Love Exchange

Love Exchange
Episode 147 : Percikan Api Drama


__ADS_3

Kala siang hari dengan sinar yang cukup terik, kami baru saja memesan beberapa makanan dan minuman. Tidak lama kemudian Adelard baru teringat kalau ia belum membeli minuman untuknya. Ia pun pergi meninggalkan kami seorang diri. Sejak kemarin, pikiranku masih terhantui dengan sikap Adelard yang tidak kunjung membaik kepadaku. Aku tertunduk dan memikirkan cara untuk mengubah Adelard seperti yang aku kenal.


“Bagaimana caranya supaya dia bersikap seperti biasa denganku?” gumamku pelan, namun Gandra yang berada di sampingku dapat mendengar dengan cukup jelas.


“Kau masih memikirkannya?” tanya Gandra.


“Tentulah! Apa perasaanmu kalau diabaikan pacarmu sendiri?” balasku dengan menaikkan nada ke arahnya.


“Memangnya dia mengabaikanmu?” lanjut Gandra.


“Tidak, sih. Tapi tiba-tiba saja dia berubah dan aku tidak menyukai sikapnya itu,” jawabku.


“Kalau begitu, kenapa kau tidak mengungkapkannya saja?” usulnya.


“Aku takut ia akan marah denganku. Aku tidak ingin berpisah dengannya,” ucapku murung. Pada saat yang bersamaan Gavin datang menghampiri kami berdua.


“Wah, kau sangat cinta padanya, ya,” celetuk Gavin. Aku hanya terdiam dengan kepala tertunduk. Gandra yang memiliki nasihat lantas memberitahukannya kepadaku.


“Kau punya hak untuk mengatakannya kepada Adelard. Jika kau menyukainya, bukan berarti kau diperbudak olehnya, kan? Menurutku, kalian berdua masih jauh dari sebutan pasangan yang klop,” paparnya.


“Tapi kalian semua sering bilang kalau kami adalah pasangan serasi,” balasku berwajah sedih. Tiba-tiba saja suasana hatiku menjadi kelabu seakan-akan hujan akan terjadi di dalam diriku.


“Kami melihatmu sangat akrab, tapi di belakang itu semua pasti berbeda, kan?” sahut Gavin.


“Kalau dia saja bisa marah padamu, kenapa kau tidak memarahinya juga? Apalagi kau kan suka sekali marah,” imbuh Gavin menyinggungnya.


“Jangan bercanda!” lontarku kesal.


“Gavin benar, sesekali kau perlu mengingatkannya,” lanjut Gandra. Teman-temanku yang lainnya lantas penasaran melihat kami bertiga yang tampak sedang berbincang serius.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Bella. Pada waktu yang bersamaan seorang pelayan meletakkan pesanan kami satu per satu. Aku kebingungan saat pelayan meletakan makanan terakhir sedangkan tidak terdapat pesanan Adelard.


“Ada pesanan yang kurang,” ucapku kepada pelayan itu.


“Oh, tadi sudah di ambil dengan Saudara Adelard,” jawabnya.


“Di mana?” lanjutku.


“Di kios-kios makanan. Aku permisi dulu, ya,” balasnya kemudian meninggalkan kami semua. Aku tidak habis pikir dengan Adelard yang juga belum kunjung kembali sejak tadi.


“Apa yang dia lakukan?” gumamku.


“Mungkin sambil menunggu pesanan, dia menghabiskan makanannya di sana,” jawab Gandra.

__ADS_1


“Apakah selama itu?” lanjutku tidak percaya.


“Lihat saja sekitar kita, sangat ramai,” balasnya. Aku pun akhirnya memercayai Gandra dan kami pun menyantap makan siang.


Setelah menghabiskan santap siang, kami melanjutkan keseruan dengan pergi berkeliling dan berencana untuk mencoba wahana-wahana air yang belum sempat kami naiki. Kami berjalan menuju seluncuran air yang terlihat sangat jelas dari kejauhan, sementara itu Gandra dan Gavin masih berada di belakang kami dan asyik mengobrol berdua saja.


“Kau mengadu domba mereka?” tanya Gavin tak habis pikir.


“Tidak, aku hanya merespon mereka saja. Kalau berakhir seperti itu ya sudah,” balas Gandra tanpa rasa bersalah.


“Kau pandai mempengaruhi orang, ya,” lanjut Gavin.


“Sesekali mereka harus tahu pahitnya realita,” ujar Gandra tersenyum. Bella yang menoleh ke belakang dan melihat mereka lantas memanggil mereka.


“Kalian! Ayo!” teriaknya. Mereka berdua berlari menghampiri kami dan melanjutkan langkah kaki menuju wahana yang kami tuju. Setibanya di depan wahana tersebut, tampak seluncuran air yang sangat tinggi beserta suara teriakan-teriakan orang yang menaikinya.


“Sepertinya seru!” lontar Rhean bersemangat, lain halnya dengan Cassie yang tampak sangat ketakutan. Gavin pun mendatangi Cassie dan berusaha untuk menenangkannya.


“Tidak perlu takut. Kau sangat penasaran, kan?” ucap Gavin.


“Beranilah walau kau takut!” cetus Icha ceria. Kami yang mendengarnya hanya tertawa kecil seraya menggeleng-gelengkan kepala.


“Kutipan macam apa itu?” sahut Rhean. Cassie yang melihat kami sangat bersenang-senang lantas tersenyum dan mencoba untuk memberanikan diri.


“Kalian berdua saja, biar aku yang sendiri saja,” ucap Gandra.


“Kau yakin?” tanya Bella lalu Gandra membalasnya dengan mengangguk.


Pada saat yang sama aku melihat seseorang dari kejauhan yang terlihat mirip dengan Adelard. Tampak ia sedang berjalan dengan orang lain yang berambut panjang dan tak lain adalah wanita. Mereka berdua semakin mendekat dan pandanganku mulai tampak jelas. Benar saja, mereka adalah Adelard dengan seorang wanita yang tidak dikenal. Sontak aku terperangah dan terdiam tanpa kata-kata. Perasaanku campur aduk dan tidak tahu harus berbuat apa.


“Apa dia benar-benar sudah tidak ingin lagi denganku?” racauku di benakku. Bella yang sudah berada di atasku lantas memanggilku.


“Rein! Ayo!” serunya. Aku pun tersadar dan bergegas menghampirinya. Gandra yang melihatku sontak kebingungan dan memandang ke arah pandanganku sebelumnya. Ia juga melihat sosok Adelard yang berjalan dengan orang lain. Lalu ia bergegas menaiki tangga dengan perasaan senang.


“Sepertinya akan semakin menarik,” gumamnya sendiri.


Selama berseluncur aku hanya merenenung dan terdiam. Hanya sesekali saja aku berteriak untuk meramaikan suasana. Kepalaku masih terbayang-bayang dengan apa yang kulihat tadi. Hingga sesaat kami  berakhir dari seluncuran aku langsung naik ke tepi kolam.


“Woah! Seru sekali!” lontar Gavin senang, sementara itu Cassie hanya terdiam dengan seluruh tubuhnya yang gemetaran. Semua orang tampak bersenang-senang terkecuali aku.


“Aku ingin ke toilet dulu,” ucapku seraya berjalan meninggalkan mereka.


“Oke! Kita tunggu di sebelah sana, ya,” balas Rhean. Mereka berjalan menuju wahana seluncuran lainnya. Tidak lama berselang, tiba-tiba saja terdengar suara Gandra yang datang memanggilku.

__ADS_1


“Rein, kau tidak apa-apa?” Sontak aku menoleh terkejut dan tersenyum tipis ke arahnya.


“Aku tidak apa-apa,” jawabku.


“Kau yakin?” tanya Gandra. Aku berniat untuk cepat-cepat meninggalkan Gandra, tetapi aku tidak tahu harus berkata apa.


“I—Iya, aku baik-baik saja…” balasku. “Aku harus ke toilet,” imbuhku lantas bergegas meninggalkannya.


“Aku melihat apa yang kau lihat,” ujarnya seketika memberhentikan langkahku. Aku terkejut tak menyangka kalau Gandra benar-benar mengetahuinya.


“Be—Benarkah?” tanyaku tak percaya.


“Dia berjalan dengan orang lain, kan?” balas Gandra. Aku hanya terdiam dengan kepala yang tertunduk. Sontak Gandra berjalan mendekatiku lalu menenangkanku seraya mengusap-usap punggungku.


“Mungkin itu adalah momen yang tepat untukmu melampiaskan semuanya.”


“Tapi, bagaimana kalau—” lanjutku namun dipotong olehnya.


“Tidak baik dipendam terlalu lama. Mumpung ada kesempatan, jangan dilewatkan,” tandasnya.


“Baiklah…” balasku. Kemudian aku kembali terdiam dan membingungnkan Gandra.


“Kau sudah merasa tenang, kan?” tanya Gandra.


“Kali ini aku benar-benar ingin ke toilet,” jawabku menahan rasa kebelet.


“Oh, kalau begitu aku akan kembali ke yang lain,” ucapnya cengengesan.


Aku pun langsung bergegas menuju toilet terdekat. Di lain sisi, Gandra masih melihat diriku sejenak lalu berjalan menghampiri teman-teman. Akan tetapi, tiba-tiba saja Gavin muncul entah dari mana dengan segelas minuman di tangannya. Sontak Gandra terkejut dan terheran-heran.


“Loh? Kau masih di sini?”


“Aku habis beli minum di sana,” jawabnya. “Aku mendengar kalian sedikit-sedikit,” imbuhnya cengar-cengir.


“Kita lihat saja nanti ke depannya. Kuharap kau jangan banyak ikut campur,” balas Gandra.


“Kau berdosa sekali ya, Dra,” lanjut Gavin tergelitik tawa. Gandra pun ikut tertawa bersama dengannya.


“Sebentar lagi kita akan melihat sebuah drama yang lebih seru.”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2