Love Exchange

Love Exchange
Episode 142 : Perkara Makanan Pedas


__ADS_3

Suasana kelas tampak tidak terlalu ramai karena para murid yang telah berhamburan keluar. Aku sedang merapikan buku yang baru saja digunakan saat pelajaran sebelumnya. Terlihat Gandra dan Bella telah meninggalkanku terlebih dulu, sementara itu Rein masih berada di tempat duduknya. Aku yang ingin menyapanya lantas teringat dengan sikapku kepadanya.


“Oh iya, hampir saja kebablasan,” gumamku dalam hati. Kemudian aku berjalan melintasi Rein tanpa menghiraukannya. Tiba-tiba saja Rein memanggilku dari kursinya di belakangku.


“Kau ingin ke mana, Adelard?”


“Kantin,” jawabku singkat dengan pandangan lurus ke depan, lalu aku kembali berjalan meninggalkannya. Sontak Rein beranjak dari kursi dan menghampiriku.


“Aku juga ikut!” lontarnya.


Kami berdua pun berjalan melalui koridor yang ramai dengan orang-orang. Rein yang berada di sebelahku hanya tertunduk tanpa kata-kata. Seketika suasana menjadi canggung. Aku berusaha untuk tetap tidak mengacuhkannya. Koridor yang ramai dan ribut membuatku berjalan dengan berhati-hati. Hingga akhirnya terdapat beberapa murid yang berlarian ke arah kami, namun Rein yang tertunduk tidak menyadarinya. Lekas aku menarik pundaknya dan merangkulnya dengan erat. Sontak Rein terkejut dan menatapku. Dengan cepat aku langsung memalingkan wajahku.


“Perhatikan jalanmu,” ucapku pelan.


“Iya, terima kasih,” balasnya gugup.


Sepanjang kaki melangkah, kami hanya saling terdiam satu sama lain. Aku yang melihat ke arah Rein yang tertunduk gugup membuatku sedikit terhibur karena tidak seperti biasanya ia tampak seperti itu. Tanpa sadar aku mengelus-elus kepalanya secara spontan.


“Wah, seru juga jadi seperti ini. Walaupun aku tampak seperti orang jahat…” benakku tersenyum. Sontak Rein tersentak kaget dan menoleh ke arahku. Aku yang baru tersadar langsung menurunkan tanganku dan kembali memasang wajah datar.


“Adelard…” desis Rein sangat pelan. Aku menjadi kesal dengan diriku sendiri.


“Apa yang kau lakukan, Adelard? Jangan seperti itu lagi,” batinku.


Sesampainya di kantin kami langsung membeli santap siang. Setelah itu, kami berjalan mencari tempat duduk dengan nampan berisi makanan serta sebotol air putih milik Rein dan sekotak susu milikku. Kami menduduki meja makan kosong yang berada di tengah ruang makan. Kondisi ruang yang luas ini sangat ramai dengan para murid yang mengisi perut bersama teman-teman mereka.


“Selamat makan…” tutur Rein gugup.

__ADS_1


Kami memakan makanan tersebut tanpa mengobrol. Situasi saat ini sangat berbeda jauh tidak seperti biasanya yang sering mengobrol dan bercanda tawa. Dengan tenang aku menghabiskan makananku. Beberapa detik berselang Rein kepedasan dengan makanan yang disantapnya. Ia tidak mengetahui kalau makanan tersebut sangat pedas. Lantas ia melahapnya dengan cepat untuk mengakhiri siksaan pedas di lidahnya.


“Ha! Pedas sekali!” lontarnya.


Selepas itu ia langsung meminum satu botol itu sekaligus. Terlihatnya wajahnya penuh dengan keringat dan napasnya yang tidak beraturan. Ia mengelap keringat itu dengan sapu tangan miliknya. Tampak pula bibirnya yang merah mencolok bak memakai lipstik. Tidak lama kemudian aku melihat terdapat nasi yang menempel di pipinya. Rein yang makan secara terburu-buru sepertinya membuat mulutnya berlepotan. Akan tetapi, aku menjadi kebingungan dengan cara untuk memberitahunya, sementara itu aku tidak tahan untuk terus membiarkannya.


“Aku harus bilang apa?” gumamku dalam hati, sedangkan Rein masih terbakar-bakar akibat rasa pedas yang tak kunjung hilang. Hingga akhirnya terlintas di kepalaku sebuah cara.


“Jangan bergerak,” ujarku dan ia terdiam dengan wajah yang ketakutan. Aku yang berada di hadapannya lekas mendekatkan wajahku dan menjulurkan tanganku untuk meraih nasi tersebut. Aku mengambil nasi itu lalu memakannya. Seketika perhatian semua orang terpaku kepada kami berdua. Wajah Rein mendadak merah merona, sementara itu aku berusaha untuk menahannya.


“Malu setengah mati aku!” benakku.


“Sudah,” ucapku berwajah dingin. Lantas Rein menghembuskan napas dengan kencang dan kembali terbakar pedas.


“Selama itu kau menahan napas?” gumamku dalam hati tak percaya.


Selama berjalan melintasi koridor, tampak Rein masih terbakar dengan kepala yang penuh keringat dan napas yang tak beraturan. Akibatnya semua orang yang berada di sekitar lantas tertuju pandangan ke arah kami. Seketika aku merasa terganggu dengan itu.


“Sepedas itukah makanannya?” benakku kesal. Terlihat perpustakaan dari kejauhan dan membuatku berpikir untuk pergi ke sana.


“Lebih baik aku pergi ke tempat sepi daripada menjadi tontonan,” gumamku dalam hati. Lantas aku menggandeng tangan Rein dan membawanya ke perpustakaan. Rein yang tidak mengetahuinya sontak terkejut dan kebingungan dengan diriku.


“A—Ada apa, Adelard?”


“Ikuti aku,” jawabku. Seketika pula aku teringat dengan Cassie melihat Rein yang bertingkah kikuk.


“Sekilas sikapmu seperti Cassie…” batinku tersenyum.

__ADS_1


Setibanya di perpustakaan, kami bergegas menuju ruang membaca. Ruangan itu sangat sepi dan tidak ada seorang pun selain kami berdua. Kami berdua menempati bangku dan duduk bersampingan. Kemudian aku teringat dengan kabar bahwa perpustakaan ramai dan rumor yang membayanginya. Sejenak aku kebingungan dan bergumam sendiri di benakku.


“Katanya perpustakan jadi ramai setelah kejadian itu, mana buktinya?”


“Rumor tetaplah rumor.”


Sementara itu Rein masih tampak seperti cacing kepanasan. Aku melihat sekitar kemudian memegang kedua pipinya Rein. Sontak Rein menjadi terdiam syok dan ketakutan melihat wajahku yang datar.


“Maafkan aku… Rein…” gumamku dalam hati kemudian mencium Rein dengan sangat erat dan dalam waktu yang cukup lama. Rein hanya terdiam lemas dan matanya terbuka lebar. Ia tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Dengan masing-masing bibir yang masih menempel, tiba-tiba saja lidahku terbakar dengan rasa pedas.


“Makanan apa yang dimakannya sampai sepedas ini?” benakku tak habis pikir sekaligus tak percaya. Setelah itu aku mengelap bibirku dan napasku tak beraturan karena rasa pedas yang mencabik-cabik mulutku, sementara itu wajah Rein tampak kosong dengan kedua mata dan mulut yang terbuka lebar.


“Apa yang aku lakukan barusan? Hal seperti ini wajar, kan?” gumamku menyesal. Dengan wajah yang dingin aku kembali berucap ke arahnya.


“Setidaknya penderitaanmu berkurang.”


“Te—Terima kasih…” tuturnya penuh gugup.


“E—Entah kenapa rasa pedasnya hilang,” imbuhnya terheran-heran dengan pandangan yang masih kosong.


Terdengar suara bel masuk yang berbunyi dan kami bergegas menuju kelas. Aku berjalan sembari merangkul Rein yang tidak berdaya seperti orang yang hilang akal. Setibanya di kelas Gandra dan Bella terkejut melihat kondisi kami berdua saat ini. Sontak mereka mendatangi kami dan terheran-heran. Bella menjadi syok dan tampak gelisah terhadap kami berdua.


“A—Apa yang terjadi pada kalian berdua?”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2