
Siang hari yang cerah menyinari permukaan, awan-awan yang telah meneduhkan kami sebelumnya telah tertiup membukakan tirai jendela atmosfer yang terang. Kami bertiga masih berada di depan asrama kami masing-masing, sembari rasa kaget dan penuh tanya. Beberapa saat kemudian akhirnya kami dapat mengerti satu sama lain.
“Kau peserta program pertukaran pelajar juga?” tanyaku.
“Ya, aku sama seperti kalian.” Aku baru tersadar bahwa kami menggunakan bahasa yang serupa, lantas aku menanyakan asalnya.
“Kau dari daratan mana?” lanjut tanyaku penasaran.
Ia pun menjawab kalau ia bersama teman-teman satu asramanya berasa dari daratan tetangga kami, sehingga tidak banyak kosakata bahasa yang berubah. Lagi pula, para peserta program ini harus bisa menggunakan bahasa internasional, sehingga meskipun kami tidak dapat menggunakan bahasa asal, namun kami dapat menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi.
“Datanglah saat makan siang nanti. Kita bisa saling berkenalan dan berteman. Hitung-hitung sebagai tetangga,” ajak Bella kepada kami berdua.
Kemudian kami saling berpisah dan masuk ke dalam asrama masing-masing. Ketika aku dan Rein berada di dalam ruang tengah, tampak Cassie dan Gavin sedang tertidur pulas dengan badan yang bersandar di sofa. Bahu mereka juga saling menempel dan bersandar.
“Wah, wah… sepertinya sesuatu telah terjadi di sini…” lontar Rein pelan seraya tersenyum. Aku pun tidak mengerti apa maksud yang ia katakan barusan.
“Apa maksudmu? Apa yang telah terjadi?” Dengan ekspresi yang tenang ia menjawab pertanyaanku.
“Entahlah… Kita hanya bisa menebak-nebak saja.” Lalu aku pergi ke kamar untuk mengambil pakaian dengan maksud ingin membersihkan diri. Betapa terkejutnya aku melihat kamar yang belum berubah menjadi rapih sama sekali semenjak aku pergi keluar tadi.
“Kapan kau akan membereskannya,” gerutuku dalam hati.
Jam terus berputar dan matahari telah berada di puncaknya. Cassie dan Gavin pun terbangun dari tidurnya. Mereka yang belum sadar sepenuhnya masih mencoba untuk membuka mata dan meregangkan tubuh. Pada saat itu juga mereka berdua melihatku dan Rein yang tengah memandangi mereka. Lekas mereka saling menjauhkan diri satu sama lain dengan wajah panik.
“A—Aku hanya ketiduran. Jangan salah paham!” tutur Cassie kalang kabut. Aku dan Rein hanya tersenyum licik ke arah mereka. Lantas Cassie pun menceritakan apa yang terjadi pada mereka. Ia memaparkan bahwa awalnya mereka menonton televisi bersama, tetapi akibat air mata yang telah terkuras membuatnya kantuk dan memejamkan mata.
“Kami juga tidak saling bersandar, kok!” lanjutnya yang masih panik dan berusaha membuat kami percaya.
“Tapi tadi kita saling bersandar,” lontar Gavin dengan santai seketika mengejutkan Cassie. Wajahnya mendadak menjadi merah mencolok. Ia pun lagi-lagi meneteskan air mata dan pergi menuju kamarnya.
“A—Adelard… A—Aku minta maaf! Semua ini salah Gavin!” ucapnya dengan suara dan cukup kencang.
__ADS_1
“Gavin bejat!” lanjut lontarnya seraya menutup pintu dengan keras sampai-sampai menggoyangkan pintu yang menggantung di langit-langit. Aku yang melihat kejadian tersebut hanya terdiam mangap dan tidak tahu harus berbuat apa.
“D—Dia ma…rah…” gumamku dalam hati.
Lalu Rein menceramahi Gavin habis-habisan. Gavin pun meminta maaf dan menyesal telah melakukan hal tersebut. Akibat suara bising yang kami timbulkan, tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aku membuka tersebut dan orang tersebut adalah Bella yang khawatir dengan kami.
“Ada sesuatu yang terjadi?” Dengan cepat aku menanggapinya sembari menutup pintu agar ia tidak dapat melihatnya ke dalam.
“E—Eh… Eee… Tidak ada apa-apa… Hehe…” jawabku pringas-pringis. Akan tetapi Bella yang melihatku aneh seperti itu membuatnya curiga terhadapku.
“Kau yakin? Sepertinya tadi aku mendengar keributan dari dalam.” Aku yang gelagapan berusaha tenang untuk menjawab pertanyaannya. “I—Iyah… Semua baik-baik saja.”
“Ya sudah kalau begitu… Oh iya, makan siang hampir siap. Kami tunggu kedatangan kalian segera!” ucapnya lalu tersenyum kepadaku.
“O—Oke! Aku akan mengajak teman-temanku. Sampai ketemu nanti!” balasku cengengesan dan langsung menutup pintu dengan cepat.
“Huft… Hampir saja…” hembusku lega.
“Tunggu sebentar, aku akan coba bilang padanya,” ucap Rein lalu masuk ke dalam kamar dan berbicara dengan tenang kepada Cassie yang masih kesal terhadap Gavin. Akan tetapi usaha yang dilakukan oleh Rein tidak berhasil. Aku tidak ingin membuat Bella dan teman-temannya menunggu kami.
“Aku akan mencobanya,” ujarku sembari memengang kenop pintu, namun langsung dihalangi oleh Rein yang baru teringat sesuatu.
“Oh iya! Ada sesuatu, tunggu.” Rein langsung masuk kembali ke kamarnya selama beberapa menit. Aku kebingungan apa yang tengah dilakukannya. Tak lama kemudian Rein keluar dari kamar dan mempersilakanku masuk.
“Tadi kau ngapain?” tanyaku heran.
“Urusan perempuan,” balasnya tersenyum. Aku masuk ke dalam kamar dan terlihat Cassie yang tengah duduk dengan kepala tertunduk murung. Aku pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Dengan nada pelan aku berusaha untuk menenangkannya.
“Kau tidak apa-apa, kan? Kalau ada sesuatu, ceritakan saja kepadaku.”
“Gavin bodoh… Aku membuat kalian salah paham,” desisnya tersedu-sedu. Aku pun membalas ucapannya seraya tersenyum.
__ADS_1
“Tenang saja, aku tidak berpikir seperti itu, kok.” Ia pun menaikkan kepalanya lalu menoleh dan menatapku.
“Kau tidak seperti itu? Meskipun aku dan Gavin bersandaran?” lanjutnya bertanya kembali. Lagi-lagi aku meyakinkannya.
“Ya, wajar saja kan kalau kau mengantuk.” Kemudian ia mengelap wajahnya yang basah tersiram air matanya.
“Aku ingin melihatmu tersenyum seperti biasanya…” Tak lama berselang akhirnya bibirnya melebar dan menyeringai. Aku pun senang dan lega melihatnya kembali gembira.
“Sudah baikan?” tanyaku tersenyum sembari menjulurkan tangan ke arahnya. Lantas Cassie beranjak dari duduknya dan meraih tanganku seraya berkata, “Sudah!” Kami pun pergi keluar kamar dan menghampiri Rein dan Gavin yang sudah menunggu di ruang tengah. Rein tersenyum setelah melihat Cassie yang sudah ceria kembali.
Kami berempat kemudian pergi menuju asrama tetangga yang berada di sebelah asrama kami. Aku mengetuk pintu dan memanggil Bella dari luar. Bella yang mendengarnya langsung membuka pintu dan mempersilakan kami untuk masuk ke dalam. Kami pun bertemu dengan teman-temannya Bella dan saling berkenalan dan mengobrol.
“Wah nama kalian bagus sekali!” puji salah seorang dari mereka. “Namaku Arisha Elvina, kalian bisa memanggilku Icha.” Mendengar nama panggilannya yang seperti itu membuatkan teringat dengan sebuah nama panggilan yang mirip.
“Icha? Wah, namamu mirip seperti Ich—” lontarku gembira namun dengan cepat Cassie langsung menutup bibirku. Mereka semua melihat kami berdua kebingungan, termasuk Rein dan Gavin.
“B—Bukan apa-apa… Hehe… Silakan lanjutkan,” tutur Cassie cengar-cengir.
“Aku Gandra, Aruna Gandera.”
“Dan namaku Arhean Layontine. Panggil saja Rhean.”
“Salam kenal!” ucapku tersenyum. Kemudian Bella membawakan kami menuju meja makan. Telah disajikan hidangan yang bermacam-macam.
“Silakan, jangan sungkan…” tutur Bella. Dengan senang hati kami semua menyantap makanan yang terlihat menggugah selera. Gavin bersemangat sekali dan dengan riang gembira ia mengambil makanan secukupnya ke atas piringnya.
“Selamat makan!”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1