
Mentari sudah mulai naik ke atas kepala. Kini tubuh sudah bersih dan menenangkan sukma selama di pemandian umum tadi, perut kami juga sudah terisi setelah sarapan pagi, kami melanjutkan langkah kaki menuju tempat untuk menangkap keindahan pemandangan di wilayah ini. Perjalanan yang cukup jauh dan hawa nan terik memanaskan kulit kami yang telah segar.
“Kita istirahat dulu, yuk,” pinta Freda terengah-engah dan berkeringat penat.
“Ayo kita berteduh dulu,” ajakku kepada yang lainnya. Kemudian kami semua beristirahat di bawah teduh rindang pepohonan. Dengan daun lebar lalu Freda mengipas tubuhnya yang sudah kepanasan.
“Oh iya, di antara kita ada yang membawa kamera, kan?” tanya Hart.
“Iya. Aku membawanya,” jawab Cassie sembari memperlihatkan kamera polaroid miliknya. Warna lembut merah muda membuat Emery tertarik dengan kamera tersebut.
“Wah, lucu sekali,” puji Emery. “Boleh aku memegangnya?”
“Silakan,” jawab Cassie kemudian memberikan kamera itu.
“Terima kasih,” sahut Emery senang dan tergila-gila. Waktu untuk beristirahat kurasa sudah cukup.
“Kalian sudah tidak lelah lagi?” tanyaku kepada mereka.
“Ha! Tubuhku sudah ringan,” lontar Eledarn seraya menggerak-gerakkan lengannya. Lalu kami kembali melanjutkan perjalanan.
“Ayo kita berangkat!”
Setelah beberapa waktu kemudian akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Alam yang mempesona memukaukan mata kami semua. Bahkan kami tidak dapat berkata apa-apa.
“S—Surga…” cetus Milard termangu.
Karpet hijau tergelar melapisi tanah dengan cantik. Kilauan biru cerah terpantulkan di atas cermin air yang sangat bening memperlihatkan dunianya. Rerindangan daun-daun menambah keelokan dari pemandangan yang terlukis indah ini. Ditambah lagi dengan bebatuan besar meramaikan kanvas mata. Di hamparan ladang hijau kemudian kami berlarian menikmati alam.
“Indaaaaahhh…!” teriak Freda berlarian seraya membentangkan tangan. Begitu pula dengan teman-temanku yang lain. Lalu kami berpencar-pencar ke berbagai arah. Segala keindahan ditawarkan di sini. Aku, Emery, dan Cassie pergi mendekati danau yang berada di tengah padang yang luas ini.
“Bening sekali airnya!” lontar Emery tidak percaya.
“Iya. Ikan-ikan yang berenang sampai terlihat semua,” tutur Cassie gembira sembari bermain air di pinggiran. “Airnya sejuk,” imbuhnya. Kemudian Cassie mencipratkan air ke arah kami berdua.
“Cassie… Hentikan,” ucapku kepadanya, tetapi ia terus saja seperti itu sambil tertawa senang. “Ambillah ini! Rasakan!” lontarnya seraya tertawa. Lantas Emery juga ikut-ikutan sepertinya dan mereka berdua mengarahkan air itu ke arahku.
“Oh, kau ingin melawanku, ya? Sekarang rasakan ini!” selorohku kemudian bersenang-senang bersama.
“Sudah, sudah… Lama-lama kita basah kuyup,” ujarku kepada mereka. Setelah tertawa lepas akhirnya kami selesai bermain-main.
“Ayo kita foto bersama,” ajak Emery.
__ADS_1
“Oh iya, baiklah kalian ambil posisi, ya!” sahut Cassie kemudian mengatur kamera dan memasang pengatur waktu. Lalu kami bertiga berpose riang gembira. Tak lama kemudian foto yang barusan terjepret mulai tercetak dan keluar dari kamera tersebut.
“Loh, kok putih kosong?” tanya Emery terkejut kebingungan. Sontak Cassie tergelitik tawa melihat tingkahnya yang polos.
“Hahaha… Memang butuh waktu supaya gambarnya muncul. Coba kau kibas-kibaskan kertas itu,” balas Cassie. Arkian gambar yang tercetak mulai terlihat perlahan.
“Wah…! Sulap!” lontar Emery syok dan masih belum percaya. Aku dan Cassie tertawa melihatnya.
“Yah memang seperti itu cara kerjanya,” celetukku. Setelah melihat hasil potret tersebut Emery menjadi terpukau dengan gambaran itu. Setelah itu kami melanjutkan berfoto bersama beberapa kali di tempat yang berbeda meskipun tidak jauh dari danau. Keseruan yang dilakukan membuat kami tidak sadar dan lupa dengan teman-temanku yang lain.
“Ayo kita samperin yang lain!” ajakku.
“Oh iya, kita belum foto lengkap,” sahut Cassie baru teringat. Kemudian kami melangkah ke arah teman-temanku pergi saat awal kami berpisah.
Selang beberapa waktu kemudian kami tak kunjung melihat keberadaan mereka sama sekali. Kami telah menyusuri berbagai tempat di sekitaran danau tersebut. Langkah kaki yang menguras tenaga membuat kami menjadi lapar. Namun teman-teman kami yang belum ternampak juga membuat kami khawatir.
“Bagaimana ini?” tanya Emery panik.
“Kita sudah mengelilingi sekitaran sini. Tidak mungkin ada yang terlewat,” sahut Cassie yang sama cemasnya. Aku yang berusaha tenang mengingat kembali arah mereka pergi saat kami berpisah, tetapi di saat itu juga aku ingat betul bahwa mereka seharusnya ada di sekitar sini.
“Iya. Seharusnya mereka tidak akan jauh dari sini. Tapi, di mana?” ucapku berpikir heran. Tak lama kemudian aku mendengar suara samar orang-orang di telingaku. Suara yang terdengar sangat ramai namun sangat pelan. Sepertinya hanya aku yang menyadarinya. Emery dan Cassie masih tampak gelisah dan melihat sekeliling.
Suara itu terus terdengar, tetapi aku tidak melihat siapa pun di tempat ini selain kita berdua. Kemudian aku menatap ke atas. Ternyata ada rumah pohon terpasang di atas sana. Akhirnya aku menemukan mereka.
“Tidak terpikir sama sekali kalau ada rumah pohon,” gumamku lega.
“Emery, Cassie,” panggilku.
“Iya?” balas Cassie masih bergundang.
“Sepertinya ada satu yang kita lewatkan,” ucapku kepada mereka berdua. Sontak mereka kebingungan dengan perkataanku barusan. Lalu Emery bertanya kepadaku.
“Ada yang terlewat? Di mana?” Kemudian aku menjawabnya dengan menunjuk jari telunjukku ke atas. Lantas mereka mendongakkan kepalanya dan tersadar ada sebuah rumah di atas pohon itu.
“Lah, sejak kapan ada rumah pohon di sini?” tanya Emery tercengang.
“Kalian tidak mendengar suara sama sekali?” lanjut jawabku bertanya kembali.
“Tidak,” sahut Cassie. Kemudian terdengar suara Hart berteriak keras dari atas.
“Yes aku menang!”
__ADS_1
“Barusan aku mendengarnya,” cetus Emery lega. Aku yang sedikit jengkel bergumam dalam hati seraya menarik napas. “Suara seperti itu mah semua penghuni hutan ini juga bisa mendengarnya.” Arkian aku memanggil mereka dari bawah.
“Oi! Kalian sedang apa?” lontarku cukup keras supaya terdengar. Lalu mereka keluar dari rumah tersebut dan menyapa kami.
“Oh, hai!” sambut Freda berkobar-kobar.
“Kami sedang bermain kartu,” jawab Hart.
“Eh? Sejak kapan kalian membawa kartu?” tanya Emery terheran-heran. Aku yang melihat pohon tersebut menjadi kebingungan bagaimana caranya untuk naik ke atas.
“Di mana tangganya?” tanyaku kepada mereka.
“Oh iya, sebentar,” sahut Eledarn. Kemudian ia menurunkan tangga tali untuk kami. Lalu kami bertiga naik ke atas menghampiri mereka.
“Sejak kapan kalian di sini?” tanyaku.
“Cukup lama sepertinya,” jawab Milard.
“Kalian sendiri dari mana saja?” lanjut tanya Hart.
“Kami dari tadi mencari kalian, ternyata kalian di sini,” balasku. Melihat Cassie dan Emery kelelahan membuat Freda penasaran dengan apa yang telah terjadi pada kami.
“Kalian mencari kami ke mana saja?” Kemudian Cassie menjawabnya pelan.
“Sekeliling danau ini.” Sontak mereka semua terkejut mendengarnya.
“B—Benarkah?” tanya Freda tidak percaya. Lantas kepala kami terangguk menanggapinya. “Wow,” respon Eledarn singkat. Di saat itu juga kami mendengar suara keroncongan yang berasa dari perut Emery. Seketika ia menjadi malu bukan kepalang.
“A—Ayo kita makan,” ajaknya gugup seraya memegang perut. Kemudian kami semua menyantap bekal makan siang sembari dikipaskan angin dari balik pepohonan.
Sesudah itu kami kembali berkeliling wilayah danau ini bersama-sama. Tak jarang juga kami mengambil foto bersama dengan latar yang mengagumkan.
“Ayo di sebelah sini bagus!” lontar Freda bersemangat.
Sampai akhirnya mentari sudah mulai mengumpat di balik ufuk. Hari mulai gelap dan kami pun kembali menuju pondok penginapan. Dengan kertas foto yang bertumpuk ratusan aku senang bisa menunjukkan ke adikku setelah kembali pulang nanti.
“Kenangan yang tak akan ku lupakan. Aku akan menunjukkannya nanti,” gumamku gembira.
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1