
Keesokan harinya saat jam istirahat kelas kami diramaikan dengan kabar bahwa ada sebuah klub yang anggotanya saling bertengkar. Suasana tersebut membuatku risih dan akhirnya aku memutuskan untuk belajar di perpustakaan bersama Cassie.
Setelah belajar aku menyempatkan untuk mengobrol sebentar dengan Cassie sebelum jam istirahat usai. Aku bertanya tentang tanggapannya mengenai keributan yang kami lihat tadi.
“Apa kau tahu apa yang sedang terjadi di luar sana?” tanyaku berpura-pura tidak tahu. Ia hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kau tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu, ya?” tanyaku lagi penasaran.
“Iya.” jawabnya. “Kau tertarik?” lanjutnya bertanya demikian kepadaku.
“Tidak juga.” sahutku.
Ketika jam istirahat hampir habis kami pun kembali ke kelas. Akan tetapi omongan tentang isu tersebut masih saja berterbangan. Saat aku memasuki kelas Hart dan Freda datang menghampiriku. Kemudian aku mengobrol bersama mereka.
__ADS_1
“Oi, oi… Kau sudah dengar kabar itu?” cetus Freda bertanya kepadaku.
“Klub yang sedang ribut, kan? Aku tidak tertarik.” jawabku lalu pergi ke tempat dudukku. Namun dua kecoak itu masih saja mengikutiku. Sementara itu Cassie sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Aku yang melihatnya menjadi iri karena tidak diganggu oleh siapa pun.
“Andai saja aku seperti dia.” batinku berharap.
“Adelard tidak seruw!” celetuk Hart dengan suara dianeh-anehkan. Aku hanya menarik napas kesal.
“Bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita pergi ke gelanggang bulu tangkis? Hari ini adalah jadwal latihan mereka.” ajak Freda bersemangat seperti sesuatu yang amat penting akan terjadi.
“Bagaimana pula kalian senang dengan hal seperti itu?” tanyaku heran kepada diriku sendiri.
Sepulang sekolah aku pun merapihkan buku-buku ke dalam tasku. Saat aku ingin berjalan keluar dari kelas tiba-tiba saja dua kecoak itu mendatangiku dan menarikku untuk ikut bersama mereka. Aku hanya bisa menghela napas sambil merasa sangat jengkel kepada mereka.
__ADS_1
“Ayo, ayo, Adelard.” cakap Hart dengan kuat memegang kuat tanganku sambil berjalan cepat. “Aku bisa jalan sendiri!” tegasku kepadanya sembari melepas tanganku dari genggamannya. “Siap bos! Hahaha!” canda Hart.
Setibanya di dalam gelanggang kami dipertunjukkan dengan situasi yang ribut melebihi pasar. Percekcokan terjadi antara anggota klub laki-laki dan perempuan. Ternyata mereka hanya sebatas memperebutkan lapangan yang hanya terdapat dua buah. Karena jumlah anggota perempuan dua kali lebih banyak daripada laki-laki maka jadilah perebutan lapangan itu.
Kejadian tersebut sampai-sampai ketua klub kewalahan untuk menenangkan kerumunan yang saling berkelahi bak kucing dan anjing itu. Kemudian ia berlari menghampiri kami.
“Freda! Tolong aku!” teriaknya sambil berlari dan terengah-engah.
“Ada apa?” tanya Freda dengan ekspresi kebingungan. “Lah, udah jelas ribut seperti ini dia malah nanya begitu.” gumamku kesal dalam hati. “Itu liat oi di depan matamu.” sindir Hart kepada Freda sambil mengarahkannya ke tempat keributan.
“Bagaimana ini?” tanya ketua klub itu panik. Aku pun berpikir sambil melihat sekeliling. Sedangkan kedua kecoak itu sedang asyik membahas hal yang tidak penting sama sekali. Seakan-akan tidak ada yang terjadi. Hart juga kegirangan seperti suporter pertandingan sepak bola yang berkobar-kobar.
“Mau tidak mau aku harus membereskannya.” keluhku dalam batin.
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)