
Siang hari yang sejuk dengan sinarnya yang terang menerangi ruangan nan luas ini. Kami menggunakan waktu istirahat untuk makan siang. Sebagian dari kami berjalan menuju kasir untuk memesan makanan dan sebagiannya lagi menunggu di meja makan. Kaki Gavin yang kesakitan membuatnya tidak bisa berbuat banyak dan hanya memegang jari kelingkingnya.
“Rasanya ngilu sekali…” decaknya pelan.
Tidak lama kemudian aku dan yang lainnya berjalan kembali menghampiri mereka yang tengah menunggu. Kami membawa beberapa nampan yang berisi dengan makanan dan minuman milik kami masing-masing. Lalu kami menyantap santapan bersama-sama sembari mengobrol dan saling bercanda tawa. Pada saat yang bersamaan aku tergelitik tawa sekaligus kebingungan dengan Gavin yang tangannya gemetaran, sampai-sampai makanan yang berada di sendok terhambur sedikit-sedikit.
“Kau kedinginan?” tanyaku dan yang lainnya beralih perhatian menuju kami berdua.
“B—Bukan… Aku juga tidak mengerti…” jawabnya sambil melototi sendok yang dipegangnya lalu memasukkan ke dalam mulutnya secara perlahan.
“Kau masih kesakitan?” lanjutku khawatir.
“I—Iya…” balasnya. Ia pun mengambil sesuap kuah untuk dilahapnya, namun getaran yang diakibatkannya membuat meja menjadi basah. Ia kembali meletakkan sendok di atas mangkuk dan menarik napas pasrah.
“Huft… Mengapa seperti ini selalu terjadi padaku?” gumamnya pelan. Cassie yang melihatnya dengan penuh cemas lantas kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa padanya.
“Mau ku suapi?” tawar Rhean kepada Gavin.
“Yah… Gimana, yah…” balasnya yang juga kebingungan sekaligus memberikan kode kepada Cassie, tetapi ia hanya melihatnya dengan rasa khawatir sama seperti yang lain. Seketika saja kami terdiam sejenak hingga akhirnya Rein memanggilku dengan sesuap sendok ditangannya.
“Adelard, sini,” ucapnya sembari menjulurkan tangannya dan menyuapiku. Cassie yang melihat kami sontak tersadar dan langsung bicara pada Gavin.
“Perlu kubantu?” tanya Cassie pelan.
“Y—Ya…” jawab Gavin gugup.
Cassie pun menyuapi Gavin perlahan seraya menghabiskan makanannya pula secara berganti-gantian. Kami semua lantas merasa senang dan berseri-seri melihat mereka yang tampak sangat romantis. Diam-diam Bella mengambil ponselnya lalu memotretnya tanpa sepengetahuan mereka. Akan tetapi, ia yang lupa mematikan cahaya kilas membuat semua orang menyadarinya.
“Ups, aku ketahuan… Hehe…” tandasnya cengengesan.
“Hapus, tidak? Kau membuatku malu!” lontar Gavin yang jengkel terhadapnya.
“Tidak masalah, ini untuk buku tahunan, kok,” lanjutnya.
“Terserah kau sajalah,” balas Gavin.
Setelah kami menghabiskan santap siang, kami berjalan kembali menuju kelas yang berada di lantai atas. Gavin berjalan terpincang-pincang dan membuatnya tertinggal di belakang. Aku yang melihatnya kemudian aku menolongnya dan merangkulnya. Pada saat yang sama, tersadar olehku kalau ia hanya mengenakan sendal jepit sejak awal istirahat.
“Loh? Kenapa kau tidak pakai sepatu?”
__ADS_1
“Entahlah… Tiba-tiba saja aku ingin pakai sendal,” jawabnya.
“Semuanya saja kau tidak tahu,” gumamku pelan.
“Mungkin sakitmu tidak akan separah ini jika kau pakai sepatu,” imbuhku.
“Aku tidak menyangka kalau akan seperti ini,” sahutnya.
Sesamapinya di lantai atas, kami berkumpul di depan koridor kelas untuk mengobrol dan bercanda bersama. Terdapat banyak murid yang memenuhi koridor sebatas untuk bersantai di luar kelas. Aku berdiri di depan pagar koridor seraya memandang ke halaman gedung, sementara itu Gavin hanya duduk di atas lantai dengan kakinya yang dilipat.
“Tak terasa sudah hampir enam bulan kita di sini,” ujarku.
“Iya, enam bulan lagi kita akan berpisah, ya…” sahut Bella.
“Apa yang akan lakukan setelah kembali?” tanya Icha penasaran.
“Lanjut sekolah lagi setahun,” cetus Gandra datar. Kami yang mendengarnya lantas sedikit jengkel terhadapnya.
“Ya memang seperti itu aturannya, Pak,” balas Gavin.
“Bagaiamana saat kalian lulus nanti? Semuanya akan kuliah, kan?” tanya Rein.
“Tentu, mungkin aku ingin mengambil universitas negeri di daratanku,” jawab Rhean dengan penuh rasa senang. Kemudian kami menjawab pertanyaan Rein secara bergiliran, kebanyakan dari kami memiliki jawaban yang sama seperti Rhean, terkecuali Gavin yang memiliki jawabannya sendiri.
“Kau akan pindah?” lanjutku memastikan. Ia menjawabku dengan menganggukkan kepalanya.
“Wah, kalau begitu kita bisa bertemu lagi nanti,” sahutku senang.
“Kalau boleh tahu, kenapa kau pindah?” tanya Bella penasaran.
“Ayahku akan ada dinas di sana, tapi belum tahu kapan,” jawabnya.
“Oh iya, ayahku juga bicara begitu waktu itu,” sahut Rein yang baru teringat.
“Ayah kalian berempat memang satu tempat kerja, kan?” tanya Gandra.
“Tidak, waktu itu kami hanya kerja sama,” jawabku.
Beberapa saat berselang, tanpa sadar waktu istirahat telah habis dan bel masuk pun berbunyi. Kami berpisah dengan mereka yang berbeda kelas denganku. Kami kembali menuju kelas masing-masing dengan segera. Aku yang baru saja duduk di bangku kemudian melihat ke arah jendela dan terlihat Pak Edwin yang berjalan menuju kelasnya Cassie, sedangkan kelasku masih ribut dengan teman-temanku yang asyik mengobrol dan bercanda.
__ADS_1
“Berisik sekali… Jauh berbeda kalau pelajaran Pak Edwin…” gumamku yang juga merasa hal sesuatu yang tidak aku inginkan akan terjadi.
“Permisi!” lontar beberapa orang membuka pintu yang kemudian banyak murid yang berlari masuk ke dalam kelasku. Kami semua yang berada di dalam sontak terkejut dan kebingungan dengan apa yang terjadi. Terdapat Cassie, Gavin, dan yang lainnya di antara mereka. Ternyata mereka semua berasal dari kelas sebelah yang tengah mendapati pelajaran Pak Edwin. Mereka semua berhamburan menghampiri masing-masing dari kami dengan wajah penuh panik.
“Ada apa ini?” lontarku gelisah.
“Apa aku boleh meminjam pensil dan koin logam?” pinta Gavin kalang kabut.
“Untuk apa? Aku hanya punya satu pensil,” jawabku kebingungan.
“Praktikum. Aku pinjam dulu sebentar. Kau kan bisa menggunakan pulpen,” balasnya.
“Baiklah, ini. Memangnya tidak diberi tahu sebelumnya?”
“Mendadak. Mungkin saat pelajaraannya juga kau akan mengalami hal yang sama.”
“Oh begitu,” balasku. Kemudian mereka semua berlarian kembali menuju kelasnya. Gavin memaksakan diri untuk juga berlari meskipun kakinya sedang terluka. Tiba-tiba saja ia terjatuh di depan pintu dan membuatku langsung bergegas menghampirinya.
“Kau tidak apa-apa?”
“Aw! Se—Sepertinya lukaku semakin parah,” ucapnya kesakitan. Orang-orang juga menjadi cemas melihatnya.
“Apa perlu ku bawakan ke ruang kesehatan?”
“Jangan! Praktek sekarang untuk penilaian semester. Aku tidak ingin melewatkannya,” jawabnya.
“Tapi kau sedang terluka seperti ini!” lontarku.
“Tidak masalah… A—Aku masih… bisa…” balas sembari berusaha untuk beranjak dan berdiri. Aku pun langsung merangkulnya.
“Kubantu kau sampai kelas,” ucapku.
Aku dan Gavin berjalan perlahan menuju kelasnya yang berada tepat di sebelah kelasku. Akan tetapi, para murid yang menumpuk di saat yang bersamaan membuat semua orang saling berdesakan untuk segera masuk ke dalam kelas. Mau tidak mau kami juga harus ikut berdesakan dengan mereka semua. Hingga akhirnya kami dapat masuk dan aku mengantarnya sampai tempat duduknya. Pak Edwin yang sebelumnya sedang memperhatikan buku pelajaran lantas berjalan menuju pintu dan langsung menutupnya dengan rapat. Seketika semua orang terdiam dan aku langsung mengumpet di bawah meja Gavin.
“Pak, ada—” ujar salah seorang murid dari sebelah bangku Gavin. Ia berniat untuk memberi tahu bahwa ada diriku yang masih berada di dalam kelas, namun langsung dipotong oleh Pak Edwin dengan padangan yang mengerikan.
“Jangan berisik! Bapak akan menjelaskan cara kalian mempraktekkannya.” Di sisi lain, aku yang berada di bawah meja hanya mengumpet seraya merasa cemas.
“Apa yang harus kulakukan?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)