Love Exchange

Love Exchange
Episode 159 : Menjelang Akhir Semester


__ADS_3

Suatu pagi yang cukup berawan, kami semua berangkat menuju sekolah bersama-sama. Aku berjalan bersebelahan dengan Rein. Kami berdua saling mengobrol dengan penuh canda. Kemudian semua orang termasuk diriku lanjut membicarakan tentang ujian akhir semester yang tidak lama lagi akan segera berlangsung. Hawa hari ini juga telah semakin dingin dan tampak pepohonan yang  hanya tersisa ranting-ranting tanpa dedaunan. Kami harus mengenakan pakaian tebal supaya tidak diterkam udara dingin itu.


“Entah kenapa akhir-akhir ini materi yang diajarkan sulit ku pahami,” ucap Rein.


“Aku juga, sepertinya cuaca dingin ini membekukan otakku,” sahutku.


“Ada tidak ya, penghangat kepala?” lanjutnya bercanda.


“Mungkin kau bisa menggunakan helm motor,” balasku tersenyum.


“Sepertinya itu tidak akan berpengaruh banyak.”


“Ya sudah, kalau begitu kau harus coba mengoleskan balsam di kepalamu.”


“Hahaha! Itu mah sama saja membakar kepala,” ujarnya tertawa. Aku juga tertawa bersama dengannya. Mereka yang melihat kami berdua lantas ikut merasa senang dan terhibur.


“Syukurlah kalian semakin akrab,” lontar Rhean.


“Tentu, yang namanya hubungan pasti akan naik-turun, betul kan?” balasku yang kemudian mengarah ke arah Gandra.


“Betul, betul,” jawabnya.


Langkah kami sudah dekat dengan gedung sekolah, terlihat para murid yang juga berjalan memasuki gerbang. Semua orang berjalan santai dan tidak banyak kegaduhan yang sangat berbeda dengan biasanya. Teman-temanku yang biasanya berlarian dengan girang menuju sekolah kini hanya berjalan tenang akibat rasa dingin yang membekukan.


“Brrr… Makin hari makin dingin saja…” hembus Bella menggigil kedinginan.


“Namanya juga musin dingin…” cetus Gandra.


Suatu ketika Gavin berlari dengan girang menjauhi kami menuju gerbang dan pada akhirnya ia berhenti kemudian berbalik arah menghadap kami seraya membentangkan tangan. Dengan suara yang kencang dan penuh semangat ia berteriak ke arah kami, sampai-sampai menarik perhatian sekitar. Kami yang melihatnya seperti itu lantas berhenti menyaksikannya.


“Libur musim dingin telah tiba…!”


“Masih dua mingguan lagi, Pak,” sahutku dengan wajah datar.


“Walah masih lama, tapi kita harus menyambutnya dengan penuh ceria!” serunya sembari menatap ke arah langit.


“Kira-kira, apa yang akan kita lakukan nanti?” tandas Icha penasaran.


“Pastinya jalan-jalan,” lanjut Rhean.


“Aku juga tidak sabar untuk bermain ski nanti,” tutur Rein yang sudah tak sabar.

__ADS_1


“Loh, kau bisa bermain ski?” tanyaku.


“Tentu, sangat seru, lho,” jawabnya.


“Apa kau belum pernah mencobanya sama sekali?” tutur Cassie. Aku yang mendengar pertanyaannya sontak terkejut dan tak percaya terhadapnya.


“E—Eh? Kau sudah pernah mencobanya?” pungkasku.


“Iya, tapi sudah sangat lama, sih,” jawab sembari mengingat-ingat kali terakhir ia bermain olahraga tersebut.


“Aku belum sempat mencobanya…” balasku.


“Wah, sepertinya ski akan masuk daftar liburan kita!” lontar Rein bersemangat.


“Sepertinya akan sangat seru!” sahut Icha yang juga membara.


“Tapi, aku tidak bisa…” lanjutku pelan.


“Tenang, aku akan mengajarimu sampai menjadi pemain jago,” balas Rein dengan penuh rasa senang.


Sesampainya di sekolah, kami mengikuti kegiatan pembelajaran seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari hari-hari biasanya. Saat jam istirahat tiba, semua orang langsung bergegas menuju kantin, termasuk diriku dan teman-temanku yang langsung berkumpul kemudian berjalan bersama-sama. Tampak banyak orang yang memenuhi koridor dan membuat kami kesulitan untuk melewatinya.


“Aduh, ramai sekali di sini,” gumam Bella.


“Lalu, bagaimana kita ke sana?” tanya Rhean kebingungan.


“Kalau kita memutar, tentu akan menghabiskan banyak waktu,” lanjut Gavin. Kami semua terdiam sejenak memikirkan cara untuk melintasi keramaian itu. Aku tidak mendapat jawaban dari apa yang sedang aku pikirkan.


“Sepertinya pilihannya antara memutar atau menembusnya,” ucapku. Seketika saja Gandra memikirkan sesuatu dan menarik perhatian kami semua. Ia berbicara sembari menghadap ke arahku dan Rein.


“Tunggu, kalian berdua kan…” Tiba-tiba saja datang sekumpulan perempuan yang muncul entah dari mana. Kami semua terkejut melihat kehadiran mereka yang mendadak.


“E—Eh? Dari mana kau—” tanyaku yang tak habis pikir namun dipotong oleh salah seorang dari mereka.


“Tenang! Kami akan membukakan jalan untuk kalian!”


Tidak lama kemudian mereka langsung berjalan maju ke kerumunan tersebut dan langsung membukakan jalan dengan berbagai cara. Sontak semua perhatian tertuju kepada mereka dan kerumunan tersebut mendadak berhamburan dan menepi. Aku yang melihat tindakan mereka lantas tercengang tak percaya bahwa mereka dapat melakukannya dengan mudah. Akan tetapi, semua tidak selalu berjalan lancar. Ada saja beberapa murid yang tidak mendengarkan perkataan mereka.


“Menepi atau…” gerutu mereka dengan tatapan yang tajam. Sekawanan laki-laki tersebut kemudian menepi dengan wajah ketakutan, tetapi masih terdapat satu orang yang terus membangkan terhadap mereka.


“Siapa kalian? Apa kalian yang punya sekolah ini?” lontarnya marah.

__ADS_1


“Permisi, tolong beri jalan untuk mereka, ya… Jangan menutupi jalan, oke?” tutur salah seorang dari sekumpulan perempuan itu dengan wajah tersenyum.


“Tidak, aku tidak ingin menuruti manusia seperti kal—Argh!” tantangnya dengan nada tinggi yang kemudian perempuan itu menendang ************ laki-laki tersebut yang seketika menumbangkannya. Kami yang melihatnya sontak tercengang seraya menutup mulut dan tak percaya dengan apa yang terjadi di hadapan kami. Cassie yang tak menyangkanya dengan cepat langsung menutup kedua matanya dengan penuh rasa takut.


“A—A—Apa yang kau lakukan?” tanyaku.


“Hanya efek kejut biasa, kok,” jawabnya tersenyum sembari mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. Terlihat laki-laki tersebut hanya meringkuk tanpa kata-kata sembari menahan rasa sakit yang dideritanya. Aku pun menghampirinya dengan raut wajah khawatir.


“Kau tidak apa-apa, kan?”


“Y—Ya… H—Hanya saja… aku merasakan… sensasi ber—beda…” jawabnya yang terbata-bata.


“Kami mohon maaf,” ucapku.


“I—Iya… Ti—Tidak masalah…” balasnya.


Setelah kejadian yang mencengangkan tersebut, kami kembali berjalan menuju kantin dengan mudah. Sesampainya di kantin, tampak orang-orang yang sudah memenuhi tempat itu. Kejadian tadi membuat langkah kami terhambat, bahkan kami dapat lebih cepat meskipun harus memilih jalan berputar sejak awal. Sekumpulan perempuan itu kemudian berpisah dengan kami. Aku berterima kasih kepada mereka karena sudah membantu kami.


“Ujung-ujungnya lambat juga…” gumam Bella merasa kecewa.


“Yah… Banyak hal-hal sudah terjadi…” sahut Rhean.


“Aku penasaran dengan laki-laki itu. Semoga ia benar-benar baik-baik saja,” lanjut Gavin bersimpati.


“Apakah separah itu?” tanya Cassie yang juga cemas.


“Bagaimana menjelaskannya, ya…” jawabku yang kebingungan.


“Apa boleh kucoba?” pinta Rein dengan nada serius kepadaku sembari mengambil ancang-ancang. Dengan sigap aku langsung panik dan menghindar darinya.


“Tidak! Bukan seperti itu konsepnya!” lontarku.


“Bercanda, bercanda… Hehe…” balasnya cengar-cengir.


“Sudah, sudah, sambil nunggu antrean, bagaimana kalau kita cari tempat duduk dulu?” usul Gandra.


“Wah, benar juga,” balas Bella. Kami pun berjalan menuju meja makan yang masih kosong. Ketika menemukannya, dengan segera kami menempatinya. Akan tetapi, tiba-tiba saja jari kelingking kaki Gavin terantuk keras dengan bangku yang ada di hadapannya.


“Aduh!” lontarnya kesakitan seraya mengangkan kakinya dan berlompat-lompat dengan satu kaki. Gandra pun bercetus kepada Rein sembari menyaksikan Gavin.


“Nah, kira-kira rasa sakitnya sama seperti ini, hanya saja di bagian tubuh yang berbeda…”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2