Love Exchange

Love Exchange
Episode 144 : Kejadian Memalukan Adelard


__ADS_3

Pagi hari di akhir pekan, merupakan waktu yang ditunggu-tunggu para murid untuk menghilangkan rasa penat setelah lima hari menuntut ilmu. Hawa nan sejuk membuat siapa pun yang menghirupnya akan merasa tenang. Semua orang di asrama sudah terbangun dari tidurnya, namun lain halnya denganku yang masih tertidur pulas. Cassie tengah menyiapkan sarapan dan Gavin ikut membantunya sedikit-sedikit. Rein sedang duduk di sofa dengan kedua matanya yang ditutupi timun segar dari kulkas.


“Di mana Adelard?” tanya Cassie kepada Gavin.


“M—Masih tidur di kamar…” jawab Gavin tersedu-sedu. Cassie yang mendengarnya sontak terkejut dan kebingungan. Ia pun bertanya dengan penuh khawatir sembari menoleh ke arah Gavin.


“Kau tidak apa-apa?”


“A—Aku sedang mengiris bawang ini,” balasnya yang sedang memotong bawang merah. Airnya yang menetes membuat dirinya reflek untuk mengelapnya. Saat ia mengelap dengan tangannya, seketika matanya semakin perih.


“A—Aduh! Mataku perih!” lontarnya kesakitan. Cassie menjadi panik melihat Gavin seperti itu. Ia langsung mengambil segelas air yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri lalu memberikannya ke Gavin. Dengan cepat Gavin langsung membilas matanya dengan air tersebut. Bukannya membaik, justru mata Gavin semakin perih. Gavin langsung berteriak sejadi-jadinya.


“Aaa…! Sakit…!” Cassie menjadi tambah panik dan kalang kabut ke sana kemari, begitu pula dengan Rein yang tersentak kaget dan langsung menarik Gavin menuju kamar mandi.


“Sini! Ikuti aku!” lontar Rein. Gavin yang tidak dapat melihat apa pun lantas mengikuti Rein yang menarik tangannya. Ketika berada di kamar mandi, Rein langsung menyiram air ke arah wajahnya. Gavin yang menyadarinya sontak merasa kesal terhadap Rein.


“Ke tanganku dulu!” seru Gavin sambil mengulurkan tangannya. Kemudian Rein membasuh tangan Gavin. Selepas itu Gavin langsung mengucek-ngucek kedua matanya. Seketika saja Rein kembali menyiram wajahnya dengan air yang sangat banyak. Pakaian Gavin menjadi basah akibat ulahnya.


“Kau itu niat bantu tidak, sih?” cetus Gavin jengkel. Rein tersenyum menahan tawa melihat Gavin yang basah kuyup. Rein pun pergi keluar dari kamar mandi meninggalkan Gavin dan kembali duduk di sofa melanjutkan perawatan kedua matanya. Saat Gavin keluar dari kamar mandi, Cassie langsung menghampirinya lalu membungkuk ke arahnya.


“Maafkan aku! Tadi aku malah memberimu air garam,” lontarnya gugup.


“Ti—Tidak apa-apa…” balas Gavin cengar-cengir. Kini Gavin sudah dapat melihat dengan cukup jelas meskipun matanya masih berkedip-kedip karena masih tersisa rasa perih yang ia rasakan. Tidak lama kemudian Cassie sudah selesai memasak dan makanan siap dihidangkan di meja makan. Gavin membantu Cassie menyiapkan meja makan, sementara itu Rein sedang duduk di atas sofa seperti tadi.


“Rein, tolong bangunkan Adelard,” ucap Gavin.


“Kau saja, aku sedang sibuk,” sahut Rein datar. Gavin yang merasa jengkel sontak berjalan menghampirinya dan mengambil kedua potongan timun yang terletak di atas kedua mata Rein.


“Kembalikan! Aku sedang menghilangkan kantung mataku!” lontar Rein kesal.


“Matamu sudah membaik! Cepat bangunkan Adelard!” pungkas Gavin. Tiba-tiba saja Rein teringat dengan kejadian kemarin dan kembali membuatnya trauma. Ia pun tertunduk dan berucap dengan nada pelan kepada Gavin.


“Sepertinya aku tidak ingin bertemu dengan Adelard dulu…”


“Loh? Kau kan pacarnya! Sekalian kau berbaikan dengannya,” balas Gavin jengkel.


“Memangnya boleh ke kamarmu?” tandas Rein menaikkan nadanya. Gavin berlari ke arah kamar lalu membuka pintu kamarnya.


“Terbuka lebar untukmu,” ujarnya sembari mengulurkan tangan ke arah dalam kamar. Rein pun berjalan memasuki kamar dengan kepala tertunduk. Ia melihat diriku yang tertidur membentang dan terdengar suara dengkuran kecil dari mulutku yang terbuka lebar.


“Jadi seperti ini Adelard saat tidur,” gumam Rein tersenyum menahan tawa. Kemudian ia duduk di atas kasur dan melihatku. Ia menyentuh wajahku dengan telapak tangannya.

__ADS_1


“Wajahmu lucu sama seperti Cassie.” Aku yang masih pulas tanpa sadar berguling menghadap Rein lalu memegang tangan Rein yang berada di wajahku. Rein terkejut melihatnya namun tidak dapat mengeluarkan kata-kata karena takut membangunkanku. Sementara itu, aku bermimpi sedang berada di taman sembari menikmati es krim rasa coklat. Aku menjilat-jilat telapak tangan Rein.


“Es krim…” racauku pelan mengigau.


“E—Eh? Ke—Kenapa jadi begini?” cakar Rein panik. Ia ingin melepas tangannya, tetapi genggamanku sangat kuat. Tangannya sudah basah dengan air liurku. Beberapa detik kemudian aku melepaskan tangannya dan kembali berguling. Rein melihat telapak tangannya dengan rasa jijik. Ia yang penasaran lantas mencium bau tangannya itu tanpa sadar.


“Tidak bau? Tapi aku harus membersihkannya.” Lalu ia mengelap tangan itu dengan tisu yang berada di atas meja sebelah kasur. Ia kembali mendorong-dorongiku dengan tangannya. Aku yang belum tersadar kemudian meracau.


“Hentikan… Aku masih ngantuk…” leterku berayun-ayun.


“Bangun, Adelard. Sudah pagi dan kita akan ke taman air,” ucap Rein.


“Aku masih mau tidur…”


“Bangun…!” teriak Rein di samping telingaku. Aku berguling menghadap arah yang berlawan dengannya.


“Lima menit lagi…”


“Mau sampai kapan lima menitnya?” Rein menggelitik telapak kakiku dan membuatku merasa sangat geli.


“Nanti dulu Gav—” gumamku yang masih sedikit sadar. Seketika aku melihat wajah Rein dengan samar.


“Rein?” lanjutku kemudian memegang wajahnya dan meraba-rabanya.


“Adelard?” tanya Rein kebingugan. Aku merasa sangat malu ketika mengetahui bahwa Reinlah yang membangunkanku dari tadi.


“Kenapa tiba-tiba jadi Rein? Aku bertingkah memalukan di hadapannya… Apa yang harus kulakukan sekarang?” benakku sangat gugup. Lalu aku berusaha untuk tetap berkata dengan nada datar kepadanya.


“Ti—Tinggalkan aku.” Rein yang mendengarnya menjadi kaget dan merasa bersalah kepadaku.


“Kau masih marah denganku?” tanya Rein pelan.


“Bukan itu masalahnya! Aku tidak marah padamu!” gumamku dalam hati.


"A—Aku akan segera keluar.”


“B—Baiklah, kami menunggumu di meja makan. Sarapan sudah siap…” balas Rein yang juga gugup kemudian meninggalkanku dan berjalan menuju ruang tengah. Setelah pintu tertutup aku pun beranjak dan pergi menuju cermin. Terlihat penampilanku yang sangat berantakan. Aku juga melihat kantung mata nan hitam bagai panda.


“Wuah… Ngantuk sekali…” ucapku seraya menguap. Sepertinya rasa kantukku yang menjadi-jadi disebabkan oleh air mataku yang telah terkuras tadi malam. Lalu aku berjalan menghampiri mereka dengan keadaan yang lesu.


“Sebaiknya kau mencuci wajah dulu, Adelard,” ujar Gavin. Aku kembali beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah itu, kami bersantap sarapan bersama-sama. Aku yang melihat wajah Rein sontak terperangah dengan kantung matanya yang sangat tipis bahkan hampir tidak ada sama sekali.

__ADS_1


“Bagaimana bisa?” batinku tak percaya. Rein merasa ketakutan dengan tatapanku yang tajam.


“A—Adelard?” tanya Rein gugup. Aku pun langsung berpaling darinya dan kembali menghabiskan makananku.


“Maafkan aku kalau aku masih membuatmu marah…” lanjutnya tertunduk. Aku tetap memasang wajah dingin ke arahnya.


“Kenapa minta maaf?”


“Aku telah banyak salah padamu,” jawab Rein.


“Sebutkan.” Lantas Rein menyebutkannya dan menjadi gelagapan.


“Aku sudah memaafkanmu sejak lama.”


“Tapi kau masih marah denganku, kan?” tanya Rein pelan.


“Tidak.” Pada saat yang bersamaan aku mengambil suapan terakhirku. Beberapa detik berselang terdengar suara Bella dan kawan-kawan memanggil kami. Aku pun beranjak bangun dan mengambil barang bawaanku lalu pergi mendatangi mereka.


“Apa yang terjadi dengan Adelard?” tanya Rein kepada Gavin dan Cassie, mereka berdua dengan wajah kebingungan hanya mengangkan kedua pundaknya.


Aku menutup pintu rapat-rapat dengan wajah tersipu menahan malu. Gandra dan yang lainnya keheranan melihat diriku.


“Kau kenapa?” tanya Gandra.


“Rein melihat tidurku,” jawabku sembari menyembunyikan wajahku. Sontak mereka semua tertawa mendengarnya.


“Kau benar-benar seperti anak kecil!” lontar Bella tertawa.


“Sshh! Nanti kedengaran dari dalam,” balas Gandra mengingatkannya. Tidak lama kemudian Rein keluar dari asrama dan aku langsung merubah wajahku kembali.


“Apa yang terjadi?” tanya Rein kebingugan melihat mereka yang tersenyum gembira.


“Kami sudah tak sabar pergi ke sana!” jawab Rhean bersemangat.


“Ayo kita berangkat!”


“Ayo!” Kami pun berjalan menuju taman air yang berada di pusat kota. Selama perjalanan aku terus terpikirkan dengan kejadian yang memalukan tadi. Aku merasa kesal dengan diriku sendiri.


“Benar-benar memalukan…”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2