Love Exchange

Love Exchange
Episode 72 : Cendera Mata


__ADS_3

Rona langit yang semakin membiru, awing-awang telah menghembus, burung-burung berkicau syahdu, dan para insan yang berlalang ke sana kemari, kami menikmati sisa liburan pada hari terakhir ini. Teruntuk hari ini kami berencana untuk membeli buah tangan dari kota ini.


“Ayo cepat, Lamban!” lontar Freda yang sudah berada di luar bersama yang lainnya, sedangkan Hart masih saja berada di dalam mengambil sesuatu.


“Sabar, sabar,” sahutnya. Tak lama kemudian ia keluar dari dalam dan kami pun siap berangkat. Kami semua berjalan menuju jalan utama, tetapi ia masih saja berada di belakang.


“Apa tidak apa-apa meninggalkannya?” tanya Emery kepada Freda.


“Biarkan saja. Anak itu juga tidak akan tersesat,” balasnya sedikit kesal. Tepat sekian detik kemudian sebuah mobil datang ke arah kami, dan ternyata adalah Hart yang sedang mengendarai. Lantas ia membunyikan klakson seraya menyapa kami.


“Yo! Pagi!” sambutnya tersenyum.


“Kau sedang apa?” tanyaku heran.


“Lihatlah sendiri! Ayo cepat naik!” jawabnya sembari mengajak kami naik ke mobil itu. Kami tidak tahu apa yang dipikirkan olehnya.


“Bukankah kita bisa berjalan kaki?” tanya Milard kemudian menutup pintu dan Hart menancap pedal gas.


“Kalian ingin membeli oleh-oleh, kan? Aku yakin pasti akan banyak barang yang ingin kalian beli. Jadi aku membawa mobil ini,” jelasnya yang sedang fokus terhadap jalan.


“Oh iya, ya…” hembus Eledarn tersadar.


“Tumben sekali otakmu cair,” cetusku bercanda.


“Jangan salah. Begini-begini aku pintar, lho,” balasnya.


“Iya deh, Anak Pintar,” sindir Freda menyahutinya.


Selama perjalanan kami tidak luput dari pembicaraan dari yang berisi hingga abstrak. Setibanya di Pasar Merah terlihat keramaian orang-orang berjual beli, namun Hart tidak memberhentikan mobilnya sehingga membuatku bingung.


“Eh? Kita melewati pasar,” ucapku memperingatinya, tetapi dengan santai ia tidak menanggapiku.


“Kita akan ke mana?” tanya Cassie penasaran sembari melihat jendela.


“Lihat saja nanti,” jawab Hart tenang.


“Lah katanya kita ingin membeli oleh-oleh?” cetus Freda keheranan dan terlanjur gemas. “Oi, jawab!” tambahnya menegaskan Hart yang asyik mendengarkan lagu.


“Iya! Ini kita mau beli oleh-oleh! Sabar…!” teriak Hart menjawabnya. Kemudian situasi reda dan kami melanjutkan dengan bersenang-senang menyanyi bersama seraya mendengarkan music di radio.


“Aduh sakit perut… Suaranya juelek banget!” seloroh Eledarn menyinggung Freda, tetapi ia tidak menggubrisnya dan tetap bernyanyi ria, begitu pula dengan yang lainnya.


“Wah suaramu bagus sekali,” puji Cassie ke arahku. Sontak aku menjadi malu seraya berkata, “T—Terima kasih…”


“Cih, tidak usah sok malu begitu, Alien!” sahut Hart menyindirku. Lantas emosiku berubah seketika menjadi kesal terhadapnya.


“Betul! Kau kan alien, kami juga sudah tahu kalau kau bisa melakukan apa pun,” lanjut Freda menambah ucapan Hart.


“Iya, jauh sekali perbedaannya dengan Mak Lampir,” sahut Eledarn.


“Hei! Wajar tidak semua orang bisa nyanyi!” tegas Freda kesal.


“Tuhkan Mak Lampir sudah marah,” imbuh Milard cengengesan. Seketika suasana menjadi hangat dan penuh gelak tawa. Kemudian Emery mengajak kami untuk bernyanyi bersama-sama lagi.


“Ayo kita nyanyi lagi,” ajaknya senang.

__ADS_1


“Eits! Yang suaranya pas-pasan harap sadar diri, ya!” tutur Hart menambahkan


“Heleh, seperti suaramu bagus saja,” lontar Freda. Lalu Cassie mengambil alih pembicaraan.


“Kalau begitu kita dengarkan suara Alien saja… Hihihi…” celetuknya tertawa pelan. Aku pun mendadak jadi tersipu malu dan sungkan. Akan tetapi teman-temanku menyemangatiku untuk menyanyikan setidaknya satu lagu. Sembari bertepuk tangan mereka semua memintaku untuk bernyanyi.


“Adelard… Adelard… Adelard…” Kemudian aku menerima permintaan tersebut sambil menarik napas pasrah.


“Huft… Baiklah… Tapi satu kali saja, ya?”


“Oke,” balas Freda. Lalu aku pun bernyanyi selama satu putaran. Sesekali aku lupa dengan liriknya, tetapi aku berusaha untuk tetap tenang. Selepas itu semua orang terpukau takjub dengan diriku.


“Hebbbat!” ungkap Freda. Sementara itu Cassie termangap dan tidak bisa berkata apa-apa.


“Bagaimana bisa makhluk seperti ini melakukan segala hal?” gumam Milard tidak percaya. Tak lama kemudian ia teringat seraya berkata, “Oh iya, kau kan alien.” Tanpa disadari kami telah sampai di tempat tujuan.


“Sudah kagum-kagumnya? Kita telah sampai nih,” cakap Hart kepada kami semua.


“Oiya, aku sampai benar-benar lupa tujuan awal kita,” balas Emery. Aku pun langsung mengalihkan perhatian agar diriku tidak grogi dengan suasana seperti ini.


“A—Ayo kita belanja!” ajakku sedikit gagap.


“Ayo!” sahut Freda bersemangat.


Seturunnnya kami dari mobil terlihat bangunan besar dan penuh dengan orang-orang. Terpampang di depan gedung tersebut menandakan pusat perbelanjaan cendera mata.


“Ini mah mal, bukan toko,” cetus Freda.


“Yah, bisa dibilang begitu,” balas Hart.


Matahari terus beranjak dan kini sudah mencapai puncaknya. Kami semua sudah membeli semua yang kami inginkan. Aku membeli beberapa gantungan kunci, poster, lukisan pemandangan, dan buku-buku yang belum pernah aku lihat di tempat lain sebelumnya. Lalu kami semua bertemu kembali di titik temu yang sudah ditentukan. Lagi-lagi Hart menghilang bersama dengan kendaraannya dan seketika membuat kami semua panik.


“Loh? Dia ke mana?” tandas Freda bertanya-tanya.


“Apa tidak ada yang bersamanya tadi?” lanjut tanyaku gelisah. Lalu semuanya menjawab dengan menggeleng-geleng kepala. Tak lama kemudian Hart datang dengan mobil tersebut. Lantas kami semua menghampirinya dan mengamuk marah padanya.


“Kau membuat kami khawatir, tahu!” bentak Freda sembari memukul pintu. Seketika Hart bergemetar takut dengannya.


“M—Maaf… Ta—Tadi aku mengambil semua koper kita.”


“Maksudmu?” lanjut tanya Eledarn heran.


“Arah jalan pulang tidak searah dengan pondok penginapan, jadi kita bisa memangkas waktu agar tidak tidak terbuang begitu saja,” jelasnya.


“Tapi, bagaimana kalau ada yang tertinggal? Memangnya kau tahu barang bawaan kami semua?” imbuhku bertanya padanya.


“Tenang saja, semuanya sudah bereskan oleh para pelayan di sana. Tidak akan ada yang terlewat,” jawabnya. “Kalau tidak percaya cek saja sendiri di belakang,” tambahnya. Kemudian kami mengecek kembali barang-barang kami di bagasi mobil. Dan benar saja sama seperti yang dikatakan Hart. Kami pun lega.


“Lalu, berarti kau belum membeli apa-apa?” tanyaku kepadanya.


“Sudah, kok. Kalian saja yang lama,” jawabnya. “Ayo sudah siang nih, cepat naik.” Kemudian kami semua kembali naik ke dalam mobil tersebut.


“Kenapa kau terburu-buru sekali?” tanya Freda penasaran.


“Aku tidak mau cepat sampai. Kali ini aku tidak ingin menginap,” jawabnya.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu,” balas Freda. Lalu mobil kembali berjalan. Akan tetapi aku mengetahui jalan ini tidak mengarah menuju jalan pulang. Kamudian kami tiba di sebuah rumah dan ternyata itu adalah rumah Reynaud.


“Halo, Reynaud!” sapa Hart.


“Sejak kapan kau tahu rumahnya?” tanyaku heran.


“Rahasia,” jawabnya.


Lalu kami semua turun untuk mampir sejenak di rumahnya sebelum pulang. Alangkah terkejutnya kami rupanya ada Wymer dan Thudric juga hadir di sini.


“Siang, Adelard!” seru Thudric ke arahku. Aku pun menyapanya balik. Kemudian teman-temanku saling memperkenalkan diri kepadanya, lalu dilanjutkan dengan bincang-bincang hangat ditemani dengan secangkir teh. Tak lama kemudian Reynaud datang dengan hidangan yang dibawanya.


“Sebelum berperjalanan jauh, silakan makan siang dulu,” ucapnya seraya menyajikan makanan di atas meja. “Jangan sungkan,” tambahnya tersenyum. Lagi-lagi tanpa rasa sopan kedua kecoak itu dengan lahapnya mengambil makanan tersebut. Aku yang jengkel hanya menghela napas dan bergumam.


“Kapan berubahnya nih anak…?”


Selepas itu kami berpamitan dengan mereka. Rasa haru menyelimuti kami semua.


“Sering-sering main ke kota ini. Kami akan terus menyambut kalian,” tutur Thudric tersenyum. Sontak Freda merengek seperti anak kecil.


“Aku tidak mau pergi dari sini!” Seketika kami menjadi kerepotan dengan tingkahnya. Lantas Cassie berusaha menenangkannya.


“Tenang, kita akan ke sini lagi, kok,” ucapnya. Lalu kami semua naik kembali ke dalam mobil, tetapi Freda masih saja menahan diri dan tidak ingin naik.


“Ayo, naik!” lontar Eledarn sembari menariknya. Milard juga ikut membantu Eledarn yang kesulitan. Akhirnya Freda bisa kembali tenang walaupun masih tersedu-sedu.


“Baiklah. Kami pergi,” ucap Hart.


“Sampai jumpa,” sahut mereka bertiga.


“Salam untuk keluarga kalian!” lanjut Reynaud senang. “Sama-sama,” balas Hart tersenyum. Lalu mobil berjalan pelan meninggalkan mereka yang tengah melambai-lambaikan tangan. Kami juga melambaikan tangan ke arah mereka. HIngga akhirnya kami telah keluar dari kota tersebut.


“Liburan yang amat panjang!” ucap Eledarn senang.


“Pengalaman yang tidak akan terlupakan, suasama abad pertegahan, pertarungan pedang, pahlawan kota, mandi bersama-sama, kuil misterius, rumah horror. Banyak sekali yang kita lewati bersama,” papar Hart. Tiba-tiba aku menjadi tersadar sesuatu dan hal tersebut membuatku sedikit kesal.


“Kenapa liburan kali ini segala genre ku alami semua?” batinku bertanya-tanya sebal.


Selama perjalanan pulang kami tidak berhenti di penginapan tidak seperti saat berangkat kemarin. Tak jarang juga kami berhenti di tempat peristirahatan untuk meregangkan otot sejenak dan mengisi perut. Waktu yang ditempuh cukup panjang sampai-sampai kami tiba di kota Snitheria pada keesokan harinya. Hart mengantarkan menuju rumah kami masing-masing dan rumahku yang dituju terlebih dahulu.


“Terima kasih, Hart. Terima kasih juga semua,” ucapku dari depan rumah.


“Sampai jumpa, Adelard!” sahut mereka. Lalu mobil tersebut kembali berjalan meninggalkanku. Dengan barang bawaan yang banyak aku mengankatnya menuju ke dalam rumah.


“Aku pulang,” cakapku. Lantas kedua orang tuaku dan adikku pergi menghampiriku. Melihat wajahku yang lemas ibuku menyuruhku untuk segera beristirahat.


“Nanti saja ceritanya. Istirahatlah dulu,” tuturnya. Lalu aku melangkahkan kaki menuju kamarku, sedangkan mereka merapihkan barang bawaanku. Lain halnya dengan adikku yang mengorek-ngorek koperku mencari oleh-oleh.


Sesampainya di dalam kamar aku langsung berjalan dan melompat ke kasurku. Liburan juga membuatku lupa tanggal. Aku pun melihat sekilas kalender yang tertempel di dinding lalu bergegas tidur, namun seketika aku terbangun kaget dan teringat sesuatu.


“Astaga! Aku lupa mengerjakan tugasku!”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2