
Mentari cerah dan cakrawala berwarna biru muda dan lukisan awan yang cantik nan indah pada petang hari menyelimuti diriku yang sedang pergi menuju tempat bertemu dengan Eledarn sesuai yang telah kami bicarakan kemarin. Hari ini kami diundang untuk datang ke rumah Kyra untuk merayakan pesta ulang tahunnya. Aku telah dahulu sampai di stasiun namun belum terlihat tanda-tanda kedatangan Eledarn. Lalu aku menunggu Eledarn sembari melihat sekitar.
Tak lama kemudian ia memanggilku dari kejauhan dan berlari menuju kepadaku. “Adelard!”
“Maaf tadi aku mampir membeli kado dahulu,” ucap Eledarn yang terengah-engah.
“Kado?” balasku kebingungan. “Oh iya! Aku lupa!” cetusku.
“Ya sudah kita naik kereta dulu. Nanti bisa kau beli selagi di jalan nanti,” tuturnya dan mengajakku untuk segera menaiki kereta agar tak tertinggal kereta yang datang setengah jam sekali.
Setelah beberapa menit menaiki kereta akhirnya kami turun di stasiun yang dekat dengan rumah Kyra. Kami pun menyempatkan mampir ke salah satu toko buku. Menurutku sepertinya anak seperti Kyra akan menyukai buku cerita anak-anak. Saat memutari rak-rak buku di toko tersebut, Eledarn melihat seorang perempuan yang tampak seumuran dengan kami.
“Adelard, lihatlah. Tampangnya seram sekali,” bisiknya membicarakan perempuan tersebut. Sedangkan aku yang sedang melihat-lihat buku menjadi terganggu dengan perilakunya. Aku pun menoleh dan melihat perempuan itu. Ternyata benar yang dikatakan Eledarn. Tapi aku tidak ingin membuat masalah jadi aku tak ambil pusing dengan itu. Lantas aku melanjutkan mencari buku yang cocok.
Selepas menemukan buku yang menurutku bagus dan cocok untuk dijadikan kado hadiah lalu kami mengantre di depan kasir posisi kami tepat di belakang perempuan tadi. Eledarn masih saja berbisik kepadaku membicarakannya. Lantas perempuan tersebut menoleh ke arah kami dengan wajah gusar. Sontak Eledarn terdiam tanpa kata dan aku terkejut melihat wajah seperti itu terpampang sangat dekat tepat di depan mataku.
__ADS_1
Perempuan itu tidak berbicara apa-apa. Kemudian ia menghadap ke depan kembali. Aku dan Eledarn menarik napas lega. Aku pun berbisik kepada Eledarn.
“Jangan bertingkah yang tidak-tidak,” bisikku kesal kepadanya. Ia membalasku dengan nada bercanda.
“Ampun, bos.”
Sehabis membayar kami pun keluar dari toko tersebut dan pergi menuju rumah Kyra. Namun tak kusangka arah langkah kami searah dengan perempuan itu. Aku dan Eledarn terlihat seperti orang aneh yang terus mengikuti gadis tersebut. Tak lama kemudian ia berbalik ke belakang dan lantas kami terhenti dan terdiam.
“Apa yang kalian mau? Dasar penguntit!” gusarnya marah dan membentak kami. Aku bingung harus menjawab bagaimana.
“Kalau kau berbuat aneh-aneh akan kuhajar kalian!” pungkasnya geram dengan menunjukkan tangannya yang dikepal kepada kami. Lalu kami semua berjalan kembali seperti biasa.
“Tidak terbayang bila ia memiliki adik,” celetuk Eledarn pelan kepadaku.
Akan tetapi,~~~~ setelah beberapa menit kemudian kami masih dalam arah yang sama. Sampai akhirnya ia berhenti dan pergi memasuki gerbang rumah itu. Namun tak kami sangka bahwa tujuan kami sama. Aku yang berada di depan gerbang rumahnya terdiam.
__ADS_1
“Ada apa lagi kalian? Benar saja ya kalian penguntit!” lontarnya dengan mengarahkan tangannya menonjok Eledarn. Lantas aku menahan tangannya dan berkata, “Tujuan kami dari awal memang ke sini.”
“Hah? Apa maksudmu?” lanjutnya bertanya dengan kesal.
“Kami diundang ke sini,” jelasku sambil menujukkan kertas yang diberikan oleh ibunya Kyra kemarin.
Beberapa saat kemudian Kyra membuka pintu keluar dan menghampiri kami.
“Kakak!” sapa Kyra berteriak.
Sontak aku dan Eledarn terkejut mendengarnya.
“Kakak?” teriak kami serentak.
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)