
Hari sudah semakin larut dan langit mulai menggelap, namun bukan karena mentari yang telah tertidur. Suara dentuman keras terdengar dengan sangat jelas dan membuat orang-orang sontak porak-poranda, begitu pula
dengan kami semua yang berlarian mencari tempat untuk berlindung. Gavin yang belum lama sembuh dari cederanya lantas tidak memberanikan diri untuk berlari kencang. Aku yang melihatnya tertinggal di belakang lekas menggendongnya.
“Terima kasih, maaf sudah merepotkanmu,” ucap Gavin dengan nada yang keras karena tertimpa suara air yang deras.
“Tidak usah dipikirkan,” balasku. Pada saat yang bersamaan Gavin merasa sangat lega dan senang dengan kondisi yang hadir di saat yang tepat. Ia berucap sendiri di dalam benaknya.
“Tadi hampir saja…”
“Terima kasih, hujan…”
Sesampainya di tempat beratap, kami langsung memasuki asrama kami masing-masing. Dengan cepat aku dan Gavin pergi ke kamar mandi dan langsung membersihkan diri, sementara itu Rein dan Cassie yang berniat lebih dahulu masuk menjadi kesal melihat pintu yang sudah terkunci rapat. Mau tidak mau mereka harus mengelap diri mereka yang basah dengan handuk yang sudah dikenakannya.
“Kenapa kalian duluan yang masuk!” seru Rein dari luar.
“Maaf, aku sudah tak tahan kedinginan!” sahutku. Cassie yang menunggu di luar lantas menggigil lalu mengambil air hangat.
“Cepat! Kami juga sudah tidak tahan!” lanjut Rein.
“Iya, iya! Sebentar lagi, nih!” balas Gavin.
Beberapa saat setelah mandi, aku baru tersadar kalau kami lupa membawa handuk. Kami langsung memasuki kamar mandi tanpa membawa apa pun, termasuk baju ganti. Kemudian aku meminta tolong kepada Rein untuk mengambilkan handuk milik kami berdua.
“Hah? Yang benar saja! Aku harus masuk ke kamar kalian?” lontar Rein tak percaya.
“Tenang saja, tidak ada yang aneh-aneh, kok!” sahutku. Rein pun menerima permintaanku lalu berjalan memasuki kamar kami bersama Cassie. Tidak lama waktu berselang tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengganjal di benakku. Lantas aku bertanya kepada Gavin untuk memastikan.
“Kamar kita aman-aman saja, kan?”
“Sepertinya begitu…” jawab Gavin ragu, namun seketika saja ia teringat sesuatu yang berada di atas meja belajar.
“B—Buku tentang cinta!” lontar Gavin tersadar, berikut dengan diriku yang baru saja teringat. Seketika kami menjadi panik namun tak tahu harus berbuat apa.
“Astaga naga! Aku lupa menyembunyikannya di lemari!”
Di sisi lain, Rein dan Cassie sedang sibuk membongkar lemari pakaian untuk mencari handuk kami. Setelah beberapa waktu berlalu, Rein menjadi kesal dikarenakan handuk yang tak kunjung mereka temukan. Cassie yang tidak sengaja memandang ke arah meja belajar sontak melihat sebuah buku yang tampak asing baginya, sementara itu Rein tengah mengeluarkan seluruh isi lemari kami.
“Buku apa ini? Cinta?” tanya Cassie kebingungan. Rein yang mendengarnya lantas datang menghampirinya lalu melihatnya. Saat melihat halaman depan, ia menemukan pertanyaan yang menjelaskan isi dari buku tersebut.
“Tertulis ‘Buku yang cocok untuk memahami pasangan anda’ di sini.”
“Memahami pasangan?” tuturnya Cassie yang masih belum mengerti.
__ADS_1
“Singkatnya buku ini menjelaskan tentang tips dan cara untuk mendekati, memahami maksud ucapan, dan kode dari perempuan.”
“Jadi mereka melakukannya sesuai dengan apa yang tertulis di buku ini?” tanya Cassie.
“Bisa jadi seperti itu,” jawab Rein. “Yah… Anggap saja mereka juga sedang belajar,” imbuhnya.
“Apa tidak ada buku seperti itu untuk perempuan?” ucapnya tiba-tiba dan seketika menyadarkan Rein.
“Oh iya… Aku sudah berjanji untuk membuatnya bahagia… Aku ingin lebih memahaminya…” gumam Rein dalam hati. Melihat Rein yang terdiam lantas membuat Cassie buncah terhadapnya.
“Rein? Kau tidak apa-apa?”
“Aha! Bagaimana kalau kita mengunjungi toko buku nanti?” ajak Rein bersemangat. Sontak Cassie ikut membara akibat pengaruh Rein.
“Tentu! Aku juga ingin mencari buku itu!”
Rein dan Cassie tanpa sadar terus membaca buku yang mereka lihat itu. Halaman demi halaman dibaca oleh mereka. Berbagai hal baru yang mereka ketahui. Waktu terus berjalan sementara kami yang masih berada di dalam kamar mandi terus menunggu mereka yang tak kunjung datang. Aku dan Gavin menjadi cemas dibuatnya.
“Lama sekali, mereka sedang apa, sih?” tanya Gavin sebal.
“Jangan-jangan mereka sedang membaca buku itu…?” lanjutku gelisah.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” sahutnya.
Kami pun menunggu Rein dan Cassie dengan waktu yang cukup lama. Selama itu kami saling terdiam tanpa kata-kata. Hingga akhirnya terbesit sebuah pertanyaan di dalam kepalaku. Seketika aku teringat dengan kejadian perpustakaan sore tadi.
“Gavin…”
“Ya?”
“Apa kejadian di perpustakaan itu adalah kau dan Cassie?”
“E—Eh? Ti—Tidak! Aku tidak pergi ke sana selama satu hari ini!”
“Tidak perlu berbohong, aku berjanji untuk tutup mulut.”
“Iya… Aku menembaknya di sana…”
“Tapi jangan salah paham loh, ya! Dia yang duluan bertanya contoh orang menembak pasangan itu seperti apa.”
“Oke, oke. Aku mengerti…” Kemudian suasana menjadi hening sejenak sebelum aku kembali bertanya kepadanya.
“Bagaimana pandanganmu tentangnya? Apa yang kau suka darinya?”
__ADS_1
“Semuanya. Tapi aku masih iri denganmu yang sudah pernah berciuman,” jawab Gavin tersenyum lalu berawai. Seketika saja Gavin jadi terus memikirkannnya. Hingga akhirnya aku melihat sesuatu yang tidak ingin aku lihat sama sekali. Sontak aku menyadarkannya dan memberitahunya.
“Gavin,” ujarku namun ia masih terdiam senang. Aku pun menarik napas kemudian mengambil air dan menyiramnya.
“Ha! Ada apa?” tanya Gavin penuh heran.
“A—Ada yang tegak, tapi bukan keadilan…” Gavin yang mendengarnya sontak tersadar dan langsung tersipu malu setengah mati. Aku yang melihatnya kalang kabut lantas membuatku kebingungan dengan tingkahnya.
“Seharusnya kau memasang ekspresi seperti itu saat bersama Cassie,” ujarku.
“Oh iya, betul juga.”
Tiap-tiap menit berlalu kami terus menunggu di dalam kamar mandi hingga kehabisan bahan obrolan. Aku yang sudah tak tahan menunggu sontak berteriak memanggil mereka. Mereka yang mendengarnya lekas tersadar dan kembali mencari handuk dengan cepat. Cassie pun menemukan handuk tersebut di sudut lemari paling belakang.
“Ini dia!”
“Kenapa mereka meletakkannya di tempat seperti itu?” benak Rein kesal. Akhirnya kami dapat mengenakan handuk dan bergiliran dengan mereka berdua.
Selepas semuanya selesai, kami melanjutkan aktivitas dengan bersantap malam bersama. Tidak lama setelah menghidangkan makanan di atas meja, Rein pergi meninggalkan kami bertiga sejenak lalu kembali dengan sebuah buku yang berada di genggamannya. Aku dan Gavin yang melihatnya sontak berkeringat dingin dan tak tahu harus berbuat apa.
“K—K—Kami hanya membacanya untuk referensi saja!” lontar Gavin gagap. Dengan wajahnya yang kesal ia meletakkan buku tersebut dengan cukup kencang seraya berkata, “Dasar kalian!” Sontak kami berdua bergemetar ketakutan.
“Kenapa kau tidak memberi tahu kalau ada buku seperti ini!” Mendadak kami berdua menjadi terheran-heran dengan perkataannya.
“Ayo kita melakukan jalan bersama saat festival nanti,” tutur Cassie dan seketika mengejutkan kami berdua.
“Ta—Tapi, semua usaha kami akan menjadi tidak romantis lagi karena sudah membacanya…” balasku pelan.
“Aku tidak mengerti dengan isi buku itu,” sahut Rein.
“E—Eh? Maksudmu?” tanya Gavin tak habis pikir.
“Kami tidak paham dengan tulisan yang membingungankan dan pikiran laki-laki yang aneh,” jawab Rein sedikit sebal.
“Loh? Bukannya pikiran perempuan yang penuh dengan misteri dan membingungkan?” gumamku heran dalam hati.
“Baiklah kalau begitu, ayo kita melakukannya saat festival nanti!” lontar Gavin bersemangat, begitu pula dengan kami yang juga sudah tak sabar.
“Oke!”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1