Love Exchange

Love Exchange
Episode 137 : Secangkir Kopi Bijak


__ADS_3

Langit jingga menjadi panorama indah dari atas gedung kala senja. Burung-burung beterbangan mencari tempat peristirahatan mereka. Mentari yang tampak lebih besar memantulkan sinarnya dengan kaca-kaca yang menjulang tinggi. Terlihat lampu-lampu berwarnah merah mulai menerangi jalan-jalan. Suara bising kendaraan terdengar tipis dari ketinggian.


Kami menyeruput secangkir kopi hangat sembari menyaksikan pertunjukkan  alam, namun berbeda dengan Cassie yang hanya meminum secangkir teh. Akan tetapi, masih terpikirkan di dalam benakku tentang percakapan ayahku dengan Ayah Cassie tadi. Mereka terlihat sangat asyik mengobrol tanpa menghiraukan kami berdua. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada mereka.


“Apa maksudnya tadi? Dugaan seperti apa?” tanyaku penasaran.


“Oh itu. Bukan apa-apa. Tidak perlu dipikirkan,” jawab ayahku tersenyum, namun kata demi kata mereka sebelumnya terus berputar di dalam kepalaku. Aku yang sudah tidak dapat menahannya lagi sontak bertanya kembali kepada mereka.


“Katakan saja! Apa yang ku lakukan salah?” Dengan tenang, ayahku meletakkan cangkirnya dan berusaha menenangkanku.


“Tarik napas…” Aku pun mengikuti perkataannya. “Adelard, kalau kau salah pasti Ayah akan menegurmu. Yang kau lakukan sekarang bukan kesalahan secara umum, tapi semua yang kau lakukan akan berbalik kepadamu,” paparnya.


“Lagi-lagi sok bijak, ya,” celetuk Ayah Cassie bercanda. Mereka berdua pun sontak tergelitik tawa. Aku yang mendengarkannya malah semakin bingung dan tidak mengerti maksud dari semua yang diucapkannya.


“Hah? Jadi aku tidak berbuat salah, kan?” Lantas Ayah Cassie mendekatkan wajahnya dan berbicara kepadaku.


“Begini, kita ambil contoh pacaran. Tidak salah kau pacaran, tapi saat kau melakukan itu akan ada banyak tantangan dan bisa membuatmu bersalah.”


“Yah… Kalau dari awal kau sudah salah, kau akan tetap salah,” imbuh ayahku. Akhirnya aku mengerti dengan maksud perkataannya, tetapi aku juga merasa telah melakukan hal yang salah pada saat yang bersamaan.


“J—Jadi, aku harus bagaimana?” tanyaku gugup.


“Jalani saja yang kau pilih, selama menurutmu tidak salah. Kau juga ingin menambah pengalaman, toh?” jawab ayahku.


“Baiklah…” balasku tertunduk, sementara itu Cassie hanya menyimak pembicaraan kami dari tadi.


“Kau juga sama, Cassie,” ujar ayahnya.


“Baik, Yah…” balasnya.


Hari mulai semakin gelap dan langit pun menghitam. Kami yang masih berada di kafe lantas memesan makanan untuk santap malam. Saat membuka buku menu, lagi-lagi aku terkejut dengan harga yang tertera. Cassie yang juga melihatnya sontak merespon sama denganku. Beberapa detik berselang, ayahku memanggil seorang pelayan dan mulai memesan, sementara itu kami berdua masih tercengang sembari membolak-balikkan halaman tersebut.


“Adelard, Cassie, kalian mau pesan apa? Katakan saja,” ujar Ayah Cassie. Aku pun memesan makanan dan minuman dengan harga termurah.

__ADS_1


“Aku pesan ini dan air putih saja,” ucapku seraya menunjuk pesanan di buku menu itu. Pelayan yang berniat untuk mencatatnya tiba-tiba saja dihentkan oleh ayahku.


“Kau yakin? Sekali-kali pesan yang benar-benar kau inginkan,” pungkas ayahku.


“Tapi aku tidak ingin boros, Yah,” balasku.


“Adelard, dengar sini,” lanjut ayahku. “Untuk pesanannya itu dulu, nanti akan kupanggil lagi,” imbuhnya kepada pelayan itu. Sang pelayan telah pergi meninggalkan kami sudah tidak ada lagi siapa pun kecuali kami berempat.


“Kenapa, Yah?” tanyaku kebingungan.


“Kenapa kau memesan pesanan tadi? Tenang saja, aku hanya ingin tahu alasanmu,” ucapnya serius.


“Makan itu kan hanya kebutuhan, lagi pula harga-harga di sini sangat mahal. Ada banyak di luar sana yang tersedia menu sama tapi harganya jauh lebih murah. Lebih baik uang itu digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat,” jelasku. Sontak ayahku dan Ayah Cassie tersenyum sambil bertepuk tangan ke arahku.


“Ayah bangga denganmu! Tapi ada beberapa hal yang mungkin belum kau ketahui, Nak,” ujarnya.


“Ada yang namanya kebutuhan dan keinginan. Ayah sangat setuju kalau kita harus mementingkan kebutuhan. Tapi kau harus ingat, kau hanya manusia yang juga punya keinginan. Selama kebutuhanmu terpenuhi, tidak ada salahnya memenuhi keinginanmu.”


“Hari esok tak sama dengan hari ini,” tambahnya.


“Bijak bukan berarti harus memenuhi kebutuhan saja, kan? Betul katamu kalau kita harus menabung untuk masa depan yang tak tentu. Tapi, jangan sampai kau menyesal dengan berbagai kesempatan langka yang terlewat hanya karena ingin menimbun uangmu,” paparnya.


“Intinya nikmati waktu yang ada. Hitung-hitung menghibur dan menenangkan diri,” lanjut Ayah Cassie lalu ayahku kembali berucap sekaligus mengakhirinya.


“Jangan memendam semua keinginanmu.”


“Uang yang habis masih bisa dicari, tapi momen seperti ini tidak akan bisa di cari lagi…” Aku pun tertunduk dan mengambil buku menu. Ayahku memanggil kembali seorang pelayan sembari bertanya kepadaku.


“Sudah tahu mau pesan apa sekarang?” Aku membalasnya dengan tersenyum lebar ke arahnya.


Setelah menghabiskan santap malam hari sudah semakin larut dan angkasa mulai memperlihatkan bintang-bintang nan indah. Rembulan yang bersinar terang menemani kami kala taring malam membekukan segalanya. Kami pun pergi menuruni gedung kaca tersebut dan berjalan kembali menuju asrama menggunakan mobil. Panorama kota menjadi lukisan indah yang tengah kulihat saat ini. Hingga akhirnya kami tiba di kompleks sekolah. Kami berpisah dengan ayah kami.


“Terima kasih. Selamat malam.”

__ADS_1


“Sampai jumpa.”


Sesampainya di asrama aku membuka pintu dan kami berjalan masuk ke dalam, namun tidak ada  seorang pun di sana. Kami yang menyadarinya sontak terkejut dan kebingungan.


“Ke mana Gavin dan Rein?” gumamku khawatir.


“Aku coba telepon Rein,” tutur Cassie. Aku menyaksikan Cassie yang tampak serius dengan ponsel pintar digenggamannya.


“Dia ada di sebelah,” ucapnya selepas menutup telepon. Kami pun mendatangi asrama sebelah. Saat kami hendak masuk ke dalam, terlihat mereka yang sedang berkumpul di meja makan. Sontak kami sedikit tersipu akibat diperhatikan oleh mereka dengan tatapan serius.


“M—Malam…” salamku gugup.


“Kalian dari mana saja?” tanya Bella penasaran.


“E—Eh? K—Kami ada beberapa hal tadi,” jawabku gelagapan.


“Cassie Si Perempuan Jujur, ke mana kau pergi tadi?” lanjut tanya Rein.


“K—Kafe…” jawab Cassie tertunduk. Dengan sigap aku langsung meluruskannya.


“Ada pembahasan dengan ayahku dan Ayahnya. Urusan teman SMA,” lontarku kalang kabut. Kami pun berjalan menghampiri mereka dan menempati tempat duduk. Sesaat setelah duduk tiba-tiba saja Rein mendekatiku dan mulai menceramahiku. Aku yang mendengarnya menjadi pusing dan jengkel terhadapnya.


“Oh iya, kenapa malah jadi aku yang harus seperti ini?” gumamku dalam hati. Lantas terbesit di benakku sebuah ide dan membuatku tersenyum licik tanpa sadar. Rein yang semula marah seketika menjadi terdiam takut dan kebingungan.


“A—Ada apa, Adelard?”


“Apa sebaiknya kita sudahi saja semua ini?” lanjut tanyaku. Sontak Rein menjadi panik dan melontarkan gurauan-gurauan.


“Su—Sudahi? A—A—Apa maksudnya? ‘I—Itu’? Aku ti—dak ingin menyudahinya! M—Maaf!” Lantas ia membungkuk dan memohon kepadaku.


“Aku jadi pusing gara-gara ceramahmu tadi. Jadi, jangan sesekali kau…” geramku dengan nada rendah.


“B—Baik! Aku paham! Maafkan aku!” Tiba-tiba saja muncul di dalam diriku perasaan untuk menjahilinya.

__ADS_1


“Aduh… Pundakku pegal,” ucapku sembari menggerak-gerakkan pundak. Dengan cepat Rein langsung beranjang dan memijat pundakku. Aku pun merasa lega namun aku memasang wajah datar. Teman-temanku hanya terdiam melongo dengan sikapku yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


“K—Kau… me—mengerikan… Adelard…”


__ADS_2