Love Exchange

Love Exchange
Episode 196 : Kala Musim Semi Datang


__ADS_3

Malam hari yang sejuk namun berbeda dengan keadaan langit dan bumi, keadaan di asrama menjadi panas dan penuh dengan tanda tanya. Rein dan Gavin terkejut melihat ke arahku. Kami berdua yang mengetahuinya lantas hanya bisa berdiam pasrah tanpa kata-kata.


“Pakaian itu, kau… dan Cassie…?” tanya Rein tak percaya.


“K—Kami hanya berjalan-jalan melepas bosan…” jawabku gelagapan.


“Lalu, kenapa pakaian kalian sepasang?” lanjut Gavin kesal. Seketika terlintas di kepalaku untuk mencoba meluruskan kesalahpahaman yang sudah tercipta.


“Kami mendapat kesempatan untuk mencoba ini terus diberikan secara gratis,” ujarku tersenyum.


“Benarkah?” ucap Rein.


“Kau tidak mungkin tak percaya dengan Cassie, kan?” pungkasku menyeringai lalu menimpalkannya pada Cassie.


“Ya… Kami berniat hanya berjalan-jalan di kota…” tutur Cassie. Mereka berdua lantas terdiam seraya menatap satu sama lain.


“Kalian masih tidak percaya?” cetusku. Aku mendekati Cassie lalu merangkulnya.


“Menurut kalian apakah terlihat cocok?” tanyaku.


“C—Cocok!” balas Rein dengan wajah setengah heran. Gavin hanya mengangguk-angguk dengan wajah kebingungan. Setelah itu kami kembali melakukan aktivitas masing-masing. Aku dan Cassie yang sudah mengantuk kemudian langsung berbaring istirahat di kamar. Gavin masih berada di ruang tengah bersama Rein.


“Tumben sekali kau tidak marah padanya,” celetuk Gavin pada Rein.


“Aku bingung harus bilang apa. Aku takut kalau aku salah langkah nantinya…” jawabnya.


“Mereka tampak serasi sekali…” gumam Gavin.


“Oh iya, apa kau menyadarinya…?” tanya Rein.


“Tentang mereka berdua? Tentu saja, aku sudah mengetahuinya sejak awal…” balas Gavin.


“Loh? Kau sudah mengetahuinya?” lanjut Rein terkejut heran.


“Aku tidak sebodoh seperti yang kau kira,” tandas Gavin.


“Kau sendiri yang bilang begitu,” ucap Rein jengkel.


“Aku sudah tahu arah pikiranmu.” Mereka berdua saling berpaling kesal sebelum akhirnya kembali bicara.


“Terus, apa yang akan kita lakukan sekarang? Melepaskan mereka?” tanya Gavin kebingungan.


“Untuk apa? Biarkan mereka yang menentukan jalannya sendiri. Kita cukup bersikap seperti biasanya saja,” papar Rein.


“Aku takut kalau itu akan merusak hubungan mereka…”


“Hah? Kau ini bodoh atau bagaimana, sih?” lontar Rein kesal.


“Eh? Memangnya apa?”


“Mereka bisa seperti itu karena apa?” balas Rein.


“Karena berpacaran dengan kita?” jawab Gavin heran.


“Iya, mereka bisa saling mengenal dan menyadari satu sama lain karena banyak belajar dengan kita,” jelas Rein.

__ADS_1


“Oh iya benar juga…” gumam Gavin.


“Aku semakin penasaran dengan masa depan mereka…” ujar Rein tersenyum.


Keesokan harinya kami berangkat menuju sekolah untuk memulai pekan yang baru. Bersama-sama kami berjalan bersama penghuni asrama sebelah, tak lama lagi semua murid kelas dua belas akan melewati banyak ujian. Sepanjang langkah kaki terdapat canda tawa yang mengiringi kami semua. Mereka semua menceritakan pengalaman saat akhir pekan kemarin.


“Bagaimana dengan kau, Adelard?” sindir Rhean. Aku hanya cengar-cengir ke arahnya.


“Ia jalan-jalan bersama Cassie,” celetuk Gavin. Aku dan Cassie terkejut mendengarnya, berikut pula yang lainnya.


“Wah! Benarkah?” lanjut Bella.


“Tanya saja langsung ke orangnya,” ujar Rein. Aku merasa bersalah terhadap mereka berdua.


“Apa Gavin dan Rein marah padaku dan Cassie?” gumamku dalam hati.


“Bagaimana, Adelard?” tandas Icha tepat di sampingku.


“K—Kami hanya mencari angin segar saja…” jawabku gelagapan.


“Baiklah, aku tidak bisa menyangkalnya…” ujar Icha tersenyum. Tanpa sadar langkah kami melambat terkecuali Gandra yang sudah berada di depan.


“Kalian tertalu asyik sampai lupa keadaan, ya!” lontar Gandra.


“Hahaha! Tenang saja! Masih lam—” lontar Rein tertawa lalu terdiam saat melihat jam tangannya. Pada saat yang bersamaan terdengar bel berdering dari dalam gedung.


“Tuh, sudah bunyi,” balas Gandra.


“Kita akan terlambat!” seru Bella.


“Sekolah, kami datang!”


\~\~\~


Waktu sudah berlalu cukup panjang sejak awal kami mengikuti les tambahan. Semua orang bertebaran dari kelas saat jam istirahat tiba. Mereka berlarian dengan sangat antusias dan tak sabar untuk melihat hasil yang sudah mereka perjuangkan selama kurang dari sebulan ini. Aku dan teman-temanku hanya berjalan santai menuju mading yang sudah penuh dengan orang-orang.


“Aku tidak mengerti lagi dengan mereka, padahal nanti siang masing-masing akan diberikan kertas hasilnya,” cetus Rein tak habis pikir.


“Apa kau tidak penasaran dengan nilaimu?” lanjut Bella.


“Tidak sebanyak mereka sepertinya… Kita akan mengulangnya lagi tahun depan, kan?” balas Rein.


“Ada benarnya juga, sih. Setidaknya kau tahu pencapaianmu saat ini,” sahut Icha.


“Aku hanya antusias dengan itu,” ujar Rein.


Sesampainya di mading, kami harus menunggu keramaian mereda hingga akhirnya kami dapat melihat lembaran nilai tersebut dari dekat. Aku tidak menyangka kalau kami semua mendapat urutan lima besar dengan total nilai terbanyak di masing-masing kelas.


“Wah! Selamat untuk kita semua!” lontar Bella girang.


“Aku sedikit merasa bersalah terhadap mereka yang sudah berusaha keras untuk mendapatkan urutan itu…” gumam Gandra.


“Lagi-lagi Adelard dapat peringkat satu, ya?” ucap Rein.


“C—Cassie juga,” balasku tersipu.

__ADS_1


“E—Eh? Aku hanya mengejakan semampuku…” tutur Cassie tertunduk malu.


“Hahaha! Kalian memang sangat serasi!” lontar Rhean tergelitik tawa, begitu pula dengan yang lainnya saat melihat wajah kami berdua.


Sepulang sekolah kami berjalan melintasi taman sekolah yang penuh dengan pohon dan bunga-bunga yang beterbangan seiring ditiup hembusan angin. Pada saat itulah aku merasa kalau waktu kami berada di sini sudah tak lama lagi. Aku tidak berbicara banyak sementara teman-temanku tengah asyik mengobrol. Cassie yang sejak awal kurang banyak bicara lantas juga terdiam sepertiku.


“Kau kenapa lagi? Malah murung di saat senang begini,” ujar Gandra.


“Aku tidak tahu bagaimana caranya bilang sampai jumpa pada kalian nanti...” jawabku tertunduk. Semua temanku yang mendengarnya lantas tersadar dan suasana menjadi hening sejenak.


“Kau belum siap dengan perpisahan?” lanjut Gandra.


“Memangnya kau sudah?” balasku.


“Ha! Aku punya ide! Bagaimana minggu depan kita melakukan piknik terakhir kita bersama?” usul Gavin bersemangat.


“Ide bagus! Kita akan lebih akrab dengan itu!” balas Bella membara.


“Bagaimana dengan yang lain?” ucap Gavin.


“Setuju!” lontar kami serentak.


Setibanya di asrama, aku baru teringat untuk membeli perlengkapan yang akan digunakan saat pelepasan nanti. Saat keluar dari asrama, aku melihat Gandra yang juga keluar dari asrama sebelah. Aku menghampirinya dan ternyata kami memiliki tujuan yang sama. Sepanjang perjalanan kami saling mengobrol.


“Sudah seberapa siap kau untuk pelepasan nanti?” tanya Gandra.


“Tak banyak,” jawabku. Ketika melewati sebuah toko cendera mata, Gandra berhenti dan membuatku heran.


“Maaf, Adelard. Ada sesuatu yang ingin ku beli di sini,” ucapnya.


“Kalau begitu, aku ikut menemanimu,” balasku.


“Tidak perlu. Kau duluan saja,” lanjutnya.


“B—Baiklah…”


Aku dan Gandra berpisah di depan toko itu. Terlihat ia memasukinya lalu langsung melihat-lihat suvenir tersebut. Aku melihat dari balik jendela secara diam-diam. Aku hanya berbicara dengan diriku sendiri dengan penuh rasa penasaran.


“Untuk siapa ia membeli itu?” Tampak ia mengambil beberapa suvenir yang berbeda jenis. Ada pula yang berpasang-pasangan, aku tidak mengetahui bentuknya karena terlihat samar dari kejauhan.


“Banyak sekali… Apa ia butuh sebanyak itu?” Saat ia di meja kasir, sang kasir membungkusnya masing-masing dengan sebuah kotak.


“Sepertinya hadiah… Tapi untuk siapa?”


“Untuk… kita…?”


“Ah iya! Kita akan melakukan piknik terakhir, sudah seharusnya masing-masing kita memberikan kenang-kenangan, kan?” benakku tersadar.


“Tapi… apa, ya…?” Aku memikirkan sebuah barang yang dapat digunakan dan dapat dikoleksi secara bersamaan. Hingga akhirnya aku menemukan jawabannya.


“Aha! Aku tau!”


“Ini akan jadi hadiah yang penuh dengan memori…”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2