Love Exchange

Love Exchange
Episode 81 : Lini Masa Musim Semi


__ADS_3

Langit sore yang kembali cerah dan aroma tanah setelah tanah yang menenangkan menyambut diriku sesampainya di rumah. Orang tuaku dan adikku telah menungguku di dalam. Sesaat aku menutup pintu mereka langsung datang menghampiriku dengan wajah gembira.


“Asik! Pertukaran pelajar!” lontar adikku kegirangan. Ayah dan ibuku tersenyum ke arahku. Sontak aku pun tersentak kaget melihat respon mereka.


“K—Kalian mengetahuinya?” tanyaku gelagapan.


“Tentu saja, tidak mungkin kami tidak diberi tahu, kan?” balas ayahku. Ibuku yang sedang semangat-semangatnya langsung mendukung penuh diriku. Begitu pula dengan adikku yang heboh dan norak bagai anak kecil.


“Ibu akan menyiapkan semuanya.”


“Aku juga!” sahut adikku.


Lalu aku membalas mereka dengan tersenyum senang. Setibanya di kamar aku membereskan beberapa persiapan untuk program OSIS yang akan segera diadakan. Waktu pun silih berganti hari demi hari. Aku juga masih direpotkan oleh dua kecoak yang terus mendesakku untuk mengajarkan mereka. Beberapa minggu setelah ujian tengah semester akan dilanjutkan dengan pekan ulangan harian, tetapi mereka masih saja kekurangan nilai yang masih di bawah rata-rata.


“Kami remedial lagi,” ucap Hart cengengesan.


“Bagaimana bisa kalian remedial di dalam remedial?” tanyaku tidak habis pikir. Kemudian Freda menyahutiku sembari tertawa dan berkata, “Hehe… Kami hebat, kan.” Aku merasa kesal dengan perangai mereka yang tidak ada kapok-kapoknya sedikit pun.


“Kok malah bangga? Itu mah kelewat bodoh namanya,” gerutuku dalam hati. Aku mengajari mereka pada saat jam istirahat maupun setelah pulang sekolah. Sesekali Cassie juga diajak untuk meringankan bebanku. Seperti itulah keadaan yang terus aku alami entah sampai kapan.


Kalender terus berjalan tanpa henti. Hingga suatu hari yang begitu sacral pun tiba. Hamparan diterangi kilau mentari dengan cakrawala yang berwarna biru cerah, awan-awan berselaput tipis tertiup pelan, bunga-bunga yang bermekaran dan memenuhi permukaan jalan, disertai dengan burung-burung yang berkicau merdu, dan hawa yang hangat pertanda tanggal telah memasuki musim kembang puspita. Hari ini semesta mendukung kegiatan upacara kelulusan.


Suasana khidmat dan tenang memandu jalannya rangkaian upacara yang diselenggarakan setahun sekali ini. Sebagai ketua OSIS aku menyampaikan beberapa patah kata untuk para wisudawan yang sebelumnya telah dibuka oleh kepala sekolah. Lalu dilanjutkan dengan pidato dari beberapa perwakilan angkatan kelas dua belas. Rasa haru dan sedih membayang-bayangi para insan di dalam ruangan aula ini.


“Terima kasih untuk tiga tahun yang telah kita habiskan bersama-sama. Tidak terbayang di kepalaku masa depan kawan-kawan yang cerah, sebagaimana cerahnya atmosfer pada pagi hari ini. Selamat datang di dunia yang sesungguhnya, semoga kesibukan yang dihadapi tidak memutuskan tali persaudaraan kita semua.”


Tepuk tangan trenyuh bergaung lantang tepat setelah Kak Aydhia menyampaikan pidatonya. Aku yang menyaksikannya lantas tersentuh akan perkataannya yang menancap tajam ke hatiku. Upacara terus berlanjut hingga selesai, pada saat itulah isak tangis tercurahkan dari mereka semua seraya bersalaman memberi ucapan selamat.


Seusai upacara berjalan lancar, orang-orang mulai meninggalkan area sekolah satu per satu. Raut wajah gembira terpampang di wajah mereka dengan ijazah digenggaman dan pin kelulusan yang tertempel di seragam mereka. Kebanyakan dari mereka melanjutkan agenda dengan berkumpul dan berpesta di suatu tempat bersama-sama. Aku pun menghampiri Kak Aydhia yang sedang berdiri seorang diri di taman sekolah dan menatap tenang menghadap air mancur.


“Siang, Kak,” ucapku tersenyum kepadanya. “Selamat atas kelulusanmu,” imbuhku. Ia meresponku dengan wajah berseri-seri.


“Terima kasih.” Kemudian kami berdua mengobrol santai sembari duduk di bangku taman.

__ADS_1


“Ke mana Kakak melanjutkan kuliah?” tanyaku.


“Aku mendapat beasiswa di daratan Malaerath,” jawabnya. Aku ikut merasa senang mendengarnya. “Syukurlah…”


“Oh iya, apa kau ikut pertukaran pelajar?” lanjutnya bertanya kepadaku dan mendadak membuatku terkejut.


“E—Eh? Bagaimana Kakak bisa tahu?”


“Aku hanya menebak-nebak saja,” balasnya tertawa. “Jadi tebakanku benar, toh?” Aku menjawabnya seraya berkata, “Iya…” Lalu ia menanyakan tempat program tersebut dilaksanakan.


“Malaerath.”


“Wah, kebetulan sekali!” lontarnya tersenyum. “Kita bisa bertemu lagi di sana,” sambungnya. Aku pun bertanya kepadanya mengenai peraturan dan bagaimana pelaksanaan program pertukaran pelajar itu. Lantas ia pun menjelaskannya dengan detail, namun penjelasannnya tidak jauh berbeda dengan kepala sekolah waktu itu, tetapi


ada satu informasi yang baru aku tahu setelah mendengar penjelasan terakhirnya.


“Jadi, aku akan melanjutkan kelas dua belas lagi di sini setelah program itu selesai?” tanyaku menarik kesimpulan.


“Ya. Kau tahu Kak Prute, kan?” Aku berusaha mengingat murid-murid yang berada di angkatannya, tetapi aku kehabisan akal memikirkannya.


“Nah betul! Itu dia!”


“Ia sebelumnya mengikuti program yang sama, setelah itu ia melanjutkan satu tahun lagi di angkatanku. Jadi ia berumur satu tahun lebih tua dariku,” lanjut paparnya.


Akhirnya aku mengerti sepenuhnya. Sesudah beberapa pembicaraan yang cukup panjang, aku pun berpisah dengannya, tetapi sebelum itu tiba-tiba saja ia memelukku erat dan membuatku terkejut. Kemudian ia berlari girang meninggalkanku.


“Sampai jumpa,” ucapku.


“Sampai bertemu di Malaerath nanti!” serunya dari kejauhan.


Selama musim semi berlangsung, tidak ada kejadian yang begitu mengesanku bagiku, hanya belajar, belajar, dan belajar, Tak luput juga Freda dan Hart yang terus mengejarku. Hingga tanpa sadar hawa terasa semakin panas dan sinar mentari semakin terik. Pelaksanaan ujian akhir semester tinggal menghitung jari. Aku bersama teman-temaku semua menghabiskan hari libur untuk belajar bersama di perpustakaan.


“Tak kusangka Eledarn jauh berbeda dari Hart. Baguslah kalau begitu…” gumamku dalam hati senang. Cassie dan Emery membantu Freda belajar, sedangkan aku, Milard, dan Eledarn kepayahan dengan Hart yang lambat mencerna materi.

__ADS_1


“Semoga kita mendapat hasil yang terbaik,” ucap Cassie berharap.


Hari ujian pun tiba. Orang-orang mulai memasuki kelas dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya. Sepanjang waktu pengerjaan terlihat Hart dan Freda sedikit bersemangat dan yakin. Aku yang melihatnya merasa senang dan lega. Setelah waktu pegerjaan usai, kami saling membahas soal-soal yang dikerjakan tadi.


“Aku bisa mengerjakannya!” ucap Freda menyeringai senang. Hart juga berucap demikian.


“Akhirnya kalian bisa…” hembusku bahagia.


Dua pekan berlalu, sekarang adalah hari pengambilan rapor kenaikan kelas. Lagi-lagi aku mendapat peringkat pertama dari satu angkatanku dan Cassie menempati peringkat kedua. Sementara itu Hart dan Freda mendapat rata-rata nilai pas-pasan, tetapi mereka sangat bersyukur apa yang telah mereka dapatkan.


“Setidaknya kita semua lulus,” lontar Hart gembira. Liburan pun telah di depan mata. Lantas Freda mengajak kami semua untuk menghabis waktu-waktu tersebut untuk bersengang-senang.


“Ayo kita jalan-jalan lagi!” serunya bersemangat.


“Ayo!” sambut kami semua kompak.


Sepanjang masa liburan tersebut banyak kenangan indah dari kebersamaan kami semua. Tak terasa satu bulan telah berlalu dan pekan depan adalah hari pertama sekolah di tahun ajaran baru, sedangkan aku dan Cassie harus berangkat menuju daratan Malaerath. Banyak perlengkapan dan barang bawaan yang telah disiapkan oleh  orang tuaku. Aku juga pergi ke tempat perbelanjaan bersama teman-teman untuk membeli barang kebutuhanku selama di Malaerath nanti.


“Tidak terasa waktu begitu singkat,” cakap Milard.


“Tahun depan kita akan masuk kuliah, sedangkan kalian berdua masih harus melanjutkan kelas dua belas,” lanjut Emery.


“Tidak masalah… Kita akan tetap berkumpul seperti ini hingga kapan pun,” sambung Eledarn tersenyum. Lantas Freda mendekati Cassie dan berbisik kepadanya.


“Hati-hati, ya. Jangan sampai Adelard direbut perempuan lain di sana.” Sontak Cassie menjadi salah tingkah setelah mendengarnya dan membuatku kebingungan.


“Apa yang barusan terjadi?” tanyaku.


“Tidak apa-apa!” pungkas Cassie menahan malu. Sementara itu teman-temanku yang lain hanya tersenyum menahan tawa. Kemudian Hart mendekatiku dan berbisik seperti yang dilakukan Freda tadi.


“Jaga Cassie baik-baik, ya…” Sembari berjalan aku pun membalasnya dengan tersenyum kepadanya dan berkata, “Tentu saja.” Dalam hati aku berharap tidak ada kejadian buruk yang menimpa kami di sana.


“Semoga aku dan Cassie selalu baik-baik saja dan menemukan banyak teman baru di sana…”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2