Love Exchange

Love Exchange
Episode 102 : Pasar Malam Berduaan


__ADS_3

Malam hari yang sejuk dan langit berwarna gelap dan dihiasi bintang-bintang. Rembulan tampak jelas tanpa awan yang menghalanginya. Jauh dibawah lelangitan, terdapat sebuah pasar terbentang sepanjang jalan utama di pusat kota. Lampu-lampu yang berwarna jingga menyala terang, dan keramaian menumpuk di tempat tersebut. Aku dan Cassie berjalan di pasar tersebut sembari mengobrol santai.


“Wah, ramai sekali di sini,” lontar Cassie senang.


“Iya, akhir pekan membuat orang-orang keluar, ya…” balasku.


Kemudian aku melihat sebuah kios yang menjual menyediakan keripik tempe aneka rasa. Aku pun memesan beberapa bungkus untuk kami berdua. Setelah itu kami melanjutkan berjalan sambil melihat sekitar. Selama melangkahkan kaki, kami menikmati keripik tempe itu.


“Hmmm…! Enak sekali!”


“Tidak salah kau membeli ini,” balas Cassie tersenyum.


“Apa kau menyukainya?” tanyaku penasaran.


“Tentu saja, ini enak sekali!” jawabnya ceria.


“Rasa bumbunya mantap sekali, lain kali aku ingin meminta bumbu yang lebih banyak,” ucapku.


“Plastiknya jangan sampai kau jilat, ya!” ujar Cassie bercanda.


“Duh, ketahuan deh, hehe…” balasku cengengesan.


Beberapa waktu berselang, kami berjalan menuju pusat keramaian yang berada di tengah pasar. Terdengar suara sorakan orang-orang yang bernyanyi dari kejauhan. Kami pun berjalan menuju sumber suara itu. Semakin kami mendekatinya, semakin padat tempat tersebut dengan khalayak. Ternyata terdapat sebuah panggung konser yang menampilkan penyanyi-penyanyi populer.


“Ternyata ada konser juga di pasar ini,” ucapku tidak percaya.


“Aku juga berpikir begitu. Tempat ini tampak seperti festival ketimbang pasar,” sahut Cassie. Suasana yang sumpek dan ribut dengan lontaran suara penonton membuat Cassie menjadi tidak nyaman.


“Bisakah kita cepat-cepat menjauh dari sini?” pinta Cassie sembari menutup kedua telinganya.


“Eh? Kau tidak begitu suka dengan music, ya?” balasku kebingungan.


“Aku suka musik, tapi aku tidak suka kerumunan seperti ini,” jawabnya.


“O—Oh, baiklah kalau begitu, ayo kita lihat-lihat tempat lain,” ucapku. seraya mengajak Cassie pergi.


Kami pun berjalan pergi menjauhi panggung konser tersebut. Semenjak kami berada di pasar ini, tidak ada tanda-tanda keberadaan Adelard dan Rein. Sampai akhirnya kami memasuki kawasan tempat permainan dan hiburan. Terlihat berbagai tenda kios baik berukuran kecil hingga besar sekalipun. Aku melihat sebuah kios permainan yang menurutku seru.


“Ayo kita coba permainan itu!” ajakku bersemangat dan berlari menghampiri tempat tersebut.


“E—Eh? Gavin! Tunggu aku!” seru Cassie dari belakang.


Aku mengunjungi kios permainan menembak hadiah. Sesampainya di sana aku membayar untuk lima kali peluru tembakan. Cassie yang baru tiba juga melakukan hal serupa. Ia mengambil senjata yang berisikan lima peluru karet. Di hadapan kami terjajar berbagai hadiah yang bisa kami dapatkan bila tembakan tersebut menjatuhkannya.

__ADS_1


“Kau duluan,” tutur Cassie tersenyum.


“Baiklah,” ucapku berlagak sombong.


Kemudian aku membidik senjataku yang mengarah sebuah boneka beruang. Aku pun menembak selama beberapa kali, namun tidak ada satu pun peluru yang mengenai benda itu. Aku sangat kesal dan sekarang adalah kesempatan terakhirku. Cassie memperhatikanku sambil memegang senjata di tangannya. Sebelum aku menarik pelatuk, ia sempat menyemangati aku terlebih dahulu.


“Semangat! Kau pasti bisa!”


Lalu aku tersenyum kepadanya. Tidak lama kemudian, pelatuk senjata tersebut aku tarik dan mengeluarkan peluru karet itu. Aku sudah membidik sasaran terlebih dahulu. Peluru tersebut akhirnya dapat mengenai boneka dan menggoyangkannya, tetapi tidak sampai terjatuh.


“Grrwaaahh! Kenapa tidak jatuh?” lontarku kesal.


“Wah, sayang sekali…” balasnya tersenyum. “Sekarang giliranku,” lanjutnya sembari mengambil posisi layaknya seorang penembak jitu.


Aku sedikit terkejut melihatnya bersikap seperti itu. Cassie pun mengarahkan sasarannya ke benda yang diinginkannya. Aku memperhatikannya dengan serius, begitupun penjaga kios tersebut yang sama-sama melototinya. Lantas ia menembak dengan cepat dan tepat, sampai-sampai aku tidak melihat jeda di setiap tembakannya. Ia berhasil menjatuhkan lima benda sekaligus. Sontak aku dan penjaga kios hanya melongo tidak percaya melihatnya.


“K—Kok bisa…?” tanyaku menganga.


“H—Hebat sekali…” lontar penjaga kios itu. Cassie pun bergaya sembari meniup ujung senjata yang mengeluarkan asap. Lalu ia tersenyum dan berlagak sombong di depan kami berdua.


“S—Siapa kau sebenarnya? Kau bukan agen rahasia, kan?”


“Hanya seorang gadis biasa!” jawabnya menyeringai lebar.


“Selamat! Aku baru lihat ada orang sejago ini,” ucapnya.


“Apakah anda buka kembali minggu depan?” tanya Cassie.


“Ya, kami buka setiap pekan.”


“Bisakah anda menyimpannya dulu? Aku akan kembali lagi ke sini pekan depan,” pinta Cassie kepadanya.


“Oh, baiklah. Akan kusimpan, dan ini kertas untuk mengambilnya nanti.” Cassie di berikan selembar kertas sebagai bukti dan tanda kalau ia telah mendapatkan hadiah tersebut.


“Terima kasih! Sampai jumpa!” lontar Cassie gembira.


“Sampai jumpa pekan depan!” serunya.


Aku dan Cassie meninggalkan kios tersebut dan melihat tempat-tempat lainnya. Aku masih kebingungan dengannya yang menyimpan hadiah tersebut.


“Kenapa kau menyimpan hadiah itu? Padahal kita bisa mengambilnya lagi saat mau pulang nanti,” tanyaku penasaran.


“Ribet sekali, aku juga tidak ingin memperlihatkannya ke Adelard dan Rein,” jawabnya.

__ADS_1


“Ingin kau jadikan hadiah?” lanjut tanyaku kembali kepadanya.


“Bisa jadi, kita lihat saja nanti.”


Tak lama kami berjalan, aku melihat sebuah tenda besar yang tertulis dan menunjukkan bahwa tempat hiburan tersebut adalah rumah hantu. Dari dekorasi luarnya saja sudah menjawabnya. Aku sempat terdiam sejenak melihat tempat itu di hadapannya. Terdapat sebuah barisan antrean yang cukup panjang. Seketika aku tertarik dan adrenalinku terpancing.


“Aku ingin mengajak semuanya ke sini,” gumamku dalam hati. Cassie yang berada di depanku kemudian berhenti dan menoleh ke arahku.


“Gavin! Apa yang sedang kau lakukan? Ayo!”


“Ya, aku datang!”


Tidak jauh dari rumah hantu, tampak sebuah kios permainan menangkap ikan mas. Cassie pun mengajakku untuk menghampiri tempat tersebut dengan penuh semangat.


“Aku ingin mencobanya!”


“Oke!”


Kami berdua memainkan permainan tersebut. Masing-masing dari kami diberikan tiga buah stik jaring tipis yang mudah sekali sobek. Setelah membayarnya, kami berdua mencoba untuk menangkap ikan-ikan kecil itu. Aku mencoba menangkap sebuah ikan dengan cepat, namun ikan tersebut lolos lantaran jaring yang tersobek lebar.


“Aduh… Sedikit lagi,” hembusku geregetan.


“Hampir,” sahut Cassie yang juga gagal sepertiku.


Setelah tiga kali percobaan, kami tidak mendapatkan satu ikan pun. Kemudian kami pergi dari kios tersebut dan berjalan melihat kios-kios lainnya.


“Yah, kita sama-sama gagal, ya…” ucapku cengar-cengir.


“Iya, sulit sekali menggunakan jaring seperti itu,” balas Cassie sedikit sebal.


Waktu terus berjalan dan hari telah sangat larut, namun keramaian masih terjadi hingga detik ini. Hawa yang semakin sejuk membuatku lapar.


“Cassie, aku lapar, ayo kita makan,” ajakku.


“Ayo, aku juga sudah lapar,” balasnya. Lalu kami berjalan mencari sebuah restoran untuk mengisi perut.


Kami pun memutuskan untuk makan di sebuah restoran cepat saji yang tidak begitu jauh. Tempat ini cukup ramai dan setiap meja kasirnya dipenuhi oleh antrean. Kami mengantre di sebuah barisan itu, sebelum akhirnya aku menjatuhkan dompetku dan seseorang memanggilku dari belakang. Pada saat itulah akhirinya kami menemukan Adelard dan Rein, meskipun kami semua sempat terkejut satu sama lain, termasuk diriku.


“Loh, ternyata kalian ada di sini?”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2