
Langit cerah menyambut kami yang sudah berada di gedung tempat di mana kami mengikuti les pelajaran. Terlihat banyak pelajar yang memenuhi ruangan ini. Kami semua menempati ruang les yang sama. Sebelum waktu pembelajaran di mulai, kami mengobrol sejenak. Aku yang melihat sekeliling lantas berpikir kalau tempat ini cukup mirip seperti sekolah.
“Apa bedanya ini dengan sekolah?” tanya Bella.
“Oh, kau juga berpikir sama,” sahutku.
“Mungkin sistem belajar dan pengajarannya berbeda,” balas Rein.
“Menurutku lebih mirip seperti kuliah,” lanjut Gavin.
“Apa yang membuatmu berpikir itu?” ujar Icha kebingungan.
“Lihat saja, model ruangan yang lebih luas dari kelas, kita datang dengan pakaian bebas, bukan seragam, dan gedungnya saja sudah sangat mirip dengan kampus,” papar Gavin.
“Oh iya, betul juga,” gumamku tersadar.
Tidak lama kemudian waktu pembelajaran dimulai. Kami menempatai tempat duduk masing-masing dan seorang pengajar memasuki ruangan. Sebelum memulai pelajaran, ia memperkenalkan diri di hadapan kami semua. Pada saat pertama aku melihatnya aku sudah dapat merasakan perbedaan dari cara penyampaian di sini dan sekolah. Ia bertutur dengan santai dan jelas. Segala perkataannya tersampaikan dengan sangat baik meskipun ia menyelipkan hiburan di tengahnya.
“Panggil saja aku Kak Liya,” tuturnya tersenyum. Kami semua sempat terperangah memandang wajahnya yang sangat berseri cantik.
“Kok dia seperti seumuran dengan kita?” gumamku heran.
“Aku juga masih seorang pelajar sama seperti kalian,” lanjutnya. Ia menjelaskan bahwa ia masih berkuliah dan sekarang telah menempuh tahun kedua.
“Tunggu, tunggu… Berarti umurnya tidak berbeda jauh dengan kita? Tapi…” benakku tak percaya.
“Aku dipanggil ke sini untuk membantu kalian menghadapi ujian seleksi masuk kuliah nanti. Kuharap kita semua bisa saling bekerja sama,” tuturnya. Terbesit di benakku akan banyak pertanyaan yang membuatku kebingungan terhadap sosok dirinya. Lalu seorang pelajar mengacungkan tangan untuk bertanya pada pengajar itu.
“Di mana Kakak kuliah sekarang?” tanya pelajar tersebut.
“Kakak dapat Universitas Negeri Snitheria,” jawabnya. Aku dan Cassie sontak terkejut setengah mati mendengarnya.
“S—Snitheria? Tapi kenapa bisa ada di sini?” batinku terheran-heran. Kemudian pelajar itu bertanya lagi dengan wajah penuh buncah.
“Bukankah itu daratan sebelah, Kak?”
__ADS_1
“Betul, Kakak sedang mengikuti pertukaran mahasiswa di daratan ini,” jawabnya menyeringai. Masih banyak pertanyaan yang terus berputar-putar di kepalaku, tapi aku mengurungkan niatku untuk bertanya padanya.
“Sebaiknya jangan sekarang…” gumamku dalam hati. Setelah menyelesaikan sesi tanya jawab kepada Kak Fiya, akhirnya pelajaran dimulai.
“Baiklah, sebelumnya kalian sudah mengikuti tes penempatan kelas. Di kelas ini, Kakak yakin kalau kalian sebenarnya sudah punya potensi sangat besar. Kakak cukup menyempurnakannya…” paparnya.
“Sebelumnya Kakak absen dulu, ya,” lanjutnya lalu memanggil nama kami satu per satu hingga urutan terakhir.
“Sebelum mulai materi, Kakak ingin melihat potensi kalian secara langsung. Untuk nama yang Kakak panggil harap maju ke depan,” tuturnya.
“Adelard.”
“Huft… Sepertinya selalu aku yang dipanggil,” desisku pelan.
Aku melangkah ke depan melewati pelajar-pelajar lainnya yang sedang memandang ke arahku. Seketika aku menarik banyak perhatian mereka. Terdapat sebuah soal yang telah tertulis di papan tulis. Kak Fiya memberiku sebuah kapur lalu memperhatikan diriku yang sedang mengerjakan soal tersebut. Saat selesai mengerjakan soal, aku meletakkan kapur dan menepuk-nepuk tanganku dari debu.
“Waw…” hembus Kak Fiya. Aku berjalan menuju tempat dudukku kembali. Akan tetapi, saat aku baru berjalan beberapa langkah tiba-tiba saja ia memanggilku lagi.
“Tunggu, satu soal lagi tidak apa-apa, kan?” pintanya.
“I—Iya…” jawabku gugup. Aku merasa malu di hadapan semua orang, sementara itu teman-temanku hanya tersenyum melihat diriku.
“Eh? Jarang sekali aku melihat soal ini…” benakku. Aku berbicara pada diriku sendiri sembaro memikirkan cara untuk menyelesaikan soal tersebut.
“Kalau aku pakai cara ini bisa tidak, ya?”
Aku terdiam selama beberapa saat dengan kepala tertunduk. Semua orang dengan sangat fokus menyaksikan aku. Suasana menjadi hening dengan penuh rasa kebingungan. Aku menyelesaikan soal dengan rumus yang terlintas di benakku saja. Tanpa sadar terus menuliskannya di papan tulis hingga akhirnya aku baru tersadar saat menemukan hitungan akhir.
“Eh? Ketemu,” gumamku. “Benar tidak, yah?”
“Ti—Tidak mungkin…” cetus Kak Fiya tidak percaya. Semua pelajar hanya terperangah sekaligus kebingungan dengan apa yang mereka lihat. Kebanyakan dari mereka belum pernah melihat soal seperti ini sebelumnya.
“Apa sebelumnya kamu pernah mengikuti les? Olimpiade?” tanya Kak Fiya penasaran.
“Olimpiade, Kak,” jawabku.
__ADS_1
“Tapi setahuku tidak ada soal seperti ini di olimpiade…” gumamnya terheran-heran.
“Oke, terima kasih Adelard sudah maju ke depan,” tuturnya tersenyum. Aku berjalan kembali ke tempat dudukku.
“Tepuk tangan untuk Adelard!” lontarnya bersemangat.
Pembelajaran terus berlanjut selama satu jam ke depan. Kak Fiya mengajarkan dengan sangat jelas dan seru untuk disimak. Setelah pembelajaran selesai, teradapat waktu istirahat selama beberapa menit sebelum pelajaran berikutnya dimulai. Teman-temanku langsung mengerubungi aku lalu memuji-mujiku saat mengerjakan soal tadi.
“Kau hebat sekali,” ujar Bella.
“Terima kasih,” balasku. Tidak lama kemudian kami semua mulai berbaur dengan pelajar lainnya. Semua orang asyik mengobrol dan saling berkenalan satu sama lain. Kemudian dilanjutkan dengan berbagi cerita dan pengalaman mereka di sekolah mereka masing-masing.
“Aku ingin ke luar dulu sebentar,” ucapku pada Rein.
“Oke,” balasnya kemudian ia melanjutkan pembicaraan dengan yang lain.
Aku berjalan menyusuri lorong di antara ruang-ruang kelas menuju kamar kecil. Saat berada di persimpangan lorong, aku yang tidak menyadarinya sontak menabrak seseorang yang muncul dari arah berlainan. Buku yang dibawa olehnya menjadi berserakan di lantai. Dengan cepat aku langsung membantunya. Aku meminta maaf padanya.
“Maaf,” ucapku.
“Aku juga,” balasnya. Pada saat yang bersamaan terbesit di benakku akan suara yang sangat mirip dengan orang yang pernah ku jumpai sebelumnya. Hingga akhirnya kami saling memandang satu sama lain. Betapa terkejutnya aku melihat ia yang berada di hadapanku.
“K—Kak Fiya?”
“Loh, Adelard?” tuturnya.
Pada akhirnya aku diajak untuk mengikuti dirinya. Aku tidak tahu ke mana diriku berjalan. Hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah ruangan yang ternyata itu adalah ruang pengajar. Terlihat beberapa pengajar yang sedang bersantai dan beberapa pelajar yang sedang bertanya langsung pada sang pengajar. Ia berjalan menuju tempat duduknya lalu memberiku kursi di sebelahnya.
“Tanya-tanya sedikit boleh, kan?” tanya Kak Fiya.
“A—Apa boleh aku ke kamar kecil dulu?” lanjutku tak enak hati.
“Oh tentu! Aku tidak bisa menghalangimu saat ada panggilan alam,” balasnya cengar-cengir. Aku ditujukan pada sebuah kamar kecil di ruang pengajar ini. Selama di dalam kamar kecil kepalaku terus terpikirkan dengan situasi saat ini.
“Kenapa aku bisa ada di sini?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)