Love Exchange

Love Exchange
Episode 106 : Tertimpa Kemalangan


__ADS_3

Siang hari yang terik membakar kulit bagi siapa pun yang terpapar olehnya. Suasana sekolah masih ramai dengan lalu lalang orang-orang di sepanjang koridor. Kami berempat sedang berada di ruang kesehatan. Klub kesehatan telah berada di ruangan dan langsung menerima Gavin yang kakinya terkilir cukup serius. Aku bersama Gandra dan Rhean hanya menyaksikan proses penanganan tersebut. Tak lama kemudian, teman-teman kami pun datang dengan napas yang terengah-engah.


“Apa Gavin baik-baik saja?” lontar Bella cemas. Lantas mereka menghampiri kami dan melihatnya dari dekat. Tampak sebelah kakinya dibaluti perban yang cukup tebal.


“Huh, inilah akibatnya kalau terlalu petakilan,” sindir Rein sedikit kesal terhadapnya.


“Kau tidak merasa kasihan sekali kepadaku?” tanya Gavin tampak berseri-seri. Sontak Rein memalingkan wajahnya dengan penuh kesal. Cassie yang melihat Gavin tak berdaya membuatnya penarasan.


“Apa itu sangat sakit?” tanya Cassie sembari menyentuh perban tersebut. Lekas Gavin merintih kesakitan tepat saat Cassie menyentuhnya. Cassie pun terkejut dan merasa bersalah. “A—Aduh…!”


“M—Maaf!” tuturnya gelagapan.


“I—Iya, tidak apa-apa,” balas Gavin tersenyum.


“Syukurlah kau masih selamat,” ucap Icha menyeringai senang.


“E—Eh? Kau mengira kalau aku akan mati?” sahut Gavin, namun Icha hanya tertawa kecil tanpa respon satu kata pun darinya.


Pada saat yang bersamaan, pintu terbuka dari luar. Pak Edwin dan salah seorang guru yang juga pembina klub kesehatan berjalan mendatangi kami. Guru tersebut langsung mengecek kaki Gavin yang terkiuk itu, sementara itu Pak Edwin dengan tampang garangnya menatap ke arah Gavin. Gavin yang ketakutan membuatnya berkeringat dingin dan menelan air liur. Setelah mengecek kondisi Gavin, pembina klub kesehatan itu memberitahukannya kepada kami semua.


“Dia harus menggunakan tongkat jalan,” ujarnya. Kami yang mendengarnya lantas syok dan tidak percaya.


“Separah itukah?” tanyaku.


“Ya, butuh waktu sekitar dua minggu untuk pulih seperti sedia kala.”


“Kalau begitu, Bapak akan mengambilkannya untukmu. Untuk sekarang beristirahatlah dulu,” lanjut Pak Edwin yang kemudian berjalan keluar dari ruangan. Aku yang mendengar perkataannya tersebut mendadak membuatku bingung dengan sikapnya yang seketika berubah.


“Loh, tidak seperti yang kukira ternyata,” gumamku pelan. Tepat beberapa detik kemudian Pak Edwin kembali datang dan berseru ke arah kami. Kami semua terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba.


“Pastikan kolam renangnya bersih!”


“Baik, Pak!” sahut kami bertiga serentak dengan postur berdiri tegap. Bella dan kekawanannya yang mengetahui hal tersebut lantas menawarkan bantuan kepada kami.


“Mau kami bantu?”

__ADS_1


“Terima kasih, tapi sebentar lagi akan selesai, kok,” balasku cengar-cengir.


“Lalu, manusia tidak berguna ini bagaimana?” tanya Rein yang juga menyinggung Gavin. Sontak Gavin merasa dongkol dengan perkataan Rein barusan.


“Justru aku yang paling banyak membersihkannya, tahu!” Lalu Rein memanfaatkan situasi tersebut untuk kembali menyindirnya.


“Oh, jadi begitukah? Tumben sekali…” cetusnya sambil tertawa kecil.


“Terserah kau sajalah.”


Tak lama berselang bel masuk pun berbunyi. Semua murid telah kembali menuju kelasnya masing-masing, begitu pula dengan Rein dan teman-temannya. Di lain sisi, aku, Gandra, dan Rhean menjadi bimbang untuk memilih antara masuk kelas atau membersihkan kolam renang terlebih dahulu. Sementara Gavin masih harus berbaring sampai Pak Edwin kembali dengan tongkat jalan yang akan dibawanya.


“Bersihkan kolam itu saja dulu,” lontar Rein kepadaku. Lalu sisa dari mereka mengiakan ucapannya.


“Baiklah kalau begitu. Tapi, siapa yang akan menjaga Gavin?” lanjut tanyaku kebingungan. Lagi-lagi Rein menyindirnya kembali.


“Dia sudah besar, kok. Tidak perlu ditemani lagi.” Dengan wajah geram Gavin mengepal tangannya. Guru tersebut pun menenangkan suasana dan berkata bahwa ia dapat menjaga Gavin hingga pulang sekolah nanti.


“Apa Ibu yakin?” tanya Bella memastikan.


“Ya, Ibu sudah tidak ada jam lagi,” jawabnya tersenyum.


“Gavin sangat bersemangat sekali, ya…” gumamku.


“Ayo kita selesaikan, lalu segera masuk ke kelas,” ucap Gandra kepada kami.


“Oke!” sahut Rhean.


Kami pun membersihkan kolam tersebut dengan cepat. Sekolah tampak hening di tengah waktu pembelajaran yang sedang berlangsung. Selang beberapa menit kemudian akhirnya kami dapat menyelesaikannya. Setelah segala tuntas, kami mengambil tas lalu berjalan menuju kelas kami masing-masing. Untung saja aku dan Gandra diperbolehkan untuk masuk ke dalam oleh guru yang sedang mengajar. Suasana kelas menjadi sedikit bising dengan bisik-bisik para murid.


“Wah, orang-orang membicarakan bentuk tubuhmu,” ucap temanku yang berada di belakang dengan pelan. Sontak guru pun kembali menegaskan para murid untuk diam dan memperhatikan. Seketika situasi menjadi hening dan tenang kembali, meskipun sering kali terdapat beberapa perempuan yang mencuri-curi pandang ke arahku.


“Tolong hentikan,” gumamku dalam hati.


Waktu terus berjalan dan hari telah menjelang sore. Bel pulang berbunyi bersamaan dengan murid-murid yang bergegas keluar dari kelas. Sebagian dari mereka langsung kembali pulang, dan sebagiannya lagi melanjutkannya dengan kegiatan klub. Aku bersama teman-temanku pergi menuju ruang kesehatan untuk menengok Gavin. Sesampainya di sana, tampak ia yang berbaring pulas dengan seorang guru tadi yang masih menjaganya.

__ADS_1


“Terima kasih, Bu,” ucapku sopan kepadanya.


“Iya sama-sama. Pastikan dia tidak banyak bergerak, ya,” balasnya tersenyum. Lalu guru tersebut berkata kepada Gavin sebelum pergi keluar. “Semoga lekas membaik.”


Tak lama kemudian, Pak Edwin memasuki ruangan dengan tongkat jalan yang ada di tangannya. Sontak kami menjadi terdiam dan tidak banyak bertingkah.


“Ini, pakailah. Semoga cepat sembuh,” ujarnya datar. Lalu Pak Edwin berjalan keluar lagi. Sebelum itu, Pak Edwin berkata kepada kami berempat.


“Besok-besok, jangan terlambat lagi, ya.”


“Baik, Pak!”


Kami pun memutuskan untuk segera pulang menuju asrama. Dengan tongkat yang di genggam Gavin, ia berusaha untuk beranjak dari kasur lalu berdiri. Namun, dirinya yang belum terbiasa dengan tongkat itu membuatnya kesulitan untuk menyeimbangkan diri. Kami yang melihatnya menjadi gelisah terhadapnya. Aku pun langsung memegangnya supaya tidak terjatuh.


“Kau bisa menggunakannya, kan?” tanya Cassie khawatir.


“Akan ku usahakan, tapi sepertinya aku masih perlu bantuan,” jawabnya.


“Kalau begitu aku akan membantumu berjalan,” sahutku.


“Terima kasih.”


Lalu kami semua pergi keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju tangga, hingga terjadilah sebuah masalah. Gavin tidak bisa menggunakan tongkatnya untuk menuruni tangga. Ia juga tampak ketakutan meskipun aku sudah merangkulnya. Aku mencoba untuk menenangkannya dan membawanya menuruni tangga satu per satu, namun kaki Gavin yang bergemetar membuatnya lemas dan memelukku kemudian. Akhirnya aku menggunakan cara terakhir untuk menuruni tangga tersebut.


“Huft… Ujung-ujungnya di gendong,” cetus Rein.


“Kau cukup berat juga ternyata,” lanjutku.


“Kau kan kuat, hehe…” balas Gavin cengengesan.


“Ini juga karena turun,” sahutku.


Setibanya di lantai dasar, kami berjalan keluar dari sekolah. Kami semua berjalan perlahan karena menunggu Gavin yang berusaha untuk melangkah dengan tongkatnya. Waktu yang dihabiskan cukup lama sampai akhirnya kami tiba di gedung asrama. Kami pun dapat menarik napas lega. Akan tetapi, sebuah masalah muncul kembali dan membuat kami semua kebingungan. Kami harus menaiki tangga untuk bisa sampai di asrama kami. Gavin ketakutan bila harus menggunakan tongkat tersebut. Kami semua terdiam menatap tangga yang cukup tinggi itu.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyaku.

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2