
Suasana lorong asrama yang sepi sembari ditemani oleh hembusan angin yang bersiul pelan. Langit yang teduh menghalangi sinar mentari nan terik. Aku dan Cassie yang baru saja tiba di asrama kami dipertemukan dengan dua orang yang tak asing, begitu pula dengan mereka. Kami berempat hanya saling bertatapan kaget seakan-akan tidak percaya.
Aku yang melongo melihat mereka hanya terdiam sambil mengingat namanya. “Siapa namanya, ya?” gumamku seraya berpikir dalam hati.
“Adelard? Kau juga mengikuti program ini?” Sementara itu aku tidak tahu harus membahas apa lantaran sama sekali tidak ingat akan namanya. Sementara itu seorang perempuan di sampingnya menyapa Cassie.
“Hai, kalau tidak salah kau Cassie, kan?” ucapnya. Situasi yang sedikit canggung membuatku harus bertindak sesuatu. Aku pun memperkenalkan diriku dan Cassie kepada mereka berdua sembari tersenyum.
“Iya, aku Adelard, Adelard Lavient. Dan dia Cassie Elaina.”
“Salam kenal! Namaku Gavin Ryszard. Dan…”
“Aku Rein Fleurish,” lanjutnya tersenyum. Kemudian Gavin membuka pintu yang terkunci itu. Setelah berada di dalam, kami dikejutkan dengan ruangan yang cukup luas dan lengkap dengan peralatan-peralatan, sama seperti di rumah.
“Kukira asrama itu hanya kasur bertingkat tanpa ruang tengah…” lontarku pelan.
Asrama pada kompleks sekolah ini terbagi menjadi tujuh bangunan yang masing-masing terdiri dari lima tingkat. Setiap bangunan memuat seratus asrama yang di tempati oleh para murid. Sedangkan para guru dan pegawai sekolah menempati asrama tersendiri dan terpisah dari tujuh gedung asrama yang berdekatan.
Tiap-tiap asrama terdiri atas ruang tengah, kamar mandi, dan dua bilik kamar yang terbagi untuk laki-laki dan perempuan. Satu asrama hanya dapat terisi oleh empat orang, dan terbagi lagi menjadi dua laki-laki dan perempuan. Aku sendiri pun tidak mengerti maksud dari cara pembagian seperti itu. Asrama yang aku ketahui adalah asrama yang berisikan kasur-kasur serta terpisah antara kedua gender itu.
Aku merapihkan barang bawaanku di bilik kamarku. Gavin yang kelelahan langsung melompat ke kasur yang empuk. Interior ruangan yang jauh berbeda dari dugaanku membuatku berpikir bahwa tempat ini adalah hotel. Koper dan tas milik Gavin berceceran di lantai sehingga membuatku sulit berjalan.
“Rapihkan dulu barang-barangmu,” ujarku kepadanya.
“Sebentar lagi…” hembus Gavin yang merasa nyaman sembari mengguling-gulingkan dirinya di atas kasur. Aku keluar dari kamar dan pergi menuju ruang tengah untuk melihat-lihat persediaan yang ada. Terdapat sebuah kulkas yang berisikan aneka bahan makanan dan minuman.
“Ini mah hotel namanya,” batinku. Kemudian aku mengambil jus jeruk dan menikmatinya di sofa sembari menonton televisi. Tak lama kemudian Cassie dan Rein keluar dari kamar mereka.
“Sedang apa, Adelard?” tanya Cassie.
“Duduk santai…” Tak lama kemudian Rein mengambil minuman juga dari kulkas lalu duduk di sampingku.
“Gavin sedang apa di dalam?” tanya Rein.
“Entahlah, mungkin dia ketiduran,” jawabku. Lalu kami bertiga mengobrol dan bersantai bersama. Banyak hal yang baru aku ketahui tentang sekolahnya Rein. Tak jarang juga ia membicarakan sisi lain dari Gavin. Aku hanya tertawa mendengarnya.
“Yah, aku juga bisa menebaknya saat di kamar tadi,” sahutku.
“Benar kan? Memang dia anak tidak tahu malu,” lanjut Rein. Sementara itu Cassie hanya menyimak pembicaraan kami berdua.
“Aku ingin menyiapkan makan malam,” tutur Cassie beranjak dari sofa dan mulai mengeluarkan beberapa bahan-bahan masakan dari kulkas. Lantas Rein bersemangat dan ikut membantunya. Aku melanjutkan dengan menonton televisi dengan tenang, tetapi tak lama kemudian Rein menyuruhku untuk mandi.
“Daripada kau tidak berbuat apa-apa, lebih baik kau bersih-bersih. Aku tidak ingin kamar mandi jadi penuh antrean nanti.”
“Baiklah,” balasku kemudian mengambil handuk di kamarku. Saat di dalam kamar terlihat Gavin yang terbaring pulas membentang ke seluruh permukaan kasur.
“Sudah kuduga,” gumamku. Lalu aku pergi menuju kamar mandi mengenakan handuk, di lain sisi mereka berdua sedang asyik memasak di dapur yang juga berada di ruang tengah. Di dalam kamar mandi terdapat bak mandi lantas aku pun pergi berendam dengan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
“Makan malam sudah siap!” teriak Rein dari luar. Sontak aku tersadar dan dengan segera membasuh tubuhku.
Tak lama kemudian aku keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamarku. Akan tetapi, tiba-tiba saja aku dan Cassie saling bertatapan dan membuatku teringat dengan kejadian waktu itu. Lekas ia langsung memalingkan wajahnya dariku dan aku berlari memasuki kamar. Melihat tingkah kami berdua yang aneh membuat Rein menjadi kebingungan dan penasaran.
“Apa ada sesuatu?” cakapnya bertanya kepada Cassie. Dengan wajah yang panik dan pipi yang memerah, Cassie menjawabnya gelagapan.
“B—Bukan apa-apa!” Hal tersebut membuat Rein amat penasaran dan menatap curiga ke arah Cassie, sedangkan Cassie kepanikan dan salah tingkah.
“Oh iya, jangan lupa bangunkan Gavin!” seru Rein dari luar.
“Iya!” sahutku.
Setelah mengenakan pakaian lalu aku membangunkan Gavin yang masih tertidur pulas dan membuat kasur menjadi berantakan. Aku berusaha untuk membangunkannya, tetapi usahaku lagi-lagi sia-sia. Sekilas terlintas di kepalaku akan Hart yang serupa dengannya.
“Tidak dia, tidak Hart, sama saja,” gerutuku kesal. Rein yang telah menunggu di meja makan sudah tidak sabar menunggu kami berdua.
“Cepatlah! Keburu makanannya dingin!”
Tiba-tiba terpikirkan olehku satu-satunya cara untuk membangunkannya, tetapi di saat yang bersamaan aku tersadar bahwa cara tersebut akan merugikanku juga.
“Kalau pakai cara ini bagaimana aku bisa tidur nanti,” batinku sembari memegang segelas air.
Selama beberapa menit berselang Gavin tak kunjung bangun dari tidurnya. Lantas Rein membuka pintu kamar dengan maksud menghampiri kami berdua. Sontak ia tersentak kaget melihat kondisi kamarku yang berantakan dan dipenuhi oleh tas dan koper yang berceceran.
“Astaga! Ada apa dengan kamar kalian?” lontarnya marah. Setelah melihat situasi yang terjadi, Rein menyadari betul bahwa semua barang yang berantakan teresbut adalah milik Gavin. Lekas ia berjalan menuju kasur dan dengan cepat menarik telinga Gavin dengan kencang. Seketika Gavin pun terbangun dan menjerit kesakitan.
“A—A—Adudududuhh…!” Rein menarik telinga Gavin dan membawanya menuju meja makan. Aku dan Cassie yang melihatnya hanya terdiam dan melongo menyaksikan mereka berdua. Sementara itu Rein terus-terusan melontarkan kata-kata kepada Gavin sembari menjewer telinganya.
“E—Emak-emak kalah…” ucapku ternganga. Melihatnya saja telah membuat Cassie ketakutan dan tak berkutik apa-apa. Aku yang menonton mereka dari belakang membuatku teringat dengan Rinne yang suka marah.
“Ampun…! Ampun…!” teriak Gavin.
Setelah semuanya berada di meja makan, situasi mereda dan seketika wajah Rein berubah seratus delapan puluh derajat. Sementara itu aku dan Cassie menjadi canggung terhadapnya. Makanan yang dihidangkan di meja telah terlanjur dingin namun tidak segera kami santap. Sementara itu Gavin masih mengusap-usap telinganya yang sakit. Melihat semuanya terdiam lantas Rein memulai pembicaraan.
“Sudah, sudah… Ayo kita makan!” lontarnya cengengesan. Lagi-lagi terlintas di benakku dan teringat dengan Freda. Lantas aku pun kembali bersemagat dan membuat Rein kebingungan.
“Wah, wajahmu berubah drastis. Sepertinya kau senang sekali,” ucap Rein tersenyum. Suasana menjadi cair dan kami saling mengobrol bersama sembari menyantap makan malam.
“Iya… Kau unik, ya,” sahutku kepadanya dan sontak membuatnya tertawa.
“Hahaha… Baguslah kalau kau bilang begitu.”
Kami pun memakan berbagai macam hidangan yang telah dibuat oleh Rein dan Cassie. Banyaknya makanan yang dihidangkan membuat meja menjadi kepenuhan. Aku pun meminta Rein untuk mengambilkan makanan yang jauh dari jangkauanku.
“Bisakah kau ambilkan daging itu?” pintaku. Lalu ia pun menyendokkan daging tersebut dengan sendoknya. Namun bukannya meletakkan makanan tersebut ke piringku, justru ia mendekatkan sendoknya ke mulutku. Hal tersebut membuatku terkejut heran dan salah tingkah.
“E—Eh? A—Apa yang kau lakukan?”
__ADS_1
“Buka mulutmu… Aaaaaa…” Lalu aku disuapi olehnya. Sontak aku menjadi malu dan kalang kabut. Cassie yang melihat kami berdua menjadi syok dan juga ingin melakukannya seperti Rein. Dengan wajahnya yang merah merona, ia menyendokkan makanan serupa dan menyuapiku, sedangkan aku hanya terdiam kebingungan.
“B—Buka mulutmu!” tuturnya gugup. Sementara itu Rein tersenyum licik melihat tingkah kami berdua.
Selepas makan malam, kami pun merapihkan meja dan bersiap untuk tidur. Aku dan Gavin kembali ke kamar kami, begitu pula dengan Rein dan Cassie yang pergi masuk ke dalam kamar mereka.
“Masih sakit?” tanyaku kepada Gavin yang masih memegang telinganya.
“Sakitnya tidak masuk akal. Tidak hilang-hilang,” jawabnya.
Di lain sisi, Rein berbisik kepada Cassie perihal kejadian saat makan malam tadi.
“Tadi kau cemburu, ya?” Sontak Cassie menjadi panik dan membantahnya.
“Ti—Tidak!”
Lampu-lampu yang dimatikan membuat ruangan menjadi gelap, aku pun tidur di kasur yang sama dengan Gavin. “Huft… Kenapa kasur hotel? Padahal lebih baik kasurnya dipisah,” keluhku pasrah.
Aku pun berusaha memejamkan mata dan akhirnya dapat tertidur dengan tenang. Namun pandanganku memperlihatkan sebuah peristiwa yang tidak mengenakkan bagiku. Diriku seperti terjatuh dari tebing yang tinggi menuju jurang yang dalam. Saat aku menghantap permukaan lantas aku terbangun.
“Aduh!” Ternyata aku baru saja mengalami mimpi buruk. Namun saat aku terbangun aku sedikit terkejut dengan diriku yang tengah terbaring di lantai. Saat aku melihat ke atas, rupanya Gavin tertidur membentang dan mendorongku hingga terjatuh.
“Aku juga mau tidur, tahu!” gerundelku. Terbangun di tengah malam membuatku menjadi kesulitan untuk tertidur kembali. Akhirnya aku keluar dari kamar dan berbaring di sofa. Tak lama kemudian Rein juga keluar dari kamarnya.
“Tidak bisa tidur?” tanyaku.
“Ya. Kau juga?” balasnya.
“Aku jadi susah tidur gara-gara Gavin membangunkanku.” Kemudian Rein duduk di lantai dan bersandar ke sofa sambil menyalakan televisi. Aku yang terbaring lantas mengantuk. Rein mempersilakanku untuk tidur setelah mendengar suara menguap dari mulutku.
“Kau tidur saja.”
“Lalu kau bagaimana?”
“Tenang saja. Aku akan tidur kalau aku sudah ngantuk.”
“Baiklah. Selamat malam…”
Aku yang memejamkan mata dengan badan menghadap sandaran sofa seketika terbeset di pikiranku lalu berkata dalam hati.
“Sikap Rein dewasa sekali. Walaupun sering bercanda, tapi dia selalu tenang…”
“Andai saja teman-teman seperti dia…”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1