Love Exchange

Love Exchange
Episode 180 : Berkayu dan Pohon Bella


__ADS_3

Hari yang sangat cerah di tengah kerumunan pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi. Cahaya mentari dapat menembus hingga permukaan karena jaraknya yang tak berdekatan dan dedaunan yang tak terlalu rimbun. Tampak orang-orang yang sedang menebang beberapa pohon. Kami terhenti akibat Bella yang tertarik dengan sebuah pohon cemara yang berukuran lebih kecil.


“Lihat! Pohon itu cantik sekali!” lontarnya.


“Perasaanku semua pohon sama saja,” sahut Rhean kebingungan. Sang kusir memberhentikan kudanya lalu kami semua turun dan menghampiri pohon tersebut.


“Pohon yang sempurna…” gumam Bella berseri-seri.


“Sepertinya cocok untuk dijadikan pohon natal,” lanjut Rein.


“Wah, ide bagus!” serunya bersemangat.


“Memangnya boleh mengambil pohon ini?” ucap Icha terheran-heran. Tanpa sadar ternyata sang kusir itu berjalan mendatangi kami dengan sebuah kapak di genggamannya.


“Kalau kalian mau, ambil saja,” ujarnya dari belakang yang seketika mengejutkan kami. Kami pun berniat untuk mengambil pohon tersebut lalu membawanya ke tempat penginapan kami. Sang kusir tampak memikirkan sesuatu.


“Oh iya, Bapak ke sini untuk mengambil kayu, ya?” tanyaku.


“Iya,” jawabnya. Terbesit di kepalaku untuk membantunya lalu kembali dengan pohon ini.


“Bagaimana kalau kita mengambil kayu dulu, lalu kembali ke sini sebelum lanjut ke desa?” usulku.


“Benar juga,” sahut sang kusir yang baru tersadar.


“Tapi bagaimana kalau pohon ini hilang?” tanya Bella khawatir. Sang kusir kembali menuju kereta kudanya lalu mengambil sebuah plang kayu dari sana. Ia memasang plang tersebut tepat di depan pohon.


“Dengan begini pohon itu akan baik-baik saja…” gumamnya tersenyum.


“Wah… Pohon itu diberi tanda…” hembus Bella gembira.


“Bahagia itu sederhana, ya,” cetus Gandra menyeringai.


Kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan hutan yang lebih dalam. Terdapat pohon-pohon yang amat besar di sana. Sebelumnya kami melewati beberapa petak wilayah yang berisi dengan pohon kecil dan berjajar rapi. Sang kusir menjelaskan bahwa setelah pohon ditebang, tentunya harus ditanami lagi supaya dapat dimanfaatkan terus menerus.


“Kita sudah sampai,” ucapnya. Terlihat beberapa penebang sedang mengerjakan pekerjaannya. Kami turun dari kereta kuda sementara sang kusir mengambil kapaknya lagi lalu berjalan menghampiri penebang lainnya.


“Apa kami boleh membantu?” tanyaku.


“Oh, tentu saja boleh! Aku akan sangat terbantu,” balasnya senang.


“Ada beberapa kapak di dalam kereta,” imbuhnya.


“Baiklah!” lontar Bella bersemangat. Kami kembali menuju kereta dengan Bella yang berlarian ke sana. Ia mengambil sebuah kapak dari atas kereta, tetapi ia tampak seperti tak sanggup mengangkatnya.


“Hati-hati!” lontarku cemas.


“Tenang saja, aku bukan anak kecil lagi,” ucapnya.


“Tapi kau tidak sanggup mengangkatnya…” cetus Gandra.


“Tentu saja aku bisa! Nih, lihat!” lontarnya sembari mengangkat setengah tinggi lalu mengarahkannya ke kami. Kami yang terkejut langsung menghindar darinya.


“Kau ingin membunuh, ya?” sahut Gandra kesal.


“Habisnya kau tidak percaya!”

__ADS_1


“Iya, iya, aku percaya. Sekarang biarkan laki-laki yang melakukannya,” balas Gandra yang  tak menghiraukannya.


Kami para lelaki masing-masing membawa kapak digenggaman. Kami semua berjalan menghampiri pria tersebut. Aku masih tak habis pikir dengan Freda yang juga membawa kapak dengan menggulung pakaiannya seperti pekerja kasar. Kami menemui pria itu yang sedang menebang sebuah pohon besar. Kami menyaksikannya hingga akhirnya pohon itu tumbang.


“Awas!” lontarnya. Pohon tersebut tumbang ke atas tanah dengan suara yang menggelegar. Aku dapat merasakan getaran yang dihasilkannya.


“A—Agak mengerikan…” gumam Cassie ketakutan.


“Kalian bisa memulainya, tapi tetap waspada, ya,” ucap pria tersebut.


“Oke!” balas kami serentak.


“Lalu, apa yang harus kami lakukan?” tanya Rein kebingungan. Pria itu memandangi mereka terheran-heran lalu memikirkan sebuah cara agar mereka ikut membantu.


“Hmm… Tidak ada perempuan bekerja di sini…” gumamnya sembari melihat sekitar yang kemudian terkejut melihat Freda yang sedang menebang pohon.


“Astaga naga! Apa yang dia lakukan?” lontarnya tercengang.


“Dia cukup ‘laki-laki’, jadi tidak masalah,” sahut Bella.


“Padahal ia tampak cantik kalau seperti kalian…” lanjut sang kusir tak percaya. Mereka semua terdiam sejenak hingga terbesit sebuah ide.


“Bagaimana kalau kalian mengerjakan pekerjaan wanita?” usul sang kusir.


“Maksudmu memasak? Gimana caranya memasak di tengah hutan seperti ini?” balas Icha kebingungan.


“Yah… Hitung-hitung memakai ilmu kalian saat pelajaran pramuka, kan?”


“Benar juga… Baiklah,” balas Rein.


Bella berjalan menuju kereta untuk mengambil sebuah tombak kayu lalu kembali dan memberikannya pada sang kusir. Ia memegang tombak itu lalu menunjuk sebuah kelinci yang cukup jauh. Mereka semua memfokuskan pandangan pada kelinci itu lalu pria itu melemparkan tombaknya. Tombak tersebut terlempar tepat sasaran. Mereka sontak terperangah melihat keahliannya.


“Tidak mungkin…”


“Bagaimana bisa?” Sang kusir hanya tersenyum melihat ekspresi mereka yang menghibur dirinya.


“Kalian bisa mengolah daging, kan?”


“Bisa,” jawab Rein.


“Sip, ku nantikan hidangan lezat kalian.”


Mereka semua berjalan menghampiri kelinci yang sudah tak berdaya itu. Terlihat darah yang berceceran di atas pasir putih. Cassie tidak sanggup melihatnya dan menunggu mereka dari belakang.


“Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Rein.


“K—Kelinci lucu itu… m—mati…” tutur Cassie gemetaran.


“Kan ingin kita masak,” lanjut Rein sembari menarik tombak yang menancap di tubuh kelinci itu. Ia yang menariknya sangat kuat membuat darah tersebut muncrat ke mana-mana dan mengenai wajah Cassie.


“J—Jangan seperti itu!” lontar Cassie ketakutan.


Mereka kembali menuju kereta yang terparkir lalu menyiapkan segala di dekat sana. Bella dan Icha mengambil ranting-ranting dari pohon yang sudah di tebang  sang kusir. Rein menguliti kelinci itu dan Cassie tidak sanggup untuk melakukannya juga.


“Bantu aku,” ucap Rein.

__ADS_1


“A—Aku tidak bisa!”


“Kau kan sering mengolah daging. Anggap saja ini daging kau beli di pasar.”


“Tidak bisa! Aku masih melihat kelinci itu masih hidup…”


“Ya sudah, kau bantu menyiapkan api dan bumbu.”


“Bumbu? Apa ada yang membawa garam?” tanya Cassie kebingungan.


“Kau lihat tanaman kecil di sekitaran pohon itu, kan? Itu bisa dijadikan bumbu,” balas Rein.


Di lain sisi, kami sedang menebang pohon cemara. Aku baru melakukannya setengah jalan, tetapi hal itu sudah membuatku kelelahan. Aku sempat berkeringat namun langsung menghilang akibat hawa yang dingin. Hart sedang menebang pohon dengan Freda yang juga sedang menebang. Gandra melihat ke belakang lalu tampak Rein dan yang lainnya sedang memasak sebuah hidangan.


“Kau tidak membantu mereka saja?” tanya Hart.


“Aku ingin menyelesaikan ini dulu,” jawab Freda.


“Kau masih sanggup, kan?” lanjut Hart.


“Jangan meremehkanku! Aku tidak jauh dengan kalian,” balasnya.


“Yah… Aku mengira kalau perempuan…” lanjut Hart cengar-cengir.


“Yang membedakan manusia itu setiap individu, bukan golongan atau apalah itu,” ujar Freda.


“Di dunia gim setiap pemain punya perannya masing-masing. Seharusnya kau memainkan peranmu,” tandas Hart.


“Ini aku sedang menjalankan peranku,” balasnya kebingungan.


“Itu bukan peranmu.”


“Lalu apa peranku?”


“Peranmu perempuan.”


“Memangnya itu peran? Aku tidak mengerti dengan arah pemikiranmu,” balas Freda yang agak jengkel terhadap Hart.


“Oh bukan, ya?” tanya Hart tak menyangkanya. Freda menggeleng-gelengkan kepala melihatnya.


“Kau bisa dihajar habis oleh kaum pembela keadilan,” ucap Freda.


Setelah semuanya selesai dari pekerjaan masing-masing, kami semua berkumpul untuk menikmati hidangan yang sudah dibuat oleh Rein dan kawan-kawan. Aku tak mengira kalau makanan tersebut bisa terasa enak walau hanya menggunakan bahan dari alam.  Kami mengobrol santai dengan suasana hangat di api unggun bersama penebang lainnya. Lalu kami memutuskan kembali menuju desa dengan kereta yang sudah terisi penuh oleh kayu gelondongan.


“Ayo kita ambil pohon itu,” ucap sang kusir.


Selepas mengambil pohon dan kembali menuju desa, kami diantarkan hingga di depan tempat penginapan. Kami mengangkat pohon tersebut beramai-ramai ke dalam rumah. Kemudian kami berpisah dengan sang kusir yang akan melanjutkan ke tempat pemotongan kayu. Sebelumnya ia mengucapkan sepatah kata kepada kami.


“Saat malam natal nanti, akan ada pesta memasak juga. Aku tidak sabar dengan hidangan kalian di sana.” Rein membalasnya dengan senang hati.


“Tentu, kami akan meramaikannya.”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2