkataannya membuatku tidak fokus dan kertas naskahku tercoret.
__ADS_1
“Apa yang kau maksud dengan alien?” tanyaku geram kepada Hart.
“Hehe… Aku tidak tahu harus memberimu julukan apa.” jawabnya cengar-cengir. Freda yang tidak kuat menahan tawa ia lepas sekeras-kerasnya. Lagi-lagi aku menarik napas jengkel dengannya. Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku sedangkan mereka masih memikirkan slogan itu.
“Hmm… julukan, ya.” gumam Freda bimbang sambil menahan tawa yang masih terbayang-bayang ide yang Hart cetuskan. “Monster, dewa, singa, bulan, matahari, hantu, badak, wortel, es batu, teh, roti isi, ayam goreng, bakso…?” hembus Hart memikirkan julukan yang cocok dengan tatapan yang kosong menghadap ke atas.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Lalu kenapa makanan yang ada di meja ini kau sebutkan?” tanyaku gerah kepadanya. “Entah. Tiba-tiba keluar dari mulutku.” jawab Hart yang juga kebingungan. “Makan, sana. Supaya pikiranmu tidak melayang ke mana-mana.” usulku kepadanya. Kemudian ia melanjutkan santapannya dengan lahap.
Tak lama kemudian Emery lewat di hadapan kami. Lantas aku memanggilnya.
“Adelard?” Ia tidak mengira ada aku di kantin.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku penasaran. “Aku sedang membeli camilan.” jawabnya tersipu malu. Freda dan Hart yang melihatnya lalu menyambar obrolan kami bak tiang listrik.
“Bagaimana dengan persiapanmu, Musuh?” tanya Hart menyindir Emery. “Usshh… Jaga ucapanmu!” bisikku kepadanya. “Loh? Aku benar, kan?” balas Hart pelan.
__ADS_1
“Sejauh ini lancar. Syukurlah.” jawabnya sopan. “Maaf aku sedang buru-buru.” imbuhnya kemudian bergegas meninggalkan kami. Lantas Hart kembali melontarkan ucapannya ke arah Emery yang sedang berlari.
“Sampai ketemu di panggung pertempuran, Musuh!” Aku menjadi sangat kesal dengannya sontak aku mengambil cabai dan menyuapnya paksa.
“Mulutmu harus kuberi ini, ya?” gusarku. Lalu Hart menutup rapat bibirnya.
“Huft… Sulit, sulit.” cetus Freda cemas. “Apanya yang sulit?” tanyaku bingung. “Aku baru ingat bahwa ia pandai berpidato.” jawabnya dengan ekspresi seperti mengingat sesuatu dan aku pun menyadarinya. “Yah… Dia pandai drama dan komunikasi, sih.”
“Tak perlu ambil pusing. Kau kan alien.” celetuk Hart tersenyum.
“Berhenti menyebut namaku begitu!” tegasku padanya. Kemudian aku menyelesaikan naskahku sebelum pulang ke rumah. Namun keputusan untuk slogan yang Hart dan Freda pikirkan untuk akan dipakai nanti masih nihil.
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1