
Malam hari dengan langit gemerlap tampak bintang-bintang tergantung berkilapan. Aku terbaring di atas kasur sementara Gavin sudah terlelap dan mendengkur seperti biasanya. Terpikirkan di benakku tentang percakpaanku bersama Freda dan yang lainnya kala itu. Mataku tak dapat terpejamkan lantas terus memandangi angkasa.
“Biar waktu yang menjawab…” gumamku pelan.
“Apa aku tidak perlu melakukan apa pun?” lanjutku heran.
“Kalau aku bicara dengan Rein… Hmm…”
“Mungkin saat waktu yang pas saja…”
Keesokan harinya aku bersama teman-temanku pergi menuju sekolah yang juga diramaikan oleh murid lainnya. Terdapat perbedaan dari yang kulihat sebelumnya. Saat waktu istirahat tiba, semua orang dengan penuh semangat berkeliaran. Banyak dari mereka yang juga berkumpul untuk membicarakan pengalaman mereka saat liburan kemarin. Aku yang duduk berdampingan dengan Rein kemudian saling mengobrol.
“Dari tadi semua pelajaran kosong…” gumamku.
“Yah… Hari pertama semester wajar saja…” sahut Rein.
“Apalagi masih ada hawa liburan,” ucapku.
“Betul sekali…” balasnya.
“Tidak terasa sudah setengah tahun kita di sini…” ujarku tersenyum seraya memandang keluar jendela.
“Iya… Tidak lama lagi kita akan berpisah…” tutur Rein yang terdengar pelan. Saat menoleh seketika aku terkejut melihatnya yang tertunduk murung.
“Kau tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.
“Aku baik-baik saja…” jawabnya.
“Katakanlah apa yang ingin kau katakan,” lanjutku.
“Apa yang akan kau lakukan saat program ini selesai?” tanya Rein dengah wajah penuh serius.
“Melanjutkan sekolah sampai lulus…?” jawabku ragu.
“Selain itu?”
“Aku juga tidak tahu…” balasku. Setelah itu kami berdua terdiam sejenak dan aku melihat sekeliling yang penuh dengan keributan dan sorak-sorai.
“Apa boleh kutanya sesuatu?”
“Tentu, tanyakan saja. Tumben sekali kau bertanya dulu…” balasku.
“Takutnya aku menyinggungmu…” tuturnya pelan. Aku menjadi terheran-heran dengan dirinya yang bersikap aneh kepadaku.
“Tidak masalah… Aku akan tetap mendengarkan,” ucapku cengar-cengir untuk mencairkan suasana.
“Aku belum pernah tahu sebelumnya…” gumamnya.
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
__ADS_1
“Bagaimana perasaanmu padaku?” tanya Rein spontan mengejutkan diriku. Aku tidak menyangka kalau pertanyaan seperti itu dapat terucap di tengah situasi seperti ini.
“Maaf, sepertinya aku salah dengar,” ujarku yang masih tak percaya.
“Apa kau punya rasa padaku?” tuturnya.
“E—Eh? K—Kenapa kau tiba-tiba bertanya itu?” tanyaku gelagapan.
“J—Jadi, kau tidak seperti itu, ya?” ucapnya dengan wajah merah merona. Di lain sisi, terpikirkan di kepalaku dan tanpa sadar mengabaikan pertanyaannya.
“Aku harus menjawab apa?” gumamku panik dalam hati. Tubuhku menjadi basah akibat keringat yang berkucuran terus menerus.
“Adelard?” tanya Rein kebingungan.
“Y—Ya! Eee…” balasku yang terkejut dan baru tersadar. Rein yang mendengarnya sontak merasa senang dan terpampang senyuman lebar di wajahnya. Aku menjadi kelimpungan untuk meluruskan yang sebenarnya.
“M—Maksudku—” pungkasku namun seketika terpotong lantaran Gandra dan Bella yang dengan antusias mendatangi kami.
“Wah sepertinya seru, kalian sedang membicarakan apa?” tanya Gandra.
“Hanya ngobrol biasa,” jawab Rein tersenyum. Wajahnya tampak sangat senang dan berbanding terbalik dengan sebelumnya. Aku terus kepikiran lantas merasa panik sendiri.
“Kau kenapa?” tanya Bella kebingungan.
“Eee… Bukan apa-apa!” balasku gelagapan.
Kemudian kami semua melanjutkan obrolan hingga jam istirahat selesai. Benang terus terulur dan hari sudah mulai gelap. Kami kembali menuju kamar masing-masing tidak lama setelah santap malam. Aku kembali terbaring dengan kepala pusing dan benakku terus memikirkan kesalahpahaman yang baru saja muncul tadi pagi.
Hari silih berganti menemui kehidupan yang baru. Sudah beberapa hari ini aku masih belum menemukan jalan keluar. Aku tidak bisa melupakannya begitu saja lantaran hal tersebut terus terbesit di kepalaku. Diriku merasa cemas dan terus teringat dengan perkataan Freda. Pada saat yang bersamaan aku sangat menyesal terhadap apa yang sudah aku lakukan.
“Freda benar…” gumamku.
Langit petang menyambut bel pulang sekolah. Rein harus mengikuti klub renang yang akan dimulai, sementara Gavin sedang menyelesaikan tugas bersama teman-temannya. Aku masih berada di dalam kelas berikut pula Cassie. Aku yang sedang merapikan tasku tiba-tiba saja melihat Cassie yang tanpa ku sadari berada di hadapanku. Aku terkejut melihatnya.
“Ada apa?” tanyaku kebingungan.
“Ayo kita keluar bersama,” jawab Cassie dengan tas yang sudah dipikul olehnya. Kami pun berjalan berdua meninggalkan kelas. Cassie terlihat berbeda dari biasanya. Aku mengira kalau sudah terjadi sesuatu padanya.
“Kau tidak apa-apa?” ujarku.
“E—Eh? Aku tidak apa-apa!” jawabnya terkejut.
“Apa terjadi sesuatu padamu?”
“Aku mengobrol dengan Gavin waktu istirahat tadi,” tuturnya tertunduk.
“Lalu?” lanjutku yang semakin penasaran.
“Sepertinya keadaan semakin buruk.”
__ADS_1
“Maksudmu?”
“Terjadi kesalahpahaman…” ucapnya pelan. Aku yang tidak menyangkanya sontak terkejut dan teringat kembali dengan hal serupa padaku.
“Aku juga…” balasku. Cassie pun memandangiku dengan tatapan terheran-heran. Aku menarik napas sebelum akhirnya membalasnya.
“Ada salah paham antara aku dan Rein,” ujarku. Cassie sontak terkejut mendengar jawabanku.
Lalu Cassie menceritakan kejadian yang membuatnya terjadi kesalahpahaman di antara mereka. Ternyata cerita yang diucapkannya persis sama dengan apa yang terjadi padaku dan Rein. Sekarang giliranku menceritakannya pada Cassie. Ia tidak menyangka kalau kejadian yang kami alami akan benar-benar sama.
“Semuanya karena gugup, ya?” tuturnya pelan.
“Andai saja aku mendengarkan perkataan Freda…” balasku.
Waktu telah berganti malam dan semua orang sudah berada di asrama. Saat makan malam, tampak wajah Rein yang masih senang berikut pula Gavin. Aku dan Cassie menjadi cemas melihat mereka. Aku duduk berhadapan dengan Rein begitu juga dengan Cassie dan Gavin. Dengan wajah senangnya sesekali ia menyuapiku dan hal serupa juga terjadi pada mereka berdua.
“Apa benar kalau waktu yang akan menjawab semuanya?” gumamku dalam hati. Cassie yang tidak ingin seperti ini lantas memanggil Gavin.
“Gavin…”
“Apa?” lanjut Gavin singkat.
“E—Eee… Sebenarnya—” tutur Cassie menahan malu dengan wajah tertunduk aku yang berada di sampingnya sontak langsung menarik perhatian mereka.
“Uhuk! Uhuk!” Aku berpura-pura tersedak dan membuat mereka membantuku. Aku meminum segelas air pemberian dari Rein. Cassie memandangku dengan wajah kebingungan. Saat semua membaik, Gavin masih penasaran dengan ucapan Cassie yang belum selesai.
“Jadi, tadi kau ingin bilang apa?” tanya Gavin.
“A—Aku—” ucap Cassie pelan yang terpotong kembali. Aku langsung menginjak kaki Cassie.
“Aw!” lontarnya.
“Kau tidak apa-apa?” ujar Gavin khawatir. Cassie memandangiku sejenak dan aku sedikit menggeleng-gelengkan kepala ke arahnya.
“L—Lidahku tergigit…” balas Cassie. Pada akhirnya Gavin masih penasaran dan terus melontarkan pertanyaan tentang kalimat yang belum lengkap tadi. Cassie berusaha menyembunyikannya dan menjawab kalau tidak ia lupa untuk bicara apa.
Suatu pagi, kami sedang melewati tengah kota yang ramai akan khalayak. Aku dibuat bingung terhadap banyaknya orang yang tampak seumuran denganku dan mereka berbondong-bondong berjalan menuju suatu tempat. Hingga akhirnya kami yang mengikuti mereka terhenti apa suatu tempat. Aku diberi sebuah brosur tentang tempat itu. Ternyata gedung itu adalah sebuah tempat les yang sangat terfavorit di kota ini.
“Kalian ingin mencoba?” tanyaku penasaran.
“Untuk apa? Kan kita masih akan mengulanginya lagi tahun depan,” balas Rhean.
“Tidak ada salahnya, kan? Siapa tahu akan sangat membantu,” balasku.
“Aku setuju dengan Adelard,” sahut Bella. Pada akhirnya teman-temanku menerima usulanku. Pada hari yang sama kami mengurus pendaftaran di les itu. Aku merasa tidak sabar saat berjalan keluar dari gedung itu.
“Yes! Minggu depan, kawan-kawan.”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)