Love Exchange

Love Exchange
Episode 185 : Api Unggun Bersaksi


__ADS_3

Malam hari yang sangat sejuk menjadi hangat saat ini. Para peserta kontes masih mengerjakan pekerjaannya pada menit-menit terakhir. Pada akhirnya mereka semua menyelesaikan hidangan tepat waktu. Aku yang melihat Cassie dan Rein lantas merasa takjub dengan hidangan yang mereka buat. Penilaian kontes tersebut akan dilaksanakan saat makan besar nanti. Semua orang mulai meninggalkan sisi barat menuju sisi timur untuk menempati meja makan.


“Ayo kita bantu mereka!” ajak Freda. Kami membagi kelompok menjadi dua untuk membantu Cassie dan Rein serta Bella dan Icha.


“Wah, kalian hebat sekali! Bisa memasak sebanyak ini,” lontar Gavin.


“Yah… Tidak jauh berbeda dengan saat menyiapkan kalian sarapan,” balas Rein. Aku melihat Cassie yang tampak sedikit kelelahan.


“Kau tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.


“Huft… Aku harus mencari udara segar,” hembusnya.


Semua orang bersama-sama membawa hidangan tersebut menuju sisi timur yang sudah tersusun banyak meja makan yang besar. Teman-temanku sudah lebih dahulu pergi dari sini. Mereka berjalan dengan penuh semangat bersama nampan di tangan mereka. Aku dan Cassie yang tertinggal menjadi kebingungan karena tidak ada hidangan yang dapat kami bawa.


“Perut sudah berkata, ya,” gumamku tersenyum.


“Ayo kita ke sana juga,” tutur Cassie mengajakku. Kami melangkah meninggalkan tempat tersebut dan mengarah ke api unggun.


Kami melihat khalayak yang membara berjalan beriringan ke arah tempat jamuan itu. Aku dan Cassie berjalan perlahan sembari melihat sekeliling yang enak untuk dipandang. Cassie yang belum sempat beristirahat lantas memintaku untuk menemaninya sejenak agar dapat berhenti sejenak. Kami telah berada di dekat api unggun dan terdapat beberapa bangku dari gelondong.


“Aku ingin duduk dulu sebentar. Tidak apa, kan?”


“Iya, tidak masalah,” balasku.


Kami duduk bersama di atas bangku di tengah hembusan angin malam yang dingin. Suasana di sini sangat sepi lantaran semua orang yang hanya berkumpul di satu titik. Seketika saja dadaku terasa sesak dan situasi menjadi canggung. Lagi-lagi kami tidak saling berbicara. Kami berdua sama-sama tertunduk satu sama lain. Aku ingin memulai pembicaraan namun tidak tahu harus berkata apa.


“Apa aku tunggu saja sampai dia selesai istirahat?” gumamku dalam hati. Tanpa sadar aku menggigil dengan sendirinya, sementara aku sudah memakai pakaian tebal.


“Brrr… Dingin sekali, padahal kita dekat api unggun…” gumamku gemetaran.


“A—Aku juga…” sahut Cassie yang menggigil juga. Kemudian kami kembali terdiam sejenak dan saling canggung lagi.


“Sepi sekali di sini…” ucapku pelan.


“Banyak yang sudah ke sana…”


“Oh iya, tentang kontes tadi, kau memang pandai, ya…”


“Aku hanya menjalankan hobiku.”


“Sejak kapan kau mulai suka memasak?” tanyaku penasaran.


“Hmm… Entahlah, aku lupa… Sejak kecil.”


“Wah, kau bisa mengembangkannya hingga profesional.”


“Niatku juga begitu…”


“Oh, benarkah? Kau akan mengambil jurusan bidang itu?” Cassie meresponku dengan mengangguk pelan. Aku merasa kagum terhadapnya yang sudah mempunyai target yang ingin dicapai.


“Aku akan mengambil apa ya, nanti…” gumamku murung.


“Kau suka dengan hal apa? Matematika, kan?”

__ADS_1


“Tapi bukan itu yang ku inginkan…” balasku.


“Ah! Kau kan suka sekali dengan gim, mungkin kau bisa mengambil jurusan tentang itu,” lontar Cassie yang baru teringat. Aku yang mendengarnya juga baru sadar dengan hal itu.


“Oh iya, betul juga.” Pada saat yang bersamaan aku baru tersadar pula terhadap Cassie yang semakin akrab denganku.


“Tumben sekali kami bisa begini,” benakku.


“Sepertinya aku menjadi tidak sabar untuk melihatmu punya restoran sendiri,” ujarku tersenyum padanya.


“Aku juga ingin memainkan gim yang kau buat nanti,” balasnya yang juga menyeringai lebar. Aku yang mendengarnya sontak terkejut dan tak menyangkanya.


“E—Eh? Kau juga suka bermain gim?”


“Ada beberapa gim yang ku mainkan di rumah,” jawabnya.


“Mungkin kita bisa bermain bersama nanti,” lontarku senang.


“Kuharap kita juga bisa bersama,” tuturnya. Aku yang tidak mendengarnya dengan jelas lantas menyahutinya dengan penuh semangat.


“Tentu! Kita bisa seru-seruan bersama!”


“Ngomong-ngomong soal suka, apa ada yang kau suka selain gim?”


“Maksudmu?” lanjutku terheran-heran. “Hmm… Aku juga suka berinteraksi dengan orang-orang, apa itu termasuk?” imbuhku.


“Ya… Itu juga termasuk, sih… Tapi bukan itu…” ucapnya pelan.


“Lalu, apa?”


“Yah, aku juga tidak mengira kalau kau cukup banyak bicara…” celetukku tersenyum.


“Kau sendiri yang ingin membuatku berubah, kan?” lontarnya.


“Oh iya, aku lupa… Maaf, maaf…” balasku cengar-cengir.


“Sudah lama aku memikirkan ini… Waktu itu aku ingat sekali kalau kau sependapat denganku tentang pacaran. Kau sendiri yang bilang kalau tugas kita sekarang adalah pelajar…” paparnya.


“Lalu…?” tanyaku kebingungan.


“Kau menjilat ludahmu sendiri, ya…”


“Aku tidak bisa menyangkalnya, sih. Tapi sejak kita ada di sini, aku melihat banyak hal yang belum pernah kulihat sebelumnya.”


“Jadi, kau menarik kata-katamu?”


“Lima puluh persen kutarik,” jawabku cengengesan.


“Sisanya?”


“Kita tetap saja pelajar, kan? Jangan terlalu memikirkan hal itu,” jelasku.


“Kau berpikir kalau pacaran itu apa?”

__ADS_1


“Tumben sekali kau bertanya itu, memangnya kenapa?”


“Aku hanya penasaran. Kau sudah melempar kail, tapi saat mendapat ikan kau tidak menariknya,” balasnya.


“Apa maksudnya? Kau seperti Gavin saja,” ujarku tergelitik tawa.


“Kau tidak mau menjawab pertanyaanku?”


“Bukan begitu… Aku hanya mencari pengalaman dengan itu…”


“Pengalaman? Kau sudah seperti bekerja saja mencari-cari pengalaman,” tuturnya menyeringai. Aku juga cengar-cengir ke arahnya dan tidak tahu harus membalas apa.


“Saat sudah punya pengalaman? Kau akan apa?”


“Mungkin aku bisa lebih akrab dengan orang yang ku sukai…?” jawabku ragu.


“E—Eh? Kau menyukai seseorang?” ujarnya termesam-mesem.


“Aku juga manusia biasa, tahu!” lontarku sedikit sebal terhadapnya.


“Maaf, maaf… Hehe…” balasnya tertawa. Aku yang melihatnya lantas merasa senang dan tersenyum dengan sendirinya tanpa sadar.


“Baru kali ini aku melihatnya segembira ini,” gumamku dalam hati. Setelah melepas tawa, Cassie menjadi kebingungan terhadapku yang terus memandanginya.


“A—Apa ada yang salah?” tanya Cassie gugup dan tersipu.


“T—Tidak! B—Bukan apa-apa…” jawabku gelagapan seraya memalingkan wajah darinya. Seketika kami menjadi canggung kembali.


“W—Wajahmu memerah…”


“K—Kau juga…” balasku gugup dengan kepala tertunduk. Beberapa detik kemudian tiba-tiba saja Cassie tertawa kecil dan membuatku kebingungan.


“A—Ada apa?”


“Aku masih tak habis pikir kenapa kita bisa canggung, padahal kita sudah seakrab ini, kan?” tuturnya tersenyum manis ke arahku.


“Iya…” jawabku terperangah. Kami langsung tertawa lepas bersama. Aku menjadi sakit perut akibatnya.


“Hahaha… Aku sendiri tidak tahu kita menertawakan apa…” ucapku.


“Aku juga tidak tahu…” balasnya yang masih terus tertawa hingga mengeluarkan air mata.


“Apa ada orang yang kau suka?”


“Cassie,” jawabku spontan. Seketika ia tersentak kaget dan tercengang diam ke arahku. Aku yang baru saja berhenti tertawa sontak tersadar bahwa aku sedang berbicara dengan Cassie.


“Astaga naga! Apa yang barusan ku katakan?” gumamku tak percaya. Lalu Cassie hanya tertunduk dan meneteskan air mata. Aku menjadi semakin cemas sekaligus panik terhadapnya.


“C—Cassie…?”


“A—Aku juga menyukaimu…”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2