
Malam hari yang sangat dingin berusaha menembus lapisan tebal menuju kulit kami. Aku berada di tengah keheningan pedesaan tanpa khalayak yang terlihat. Bersama seseorang perempuan di hadapanku aku mengira bahwa suaranya sangat mirip seperti Cassie. Ia yang mendengarku tersentak kaget lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya menoleh ke arahku.
“I—Iya…” tuturnya gugup.
“A—Adelard?” imbuhnya terkejut.
Tiba-tiba saja suasana menjadi sangat canggung dan aku memutuskan untuk berjalan lalu ia mengikutiku. Setelah beberapa langkah aku bertanya-tanya di dalam benakku terhadap dirinya yang pergi keluar rumah pada saat seperti ini, terlebih lagi sebelumnya Freda mengatakan bahwa Cassie bersama Rein di dalam kamar. Ia hanya tertunduk tanpa memandang sekitar. Dadaku terasa sesak kembali namun kali ini aku bisa menahannya.
“Bukankah kau bersama Rein di kamar?” tanyaku kebingungan.
“A—Aku ingin membeli roti…” jawabnya.
“Tumben sekali kau keluar sendirian…” gumamku pelan.
“Kau juga…” balasnya sangat pelan.
Seketika saja kami saling memalingkan pandangan lalu aku merasa tersipu terhadapnya, hal serupa juga dirasakannya. Tidak lama berselang cuaca semakin memburuk dan terjadi hujan salju yang cukup lebat. Aku masih dapat bertahan dan berjalan, namun tidak bagi Cassie. Ia tampak menggigil kedinginan dengan tangan merapat di depan mulutnya. Hingga akhirnya aku melewati toko minuman yang sudah aku kunjungi tadi.
“Ingin masuk ke dalam?” tanyaku.
“K—Ke toko ini?” lanjut Cassie terkejut.
“Tidak apa-apa. Yang penting kita menghangatkan diri dulu,” balasku. Sejenak Cassie melihat sekitar dan hanya ada rumah-rumah yang sudah tertutup rapat. Mau tidak mau ia harus masuk ke dalam jika ingin menghangatkan diri.
“B—Baiklah…” tuturnya.
Kami masuk ke dalam dan suasana di sana lebih ramai daripada kunjunganku sebelumnya. Tampak ada Pak Gled yang masih menempati tempat duduknya yang sama. Aku dan Cassie akhirnya duduk di sebuah meja untuk dua orang. Cassie masih terperangah dengan keadaan sekitar yang sangat ramai dan bising. Tidak jauh dari sini, terdapat pertunjukkan musik di dekat meja pramutama.
“Tidak masalah sementara kita di sini, kan?” tanyaku sedikit khawatir.
“I—Iya… Tak apa…” tuturnya. Beberapa detik kemudian terdapat seorang pelayan menghampiri kami dengan minuman di atas nampannya. Aku langsung mengambil dua gelas tanpa bertanya terlebih dahulu.
“A—Apa ini air putih?” tanya Cassie cemas. Aku yang cukup ragu lantas mencium aroma minuman tersebut kamudian melihat warnanya.
“Iya, ini air putih,” jawabku.
“Terasa hangat…” gumamnya.
“Ya, untung saja kita sempat di masuk ke sini,” sahutku tersenyum.
Setelah menghabiskannya tiba-tiba saja suasana menjadi canggung satu sama lain. Aku tidak tahu harus berkata apa padanya. Kami sama-sama tidak memiliki bahan pembicaraan untuk dibicarakan. Aku memandang keramaian untuk menenangkan diri. Hingga akhirnya aku merasa tenang melihat kehangatan orang-orang dan teringat dengan teman-temanku.
“Senangnya bisa berteman dengan mereka…” hembusku.
“A—Apa semuanya akan berpisah saat program berakhir?” tutur Cassie pelan. Aku tersentak kaget mendengar perkataannya yang tidak kusangka sebelumnya.
“K—Kenapa kau berpikir begitu?” tanyaku.
__ADS_1
“Tiba-tiba saja terlintas di kepalaku…”
“Yah… pasti ada kalanya berpisah…” balasku termenung. Kami sempat saling terdiam selama beberapa waktu.
“Bagaimana denganmu dan Rein nanti?” ucapnya yang seketika saja mengejutkanku setengah mati.
“Kenapa tiba-tiba dia menanyakan seperti itu? Seperti bukan dia,” gumamku terheran-heran dalam hati.
“A—Aku tidak tahu…” jawabku gelagapan. Seketika saja wajahku berkucuran keringat tanpa sadar. Aku ikut tertunduk dan merasakan sesuatu yang aneh pada diriku saat ini. Kepalaku terasa sedikit pusing dan jantungku berdegup hebat.
“Kau akan kembali seperti waktu itu, kan?” tanya Cassie.
“E—Eh? Maksudmu?” balasku terkejut sekaligus kebingungan. Ia menunjuk dua jari satu sama lain dengan wajahnya yang malu-malu.
“Aku tidak menyangka kau akan berpacaran…”
“Y—Yah… Aku juga tidak habis pikir dengan diriku ini…” balasku.
“Untuk apa kau melakukan itu?”
“M—Mencari pengalaman…?”
“Kalau sudah berpengalaman?”
“Apa yang kau bicarakan? Kenapa kau jadi begini?” tanyaku kebingungan terhadap dirinya.
“Apa yang terjadi padanya?” benakku dan tiba-tiba saja wajahnya Cassie persis berada di hadapanku. Aku terkejut dan langsung memundurkan wajahku darinya.
“Jawab pertanyaanku!” lontarnya dengan wajahnya yang merona. Aku yang melihatnya sontak terperangah dan terucap di lidahku tanpa sadar.
“C—Cantik…” Tampak wajahnya semakin merona berwarna merah mencolok. Wajahnya berkucuran dengan keringat yang sangat banyak.
“Ia terlihat sangat berbeda dengan Cassie yang kukenal…” gumamku dalam hati. Ia mengipas-ngipaskan dengan tangannya dan merasa kepanasan. Hingga akhirnya aku baru tersadar terhadap suatu hal.
“Tunggu dulu, yang kita minum itu air putih, kan?” ujarku terkejut. Aku kembali mengambil gelas kosong tersebut. Pada saat yang bersamaan terdapat seorang pelayan yang lainnya melewati kami.
“Permisi, apa ini minuman?” tanyaku.
“Iya.” Ternyata tepat seperti dugaanku.
“Apa ada air putih?” lanjutku. Kemudian pelayan itu menjawab jawaban yang sama seperti pelayan saat kunjunganku yang pertama.
“Terima kasih,” ucapku pada pelayan itu. Aku beranjak dari tempat duduk dan berniat untuk mengambil air minum untuk kami berdua. Akan tetapi, seketika saja Cassie mendekatiku dan memeluk tanganku. Tangan kiriku merasakan seluruh lekuk tubuhnya itu.
“T—Terlalu dekat…” gumamku kelimpungan.
“Jangan tinggalkan aku!” lontarnya.
__ADS_1
“Aku harus cepat-cepat menyadarkannya,” benakku.
Kami berdua berjalan menuju tempat pramutama berada. Aku tidak ingin Pak Gled melihat kami, namun semua itu sirna saat ia menyapaku dari belakang.
“Yo, Adelard! Kau ke sini lagi?”
“Y—Ya… D—Di luar sangat dingin…” jawabku cengar-cengir. Pak Gled melihat-lihat kami dan kebingungan terhadap Cassie yang bersikap aneh.
“Apa dia pacarmu?”
“B—Bukan! Kami hanya teman,” jawabku. Ia kembali melihat kami dengan pandangan curiga.
“Apa yang terjadi padanya? Mabuk?”
“I—Iya…” balasku. Ia yang mengetahuinya sontak langsung memanggil pramutama dan meminta air minum.
“Air tiga gelas!” Kemudian datang pada kami tiga gelas berisi air minum biasa.
“Kenapa tiga?” tanyaku kebingungan.
“Aku juga mau,” jawabnya yang kemudian meneguk air minum itu. “Cepat beri dia minum,” imbuhnya. Aku langsung mengambil gelas itu lalu memberikannya pada Cassie, tetapi ia tetap menyingkirkan wajahnya dari gelas tersebut. Aku menjadi kebingungan bagaimana caranya untuk menyadarkannya.
“Hanya ada satu cara…” gumamnya.
“Apa…?” balasku terheran-heran. Tiba-tiba saja Pak Gled menggerakkan tanganku lalu menyentuh dada Cassie dengan telapakku. Sontak mulut Cassie terbuka lebar dan menghadap ke atas.
“Sekarang!” lontar Pak Gled. Aku langsung menuangkan air minum ke dalam mulutnya. Hingga akhirnya ia tersadar dengan wajah yang kebingungan.
“Apa yang terjadi padaku…” gumamnya.
“Syukurlah kau sudah sadar…” hembusku lega. Cassie melihat ke bawah dan tercengang melihat tanganku yang masih memegang dadanya.
“Aku tidak ikut-ikutan,” ujar Pak Gled tersenyum sembari mengangkat kedua tangannya. Aku yang baru tersadar lantas menarik tanganku dengan penuh rasa malu.
“M—Maafkan aku!” lontarku. Cassie tidak dapat berkata-kata dan wajahnya merona semerah apel. Kami berdua saling canggung satu sama lain. Pak Gled yang melihat kami kemudian mencari cara agar situasi tersebut tidak berlanjut.
“Sepertinya di luar sudah reda. Mungkin teman-teman kalian sudah menunggu,” ucapnya.
“Oh iya, benar juga,” sahutku.
Kami berdua akhirnya berpisah dengan Pak Gled lalu melanjutkan langkah menuju rumah. Sepanjang perjalanan kami tidak saling bicara dan terus menyembunyikan wajah satu sama lain. Sesampainya di rumah, tampak teman-teman kami yang sudah terlelap, terkecuali Rein yang tiba-tiba saja berada di hadapan kami berdua.
“Kalian berdua dari mana saja?”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1