
Langit jingga dan mentari yang berwarna kemerahan menjadi penghias pemandangan yang kami pandang. Suasana menjadi canggung dan hening seketika setelah penjaga wahana menutup kabin dan memutar kincirnya. Aku yang tidak tahan di suasana ini berpikir keras untuk mencairkannya.
“Bagaimana persiapanmu untuk besok?” tanyaku pelan kepada Cassie.
“Sudah siap. Walaupun sebenarnya hari ini aku ingin mengulang-ulang kembali materi.” jawabnya halus tersipu malu.
“Apa kau pernah mengikuti olimpiade saat di SMP?” lanjut tanyaku lagi supaya pembicaraan tidak berhenti. “Iya. Aku mengikutinya sejak SMP, itu sebabnya waktu itu hingga saat ini aku tidak memiliki teman.” jelasnya kemudian menunduk dan tampak sedih. Melihatnya aku menjadi merasa bersama karena bertanya yang tidak pantas padanya.
“M—Maaf! Tapi sekarang kau sudah memiliki teman, kan?” ucapku menenangkannya. “Terima kasih sudah ingin berteman denganku.” balasnya kemudian tersenyum senang, namun tidak lama kemudian kepalanya menunduk kembali dan malu.
“Apa kau pernah berpacaran?” tanya Cassie sangat pelan sehingga aku mendengarnya samar-samar.
“Acar? Yah… Aku kurang suka acar.” jawabku pringas-pringis. “Bukan itu maksudku.” balas Cassie malu. “Bukan bahas makanan, ya?” ucapku kebingungan. Cassie pun menggangguk kepadaku. “Maaf.” cakapku pelan kepadanya. “Tidak apa-apa.” tuturnya sedikit panik.
“Jadi, apa yang tadi kau ingin tanyakan?” tanyaku kepada Cassie.
“E—Eh? Tidak jadi…” jawab Cassie gugup.
__ADS_1
Kemudian kami berdua saling diam dan aku berpikir kembali topik yang ingin kubahas. “Lalu, bagaimana denganmu saat SMP lalu? Apa sama saja seperti sekarang?” tanyaku penasaran. “Maaf kalau pertanyaanku sedikit lancang.” imbuhku kepadanya.
“Iya. Tidak banyak berubah seperti sekarang. Dulu aku sempat di ajak untuk berpacaran dengan seseorang, namun aku menolaknya.” jawabnya pelan.
“Bagus! Akhirnya ada yang berpikiran sama sepertiku. Kupikir hanya aku saja yang aneh.” lontarku senang kepadanya. “Melakukan hal itu hanya akan menguras waktu dan mengganggu kewajiban kita sebagai pelajar.” lanjutku bersemangat sambil cengengesan. Mendengar perkataanku seketika Cassie tertawa kecil dan wajahnya berseri-seri sambil menutupi mulutnya dengan tangannya.
“I—Iyah… Hihi…” ucap Cassie tergelitik tawa.
“Aku bingung dengan orang yang berpacaran. Menurutku itu hanya membuang-buang waktu saja.” cetusku bernada sebal.
“Mungkin mereka tidak berpikir sepertimu. Masa muda adalah waktu untuk dinikmati.” sahut Cassie.
“Menurutku baik-baik saja. Selama mereka bahagia, tidak ada yang perlu dipermasalahkan.” jawabnya tenang. Kemudian aku mencoba memikirkan jawabannya.
“Jadi… Tunggu sebentar.” ucapku berpikir seraya menatap langit-langit. Sementara itu Cassie terdiam bingung melihatku.
“Kalau misalnya aku menembakmu, kau akan menerimanya?” tanyaku yang masih berpikir heran. Sontak Cassie syok dan panik gelagapan.
__ADS_1
“E—E—Eh? B—Bukan itu maksudku!” lontar Cassie gugup setengah mati.
“Loh? Bukan, ya?”
“B—Bukan! Yah…” balasnya gugup tersipu malu. Lantas aku menjadi kebingungan dengan tingkahnya.
Tak lama kemudian kami saling bertatap-tatapan dan wajah Cassie memerah. Aku menjadi terkejut sekaligus panik.
“Kau demam?” tanyaku kepadanya. “Ti—Tidak. Aku baik-baik saja.” balasnya kalang kabut. Kemudian aku menempelkan telapak tanganku ke dahinya sembari membandingkan dengan dahiku. “Benar… Kau tidak sedang sakit.” ucapku lega kepadanya. Namun wajahnya semakin memerah seperti apel. Kemudian ia menunduk dan tangannya menutup mulutnya seakan-akan sedang menahan tawa.
“Kau orang yang sangat baik, ya.” ucap Cassie tersenyum bahagia kepadaku. “Ini pujian, kan?” tanyaku polos kebingungan. “Iya, iya.” jawabnya dengan tawa kecil yang menyertainya. “Terima kasih.” balasku dengan tersenyum balik kepadanya. Suasana menjadi cair dan tidak ada canggung di antara kami. Pembicaraan kami diwarnai dengan gelak tawa bahagia.
“Semoga kita bisa seperti ini terus. Aku beruntung sekali memiliki teman sepertimu.” cetus Cassie sambil menatap keluar jendela memandangi pemandangan.
“Iya. Kuharap kita bisa berteman… selamanya.” tuturku senang kepadanya. Matahari terbenam menjadi pemandangan terindah ketika kami tepat di puncak kincir. Dengan rasa gembira aku tersenyum kepadanya dan berharap dalam hati.
“Semoga…”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)