Love Exchange

Love Exchange
Episode 110 : Rintik Pembawa Bencana


__ADS_3

Langit yang mulai menggelap dan angin yang mulai berhembus kencang. Hari telah menunjukkan waktu petang. Tak lama berselang, bel pulang pun berbunyi. Sontak, para murid berhamburan keluar dari kelas-kelas dan menyambut dunia mereka masing-masing. Namun pada saat yang bersamaan, tiba-tiba saja hujan turun disertai dengan gemuruh. Aku dan teman-teman terhenti di pintu gedung sekolah.


“Oh iya, aku lupa bawa payung,” ucapku sembari membuka dan mencarinya di dalam tasku.


“Aku juga,” balas Gavin yang tengah melakukan hal yang sama sepertiku, berikut dengan yang lainnya. Tidak ada yang membawa payung di antara kami semua. Lantas Bella teringat akan suatu hal.


“Aku baru ingat, ternyata hari ini ada kegiatan klub renang,” lontarnya. “Kau mau ikut, Rein?” lanjut ajaknya. Rein pun mengiakan ajakan tersebut lalu mereka berdua pergi ke arah dalam kembali. Aku yang melihat mereka menjadi kebingungan, padahal gedung akuatik di mana tempat klub renang berlatih terpisah dengan gedung sekolah.


“Kalian pergi ke mana?” tanyaku terheran-heran.


“Kami mau mengganti pakaian renang,” jawab Bella.


“Loh, kau juga membawanya, Rein?” lanjut tanyaku.


“Aku bawa dua set… Hehe…” sahut Bella cengengesan. Lalu mereka berdua berjalan menuju ruang ganti yang berada di dalam gedung sekolah, sementara itu aku dan yang lainnya masih berada di tempat yang sama sembari menunggu hujan reda. Tidak terpikirkan olehku untuk melakukan suatu kegiatan untuk mempersingkat waktu, namun lain halnya dengan Rhean.


“Bagaimana kalau kita keliling gedung ini?” ajaknya. Gavin yang mendengarnya langsung membalasnya.


“Tapi, sulit bagiku untuk naik dan turun tangga,” balasnya yang tampak malang. Lantas kami semua terdiam sambil memikirkan untuk menghabiskan waktu hingga hujan mereda.


“Hmm… enaknya kita ngapain, ya…?” gumamku bertopang dagu.


“Kita lihat sekitaran lantai sini saja,” cetus Icha kepada kami semua.


“Wah, ide bagus,” balasku tersadar, begitu pula teman-temanku yang setuju dengan perkataan Icha barusan.


“Di lantai ini juga banyak ruang klub, mungkin kita bisa menyaksikannya,” tutur Cassie. Tak lama kemudian Rein dan Bella datang menghampiri kami dengan pakaian renang yang telah mereka kenakan.


“Pintar juga kalian,” celetuk Gandra tersenyum.


“Tapi, bagaimana dengan tas kalian?” lanjut tanyaku kepada mereka berdua.


“Nah ini dia, baru saja kami mau menitip tas ini kepada kalian,” sahut Bella cengar-cengir. Kemudian Rein memberikan tasnya kepadaku, sedangkan Bella memberikannya kepada Gandra. “Tolong jaga baik-baik, ya!” lontar Bella ceria, namun berbeda dengan Rein yang menatap serius ke arah kami semua.


“Jangan dibuka-buka…” dehamnya.


“I—Iya, tenang saja,” balasku gugup.


“Kau yakin ingin berlarian di luar dengan pakaian seperti itu?” tanya Gavin tak percaya. Mereka berdua pun membalasnya dengan mengangguk.

__ADS_1


“Apa ada yang salah?” tanya Bella kebingungan.


“Yah… masalahnya…” ucap Rhean pelan sembari menatap mereka dari atas hingga bawah. Sontak Bella melempas tasnya yang sebelumnya telah di pegang oleh Gandra. Ia melemparnya ke arah wajah Rhean dan tepat sasaran.


“Dasar otak miring!” serunya. Lemparannya yang kencang membuat Rhean terjatuh dibuatnya. Kami semua seketika khawatir dengan Rhean lantaran suara hantaman yang sangat keras. Rhean pun beranjak berdiri dengan postur yang lesu dan kehilangan keseimbangan.


“Kau tidak apa-apa, kan?” tanyaku cemas. Lalu terdapat darah yang mengucur keluar dari hidungnya. Tiba-tiba saja ia tersungkur jatuk ke lantai dan mendadak membuat kami semua menjadi panik melihatnya, termasuk Bella yang tidak menyangka akan terjadi seperti itu.


“Rhean!” seru kami serentak. Dengan sigap aku dan Gandra langsung mengangkatnya.


“Oh tidak! Kita sudah terlambat!” lontar Rein kepada Bella, sementara itu Bella masih panik dan merasa sangat bersalah kepada Rhean.


“Aduh, bagaimana ini?” cakapnya kalang kabut. “Sampaikan maafku kalau ia sudah bangun, ya!” serunya yang lantas berlari keluar dari gedung bersama dengan Rein.


Kemudian kami semua bergegas menuju ruang kesehatan yang berada di lantai atas. Dengan cepat kami semua menaiki tangga dan meninggalkan Gavin di belakang. Gavin yang melihat kami terburu-buru tidak dapat mengikutinya lantaran terhalang oleh tangga. Cassie yang berlari paling belakang lalu melihat Gavin yang kesulitan. Ia pun kembali turun dan membantu Gavin, namun ia juga kebingungan dengan kursi roda tersebut.


Gavin pun berusaha untuk berdiri. Cassie yang melihatnya langsung menurunkan Gavin menuju kursi rodanya.


“Apa yang sedang kau lakukan?” tutur Cassie kesal.


“A—Aku ingin menyusul mereka,” jawab Gavin sembari berusaha beranjang dari kursi rodanya.


“T—Tapi…”


“Tunggu saja di sini, mungkin tidak akan lama.” Akhirnya Gavin hanya bisa pasrah dengan keadaan. Lalu ia kebingungan dengan Cassie yang tidak segera menyusulku. Gavin pun bertanya kepada Cassie yang sedang melihat sekeliling dan menjulurkannya ke luar gedung.


“Kau tidak ke atas?” tanya Gavin.


“Kau ingin sendirian di sini?” balas Cassie.


“Kalau kau ingin ke atas, silakan saja. Tidak masalah aku berada di sini sendirian,” ucap Gavin.


“Tidak apa-apa, aku yakin mereka bisa mengatasinya,” tutur Cassie tersenyum. Tanpa sadar, air mata menetes dari kedua mata Gavin.


“Terima kasih…”


Di lain sisi, aku dan Gandra dengan cepat membawa Rhean menuju ruang kesehatan, sedangkan Icha berlari di belakang kami. Sampai akhirnya kami tiba di ruang kesehatan, namun tidak ada seorang pun di sana. Rhean pun kami letakkan di atas kasur. Untung saja darahnya sudah tak lagi mengucur dari hidungnya.


“Kalian cari klub kesehatan, biar aku saja yang menjaganya!” seru Icha panik. Sontak aku dan Gandra kembali keluar dari ruangan, lalu kami berdua saling berpencar menuju arah yang berlawanan.

__ADS_1


Di sepanjang lorong yang aku lewati, aku tidak menemukan orang yang aku cari. Cuaca hujan membuat kelas-kelas masih terisi dengan para murid. Aku sempat memasuki beberapa kelas untuk bertanya, namun tidak ada yang mengetahui letak anggota klub kesehatan itu berada. Sampai akhirnya aku turun hingga ke lantai dasar dan bertemu dengan Cassie dan Gavin yang sedang asyik mengobrol. Aku yang ingin menghampirinya lantas berhenti dan kembali berlari menjauhi mereka.


“Kau selalu memanfaatkan kesempatan, ya,” gumamku dalam hati.


Setelah beberapa menit mengelilingi gedung sekolah, aku tidak mendapatkan apa yang aku cari. Dengan rasa penuh lelah, aku kembali ke ruang kesehatan. Sesekali aku berhenti di tangga karena penat sekali. Sesampainya aku di dalam ruang kesehatan, ternyata telah ada beberapa anggota klub tersebut di sana. Aku pun merasa lega melihatnya, meskipun kakiku sudah sangat berat untuk melangkah.


“Apa dia baik-baik saja?” tanya Icha kepada salah satu dari mereka yang sedang mengecek kondisi Rhean.


“Dia baik-baik saja, tidak lama lagi akan kembali sadar,” balasnya. Lalu aku bertanya mengenai obat-obatan yang diperlukan, tetapi mereka menjawab bahwa Rhean hanya terluka dan tidak memerlukan obat apa pun.


“Syukurlah kalau begitu,” ucapku lega. Lalu mereka menjelaskan beberapa hal kepada kami.


“Mungkin dia akan merasakan sakit kepala. Cukup istirahat saja dan dia akan segera pulih.”


“Baiklah, nanti akan ku sampaikan,” balasku.


“Maaf, kami tidak bisa berlama-lama di sini karena sedang ada rapat dengan beberapa guru, tidak apa-apa, kan?”


“Iya, kami bisa menjaganya, terima kasih banyak,” sahutku dan mereka pun pergi keluar dari ruangan. Beberapa detik kemudian, Rhean pun tersadar dari pingsannya dengan kedua matanya yang terbuka.


“D—Di mana aku?”


“Ruang kesehatan,” jawabku singkat. Rhean pun berusaha untuk beranjak duduk di atas kasur, namun kepalanya yang sakit tidak mengizinkannya.


“A—Aduh…”


“Istirahat saja dahulu,” ujarku kepadanya. Kemudian ia kembali berbaring. Icha yang melihat sekitar baru menyadari bahwa tidak ada Gavin dan Cassie.


“Oh iya, di mana Gavin dan Cassie?” tanya Icha gelisah.


“Mereka sedang ada di lantai satu,” jawabku.


“Wah, Gavin sudah berkembang, ya,” cetus Gandra tersenyum. Kami semua pun senang terhadap mereka berdua yang tengah asyik berduaan. Lalu aku berucap seraya mengharapkan yang terbaik untuk mereka.


“Semoga mereka semakin akrab.”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2