
Suasana yang dingin seketika menjadi panas seiring dengan rasa panik yang memuncak. Aku dan Cassie berlarian sepanjang lorong menuju ruang guru untuk menemui Pak Froud. Hentakan langkah berlari menarik perhatian banyak orang-orang sebelum akhirnya kami berada di depan ruangan itu.
Sesampainya di dalam ruang guru kami mencoba untuk lebih tenang. Aku tidak ingin dicurigai oleh guru-guru yang tengah ramai di ruang ini. Lantas kami menghampiri Pak Froud. Napas kami yang kembang kempis membuatnya menjadi khawatir.
“Kalian berdua tidak apa-apa?”
“Kap—Kapan tanggal acaranya?” tanyaku langsung tanpa pikir panjang.
“Tulat…?” jawab Pak Froud yang masih kebingungan.
“Astaga. Tiga hari lagi,” cetus Cassie panik. Sontak Pak Froud membaca keadaan dan terkejut setelah menyadarinya. “Jadi kalian tidak melihat surat itu?”
“Iya. Di meja saya tidak ada apa-apa,” jawabku. “Jadi begitu…” balasnya tenang dan berpikir positif. “Salahku juga meletakkan di atas meja seperti itu. Mungkin saja terjatuh lalu terbuang,” imbuhnya menenangkanku. Lalu kami semua berpikir untuk menemukan solusi yang tepat.
“Lalu, apa yang kamu rencanakan, Adelard?” celetuk Pak Froud menyindirku.
“Eh? Rencana apa?” sahutku buncah.
__ADS_1
“Bapak tahu ini mendadak. Anggap saja ini ujian untuk kalian,” tuturnya menenangkan kami.
“Apakah saya bisa bicara dengan kepala sekolah?” pintaku kepada Pak Froud. “Untuk apa?” balasnya bertanya kembali.
“Aku ingin meminta waktu untuk mempersiapkan segalanya,” jelasku pelan.
“Kalau begitu, pergilah. Lakukan yang terbaik yang kalian bisa. Semangat!” ujarnya menyemangati kami. Lalu kami bersaliman dengannya dan pergi menemui kepala sekolah. Sebelum itu Pak Froud menaikkan nadanya kepada kami yang telah berada di pintu.
“Oh iya, jangan segan-segan bicara denganku. Sudah tugasku sebagai pembina kalian,” lontarnya sembari tersenyum. Lalu kami membalasnya dengan mengangguk tersenyum.
Setelah itu aku dan Cassie berjalan cepat menuju ruang kepala sekolah. Waktu istirahat kami telah termakan banyak. Tidak lama lagi bel akan segera berdering kembali. Tak lama kemudian aku meminta izin untuk masuk ruangan dan menemui kepala sekolah.
“Saya sudah membaca semua proposal dari kalian. Sangat menarik. Saya tunggu acara kalian tidak lama lagi. Oh, maaf kalau tiba-tiba saya majukan tanggalnya. Tidak bermaksud untuk membuat kalian kocar-kacir. Tapi saya harap kalian dapat menyesuaikannya.”
“Maaf, Pak. Apa kami boleh tahu alasan Bapak memajukan tanggalnya,” tanyaku pelan sambil menurunkan kepala sembari kontak mata sopan dengannya.
“Ah iya. Pertanyaan yang bagus! Karena pekan depan suhu diperkirakan akan mulai sangat dingin dan saya tidak ingin semua hadirin beku menjadi es batu,” jelasnya sambil cengar-cengir. Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan kepala sekolah yang selalu ceria. Berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya. Terlalu unik, begitulah aku menyebutnya.
__ADS_1
“Yah… Walaupun pekan ini mungkin pembelajaran tidak akan efektif,” celetuknya menghela napas pasrah.
“Apakah kami boleh meminta waktu lebih untuk persiapan?” ucapku tulus.
“Tentu saja, Paduka,” sahutnya tersenyum gurau. “Masih saja begini,” kelitku dalam hati. “Saya meminta izin supaya kelas sepuluh dan sebelas dipulangkan lebih cepat mulai besok,” pintaku.
“Siap, delapan enam! Akan langsung saya infokan sekarang juga,” sambutnya.
“Loh? Penurut sekali… Baguslah…” gumamku tersenyum dalam hati.
“Terima kasih, Pak,” tuturku lalu kami berdua pergi meninggalkan ruangan. Tepat sebelum pintu tertutup ia menyahutiku dengan penuh hormat.
“Sama-sama, Yang Mulia,” tuturnya dengan kepalanya yang menunduk ke arahku. Aku bergumam kepada diriku sendiri dengan rasa jengkel.
“Pantas saja sekolah ini tidak waras, kepala sekolahnya saja begini.”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)