
Langit kelabu menjadi pandangan langit pertama yang terlihat setelah bangun tidur. Udara dingin melayang-layang dengan pisau lancipnya yang menusuk kulit. Pandangan menjadi terhalang oleh halimun berselimut tebal di atas permukaan. Ruang tengah menjadi tempat pertemuan kami semua pada hari yang sayu. Berhadapkan dengan buku-buku, kami belajar bersama mengganti hari kemarin yang penuh dengan gejolak.
“Ingin belajar satu pelajaran atau acak saja?” tanya Bella.
“Sepertinya lebih baik kita membuka buku yang sama saja,” jawab Rein.
“Tapi kita ingin mulai dari pelajaran apa?” lanjut Rhean kebingungan.
“Hmm… Bagaimana kalau kita belajar bahasa dulu?” sahut Icha mengusulkan. Gavin yang setuju dengannya lantas menyahutinya dengan menggunakan bahasa Inggris.
“Oh yes, of course.”
“Kenapa tiba-tiba kau berubah logat begitu?” tanya Rein tak habis pikir.
“I want learn EnglishbikosI just know little-little bit,” balas Gavin.
“Bikos?” sahutku tergelitik tawa.
“Baiklah kalau begitu, kita mulai dengan bahasa Inggris dulu,” ucap Rein yang kemudian membuka buku pelajaran tersebut lalu kami juga mengikutinya.
Kami memulainya dari bab pertama dengan surat lamaran kerja. Terdapat sebuah teks bacaan di halaman awal. Pada saat itulah terlintas di benaknya untuk membaca teks tersebut lalu saling mengoreksi cara pengucapan yang diucapkan. Kami yang sedang melihat-lihat halaman tersebut lantas menoleh ke arahnya setelah ia memanggil kami semua.
“Setiap bab punya beberapa teks, gimana kalau kita bergiliran membacanya?”
“Tapi kan tidak ada ujian spelling,” sahut Gavin.
“Setidaknya kan kita bisa tahu cara pengucapannya agar bisa mengerjakan ujian listening,” lanjut Rein kembali.
“Sepertinya ide bagus! Hitung-hitung kita bisa saling belajar pengucapannya,” ujar Icha bersemangat.
“Aku ada tambahan,” cetus Gandra tenang. Kami semua lantas menoleh ke arahnya lalu menyimaknya dengan saksama.
“Mulai sekarang kita bicara pakai bahasa Inggris, bisa kan?” usulnya.
“I agree!” lontar Bella membara.
“But, my tongue is not too good la…” tandas Gavin yang merubah aksen bicaranya lagi. Aku yang mendengarnya sontak menahan tawa.
“Aksen mana lagi yang kau gunakan, Gavin?” pungkas Icha tak habis pikir.
“Eit, eit… English, okay?” sahut Rhean kepadanya.
“Sorry, I forgot,” balas Icha.
__ADS_1
Bebepara detik kemudian kami mendiskusikan tentang siapa yang ingin membaca teks tersebut terlebih dahulu. Karena kurangnya pengetahuan kosakata, kami dibuat bingung satu sama lain. Semua orang tidak ingin menjadi yang pertama. Hingga pada akhirnya hanya ada satu cara yang terlintas di kepalaku. Aku pun menghentikan keributan yang mereka lakukan sampai-sampai saling berbicara tak karuan.
“Sshh! Quite, please! I have an idea!” seruku.
“Wut?” sahut Gandra kebingungan.
“Wow, you sound like slang,” sahut Gavin.
“How ‘bout we do a challenge?” lanjutku ceria.
“Challenge what?” tandas Rein kebingungan.
Aku pun menjelaskan tantangan tersebut perlahan-lahan dengan bahasa Inggris. Tantangannya adalah setiap kami harus dapat mengartikan bahasa sehari-hari ke dalam bahasa Inggris. Bagi siapa yang tidak dapat mengartikannya dengan tepat, maka ia harus menjadi orang pertama yang membaca teks tersebut. Aku menunjukkan sebuah aplikasi yang sudah terpasang di dalam ponselku.
“Wah, you are so pripered man, ya…” cetus Gavin tertawa kecil.
“Nih anak bicara apa, sih?” gumamku dalam hati.
“Untung saja dia tidak sedang bicara dengan orang asing,” benak Rein.
“Sepertinya kita sudah tahu siapa yang akan kalah,” batin Gandra seraya tersenyum licik.
“What hepen, Gandra?” tanya Gavin yang kebingungan melihat Gandra yang menyeringai seorang diri.
“Sshh! Let’s start the challenge!” lontar Rein yang mulai merasa jengkel terhadap gaya bicara Gavin yang tak karuan itu.
“Hmm… What does it mean?” gumam Gavin seraya menggaruk-garuk kepalanya. Waktu terus berjalan mundur dan kemudian membuatnya panik sendiri.
"Eee… Aduh… Taplak meja bahasa Inggrisnya apa, ya?” gumamnya. Kami hanya tersenyum dan tergelitik tawa melihat tingkahnya yang tampak kalang kabut. Saat detik-detik terakhir, secara serentak kami menghitung waktu mundur bersama-sama.
“Three… Two… One!”
“Nooo…!” teriak Gavin.
Pada akhirnya ia pun membaca teks tersebut sedangkan kami memperhatikannya. Kami yang mendengarnya sontak tergelitik tawa akibat aksen yang digunakannya berubah-ubah setiap kalimat. Sering kali ia membacanya terputus-putus disertai dengan pengucapan kata yang seluruhnya salah. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala saat mendengarnya berucap seperti itu.
“Wow, your spelling was as clear as mud!” lontarku menyindirnya, namun ia yang tidak terlalu mengerti maksud yang sebenarnya lantas merasa senang dan mengiranya bahwa kalimat tersebut adalah pujian.
“Thank you, thank you…” balasnya sembari menunduk-nundukkan kepalanya. Rein dan Bella yang tidak dapat menahannya lagi sontak tertawa terpingkal-pingkal. Semua orang lantas tergelitik tawa terhadap Gavin, termasuk aku yang merasa terhibur olehnya.
“Why? Is there something wrong?” tanya Gavin kebingungan.
“No, no… Everything alright,” balas Rein yang kelelahan akibat terlalu banyak tertawa. Tak lama kemudian Bella ingin membaca teks yang sama dengan Gavin.
__ADS_1
“I wanna read this one too,” ucapnya.
“Oh, sure. Gavin will be able to compare it,” balas Icha.
“We hope you can listen carefully, Gavin,” sahutku.
“Surely I can!” lontar Gavin sedikit sebal.
Bella pun membaca teks tersebut lalu kami mendengarkannya. Terdengar cara pengucapan yang jauh berbeda dengan cara Gavin mengucapkannya. Suara Bella enak di dengar dan membuat kami mengerti dengan jelas maksud dari perkataannya, tidak seperti Gavin yang membuat kami pusing menyimaknya. Gavin merasa bahwa dirinya masih perlu banyak belajar dan mengetahui beberapa cara pengucapan kosataka yang baru ia dengar.
“Wah… You spell so good… I think I have to learn more…” ucap Gavin terkagum-kagum.
“Thank you…” balas Bella senang.
Kemudian kami melanjukan pembelajaran dengan menyelesaikan soal-soal latihan terkait teks tersebut. Sesekali kami saling bertanya dan berdiskusi satu sama lain, berbeda dengan Gavin yang selalu menanyakan cara penulisan tata bahasa yang benar. Aku pun membantunya dan memberikan beberapa petunjuk praktis yang mudah diingat olehnya.
“Kau bisa mengingatnya, kan?” tanyaku.
“Tentu. Cara ini sangat membantuku,” jawabnya senang.
“Syukurlah… Kau bisa menggunakannya di berbagai kondisi,” lanjutku lalu memaparkannya kembali. Ia baru mengetahui dengan materi yang aku sampaikan.
“Loh? Memangnya selama ini kau ke mana saja?” ujarku tak percaya.
“Aku kebingungan dan tidak tahu harus bertanya apa,” balasnya.
“Tapi saat ujian tengah semester kemarin kau bisa,” tandasku kebingungan.
“Sebenarnya aku bisa sedikit-sedikit, hanya saja aku sangat lemah untuk pengucapannya,” ucapnya.
“Oh begitu…” balasku.
Setelah itu kami melanjutkan belajar untuk bab-bab dan pelajaran-pelajaran yang lainnya. Tanpa sadar petang sudah tiba dan suasana semakin sejuk dan berkabut. Rein dan yang lainnya sudah mulai untuk menyiapkan makan malam, sementara itu aku dan laki-laki yang lain bersantai ruang tengah sembari merapikan buku-buku yang telah kami gunakan. Gavin pun mengeluarkan ponselnya lalu menyoroti kami semua.
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku terheran-heran.
“Dokumentasi,” jawabnya ceria.
“Ide bagus! Kita akan punya kenangan nanti,” sahut Rhean senang.
“Tentu, yang terpenting jangan saling melupakan, ya!” lontar Gavin. Kami pun dengan kompak berseru menyahutinya.
“Oke!”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)