
Siang hari yang dingin di mana orang-orang sedang mengisi waktu liburan mereka dengan bersenang-senang. Kami sedang berada di restoran untuk beristirahat sejenak seraya mengisi perut. Sementara itu, aku dan Cassie yang saling bertemu tanpa mengiranya sontak terdiam sekejap sebelum akhirnya Cassie berjalan meninggalkanku dengan rasa penuh canggung.
“M—Maaf… Aku duluan…” tuturnya gugup yang kemudian berjalan seraya menunduk dan menutup-nutupi wajahnya dariku.
“I—Iya…” balasku gelagapan seraya memandang dirinya yang menjauhiku. Kepalaku sekarang penuh dengan pikiran tentangnya. Dengan penuh rasa bersalah ingin sekali diriku untuk menghampirinya, namun entah mengapa ragaku tidak berkata sama.
“K—Kau harus ber…kata…” gumamku berusaha untuk menggerakkan kakiku. Dadaku terasa sangat sesak dan jantungku berdegup kencang sekali. Aku yang telah memaksakan diri lantas menjadi kelelahan dan amat kesal dengan diriku sendiri. Aku memukul dinding dengan napas yang tak beraturan.
“Adelard bodoh!” sesalku. Akhirnya aku berjalan memasuki toilet tanpa memperhatikan langkahku. Pandanganku terasa kosong dengan pikiran yang terus terbayang oleh dirinya.
“Aw!” teriak para wanita yang ternyata aku berada di toilet yang salah. Aku langsung terlompat kaget dan langsung bergegas keluar.
“M—Maaf! Aku salah masuk!” lontarku. Aku berlari menuju toilet laki-laki dan menutup pintu sekat dengan rapat.
“Huft… Apa yang kau pikirkan?” hembusku pelan.
Setelah kembali dari toilet, terlihat teman-temanku yang sudah menunggu di luar restoran. Aku melihat meja makan tempat kami bersantap siang yang sudah bersih dan rapi kembali. Terlihat Cassie yang hanya terdiam menyimak obrolan mereka semua. Wajahnya tampak sedang khawatir dan sedih. Saat aku membuka pintu restoran itu lantas mereka semua menoleh ke arahku.
“Agak lama, ya…” celetuk Rhean.
“Maaf… Tadi cukup ramai,” balasku cengengesan.
“Oh? Begitukah? Perasaanku di dalam restoran tidak seramai itu,” lanjut Gavin kebingungan.
“Sangat ramai sekali sampai lupa menutup warung,” cetus Gandra ke arahku. Aku pun menunduk dan mengecek celanaku yang tanpa aku sadari ternyata resletingku masih terbuka lebar. Sontak aku menjadi sangat malu setengah mati terhadap mereka.
“M—Maafkan aku!” lontarku gugup sembari menutupnya dengan cepat.
“Kau ini ada-ada saja, ya!” sahut Bella tertawa.
Kami melanjutkan kegiatan dengan kembali bersenang-senang dan berseluncur bersama. Sepanjang kebersamaan itu aku dan Cassie seakan-akan memiliki tembok pemisah yang menghalangi kami. Hingga waktu petang tiba, kami belum saling berbicara dan terus berpaling pandangan satu sama lain. Pada akhirnya langit mulai menggelap dengan mentari yang baru saja bersembunyi dari balik cakrawala. Semua pengunjung satu per satu mulai pergi meninggalkan tempat wisata ini.
“Wuah! Hari yang panjang!” lontar Bella senang.
“Kita hanya bermain ski, lho,” sahut Rhean kebingungan.
“Tapi saking serunya sampai lupa waktu,” lanjut Bella.
“Ditambah ada banyak kejadian tak terduga terjadi hari ini,” imbuhnya tersenyum sembari menatap wajahku. Aku yang merasa malu sontak memalingkan wajahku darinya.
“Jangan melihatku!”
“Kau hari ini sangat berbeda, Adelard,” ucap Gavin.
__ADS_1
“B—Berbeda? A—Aku biasa-biasa saja, kok,” balasku gugup.
“Tuh, dari cara bicaramu saja sudah ketahuan,” lanjut Rein.
“Gara-gara kejadian tadi siang, ya?” celetuk Gandra.
“T—Tentu saja bukan!” seruku jengkel terhadapnya. Gandra tertawa kecil melihat diriku yang malu seperti anjing bercawat ekor. Cassie yang mendengarnya sontak berwajah merah dan merasa sangat malu.
“Sudah, sudah… Apa ada tempat lain yang ingin dikunjungi? Atau langsung balik?” tanya Rein kepada kami.
“Sepertinya langsung pulang saja, kita istirahat lalu lanjut besok,” jawab Gavin dan yang lainnya ikut setuju terhadapnya.
Sesampainya di vila, kami menyiapkan makan malam di ruang tengah bersama-sama. Saat semua hidangan siap, kami menduduki kursi yang terletak mengelilingi meja persegi dengan dua kursi di setiap sisinya. Aku duduk bersebelahan dengan Rein sedangkan Cassie bersama Gavin. Kami menyantap makanan tersebut seraya mengobrol asyik bersama. Akan tetapi, aku yang berhadapan langsung dengan Cassie membuatku sangat gugup dan tak berkutik banyak.
“Kau diam-diam saja, Adelard?” celetuk Rhean kebingungan.
“Oi, kau tak dengar?” lanjut Icha ke arahku. Aku yang baru sadar seketika membuatku tersedak dan batuk-batuk. Aku menepuk-nepuk dadaku agar tidak tersedak lagi. Semua orang langsung menoleh ke arahku termasuk Cassie, sementara Rein memberikan segelas air yang berada di depanku.
“Ini…” Aku langsung meneguk air minum tersebut hingga habis. Setelah itu aku terdiam sembari menarik napas dalam-dalam.
“Kau ini kenapa, sih?” tanya Bella penasaran dan itu membuatnya jengkel.
“A—A—Aku tidak apa-apa,” balasku gelagapan seraya mengayunkan telapak tangan ke kanan dan kiri. Seketika saja aku dan Cassie saling menatap satu sama lain dengan spontan, kami langsung berdua langsung menunduk. Cassie langsung menghabiskan makanan dengan cepat. Porsinya yang sangat sedikit membuatnya dapat selesai dalam waktu singkat.
“Kenapa kau tampak lega setelah dia pergi?”
“Ah! T—Tidak! Aku hanya kepedasan,” jawabku cengar-cengir. Gandra menatapku curiga sekejap lalu kembali melanjutkan santapannya.
Setelah makan, kami melakukan kegiatan kami masing-masing. Aku yang tidak tahu ingin berbuat apa lantas pergi menuju kamar. Aku duduk di atas kasur sembari melihat langit dari balik jendela. Tidak lama kemudian Gandra masuk dan melihatku sedang terdiam. Ia menjadi bingung terhadap diriku yang tidak tampak seperti biasanya.
“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya Gandra sembari mengganti pakaian tidur.
“Yah… Begitulah…” hembusku dengan tatapan ke arah jendela. Ia pergi menuju kasur lalu berbaring di sana dengan pandangan ke atas dan berbantalkan tangan.
“Tidak ingin cerita?” ujarnya.
“Kau mau mendengarnya?” lanjutku dengan wajah sedih.
“Kenapa tidak? Tenang, kau tahu siapa aku, kan?” sahutnya tersenyum.
“Ya, aku tahu… Tapi…” ucapku bimbang.
“Kau pasti sedang bingung, kan?”
__ADS_1
“Bagaimana kau tahu?”
“Semua orang bisa melihat wajahmu itu.” Aku pun terdiam sejenak dengan kepala tertunduk.
“Kau tahu kejadian tadi siang, kan?” tandasku.
“Tentu, semuanya juga melihat.”
“Aku merasa sangat bersalah pada dia tentang itu…”
“Kau cukup minta maaf padanya saja, kan?”
“Tapi… Sulit sekali untuk melakukannya.”
“Apa yang membuatmu terhalang untuk itu?” tanya Gandra penasaran.
“Entahlah… Dadaku terasa sesak dan jantungku rasanya ingin copot,” jawabku. Lantas ia tersenyum mendengar pertanyaanku.
“Lalu?”
“Aku juga tidak berani untuk bertemu dengannya, bahkan untuk melihatnya saja sudah membuatku malu.”
“Kau merasakan semua itu seketika di saat yang bersamaan?”
“Iya… Setelah kejadian itu seketika semua itu menghantuiku…”
“Baiklah, aku mengerti keadaanmu,” ucapnya seraya beranjak duduk.
“E—Eh? Maksudmu?” tanyaku kebingungan sambil menoleh ke arahnya.
“Apa perlu aku yang mengucapkannya?” balasnya.
“Ti—Tidak perlu! Setidaknya aku harus bersikap sedikit dewasa…” lanjutku gelagapan yang kemudian diam termenung. Sedangkan itu, Gavin tengah melewati kamarku dengan pintu yang terbuka.
“Besok, aku harus berbicara pada Cassie… Apa pun akibatnya...” gumamku yang tanpa sepengetahuan kami terdengar jelas oleh Gavin.
“Kau belum minta maaf padanya?” lontar Gavin terkejut. Kami langsung tersentak kaget dan berpaling ke arahnya. Aku bertanya pada Gandra dengan wajah panik dan perasaan yang campur aduk.
“Kau tidak menutup pintunya dari tadi?”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1